Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
"Kenapa Jeff?" Tanya Andra kebingungan, melihat temannya celingukan kesana kemari seperti mencari sesuatu.
Ekspresi wajahnya masih menunjukkan rasa sakit. Sesekali ringisan keluar. Matanya menyipit tak tahan. Goresan yang terbentuk secara kasar di lengan bagian belakangnya akibat di dorong tadi, kini mulai mengeluarkan darah, dengan jumlah yang sedikit tapi memanjang.
"Lily nggak ada dimana-mana, cepat cari." Ujar Jeffrey panik saat tak menemukan gadis kecil itu dimanapun. Tubuhnya gelisah, bergerak tak tentu arah. Disisi tubuh, tangannya terkepal erat. Rasa takut itu semakin terasa nyata, menelusup sampai ke punggung hingga tubuhnya terasa dingin.
"Hah?" Andra masih tak mengerti. Ia diam ditempat untuk waktu yang lama. Mencoba mencerna. Berharap juga bahwa pendengarannya tengah bermasalah untuk sementara.
Tapi itu terasa nyata saat Jeffrey memukul bahunya kuat. Membuatnya meringis kesakitan. Kini ia telah sadar sepenuhnya tentang apa yang terjadi.
"Jangan bengong, cepat cari." Itu adalah kalimat selanjutnya yang Jeffrey ucapkan. Yang menegaskan segalanya.
Ia segera mengangguk ketika jiwanya telah kembali ke kenyataan. "Apa sebaiknya kita kasih tahu om dulu soal ini?"
"Tidak. Kita cari sendiri dulu." Jawab Jeffrey final.
***
Sementara itu di tempat lain, Lily terus berjalan ke suatu arah. Dengan pelan dan hati-hati. Ia terjatuh beberapa kali, lalu berdiri lagi. Kakinya terasa sakit, tapi seolah tak peduli. Lily berjalan sedikit ke pinggir, menghindari orang-orang. Di tangannya, sebuah sekop selalu ia genggam. Sekop kecil yang terbuat dari bahan plastik yang tadi ia gunakan untuk bermain pasir. Entah sengaja, entah mungkin karena lupa.
Langkah kakinya melambat saat ia bertemu lubang di depan. Lubang selokan selebar 30 centimeter itu membentang panjang mengelilingi seluruh taman. Tak ada penutup, tak ada penghalang. Lubang itu dibiarkan menganga begitu saja. Mengabaikan keselamatan orang-orang, terutama anak-anak yang bermain disana.
Bau tak sedap samar tercium. Dari sampah-sampah yang menggenangi. Bercampur dengan lumpur dan air kotor.
Padahal tempat sampah telah disediakan, telah diletakkan di berbagai titik. Bahkan dengan jarak yang cukup berdekatan. Berharap orang-orang tak lagi membuangnya secara sembarangan.
Tetapi kenyataan lebih menakutkan. Beberapa poster yang tertempel di tempat-tempat yang mudah terlihat sebagai kampanye tentang kebersihan lingkungan, nyatanya tak membuat orang-orang itu sadar. Tak membuat orang-orang itu belajar akan dampak yang timbulkan. Mereka terlalu abai, terlalu malas untuk peduli.
Tangan kecil Lily yang masih memegang sekop, melambai-lambai. Meminta bantuan. Wajahnya begitu polos, begitu kasihan.
"Nek olong... Enek ily mo ompat situ." Pintanya halus. (*Nek tolong. Nenek Lily mau lompat kesitu.)
Bagi orang dewasa lubang itu mungkin terlihat kecil, terlihat mudah karena hanya dalam sekali lompat bisa dilewati. Tetapi untuk anak sekecil Lily lubang itu bagai jurang tanpa dasar.
Rasa takut akan terperosok ke dalam sana membuat kakinya mundur perlahan. Sedikit bergetar. Hitam, kotor dan jorok adalah beberapa kata yang mampu menggambarkan keadaan lubang itu.
Seseorang di depannya menatap bingung. Merasa tak paham, juga tak mengerti. Kulit keriputnya semakin mengerut di area dahi. Sementara kunyahannya terhenti. Kepalanya menatap ke sekeliling. Memastikan apakah anak kecil itu benar-benar memanggilnya atau tidak. Tetapi tak ada seorangpun disana selain dirinya dan si penjual bubur yang seorang laki-laki.
Orang itu menatap kembali. Lalu berbicara dengan suara yang sedikit serak, tapi cukup jelas. "Kamu ngomong sama nenek?"
Lily mengangguk dengan semangat, merasa senang. Karena akhirnya orang itu menyadari kehadirannya. "Enek..." Ucapnya lagi dengan mata yang berbinar cerah. (*Nenek)
"Tunggu sebentar." Ucap si nenek.
Tak ada bantahan. Gadis kecil itu berdiri tegak. Dengan tangan tersimpan rapi disisi tubuh. Tak bergerak. Terus menunggu dengan sabar.
Nenek itu adalah nenek yang sama yang Lily lihat tengah berboncengan dengan suaminya naik sepeda tadi pagi. Nenek yang sama yang membuatnya tertarik saat pertama kali melihatnya.
Lily sangat takut melihat orang baru, tapi pada sepasang lansia itu ia justru merasa aman. Ada kelembutan yang samar terasa meski tak bersentuhan, serta kehangatan yang sangat nyata.
"Mang, jangan diberesin dulu yah ini, masih saya makan. Saya mau lihat anak itu dulu."
Si penjual bubur yang sedang mengelap mangkok menggunakan kain itu mengangguk. "Baik ibu." Ujarnya.
Kakinya terlihat tak setegar saat masih muda, namun begitu lincah. Nenek itu melompat dengan mudah. Gerakannya energik, seolah umur hanyalah angka yang tak mempengaruhi kondisi tubuhnya. Saat nenek itu sampai di depan Lily, ia berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya. Meski sedikit kesusahan karena pinggangnya terasa sakit, tapi hal itu tak menyurutkan niatnya.
"Ada apa anak manis?" Tanyanya lembut.
Lily menunjuk ke tempat dimana nenek tadi duduk. "Uduk situ ma enek. Sana panas, geyah." (*Duduk disitu sama nenek. Disana panas, gerah)
"Ohh kamu mau duduk disana sama nenek?" Nenek itu memastikan apa yang ia dengar tak salah.
Lily mengangguk-angguk lagi. Nenek itu tersenyum. Lalu segera menggendong tubuh kecilnya melewati lubang selokan.
Aktifitas terus berjalan. Embun yang menempel di dedaunan mulai menghilang. Namun tetap terasa menyegarkan. Perlahan keramaian mulai berkurang. Beberapa telah pulang, beberapa melanjutkan perjalanan.
Lily duduk dengan tenang. Kakinya yang pendek mengambang di udara. Bergerak-gerak kecil. Kursi itu lebih tinggi dari dirinya. Ia di bantu naik tadi oleh nenek yang baik hati. Sementara tangannya tertekuk rapi diatas meja. Sangat nyaman, sangat tenang.
Dari kejauhan seorang pria tua datang menghampiri. Sepatunya sangat cantik, berwarna kuning cerah seperti bunga matahari. Warna yang cukup mencolok di banding pakaian yang ia kenakan saat ini. Tapi itu tak menjadi alasan karena si kakek terlihat bahagia saat memakainya. Sementara sebuah topi koboi terpasang untuk melindungi kepala, serta sebuah kacamata.
Pinggul kakek itu sedikit bergoyang, mengikuti irama musik dari radio yang terdengar entah dari tenda yang mana. Mulutnya ikut berdendang. Merdu dan enak di dengar. Tak kalah dengan suara penyanyinya. Kakek itu tak begitu peduli dengan orang-orang yang terus menatapnya. Yang terpenting hidup ini indah dan ia bisa menikmatinya.
Sesampainya di depan nenek, kakek itu menunjukkan sesuatu yang sejak tadi ia sembunyikan di balik punggung. "Untuk istriku tercinta. Kue pancong kesukaanmu ku hadiahkan sebagai tanda cinta." Ucapnya dramatis, sembari berjongkok layaknya pangeran yang akan menyambut permaisurinya.
Nenek tersipu malu, kemudian menunduk. Pipinya bersemu kemerahan, yang coba ia sembunyikan. Nenek menerima kue itu dengan hati yang bahagia. "Terima kasih banyak pak. Duduk, jangan berdiri terus. Malu dilihatin orang."
Kakek itu menatap sekitar, lalu mengangkat bahunya tak peduli. "Biarin aja. Mereka cuma iri sama kita."
Kemudian tatapannya jatuh pada anak kecil di samping sang istri. "Anak siapa ini Bu?" Tanyanya heran. Matanya memindai dari atas ke bawah sembari berpikir. Barangkali ia mengenalinya. Tapi tidak, sepertinya ini pertama kalinya ia melihat anak itu.
Nenek yang pelupa, seolah tersadar ada orang lain diantara mereka. "Ah iya. Anak ini tadi berdiri disitu sendirian sambil menatap kesini. Ibu juga nggak tahu pak dia anak siapa. Kayaknya kesasar."
Kakek itu mengangguk. Tak begitu terkejut. Hal seperti ini memang biasa terjadi. Apalagi dalam suasana yang ramai seperti ini. Bukan sehari atau dua hari ia berada di taman. Tapi hampir setiap pagi. Jadi ia tahu betul.
"Nanti kita bantu cari orangtuanya yah pak."
Si kakek mengangguk. "Iya bu. Tapi ini makan dulu kue pancong nya, keburu dingin."
Tak ada penolakan. Nenek mengambil satu kue, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasa gurih dari kelapa dan manis dari gula yang bertaburan terasa menyentuh lidah.
Ditempatnya, Lily melihat dalam diam. Air liurnya menetes tanpa disadari. Matanya terus menatap kue itu tak berkedip. Mungkin rasanya sangat enak. Ia belum pernah mencobanya.
"Ini untuk kamu." Kakek menyerahkan satu pada Lily. Yang diterimanya dengan baik.
"Ma'acihh kek."
Gadis kecil itu terlampau senang. Akhirnya ada juga yang mengingat kehadirannya disini.
"Sama-sama. Nama kamu siapa anak manis?" Tanya nenek pada akhirnya setelah pertanyaan itu sempat menyangkut di tenggorokan karena kehadiran sang suami.
Lily meletakan kue pancong nya diatas meja. Lalu menatap nenek tepat di mata. Dengan suara yang tidak begitu jelas ia menjawab. "Ily nek."
"Ily?"
"No no, pi ily." (*No no, tapi Lily)
"Iya, Pily kan nama kamu?"
Lagi-lagi Lily menggeleng. Nenek kebingungan. Menatap kakek yang juga sama bingungnya. Alisnya terangkat satu, meminta pendapat. Tapi kakek juga tak mendapat jawaban. Karena begitu lah yang ia dengar.
Akhirnya keduanya hanya bisa menggaruk kepala.
"Okeh anak manis, sekarang habisin dulu ya kuenya. Nanti kita cari orangtua kamu."
Lily mengangguk. Lalu mulai memakan kembali kuenya.
Tak jauh dari sana, Jeffrey dan Andra masih terus mencari. Setiap sudut taman telah mereka telusuri. Di antara kerumunan, di balik pohon dan di bawah tempat duduk. Tak ada yang terlewat. Tapi mereka tetap tak menemukan Lily.
"Gimana ini Jeff, nggak ada dimana-mana dia. Apa diculik orang?"
"Jangan bicara sembarangan. Ayo, cari lagi." Kata Jeffrey.
Andra terdiam lagi. Kemudian lanjut mencari. Matanya telah berkaca-kaca, tangannya sangat dingin terasa. Bagaimana jika hal itu benar terjadi? Akan bagaimana dirinya nanti? Dan bagaimana dengan orangtuanya? Ketakutan-ketakutan itu terus menghantui.
Jeffrey juga tak kalah kalutnya. Meski terlihat tenang diluar, nyatanya pikirannya jauh lebih rumit. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang bersarang di otak. Dari yang biasa hingga yang terburuk. Rasa bersalah karena meninggalkan Lily sendirian kini semakin nyata. Tangannya bergetar, kakinya terasa lemas. Tapi ia tak bisa menampakkan itu di depan Andra. Karena jika ia panik, anak itu bisa lebih parah darinya. Karena itu ia berusaha tetap tenang dan terus mencari.
Bunga-bunga bermekaran. Memperindah taman dengan warna yang beragam. Terlihat cantik dan memanjakan mata. Sayangnya hal itu tidak memiliki efek apa-apa bagi dua anak laki-laki yang masih sibuk kesana kemari itu. Mereka tetap fokus. Menajamkan penglihatan dan menajamkan pendengaran.
Beberapa kali mereka hampir bertemu Rama, lalu segera pergi. Berusaha menghindar sebisa mungkin. Alasannya jelas, mereka takut di marahi karena tak bisa menjaga Lily.
"Kita belum kesana Jeff?" Telunjuk Andra mengarah pada satu titik disudut barat taman.
Jeffrey menoleh, segera menyetujui. "Ayo kesana." Ajaknya.
Area ini lebih luas dari sisi yang lain. Juga lebih banyak rumput tinggi. Akan sangat susah melihat orang disini dari kejauhan karena terhalang.
Pada saat itu tatapan Jeffrey terpaku pada satu titik. Dimana sepasang lansia tengah bercengkrama sambil memakan sesuatu.
Tapi bukan itu yang menjadi fokusnya. Tetapi anak kecil di samping mereka lah yang membuat ia segera berlari kesana meninggalkan Andra sendiri.
"LILY!!!!"