Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu
Dira menghentikan langkahnya di depan pintu masuk apartemen sederhana miliknya. Langkah Ethan secara otomatis ikut berhenti. Ia menatap lurus Dira, semburat di wajahnya jelas menunjukkan rasa penasaran kenapa wanita itu berhenti mendadak. Tapi Ethan bisa menebak. Mungkin Dira sedang menyiapkan hatinya untuk mengenalkan dirinya kepada Arel.
Ethan tersenyum tipis. Bukan, bukan senyum, lebih ke mendengus. Kalau saja wanita itu tidak menyembunyikan kenyataan dirinya hamil anaknya, hari ini tidak akan pernah ada. Arel akan tahu dari lahir kalau dia adalah ayah kandungnya. Tak perlu ada pertemuan seperti ini antara ayah dan anak.
"Kau akan berdiri di situ sampai kapan?" suaranya membuat Dira sedikit tersentak, seperti baru sadar kalau ada laki-laki lain di belakangnya, menjinjing tas belanjaan berisi mainan.
Mereka memang mampir ke toko mainan sebelum pulang. Dan Ethan membeli banyak sekali mainan untuk Arel. Padahal satu mainan saja Dira lihat tadi harganya di atas dua juta. Itu toko mainan paling mahal yang Dira masuki. Dan Ethan membeli sebanyak mungkin tanpa mempedulikan harga. Orang kaya memang beda.
Dira menarik napas panjang. Tangannya yang memegang gagang pintu terasa dingin dan sedikit berkeringat.
"A-aku hanya … memastikan dia sudah di rumah," gumamnya pelan. Ethan mendengus pelan.
"Kau tidak dengar suaranya? Jelas sekali dari luar sini."
Dira tersenyum kaku. Ia pun menekan password untuk membuka pintu. Pintu terbuka dengan bunyi klik pelan. Belum sempat Dira melangkah masuk, suara tawa kecil terdengar dari dalam. Riang. Tanpa beban.
"Mama?!" panggil suara itu ceria.
Jantung Dira langsung bergetar.
Arel muncul dari ruang tengah dengan kaus rumah dan celana pendeknya. Rambutnya sedikit acak-acakan, mungkin habis berguling di karpet. Langkahnya terhenti begitu melihat sosok tinggi di belakang Dira.
Bocah itu berkedip beberapa kali.
"Om Ethaan?!" Ia berseru senang lalu langsung melompat ke Ethan hingga tas besar yang di jinjing Ethan di kanan kirinya terjatuh.
Ethan refleks menahan tubuh kecil yang menabraknya. Tas-tas belanjaan itu jatuh berantakan di lantai, beberapa kotak mainan bahkan terguling keluar. Namun perhatian Ethan sama sekali tidak tertuju ke sana. Tangannya otomatis memeluk tubuh Arel yang menggantung di lehernya.
Untuk beberapa detik, pria itu membeku.
"Om Ethan!" ulang Arel riang, pipinya menempel tanpa ragu di bahu pria itu.
"Om Ethan kok ada di sini? Kok bisa tahu rumah Arel? Kok datangnya barengan mama?!"
Dira terdiam. Nafasnya tercekat. Mbak Ella yang baru saja muncul dari arah dapur segera pamit pulang. Dia tahu saat ini dia adalah orang luar yang tidak boleh berada di tempat ini. Dengan melihat wajah Ethan lagi yang begitu mirip Arel, dia sudah tahu siapa laki-laki itu.
"Dira, mbak pulang dulu ya."
Dira menatap wanita itu, tersenyum tipis.
"Makasih ya mbak." mbak Ella balas tersenyum. Ia menatap Ethan sekilas, menunduk hormat sebelum keluar dari apartemen tersebut.
"Dada bibi Ellaaa!" Seru Arel tetap ceria. Makin ceria malah.
Pintu tertutup pelan. Kini hanya ada mereka bertiga di ruang tamu kecil itu. Arel masih melingkarkan kedua tangannya di leher Ethan. Ethan sendiri masih kaku, satu tangannya menopang punggung kecil itu, satu lagi perlahan turun ke lantai, menyingkirkan kotak mainan yang hampir terinjak.
"Pelan-pelan," gumamnya rendah, refleks.
Dira memperhatikan dengan napas tertahan. Ia belum pernah melihat Ethan seperti ini lagi. Sejak hubungan mereka renggang. Tidak ada aura dingin. Tidak ada tatapan tajam penuh perhitungan. Ekspresinya begitu lembut pada Arel.
"Om belum jawab," desak Arel polos.
"Kok bisa bareng mama? Ketemu di depan ya?"
Ethan menurunkan Arel perlahan hingga berdiri lagi, tapi tangannya masih memegang bahu kecil itu, seolah memastikan anak itu benar-benar nyata.
Tatapan mereka sejajar.
"Memang datang untuk ketemu kamu," ucap Ethan hati-hati. Tidak menyebut om, belum menyebut papa juga.
"Kenapa?" Mata Arel membulat penasaran.
Dira menggenggam ujung tasnya sendiri. Inilah bagian yang tak bisa terus ditunda. Ia melangkah mendekat, berlutut di samping Arel.
"Sayang," suaranya lembut, meski jantungnya berdentam keras.
"Mama mau cerita sesuatu."
Arel menoleh cepat, masih dengan senyum cerianya.
Dira dan Ethan saling pandang sepersekian detik. Kali ini, Ethan tidak mengalihkan tatapannya. Seolah berkata, katakan sekarang.
Dira menelan ludah.
"Om Ethan… bukan cuma om."
Arel mengernyit kecil.
"Om Ethan ... Adalah papa kandung kamu."
Sunyi.
Senyum di wajah kecil itu memudar perlahan. Bukan karena takut. Lebih karena sedang memproses.
"Papa?" ulangnya pelan. Dira mengangguk.
"Iya, nak."
Arel menatap Ethan lama. Sangat lama untuk ukuran anak lima tahun. Lalu menangis.
"Papa? Kalo om papa Arel, kenapa waktu di taman gak langsung bilang? Kenapa bohong? Kenapa papa tinggalin Arel dan mama lama sekali? Kenapa papa nggak pulang-pulang?! Mama bilang papa pergi jauh banget! Hikss! Kenapa baru pulang sekarang?" Arel langsung berlari ke kamarnya habis mengatakan itu.
Ethan menatap Dira, bukan menyalahkan, tapi Dira tahu itu seperti tatapan yang kesal karena dia tidak diberitahukan tentang anaknya selama bertahun-tahun ini. Dira menggigit bibirnya lirih.
"Aku akan bicara dengannya." kata Dira. Baru saja dia hendak melangkah menyusul Arel, tangannya sudah di tahan oleh Ethan.
"Aku saja. Yang dia butuhkan adalah penjelasanku." ucap pria itu. Dira menatap tangan Ethan yang menggenggam pergelangannya. Kuat, tapi tidak kasar. Ia pun membiarkan pria itu yang bicara dengan putra mereka.
Perlahan ia melepaskan tangan Dira dan berjalan menuju kamar itu. Langkahnya tidak terburu-buru, tapi mantap. Ia berhenti di depan pintu yang Arel masuki tadi, mengetuk pelan.
"Arel," panggilnya.
Tak ada jawaban. Hanya suara tangis yang ditahan. Ethan menelan ludah. Ini jauh lebih sulit daripada negosiasi bisnis mana pun yang pernah ia hadapi. Ia membuka pintu perlahan. Arel duduk di sudut ranjang, memeluk bantal, wajahnya basah oleh air mata. Melihat Ethan masuk, bocah itu langsung memalingkan wajahnya.
"Arel marah," gumamnya serak.
Ethan masuk dan menutup pintu di belakangnya, tapi tidak mendekat dulu. Ia berlutut di lantai, menjaga jarak.
"Kamu boleh marah," katanya tenang.
"Papa memang salah, karena papa perginya lama sekali. Maafin papa ya, mulai sekarang, papa nggak akan pernah pergi lagi, nggak tinggalin Arel lagi."
Arel masih terisak, bahunya naik turun.
"Janji?" tanyanya lirih tanpa menoleh.
Ethan mengangguk, meski anak itu tak melihatnya.
"Janji."
Perlahan, Arel menoleh. Ragu. Lalu beringsut mendekat. Matanya sudah bengkak sekali karena menangis. Ethan lalu merentangkan kedua tangannya dan Arel segera masuk ke dalam pelukan pria itu.
"Papaaa... Hikss... Papa Arel pulang ..." bocah itu terus menangis.
Sementara di luar kamar, Dira ikut menahan tangisnya. Ia baru sadar, betapa pentingnya keberadaan ayah untuk anak-anak.