Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman
Tangis Arel perlahan mereda di dalam pelukan Ethan. Bocah itu masih terisak kecil, tapi kedua tangannya kini melingkar erat di leher pria itu, seolah takut dilepaskan lagi.
"Papa nggak boleh pergi lagi," gumamnya dengan suara serak. Ethan mengusap rambutnya pelan.
"Mm, gak akan lagi."
Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari kamar dengan mata Arel yang masih sembab, tapi langkahnya sudah lebih ringan. Begitu melihat tumpukan mainan di ruang tamu, kesedihan tadi tiba-tiba hilang.
"Papa! Kita buka semua ya?" serunya, semangatnya kembali muncul. Ia juga melihat ke mamanya seolah meminta ijin.
Dira yang duduk di sofa hanya bisa mengangguk pelan, masih mengeringkan sisa air mata di sudut matanya. Jangan sampai Ethan melihat dia menangis, memalukan sekali.
Kotak-kotak besar itu dibuka satu per satu. Mobil remote control, pesawat terbang dengan sayap yang bisa bergerak, set balok bangunan yang hampir memenuhi karpet kecil ruang tamu. Tawa Arel memenuhi ruangan sempit itu.
"Papa jadi pilot ya! Arel yang nyetir mobil!" katanya riang. Ethan, yang biasanya selalu tampak kaku dan penuh wibawa, kini duduk bersila di lantai, menggenggam pesawat mainan dan menirukan suara mesin dengan canggung.
"Pesawat siap lepas landas." Arel tertawa keras.
"Salah, Pa! Bunyinya bukan gitu!”
"Gimana dong?" tantang Ethan, pura-pura serius.
Bocah itu langsung memperagakan dengan penuh ekspresi. Dan Ethan mengikutinya, tanpa gengsi sedikit pun. Dira memandangi mereka dengan hati yang perlahan menghangat. Ia belum pernah melihat Ethan sehidup ini. Tidak ada jas mahal. Tidak ada aura dingin mafia kejam. Yang ada hanya seorang ayah yang sedang belajar menjadi ayah. Sesekali pandangan Ethan terangkat, tak sengaja bertemu dengan tatapan Dira. Wanita itu langsung mengalihkan wajahnya.
Ia tahu. Ethan menikahinya karena tanggung jawab. Karena Arel. Bukan karena cinta. Di mata pria itu, mungkin ia tetap wanita yang pernah mengkhianatinya. Dira menunduk, menahan rasa perih yang tiba-tiba menyusup dalam hatinya.
Suara mobil remote control yang menabrak kaki meja membuatnya tersadar. Lelah setelah seharian berjalan membuat tubuhnya mulai terasa berat. Ia menguap pelan.
Tanpa sadar, kepalanya bersandar di sandaran sofa. Matanya terpejam perlahan lalu benar-benar tertidur.
"Papa, ssstt..." bisik Arel beberapa menit kemudian, cekikikan kecil.
"Mama tidur."
Ethan menoleh. Benar saja. Dira tertidur dengan posisi sedikit miring, rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Wajah itu terlihat jauh lebih lembut saat tidak dipenuhi kecemasan.
Ethan tersenyum tipis.
"Mama capek," gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, Arel yang sejak tadi berlari-lari kecil mulai kehilangan tenaga. Gerakannya melambat. Suaranya mengecil.
Ia akhirnya bersandar ke bahu Ethan.
"Papa…" panggilnya setengah mengantuk.
"Iya?"
"Papa nggak akan pergi lagi kan? Akan di sini bareng Arel dan mama kan?"
Ethan menatap wajah kecil itu lama.
"Iya."
Jawaban itu seperti mantra. Arel tersenyum kecil dan benar-benar terlelap. Ethan menggendongnya dengan hati-hati. Tubuh kecil itu terasa ringan sekali. Dengan enteng ia membawa Arel ke kamar yang tadi bocah itu masuki saat menangis, lalu menyelimutinya pelan. Mengusap rambutnya sekali lagi sebelum mematikan lampu.
Saat kembali ke ruang tamu, suasana sudah sunyi. Dira masih tertidur di sofa. Ethan berdiri beberapa detik, hanya memandangi wanita itu. Beberapa detik itu berganti menjadi menit, sebelum akhirnya ia sadar lalu mendekat perlahan. Pria itu berlutut di depan sofa. Rambut Dira sedikit menutupi wajahnya. Tanpa sadar, ia menyibakkannya dengan hati-hati. Wajah itu tampak lelah. Tapi damai.
Ethan menghela napas panjang.
Ia bangkit, lalu menyelipkan satu tangan di bawah lutut Dira dan satu lagi di punggungnya. Tubuh wanita itu terasa ringan di pelukannya.
Dira sedikit bergerak, bergumam pelan, tapi tidak terbangun.
Apartemen itu hanya memiliki tiga kamar. Satu kamar Dira. Satu kamar Arel. Dan satu lagi kamar Raka. Ethan belum lama ini tahu dari Geral sang anak buah kalau Raka sedang di rawat di rumah sakit.
Ethan berdiri di lorong kecil, menatap dua pintu di depannya.
Beberapa detik ia terdiam.
Lalu ia melangkah membuka kamar mana saja karena tidak tahu kamar Dira yang mana.
Pintu dibuka perlahan. Ia masuk, menidurkan Dira di atas ranjang dengan hati-hati. Menarik selimut hingga menutupi tubuh wanita itu. Beberapa helai rambut masih jatuh di pipinya. Ethan kembali merapikannya tanpa sadar.
Tatapannya kini lebih lama dari seharusnya.
Ia terus menatap wajah Dira, bahkan tangannya yang tadi hanya merapikan rambut wanita itu, kini mulai turun di wajahnya dan membelai ringan. Bukan itu saja, secara tidak sadar, ia bahkan berbuat lebih jauh lagi.
Kepalanya turun dan ...
Bibir mereka menempel. Ethan mengecup bibir Dira lembut. Awalnya hanya kecupan biasa, lalu ciuman tersebut menjadi lebih liar. Ia melumat lembut bibir Dira. Merasakan rasa bibir yang tidak pernah lagi ia rasakan lebih dari enam tahun ini.
Ethan tidak bisa menjelaskan mengapa dia melakukannya, bukan karena tanggung jawab, tapi karena sesuatu yang sudah lama terkubur dalam dirinya seakan mulai muncul kembali.
Dira sedikit menggigil di dalam tidurnya, bibirnya secara refleks merespons sentuhan itu. Ethan semakin mendalamkan ciuman, tangannya yang sebelumnya hanya membelai wajahnya kini perlahan mengelilingi lehernya, menariknya lebih dekat. Namun, ketika jari-jarinya menyentuh leher Dira yang hangat, dia tiba-tiba sadar dan segera menjauh.
Napasnya terengah-engah. Ia menatap Dira yang masih tertidur, matanya penuh dengan kebingungan dan rasa ingin tahu yang dalam. Apa yang sebenarnya dia rasakan terhadap wanita ini? Apakah benci yang selama ini dia pikirkan benar-benar ada, atau hanya topeng untuk menyembunyikan rasa rindu yang tak bisa dia akui?
Apa-apaan kau Ethan?
Gumamnya dalam hati lalu menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia melihat sekeliling kamar yang baru saja dia masuki, dinding berwarna krem dengan beberapa lukisan tangan Arel yang ditempelkan rapi, rak buku yang penuh dengan buku pendidikan anak, serta sebuah meja rias yang berisi kosmetik sederhana. Ini jelas kamar Dira.
Tanpa berani berlama-lama, ia perlahan berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi untuk melihat Dira. Wanita itu masih tertidur damai, seolah tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Ethan menutup pintu dengan sangat pelan, lalu berjalan kembali ke ruang tamu. Duduk di sana dengan pikiran yang penuh.
Dia belum pernah melupakan Dira. Tapi egonya membuatnya tidak ingin mengakui semua itu. Pria itu mengusap wajahnya kasar.
lebih bakk buat dira kecelakaan dN koma thor ketika melaihat raka agar ethan dN anaknya sadar 🙏
gregetan lihat Dira disalahkan terus
arel dasyar bocil tau papanya bnyk duit milih papa yaa gk inget sm yg gendong nyuapin pas bayik
aku yakin kali ini Dira hamil lagi . dan semoga Ethan mau berlapang dada menerima Dira tanpa mengungkit masa lalu .
dan Arel bisa berdamai dengan ibunya .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍