Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Wisuda
Gedung Balairung UI, Depok, Pukul 07.30,
Langit cerah berwarna biru tanpa awan, seolah turut merayakan hari spesial ini. Area kampus yang biasanya dipenuhi mahasiswa bergegas, kini dihiasi spanduk ucapan selamat dan bunga. Suara gamelan pengiring prosesi wisuda sudah mulai terdengar dari kejauhan.
Di depan gedung Balairung, kerumunan wisudawan dan keluarga berbaur. Di tengah kerumunan itu, Ferdy berdiri tegak dengan toga hitam dan topi bersudut yang terasa asing di kepalanya.
Di sampingnya, seorang wanita paruh baya dengan wajah yang mirip dengannya, kulit kecokelatan oleh terik matahari Banyuwangi, memandanginya dengan mata berkaca-kaca.
Ibu Ferdy, Ibu Surti, mengenakan kebaya sederhana warna biru laut dan kain batik motif lereng. Tangannya menggenggam erat tangan Ferdy.
"Nak, Ibu bangga sekali," bisik Ibu Surti, suaranya bergetar. "Akhirnya jadi sarjana."
"Makasih, Bu. Berkat doa Ibu," jawab Ferdy, memeluk ibunya sebentar.
Teman-teman mulai berdatangan. Andika, Roni, Reza, Siska, Bowo—semua sudah berdandan rapi. Mereka bersorak, berfoto, memberikan bunga. Suasana penuh sukacita.
Lalu, sebuah kehadiran yang tak bisa diabaikan muncul. Kirana melangkah mendekat dengan anggun, mengenakan dress sheath panjang warna champagne yang sederhana namun elegan, rambutnya diikat rendah dengan sanggul rapi, membawa seikat bunga anggrek putih dan sebuah bingkisan kecil.
Matanya langsung menemukan Ferdy, lalu beralih ke Ibu Surti dengan senyum paling ramah.
"Selamat pagi, Bu. Saya Kirana, teman Ferdy," ucapnya, membungkuk sedikit hormat.
"Selamat ya, Bu, atas kelulusan Ferdy."
Ibu Surti terpesona. Wanita di depannya begitu cantik, anggun, dan sopan. "Oh, terima kasih, Nak. Silakan…"
"Terima kasih, Kirana," sela Ferdy, menerima bunga dan bingkisan. "Ini Ibu gue, Bu Surti."
"Senang sekali bertemu Ibu," ujar Kirana, menyalami Ibu Surti dengan kedua tangannya. "Ferdy sering bercerita tentang Ibu."
Ibu Surti memandang Kirana dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan ekspresinya berubah dari terpesona menjadi… penuh harapan. Ini persis seperti gambaran menantu idaman yang selalu ia bayangkan untuk anak satu-satunya itu: cantik, tampak baik, dan dari penampilannya, pasti terpelajar.
"Masuk sini, Nak. Jangan berdiri di panas," ujar Ibu Surti, menarik tangan Kirana dengan akrab.
"Ferdy ini anaknya pendiam, jarang cerita tentang teman-temannya. Jadi Ibu senang sekali bisa ketemu teman-temannya."
Kirana tersenyum manis, dengan cepat mengambil peran sebagai 'pemandu' bagi Ibu Surti.
"Ibu, nanti prosesinya di dalam. Kita duduk di area keluarga. Saya sudah pastikan kursinya yang nyaman dan ada kipas angin. Ibu sudah sarapan? Saya bawa air mineral dan snack kalau Ibu butuh."
Ferdy hanya bisa menggeleng-geleng melihat Kirana dengan lancar mengambil alih. Andika dan Roni di sampingnya menyeringai.
"Dia benar-benar nggak main-main, Fer," bisik Roni.
"Ibumu kayaknya udah jatuh hati," tambah Andika.
Ferdy menghela napas. Ini akan menjadi hari yang panjang.
---
Di Dalam Balairung, Pukul 09.00
Prosesi wisuda berlangsung khidmat. Saat nama Ferdy Wicaksono dipanggil dan ia berjalan ke panggung untuk menerima ijazah sementara, Ibu Surti menangis haru.
Kirana duduk di sebelahnya, memegangi tangan Ibu Surti, matanya juga berkaca-kaca melihat Ferdy di atas panggung dengan penuh kebanggaan.
Setelah semua wisudawan menerima ijazah, tibalah sesi sambutan. Rektor, dekan, dan kemudian perwakilan wisudawan S1—seorang mahasiswi berprestasi dari Fakultas Teknik. Sambutannya standar, penuh motivasi dan terima kasih.
Tapi kemudian, ada kejutan. Pembawa acara mengumumkan, "Dan sebelum kita tutup, kami memberikan kesempatan khusus kepada salah satu tamu kehormatan kita hari ini, Kirana Putri, mewakili Galeri Nasional Indonesia dan juga sebagai mitra dari beberapa project kolaborasi dengan para wisudawan seni kita, untuk menyampaikan sepatah dua patah kata."
Semua mata tertuju pada Kirana yang berdiri dengan elegan dari kursinya di barisan keluarga. Ferdy membeku. Dia tidak tahu tentang ini. Andika dan Roni saling pandang, penasaran.
Kirana berjalan ke podium dengan percaya diri. Dia mengatur mikropon, lalu memandang ke arah para wisudawan, dan akhirnya matanya menempel pada Ferdy.
"Selamat pagi, Rektor, para dosen, keluarga, dan terutama para wisudawan dan wisudawati yang saya hormati. Saya disini mewakili dunia luar yang menantikan karya dan kontribusi kalian. Tapi izinkan saya secara pribadi, untuk menyampaikan sesuatu pada salah satu dari kalian—seorang yang telah mengajarkan saya tentang arti visi, ketekunan, dan kejujuran dalam berkarya."
Suara Kirana jernih dan berwibawa.
"Ferdy Wicaksono. Di tengah dunia yang seringkali mengukur kesuksesan dari gemerlap materi dan popularitas semu, kau memilih jalan yang lain."
"Kau memilih untuk melihat ke dalam, ke dalam retakan sejarah, ke dalam debu yang menari di cahaya, dan menemukan keindahan serta cerita di dalamnya. Project 'PAMOR'-mu bukan hanya kumpulan foto; itu adalah surat cinta pada warisan yang sering kita lupakan."
Ferdy merasa panas di telinga. Semua orang di balairung memandangnya.
"Dan yang lebih penting," lanjut Kirana, suaranya lebih lembut, "kau mengajarkan pada saya—dan mungkin pada kita semua—bahwa latar belakang bukanlah batas. Bahwa seorang anak petani dari Banyuwangi bisa berdiri di Galeri Nasional."
"Bahwa ketekunan dan passion adalah mata uang yang paling berharga. Terima kasih, Ferdy, telah menginspirasi. Selamat atas kelulusanmu. Dunia menantikan cerita-cerita berikutnya yang akan kau tangkap melalui lensamu."
Dia mengangguk, lalu turun dari podium di bawah tepuk tangan yang meriah. Sambutan itu personal, namun tetap profesional. Tidak terlalu mengungkap perasaan pribadi, namun penuh makna bagi yang tahu konteksnya.
Ibu Surti menangis lagi, kali ini karena bangga yang meluap-luap.
"Anak itu… bicara tentang Ferdy ya? Cantik sekali, pintar lagi…"
Ferdy hanya bisa tersenyum kaku, sambil dalam hatinya berkata, Dasima, lo liat kan? Ini makin ribet.
Dari sudut balairung, di antara sinar matahari yang menembus jendela kaca patri, sebuah kehadiran samar mengamati. Dasima hadir.
Dia melihat kebanggaan di wajah Ibu Surti, kekaguman di mata banyak orang, dan cahaya yang memancar dari Kirana. Dan dia melihat Ferdy, yang meski tersipu, terlihat gagah dan… layak mendapatkan semua pujian itu.
Rasa cemburu masih ada, tapi kali ini bercampur dengan rasa bangga yang tak terbantahkan. Layak bagimu, Raden. Kau bersinar.
---
Acara Foto dan Makan Siang, Pukul 12.00
Setelah prosesi, area kampus menjadi arena foto. Ferdy difoto dari segala penjuru: dengan ibu, dengan teman-teman, dengan dosen pembimbing. Kirana selalu ada di dekat Ibu Surti, membantu mengatur posisi, memegang barang, bahkan mengambil foto dengan ponselnya sendiri.
Saat makan siang prasmanan di pelataran fakultas, Kirana memastikan Ibu Surti mendapat tempat duduk yang nyaman dan piring yang penuh dengan makanan yang lunak dan tidak pedas, mengingatkan bahwa Ibu Surti mungkin tidak terbiasa dengan makanan Jakarta.
"Ibu, ini ayamnya lembut. Ini sayurnya. Jangan yang sambal dulu, nanti panas," ujar Kirana sambil mendampingi.
Ibu Surti semakin terpesona. "Kamu baik sekali, Nak. Orang tuamu pasti bangga punya anak seperti kamu."
Kirana tersenyum manis. "Terima kasih, Bu. Kebetulan saja Ibu datang, jadi saya bisa membantu."
Ferdy yang melihat dari meja sebelah bersama teman-teman, merasa seperti berada dalam sebuah drama. Ibunya sudah jelas-jelas terpikat.
---
Pukul 14.30 – Undangan Pribadi
Acara resmi sudah selesai. Keluarga mulai berpamitan. Ibu Surti akan menginap di rumah saudara di Bekasi sebelum besok pulang ke Banyuwangi.
Saat mereka sedang berkumpul untuk pamitan, Kirana menghampiri dengan sopan.
"Ibu, Ferdy. Sebelum Ibu pulang, apa Ibu ada waktu sebentar? Saya ingin mengajak Ibu minum teh di tempat yang nyaman, tidak jauh dari sini. Sebagai ucapan selamat dan juga agar Ibu bisa istirahat sebentar dari keramaian."
Ibu Surti langsung mengiyakan. "Wah, boleh sekali. Terima kasih undangannya, Nak."
Ferdy membuka mulut untuk menolak, tapi Ibu Surti sudah memegang tangan Kirana.
"Ayo, Nak. Ferdy ikut juga ya?"
Akhirnya, mereka bertiga—Ibu Surti, Ferdy, dan Kirana—naik ke Fortuner Kirana dan berangkat ke sebuah tea house eksklusif di kawasan Kemang yang tenang dan asri.
---
Tea House "Sanctuary", Kemang, Pukul 15.15
Tempatnya seperti surga tersembunyi: taman kecil dengan kolam ikan koi, gazebo-gazebo kayu terpisah, suara air mengalir. Mereka duduk di gazebo yang teduh. Kirana memesan teh melati panas dan kue-kue tradisional Indonesia.
"Ibu, teh melati ini enak dan menenangkan," kata Kirana sambil menuangkan teh untuk Ibu Surti.
"Wah, tempatnya bagus sekali. Mahal ya, Nak?" tanya Ibu Surti polos.
"Tidak juga, Bu. Yang penting Ibu nyaman," jawab Kirana diplomatis.
Percakapan mengalir. Kirana dengan cerdik bertanya tentang Banyuwangi, tentang kehidupan di kampung, tentang usaha keluarga.
Dia mendengarkan dengan penuh perhatian, tidak terlihat bosan sedikitpun. Ibu Surti pun semakin terbuka, bercerita tentang sulitnya membiayai Ferdy kuliah, tentang harapannya agar Ferdy bisa sukses dan bahagia.
"Dan Ibu lihat, Ferdy sekarang punya teman-teman baik seperti kamu. Ibu senang sekali," ujar Ibu Surti, memegang tangan Kirana.
"Kamu sudah punya pasangan, Nak?"
Pertanyaan langsung itu membuat Ferdy hampir tersedak teh. "Bu!"
Kirana tersenyum, tidak malu. "Belum, Bu. Lagi fokus kerja dan… menunggu orang yang tepat."
Ibu Surti mengangguk-angguk, matanya berbinar penuh arti sambil melirik ke arah Ferdy. "Orang yang tepat itu pasti ada, Nak. Sabar saja."
Setelah sekitar satu jam, Kirana membayar tagihan (meski Ferdy bersikeras membayar separuh, tapi Kirana menolak dengan halus). Saat mengantar Ibu Surti ke mobil, Ibu Surti menarik Ferdy ke samping.
"Nak," bisiknya, "cewek itu… baik sekali. Cantik, pintar, sopan, perhatian. Ibu nggak pernah lihat cewek seperti dia. Kamu… kenapa nggak coba?"
"Bu, itu… rumit. Dia teman aja," jawab Ferdy, merasa terjepit.
"Ibu nggak buta, Fer. Dia nggak cuma 'teman' cara dia lihat kamu. Dan Ibu lihat kamu juga nggak jahatin dia. Coba dipikir, Nak. Jodoh dari Tuhan nggak datang dua kali." Ibu Surti menepuk punggung Ferdy. "Ibu pulang dulu. Kamu jaga diri. Dan… hargai dia ya. Siapa tahu."
Ibu Surti naik ke mobil saudaranya yang sudah menjemput. Kirana melambaikan tangan, lalu menatap Ferdy.
"Terima kasih sudah mengizinkan saya menghabiskan waktu dengan ibumu. Dia wanita yang kuat dan baik," ucap Kirana.
"Gue yang harusnya bilang terima kasih. Lo udah sangat baik ke ibu gue," jawab Ferdy.
"Tapi Kir… jangan berharap terlalu banyak. Ibu gue… dia mungkin salah paham."
Kirana tersenyum kecil, sedih. "Aku tahu. Tapi biarkan aku berharap, Ferdy. Itu hakku. Dan biarkan ibumu salah paham. Itu memberiku sedikit kebahagiaan, berpikir bahwa… suatu hari nanti, mungkin."
Ferdy tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka berpisah di tempat parkir, masing-masing membawa beban perasaan yang semakin berat.
Dan malam itu, di kamar kosnya, Ferdy menatap toga yang tergantung di pintu. Hari ini adalah hari kemenangannya di dunia nyata. Tapi di balik kemenangan itu, ia merasa seperti berada di persimpangan yang semakin sempit, dijepit antara harapan seorang ibu, ketulusan seorang wanita, dan janji abadi dari sebuah cinta yang melampaui waktu. Dan di depan, ada Pulau Bali, yang mungkin akan memberikan jawaban—atau justru pertanyaan yang lebih dalam.