Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14# JALUR DARAH DAN AIR MATA
Matahari di dunia ini tidak pernah benar-benar terbit dengan megah. Cahayanya selalu tertahan oleh lapisan kabut tebal yang menyelimuti dunia ini, menciptakan suasana kelabu abadi yang menekan jiwa. Pagi itu, Camp Saka yang biasanya menjadi tempat bernaung penuh kehangatan dari api unggun Harry, kini tampak seperti kuburan massal bagi harapan. Dinding-dinding gua yang hancur, sisa-sisa jerami yang terbakar, dan bau amis sisa pertempuran kemarin menjadi latar belakang kepergian mereka.
Meskipun perisai listrik biru yang diperbaiki Naya masih berdengung kuat dan mampu melindungi sisa reruntuhan itu, Arlo telah membuat keputusan bulat. Saka bukan lagi rumah. Saka hanyalah pengingat akan tragedi Leo yang tewas di depan mata mereka.
"Bawa apa pun yang bisa dimakan dan apa pun yang bisa digunakan untuk membunuh," perintah Arlo dengan suara serak namun tegas. Ia mengencangkan tali tas kulitnya yang berisi sisa umbi-umbian. Tatapannya tertuju pada Selene yang berdiri diam di dekat pintu gua. Gadis itu tampak lebih pucat dari biasanya, namun matanya yang dalam memberikan semacam jangkar bagi Arlo untuk tidak menyerah pada keputusasaan.
Perjalanan dimulai. Langkah kaki sebelas orang itu beradu dengan rumput perak yang tajam di luar gua. Di barisan tengah, Naya berjalan dengan bahu yang merosot. Rasa bersalah karena "salah colok kabel" itu masih menghimpit dadanya, membuatnya merasa tidak pantas untuk sekadar mengangkat wajah. Zephyr menyadari hal itu. Pemuda yang biasanya paling tidak peduli ini sengaja melambatkan langkahnya agar bisa berjalan tepat di samping Naya.
"Berhenti menatap kakimu sendiri, Naya. Di hutan ini, jika kau tidak melihat ke depan, sesuatu akan merenggut kepalamu," ucap Zephyr datar. Namun, saat Naya hampir tersandung akar pohon yang melilit, Zephyr dengan sigap menangkap lengan Naya. Ada sebuah kontak mata yang lama di antara mereka, sebuah percikan chemistry yang menunjukkan bahwa Zephyr tidak menyalahkan Naya, melainkan ingin melindunginya.
Di depan mereka, Cicilia mendengus keras. "Cih, pelindung dan yang dilindungi. Romantis sekali di atas tumpukan mayat sahabatku," gumamnya dengan nada yang sangat pahit. Rick yang berjalan di samping Cicilia segera menyentuh bahu gadis itu. "Cicilia, cukup. Kita butuh fokusnya. Kemarahanmu tidak akan membuat Leo kembali." Rick sudah mulai bisa mengendalikan emosinya; ia memiliki jiwa pemimpin yang logis, dan ia tahu menyerang Naya hanya akan melemahkan kelompok.
Rintangan pertama muncul saat mereka mencapai Sungai Nadi Hitam. Sungai ini memiliki air yang tidak mengalir, melainkan bergolak seperti minyak mendidih dengan bau belerang yang sangat menyengat. Jembatan kayu lama yang pernah dibangun tim Harry sembilan tahun lalu sudah lapuk dan hancur.
"Kita harus menyeberang lewat bebatuan itu!" teriak Harry sambil menunjuk barisan batu licin di tengah sungai.
Tiba-tiba, permukaan air yang hitam itu meledak. Puluhan makhluk kecil berkulit licin dengan gigi setajam silet yang dikenal sebagai Lurkers melompat ke arah mereka. Pertempuran pecah di atas batu-batu yang licin.
Finn, dengan kelincahannya yang luar biasa, melompat dari satu batu ke batu lain. "Hei, ikan-ikan mengerikan! Apa kalian tidak pernah diajarkan untuk tidak menggigit tamu?!" teriak Finn sambil memutar belatinya dan menebas kepala dua Lurker sekaligus. Finn tetaplah Finn, meski dalam bahaya maut, sifatnya yang suka berseloroh tidak pernah hilang.
Namun, ketegangan itu mendadak terpecah oleh teriakan konyol. Rayden, yang mencoba menyeberang dengan sangat hati-hati, justru terpeleset dan kakinya masuk ke dalam lumpur hisap di pinggir sungai.
"TOLONG! ARLO! SESUATU MENARIK KAKIKU KE NERAKA!" jerit Rayden dengan wajah yang sangat ketakutan. Tangannya menggapai-gapai udara dengan panik. Saat seekor Lurker melompat ke arah wajahnya, Rayden secara refleks mengayunkan tas punggungnya yang berisi panci-panci logam bekas milik Harry. TENG! Suara dentuman logam yang keras bergema, dan monster itu jatuh pingsan karena hantaman panci.
"Pukulan yang sangat teknis, Ray! Gunakan panci itu sebagai perisaimu!" seru Finn sambil tertawa terbahak-bahak meskipun ia sendiri sedang sibuk menangkis serangan. Rayden yang masih menangis ketakutan hanya bisa merengek, "Aku tidak mau jadi pahlawan panci! Aku hanya ingin makan sup dan tidur di tempat tidur yang empuk!"
Pertempuran di sungai itu sangat berdarah. Lira harus meringis kesakitan saat seekor Lurker berhasil merobek betisnya. Harry dan Dokter Luz bekerja sama di barisan belakang. Meskipun mereka belum sepenuhnya percaya pada Luz, sang Profesor menunjukkan kegunaannya dengan melemparkan botol-botol kimia kecil yang menciptakan ledakan cahaya untuk mengusir monster-monster air tersebut.
Setelah berhasil melewati sungai, rintangan berikutnya jauh lebih berat, yaitu Tebing Cakar Gagak. Dinding batu yang tegak lurus ini harus dipanjat secara manual. Seluruh tim mulai kewalahan. Darah dari luka-luka kecil mulai mengering dan bercampur dengan debu tebing. Arlo harus memastikan Selene bisa memanjat bagian yang paling terjal.
Saat tangan mereka saling menggenggam untuk saling menarik ke atas, Arlo bisa merasakan tangan Selene yang dingin namun sangat kuat. Mereka saling menatap di tengah ketinggian, sebuah momen chemistry yang sunyi di mana kata-kata tidak lagi diperlukan. "Jangan lepaskan, Selene," bisik Arlo. Selene menatapnya dengan lembut, sebuah tatapan yang jarang ia berikan. "Aku tidak akan jatuh selama kau ada di sana, Arlo."
Namun, di puncak tebing, bencana lain menunggu. Dua ekor Phenix Omega dewasa sudah mengintai. Pertarungan kali ini benar-benar menguras nyawa. Zephyr terhempas ke batu besar hingga punggungnya berdarah demi melindungi Naya dari sabetan cakar monster. Naya menjerit histeris, ia segera berlari ke arah Zephyr, merobek kain bajunya untuk membalut luka pemuda itu.
"Kau bodoh! Kenapa kau melindungiku?!" isyak Naya. Zephyr hanya meringis kesakitan namun tangannya menggenggam tangan Naya dengan erat. "Kalau kau mati, siapa yang akan memperbaiki dunia sialan ini?"
Rick dan Arlo bekerja sama dalam sinergi kepemimpinan yang luar biasa. Rick menusukkan tombak listriknya ke kaki monster, sementara Arlo menghujamkan pedang besinya ke arah jantung makhluk itu. Darah monster yang berwarna hitam pekat menyembur, membasahi wajah dan pakaian mereka. Setelah pertarungan yang terasa seperti selamanya, kedua monster itu akhirnya tumbang.
Mereka semua terduduk lemas di puncak tebing, terengah-engah. Menara merah itu kini terlihat lebih besar di cakrawala, namun jalan menuju ke sana masih dipenuhi oleh lembah-lembah gelap yang belum terjamah.
Rayden masih memeluk pancinya sambil terisak pelan di sudut batu. "Jika kita mati, aku ingin dikubur bersama panci ini. Dia satu-satunya yang membelaku tadi," gumamnya, membuat suasana yang tadinya tegang menjadi sedikit lebih ringan karena kelakuannya yang absurd.
Arlo berdiri, meski kakinya gemetar karena kelelahan. Ia melihat kawan-kawannya, Harry yang menatap hutan dengan dendam, Luz yang tetap misterius, Cicilia yang masih menyimpan benci, dan Rick yang mulai mempercayainya.
"Kita belum sampai," ucap Arlo tegas. "Tapi kita tidak akan berhenti. Demi Leo, dan demi semua yang telah kita lalui."
Malam mulai turun dengan raungan misterius dari kejauhan. Mereka tahu, perjalanan ini baru saja dimulai, dan hutan ini tidak akan membiarkan mereka lewat tanpa meminta tumbal lagi.