NovelToon NovelToon
Satu Derajat Celcius

Satu Derajat Celcius

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Diam-Diam Cinta / Fantasi Wanita / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Doa Bersama untuk Si Pitter

Kabar tentang Kontrak Pacaran Satu Meter itu menyebar lebih cepat daripada gosip diskon onderdil motor. Besok sorenya, markas bengkel Zayden pecah oleh suara tawa yang bahkan sampai membuat kucing-kucing di atap lari ketakutan.

Zayden duduk di atas tumpukan ban bekas dengan wajah ditekuk, sementara Dio, Hendi, dan Bima berguling-guling di lantai semen bengkel sambil memegangi perut mereka.

"Hahahaha! Sumpah, Bos! Gue nggak kuat!" Dio tertawa sampai sesak napas. "Jadi lo kencan dipisahin penggaris kayu? Lo mau pacaran apa mau bikin maket rumah minimalis?!"

"Satu meter, Bos! Satu meter!" Hendi menimpali sambil mengelap air mata tawanya. "Itu mah bukan jarak kencan, itu jarak aman kalau mau bongkar bom! Bapaknya Amy bener-bener nganggep lo zat radioaktif ya?"

Bima yang sedang makan kerupuk hampir tersedak. "Terus gimana nasib si Pitter, Bos? Dia nggak protes dikasih pembatas wilayah gitu? Berasa lagi di zona demiliterisasi Korea Utara sama Korea Selatan dong!"

"Berisik lo semua!" bentak Zayden, meski sudut bibirnya ikut berkedut ingin senyum. "Lo nggak tahu rasanya duduk tegak tiga jam dipantau mata elang. Gue gerak dikit, bapaknya langsung batuk kayak kena TBC."

"Tapi keren lho, Bos," ucap Dio sambil mencoba berdiri. "Gue punya ide. Gimana kalau kita semua nemenin lo kencan? Kita pake seragam pramuka, terus kita bawa bendera semapur. Jadi kalau lo mau bilang 'I love you' ke Amy, lo tinggal gerakin bendera dari ujung kursi. Aman dari radar bapaknya!"

"Atau pake kaleng yang disambung benang, Bos!" Hendi menambahkan dengan semangat. "Benangnya kita tarik sepanjang satu meter. Biar lo bisa bisik-bisik tanpa kena pasal pelanggaran jarak sosial."

Zayden melempar kunci pas ke arah Hendi (yang untungnya meleset). "Lo kira gue lagi di pengungsian? Gue ini Panglima, harga diri gue runtuh gara-gara penggaris itu!"

Tiba-tiba suasana mendadak hening saat Dio memasang wajah serius. Ia menyuruh semua anggota geng melingkar.

"Teman-teman, mari kita mengheningkan cipta sejenak," ucap Dio khidmat. "Untuk saudara kita, Pitter, yang harus menjalani masa karantina mandiri selama satu bulan ke depan. Semoga dia kuat menghadapi cobaan jarak satu meter ini."

"AMIN!" sahut Hendi dan Bima serempak sambil menunduk.

Zayden yang sudah tidak tahan akhirnya ikut tertawa lepas. Ia menendang ban bekas di depannya. "Sialan kalian semua! Tapi emang bener sih, semalam Pitter kayaknya kena mental. Dia bingung kenapa dunianya mendadak penuh dengan kayu penggaris."

"Tenang Bos," Bima menepuk bahu Zayden. "Nanti kalau lo udah nikah sama Amy, kita bakal bikin pesta yang jarak duduknya nggak satu meter lagi, tapi satu bantal! Sekarang nikmatin aja jadi Panglima Penggaris demi dapet restu Tuan Raja."

Zayden tersenyum tipis, membayangkan wajah Amy. "Yaudah lah. Biar satu meter, yang penting Amy masih di depan mata gue. Daripada dia dikirim ke kutub utara gara-gara gue nggak jujur soal poster sabun mandi."

"Hahaha! Poster sabun mandi! Sumpah itu bagian paling epic!" tawa mereka kembali meledak, menghiasi sore di bengkel yang kini terasa jauh lebih hangat.

Dua bulan berlalu dengan penuh perjuangan. Status Zayden sebagai Panglima Penggaris masih bertahan, namun ada yang berbeda.

Bengkelnya kini lebih maju, dan nilai-nilai simulasinya menunjukkan grafik yang naik tajam. Semua demi satu janji Masa depan bersama Amy.

Kini, koridor SMA Garuda terasa lebih sunyi namun tegang. Spanduk bertuliskan "Sukses Ujian Satuan Pendidikan" terpampang di mana-mana.

Hari ujian terakhir tinggal menghitung hari, yang artinya hari perpisahan sekaligus babak baru kehidupan mereka sudah di depan mata.

Malam itu, kencan belajar terakhir diadakan di perpustakaan pribadi mansion Amy. Tuan Pratama duduk di meja kerjanya yang hanya berjarak lima meter, sesekali melirik lewat kacamata bacanya.

Jarak satu meter masih berlaku. Amy dan Zayden duduk berseberangan di meja kayu besar.

"Zay, kalau soal ini hasilnya integral dari 2x, jawabannya apa?" bisik Amy sambil menyodorkan buku.

Zayden melihat soal itu, lalu menuliskan jawabannya dengan mantap.

X² + C

"Pinter!" Amy memberikan jempol rahasia di bawah meja.

​Zayden tersenyum tipis, matanya menatap Amy dalam-dalam.

"Aku harus pinter, My. Soalnya kalau aku nggak lulus dengan nilai bagus, Papa kamu pasti bakal punya alasan baru buat misahin kita. Lagian, aku nggak mau Pitter menderita lebih lama lagi karena kita nggak kunjung sah."

​Amy memutar bola matanya, meski pipinya merona.

"Zayden! Masih sempat-sempatnya bahas itu di depan Papa."

​Tiba-tiba, Tuan Pratama menutup bukunya dengan suara keras, membuat keduanya tersentak tegak. Beliau berjalan mendekat, berdiri tepat di tengah-tengah jarak satu meter mereka.

​"Ujian tinggal tiga hari lagi," ucap Tuan Pratama dingin. "Zayden, saya sudah melihat perubahanmu. Kamu jarang tawuran, bengkel mu berjalan baik, dan nilaimu... lumayan untuk ukuran anak yang dulu hampir tidak naik kelas."

​Zayden berdiri, menghormat sopan. "Terima kasih, Tuan."

​"Tapi ingat," lanjut Tuan Pratama. "Setelah lulus, Amy akan mendaftar ke universitas terbaik. Jika kamu tidak bisa membuktikan kamu bisa masuk ke universitas yang setara atau menunjukkan bisnis yang menjanjikan, kontrak satu meter ini akan berubah menjadi kontrak jarak antarbenua. Paham?"

​Zayden menelan ludah, tapi matanya memancarkan api tekad. "Paham, Tuan. Saya sudah menyiapkan kejutan di hari pengumuman nanti."

​Sementara itu di bengkel, Dio dan anggota geng lainnya sedang melakukan ritual yang sangat tidak ilmiah. Mereka membakar kemenyan (yang ternyata hanya obat nyamuk bakar) di depan tumpukan buku pelajaran.

​"Wahai arwah Einstein, masuklah ke otak Bos Zayden!" rapal Dio sambil komat-kamit. "Biar dia bisa jawab soal Fisika secepat dia ganti ban motor!"

​"Gue juga udah nyiapin jimat, Bos," ucap Bima saat Zayden sampai di bengkel malam itu. Ia menyodorkan sebuah pulpen yang ditempeli stiker matahari.

"Ini pulpen sakti. Gue udah minta doa sama emak gue biar setiap lo nulis, jawabannya bener semua."

​Zayden tertawa, merangkul sahabat-sahabatnya.

"Makasih, nyet. Tapi gue rasa gue nggak butuh jimat. Gue cuma butuh kalian tetep dukung gue pas hari H nanti."

​"Tenang Bos! Kita bakal kawal lo sampe gerbang kampus impian!" seru Hendi semangat.

"Demi masa depan lo, Amy, dan tentu saja... kemerdekaan Si Pitter!"

"Hahahahaha!!!"

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 😍 🥰 😍

1
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
Marine
mantap kak buat chapter pembukaannya, janlup mampir yaww
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!