NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Sistem / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:53.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perubahan Naomi

Max melangkah semakin dekat hingga berdiri tepat di depan ranjang.

Tubuhnya menjulang tinggi, menutupi sebagian pintu kamar VIP itu. Keberadaannya saja sudah memberi tekanan tersendiri, bukan karena menakutkan, melainkan karena aura tenang dan kuat yang selalu ia miliki.

Naomi menatapnya beberapa detik. Lalu, tanpa peringatan, ia meloncat.

“Kak Max!”

Brugh!

Tubuh Naomi menghantam dada Max dengan pelukan penuh tenaga. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang pria itu, wajahnya menempel tanpa ragu.

“Naomi!” pekik Nyonya Arumi kaget. “Sayang, hati-hati! Kamu bisa jatuh!”

Tuan Bastian refleks berdiri. “Max, pegang dia!”

Tanpa diperintah Max sudah lebih dulu bergerak. Lengannya langsung memeluk Naomi erat, satu tangan menopang punggungnya, tangan lain menahan bahunya. Gerakannya refleks, terlatih, seolah tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

“Pelan-pelan,” ucapnya sedikit terkejut.

Naomi menenggelamkan wajahnya di dada Max, menghirup aroma yang sangat ia kenal.

“Aku merindukanmu, Kak.”

Kalimat itu sederhana. Tapi mampu membuat jantung Max berdetak kerast. Tubuhnya membeku. Sudah sangat lama Naomi tidak pernah memeluknya seperti ini.

Sejak mereka tumbuh dewasa, sejak ia menyadari perasaannya sendiri, Max dengan sengaja menjaga jarak. Ia tak lagi membiarkan Naomi bersandar di bahunya terlalu lama, tak lagi mengacak rambutnya sembarangan, tak lagi memeluknya kecuali benar-benar perlu.

Karena Max tahu perasaannya pada Naomi tidak lagi sesederhana “adik angkat”. Dan itu adalah garis yang tidak boleh ia langkahi. Namun sekarang Naomi ada di pelukannya, terasa hangat dan menenangkan.

Jari Max menegang sesaat di punggung Naomi.

“Kamu bikin kaget,” gumamnya akhirnya, suaranya sedikit serak.

Naomi tersenyum kecil tanpa melepaskan pelukan. Di dalam hatinya, kenangan lama berputar.

Di kehidupan sebelumnya, Kak Max mati karena menyelamatkanku.

Ia mengingat dengan jelas tubuh Max yang berlumuran darah, napasnya yang melemah, senyum terakhirnya yang tetap tenang seolah berkata, tidak apa-apa.

Dan setelah semua itu Naomi tetap bodoh, tetap mengejar cinta yang salah. Tetap meninggalkan orang yang seharusnya ia lindungi.

Tangannya mencengkeram baju Max lebih erat. Kali ia tak akan menjadi bodoh lagi.

Kali ini aku tidak akan kehilanganmu, kak.

Namun tiba-tiba tubuh Naomi terdorong pelan ke belakang.

“Eh?”

Max sudah melepaskan pelukannya.

Naomi hampir kehilangan keseimbangan sebelum kembali duduk di ranjang. Wajahnya langsung cemberut.

“Ih,” protesnya. “Kak Max! Aku masih ingin memelukmu, tahu!”

Nyonya Arumi menghela napas lega. “Astaga, kalian bikin Mama hampir kena serangan jantung.”

Tuan Bastian mengangguk setuju. “Benar. Naomi, kamu baru sadar. Jangan sembarangan lompat. Untungnya infusmu tidak terlepas lagi,” omelnya dengan nada lembut.

Namun Naomi sama sekali tidak peduli. Ia menatap Max dengan kesal, pipinya sedikit mengembung.

Max menyipitkan mata, mengamatinya tajam.

Ada yang aneh dengan Naomi, pikir Max.

Naomi hari ini terlalu terbuka dan terlalu manja.

Ia menurunkan tangan ke saku celananya, lalu berkata dengan nada datar, seolah tak terjadi apa-apa, “Kamu itu terlalu berat.”

“Hah?!” Mata Naomi membulat sempurna. “Berat?!”

Ia menegakkan punggungnya. “Memangnya aku seberat apa, sih?!”

Max mengangkat tangan, lalu menyentil dahi Naomi dengan satu jari. “Seberat kapal selam.”

“Dasar!” Naomi berdecak kesal. “Kakak keterlaluan! Masa aku seberat itu.” Ia memalingkan wajahnya dengan ekspresi dongkol, kedua tangan menyilang di dada.

Tuan Bastian terkekeh kecil. “Kalian ini .…”

Nyonya Arumi tersenyum, meski masih mengamati Naomi dengan penuh tanda tanya.

Sementara itu, Max menghela napas panjang, merasa lega.

Jantungku tidak aman kalau terlalu dekat dengannya, batinnya.

Ia melirik Naomi sekilas. Gadis itu duduk di ranjang, cemberut tapi tetap tersenyum tipis, matanya berbinar terlalu berbeda dari Naomi yang setahun belakangan ini.

Tapi entah kenapa kecelakaan ini, membuat Naomi berbeda.

Mengingat Naomi mengalami kecelakaan karena ulah keluarga itu, wajah Max seketika mengeras. Rahangnya mengatup, sorot matanya berubah dingin. Ia menoleh dan menatap Naomi dengan tajam, seolah menahan amarah yang sejak tadi dipendam.

Naomi yang menyadari tatapan itu hanya mengangkat wajahnya dengan polos.

“Kenapa?” tanya Naomi.

Max mendengus pelan. “Sampai kapan kau mau bodoh seperti itu?” ucapnya tanpa basa-basi. “Mereka tidak pernah menyukaimu, Naomi. Sampai kapan kamu akan terus mengejar perhatian mereka?”

Ia berhenti sejenak, suaranya makin rendah dan menusuk. “Lihat dirimu sekarang. Masuk rumah sakit seperti ini pun, tidak satu pun dari mereka datang menjenguk.”

Ucapan itu menghantam tepat ke dada Naomi. Senyum tipis di wajahnya perlahan menghilang. Ia menunduk, jemarinya mencengkeram selimut putih di atas ranjang.

“Maaf, Kak.” suaranya nyaris tak terdengar. “Aku memang bodoh.”

Ucapan itu membuat Max, Nyonya Arumi, dan Tuan Bastian sama-sama terkejut. Mereka saling berpandangan singkat. Biasanya, Naomi akan langsung membantah. Membela keluarga Elios mati-matian, mencari alasan, bahkan berakhir dengan pertengkaran panjang yang membuat suasana membeku berhari-hari. Namun kali ini, Naomi justru mengalah begitu saja.

Max mengerutkan kening. “Tumben kau tidak membela mereka?” sindirnya. “Apa karena kepalamu terbentur aspal, jadi otak kecilmu ini akhirnya sedikit benar?”

Naomi mendecak kesal, lalu mendongak menatap Max dengan tatapan jengkel. “Otakku tetap normal, Kak.”

Ia menghela napas, lalu melanjutkan dengan nada lebih tenang, “Tapi mungkin karena aspal itu otakku jadi lebih tahu mana yang benar dan mana yang salah.”

Max terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela, menghembuskan napas panjang. Ada perasaan aneh yang menggelayuti dadanya, campuran lega, cemas, dan rasa bersalah. Ia masih belum terbiasa melihat Naomi bersikap seperti ini.

Ia teringat bagaimana dirinya langsung meninggalkan segala urusan di luar negeri dan terbang pulang begitu mendapat kabar Naomi tertabrak mobil. Bahkan proyek penting yang selama ini ia pegang pun ditinggalkannya begitu saja.

Naomi memperhatikannya sejenak, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

“Eh … bukannya Kakak masih ada proyek di luar negeri?” tanyanya penasaran. “Kok sudah pulang?”

Max menoleh cepat. “Sudah selesai,” jawabnya singkat, sebuah kebohongan yang terdengar terlalu rapi.

Naomi hanya mengangguk, tidak bertanya lebih jauh. Tiba-tiba terdengar suara kecil dari perut Naomi.

Kruuuk!

Kruuuk!

Naomi membeku sesaat, lalu tersenyum malu-malu. Tangannya refleks menutupi perutnya sendiri.

“Sepertinya … aku lapar,” katanya pelan.

Nyonya Arumi dan Tuan Bastian saling pandang, lalu tanpa sadar terkekeh kecil melihat reaksi Naomi yang polos namun jujur itu.

“Ya ampun.” Nyonya Arumi menepuk keningnya sendiri. “Mama hampir lupa.”

Beliau segera bangkit dari kursinya. “Sebentar ya, Nak. Mama siapkan dulu.”

Nyonya Arumi melangkah ke meja kecil di sudut ruangan, tempat ia meletakkan tas berisi bekal yang dibawanya dari rumah. Dengan cekatan, ia membuka kotak makan dan menata isinya ke atas piring. Tak lama kemudian, ia kembali ke sisi ranjang Naomi sambil membawa sepiring makanan hangat menu yang sejak kecil selalu menjadi kesukaan Naomi.

Begitu melihatnya, mata Naomi langsung berbinar terang. Wajahnya seolah hidup kembali.

“Ma …” katanya dengan nada manja yang sudah lama tak terdengar. “Suapin aku ya.”

Ucapan itu membuat ruangan kembali hening. Max membeku, Tuan Bastian terbelalak, bahkan Nyonya Arumi sendiri sempat terpaku. Sudah lama sekali Naomi tidak bersikap seperti ini, tidak manja, tidak bergantung, tidak meminta apa pun. Hal itu terjadi semenjak Naomi tahu mereka bukan keluarga kandung.

Keterkejutan itu segera berganti dengan senyum lebar di wajah Nyonya Arumi. “Iya, iya,” jawabnya lembut sambil mengangguk senang. “Mama suapin.”

Naomi langsung membuka mulutnya begitu sendok pertama mendekat. Ia mengunyah perlahan, wajahnya tampak puas.

“Enak,” gumamnya.

Max berdiri di samping ranjang, melipat tangan di dada. Ia pura-pura acuh, tapi sudut matanya terus mengawasi Naomi. Ada sesuatu yang terasa hangat sekaligus asing di dadanya melihat adiknya makan dengan ekspresi setenang itu.

Tuan Bastian berdeham kecil. “Makan yang pelan,” katanya. “Jangan seperti kelaparan tiga hari.”

Naomi melirik ayahnya sambil tersenyum tipis. “Soalnya ini masakan Mama. Aku sangat merindukannya.”

Nyonya Arumi tertawa kecil, matanya tampak berkaca-kaca. Ia menyuapkan satu sendok lagi dengan penuh perhatian.

Saat suasana mulai terasa hangat dan tenang, pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa ketukan.

Semua kepala refleks menoleh ke arah pintu.

Senyum di wajah Naomi perlahan memudar. Tangan Nyonya Arumi yang memegang sendok terhenti di udara. Sementara Max langsung mengeraskan ekspresinya, sorot matanya berubah tajam.

Tamu tak diundang itu akhirnya berdiri di ambang pintu, memecah ketenangan yang baru saja tercipta.

1
Dew666
💃💃💃💃💃
Miss Typo
sopo meneh sing rep ngerjain Naomi itu 😤
Hanima
minta pelasah 🤭
Tiara Bella
kepedean bngt sh tuh orang....
mama_im
orang gila mana lagi ini 😤😤😤
Zeepree 1994
Thor bilang ke Naomi dah ini para emak2 pengagum diskon mau ikut bantu belanja 😅🤭
Emmastlen95
jangan lupa upnya ya buat lebih sikit okey 👌👏🤜🤛♥️💗💓💞💕🤗👍/Smile//Scream//Determined/
Queen adzilla👑
mampus emang enak😂dasar kakak laknat😤pasti bakal nyesal kalau tau kelakuan si anak pungut/Grimace/
Miss Typo
wahahaha sukurin emang enak,,,
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
Kusii Yaati
sekalian Sonya burung perkutut nya yang kecil itu kasih alat kejut listriknya biar nggak bisa bangun lagi 🤭
Lyvia
suwun thor upnya
sukensri hardiati
ni volkov yg sama dengan klan zoe dallen volkov ?
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: Beda kak🤣🤣
total 1 replies
ᵉᶠ ↷✦; 𝓔 𝓵 𝓵 𝓮 ❞
kalo penyakit hati mulai mendera, madu yang manis pun bagaikan racun yang mematikan
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
ehhh kapok 1 mobil di rusak maka gantinya. 2mobil hahahha lebih dr impas
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
ѕ⍣⃝✰y𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ𝒔๎
mampus
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
Noey Aprilia
Bagooooosss......
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....
sambua
syukurin ini msh blm seberapa 😤
sambua
yg ada kau yg akan menyesal nanti Krn sdh salah milih membela si rubah betina itu/Sly/
sambua
jgn bilang nanti clay ini jdi calon jodoh nya sonya ya kak othoorr/Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉 biar sama kan sehati kalau yang lain sedih harus merasakan 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!