Alisa Putri adalah seorang guru TK yang lembut dan penuh kasih, sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk keceriaan anak-anak.
Namun, dunianya yang berwarna mendadak bersinggungan dengan dunia dr. Niko Arkana, seorang dokter spesialis bedah yang dingin, kaku, dan perfeksionis.
Niko merupakan cucu dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja dan memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga reputasi keluarganya.
Pertemuan mereka bermula lewat Arka, keponakan Niko yang bersekolah di tempat Alisa mengajar.
Niko yang semula menganggap keramahan Alisa sebagai hal yang "tidak logis", perlahan mulai tertarik pada ketulusan sang guru.
Sebaliknya, Alisa menemukan bahwa di balik dinding es dan jubah putih Niko, tersimpan luka masa lalu dan tanggung jawab berat yang membuatnya lupa cara untuk bahagia.
Bagaimana kelanjutan???
Yukk baca cerita selengkapnya!!!
Follow IG: @Lala_Syalala13
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diagnosa Baru
Tangannya masih memegang bahu Alisa, jempolnya mengusap kulit Alisa dengan gerakan menenangkan.
"Aku tahu ini berat bagimu, kakekku tidak seharusnya datang ke sini."
"Dia benar Niko." ujar Alisa pelan, matanya menatap hujan yang jatuh ke lapangan.
"Aku adalah distraksi bagimu, dunia kita tidak hanya berbeda, tapi bertabrakan, kamu punya rumah sakit untuk dikelola, pasien untuk diselamatkan... dan aku hanya guru TK yang membuatmu terlibat dalam drama murahan dengan guru olahraga." ujar Alisa.
Niko memegang dagu Alisa, memaksanya untuk menatap mata cokelat gelapnya yang kini berkilat penuh emosi.
"Dengarkan aku, kamu bukan distraksi tapi kamu adalah oksigen di tengah ruangan yang hampa udara. Jika Kakek menganggapmu risiko itu karena dia tahu kamu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dia beli dengan uangnya, dia takut kehilangan kendali atas diriku karena kamu memberiku alasan untuk hidup bagi diriku sendiri bukan bagi yayasan." tutur Niko dengan lembut.
"Tapi bagaimana dengan malam ini? Beliau menunggumu." tanya Alisa cemas.
Niko tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan tekad.
"Aku akan pergi, bukan untuk meminta maaf tapi untuk menegaskan posisiku kalau aku bukan lagi bidak catur yang bisa dia gerakkan sesuka hati." serunya.
Di tengah ketegangan itu Pak Satria muncul dari balik pintu aula dengan membawa payung besar.
Ia tampaknya telah menyaksikan seluruh kejadian tadi dari kejauhan, wajahnya yang biasanya penuh percaya diri kini tampak sedikit ragu namun insting kompetisinya masih menyala.
"Bu Alisa hujannya deras sekali, motor kamu pasti basah aku bisa antar kamu sampai depan pintu rumah." tawar Satria, ia melirik Niko dengan tatapan yang seolah berkata, 'Lihat, duniamu hanya membawa masalah untuk dia.'
Niko menghela napas panjang, ia menatap Satria dengan pandangan yang tidak lagi dingin melainkan penuh kelelahan yang berwibawa.
"Pak Satria." panggil Niko.
"Saya menghargai niat baik Anda, tapi hari ini Alisa sudah cukup menerima tekanan emosional, dia butuh ketenangan bukan tumpangan motor di tengah badai dan aku akan mengantarnya dengan mobil yang memiliki sistem pemanas kabin agar dia tidak jatuh sakit setelah lelah bekerja seharian." seru Niko.
Satria hendak mendebat namun Niko melanjutkan dengan suara yang lebih rendah.
"Dan satu hal lagi, jika Anda benar-benar peduli padanya seperti yang Anda klaim maka Anda seharusnya berhenti mencoba menjadikannya piala kemenangan dalam ego Anda, dia adalah seorang wanita dengan harga diri yang tinggi bukan objek untuk diperebutkan di lapangan basket." serunya lagi.
Satria tertegun, kalimat Niko menghujam telak ke titik terlemahnya.
Tanpa kata guru olahraga itu menutup payungnya sedikit dan berjalan menjauh dan menyadari bahwa di liga yang sedang ia mainkan ini, ia bahkan tidak memiliki kartu untuk ikut bertaruh.
Di dalam mobil menuju rumah Alisa suasana terasa statis, hanya suara wiper kaca depan yang bergerak ritmis membelah air hujan.
Alisa memeluk tasnya erat memikirkan apa yang akan terjadi pada Niko malam ini di rumah besar keluarga Arkana.
"Niko." panggil Alisa saat mobil berhenti di depan rumahnya.
"Berjanjilah padaku satu hal." serunya.
"Apa?"
"Jangan hancurkan hubunganmu dengan kakekmu hanya karena aku, beliau adalah satu-satunya keluarga besarmu yang tersisa setelah ayahmu tiada dan aku tidak ingin menjadi penyebab perpecahan di keluargamu." tuturnya dengan serius.
Niko mematikan mesin mobil, ia menatap Alisa dengan tatapan yang begitu dalam seolah ingin merekam setiap detail wajah wanita itu ke dalam ingatannya sebelum menghadapi "perang" malam ini.
"Keluarga bukan soal darah Alisa, tapi soal siapa yang berdiri di sampingmu saat duniamu runtuh. Kakekku membangun dinding di sekitarku tapi kamu membangun jendela agar aku bisa melihat cahaya, aku tidak menghancurkan hubungan, aku hanya sedang merubuhkan dinding itu." ucap pria itu.
Niko mendekat, lalu mencium tangan Alisa dengan lembut.
"Istirahatlah dan jangan pikirkan apa pun, aku akan mengirim pesan setelah urusanku selesai." ucapnya.
Alisa turun dari mobil menatap lampu belakang mobil Niko yang perlahan menghilang di balik tirai hujan.
Ia masuk ke rumahnya yang sederhana, merasakan kontras yang luar biasa antara kehangatan kecil di rumahnya dengan kedinginan yang luar biasa di dunia Niko.
Ia membuka jurnalnya, tangannya sedikit gemetar saat menuliskan:
"Hari ini benih itu harus belajar bertahan dari badai pertama, bukan dari air hujan tapi dari tatapan mata seorang pria tua yang menganggap cinta adalah sebuah kesalahan perhitungan."
Di tempat lain, di sebuah ruang kerja yang luas dan beraroma cerutu mahal Tuan Aris Arkana sedang duduk menunggu.
Jam dinding berdentang sepuluh kali saat pintu terbuka.
Niko masuk masih dengan kaos polo hitam yang sedikit lembap karena hujan namun dengan kepala yang tegak dan tatapan yang tidak lagi bisa didekte.
Konfrontasi terbesar dalam hidup dokter Niko Arkana baru saja dimulai.
Bukan di ruang operasi untuk menyelamatkan jantung orang lain, tapi di ruang keluarga untuk menyelamatkan jantungnya sendiri.
Jam kakek di ruang kerja Tuan Aris Arkana berdentang berat dan memecah kesunyian yang mencekam di ruangan beraroma kayu ek dan cerutu mahal tersebut.
Niko berdiri di tengah ruangan, masih dengan kaos polo hitam yang sedikit lembap di bagian bahu karena hujan di sekolah tadi.
Ia sengaja tidak mengganti pakaiannya, ia ingin kakeknya melihat sisa-sisa "kemanusiaan" yang baru saja ia jalani di lapangan bakti sosial.
Tuan Aris duduk di balik meja mahogani besar, wajahnya separuh tertutup bayangan dari lampu meja yang temaram.
Di hadapannya terdapat sebuah berkas tebal yang Niko tahu persis isinya yaitu laporan performa triwulan Rumah Sakit Medika Utama.
"Kau terlambat tiga puluh menit dari jam yang kutentukan." suara Tuan Aris datar, namun tajam.
"Aku harus memastikan Alisa sampai di rumah dengan aman, hujan sangat deras." jawab Niko tanpa basa-basi.
Ia menarik kursi di hadapan kakeknya tanpa menunggu dipersilakan.
Tuan Aris menutup berkas di depannya dengan suara berdebum.
"Alisa. Alisa. Alisa. Nama itu seolah-olah menjadi diagnosis baru dalam hidupmu Niko! Aku melihatmu di sekolah tadi, kau terlihat seperti orang asing. Di mana Dokter Niko Arkana yang presisi? Di mana cucuku yang seharusnya sedang mempersiapkan presentasi untuk dewan komisaris besok pagi?" seru Tuan Aris dengan kesal.
Niko menatap lurus ke mata kakeknya.
"Dokter itu masih ada di sini Kakek, tapi bedanya, sekarang dia punya alasan untuk tersenyum setelah melepas jas putihnya. Bukankah Kakek selalu bilang bahwa seorang dokter harus memiliki kontrol penuh atas lingkungannya? Aku sedang mengontrol hidupku sendiri." seru Niko.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...
ingat jangan mundur hanya karena kakek aris. niko sudah sejauh ini membela kamu. kamu harus tetap berada di sisinya.