Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Li xian
Long Wei dengan tenang merapikan jubah dalamnya, lalu dengan sengaja menarik tali sutra merah itu agar Yang Chi duduk tepat di sampingnya di atas ranjang.
"Masuk," perintah Long Wei dengan suara berwibawa.
Pintu terbuka, dan masuklah seorang pria paruh baya dengan jubah mewah bermotif awan. Wajahnya tampak bijaksana, namun matanya yang tajam langsung terbelalak saat melihat pemandangan di depannya. Di sana, keponakannya—sang Kaisar—duduk di tempat tidur berdampingan dengan wanita yang seharusnya sudah dieksekusi.
"Xiao Xi Huwan?" gumam Li Xuan, suaranya bergetar antara kaget dan tidak percaya. "Baginda... kenapa dia masih di sini? Bukankah wanita ini yang telah membunuh Permaisuri Yang Nan? Seharusnya dia sudah berada di penjara bawah tanah, atau bahkan lebih rendah dari itu!"
Yang Chi meremas sprei kasur. Ia bisa merasakan aura gelap terpancar dari pria ini. Di dalam novel yang ia tulis, Li Xuan adalah aktor yang sangat hebat; dia pura-pura peduli pada Long Wei padahal dialah yang merencanakan segalanya.
"Paman, tenanglah," ucap Long Wei datar, matanya melirik Yang Chi sebentar sebelum kembali menatap Li Xuan. "Dia memiliki informasi penting mengenai organisasi Burung Gagak. Aku memutuskan untuk menjadikannya tahanan pribadiku agar rahasia ini tidak bocor keluar."
Li Xuan tertegun. Nama "Burung Gagak" disebut membuat otot rahangnya sedikit menegang, meski ia berusaha menutupinya dengan senyum tipis. "Informasi? Baginda, jangan sampai Anda tertipu oleh lidah manis putri dari kerajaan tetangga ini. Dia licik."
Yang Chi yang tadinya takut, tiba-tiba merasa gemas karena tahu kelakuan asli pria ini. Ia memberanikan diri menatap Li Xuan. "Lidaku mungkin manis, Paman Li Xuan, tapi setidaknya aku tidak punya 'tanda' rahasia di pundakku seperti orang-orang Burung Gagak itu," ceplos Yang Chi dengan nada menyindir.
Wajah Li Xuan langsung pucat pasi sejenak sebelum kembali normal. Ia menatap Yang Chi dengan tatapan membunuh. "Apa maksudmu, Tuan Putri?"
Long Wei memperhatikan reaksi pamannya dengan saksama. Kecurigaan yang ditanamkan Yang Chi semalam mulai tumbuh. "Sudahlah. Paman, ada laporan apa dari perbatasan?" tanya Long Wei, mengalihkan pembicaraan sambil diam-diam mempererat genggamannya pada tali yang terikat di tangan Yang Chi.
Li Xuan mencoba mengatur napasnya. "Ah, itu... pergerakan pasukan musuh semakin dekat. Tapi saya rasa, kita harus segera menyelesaikan masalah 'pembunuh' permaisuri ini sebelum rakyat mengamuk, Baginda."
Yang Chi berbisik pelan ke arah Long Wei, "Dia ingin aku mati cepat supaya aku tidak bisa bicara lebih banyak, Kaisar. Jangan biarkan dia membawaku pergi."
"Aduh... kepala ku... pusing banget... Aduh, dunia berputar!" rintih Yang Chi dengan nada yang sangat dramatis.
Ia memegang dahinya, lalu dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya tepat ke pangkuan Long Wei. Bruk! Yang Chi memejamkan mata rapat-rapat, pura-pura pingsan dengan posisi kepala yang sangat nyaman di paha kaisar itu.
Long Wei terkejut, tangannya refleks menahan bahu Yang Chi. Ia menatap pamannya dengan dingin. "Paman, lihat sendiri kan? Dia tidak stabil. Sebaiknya Paman pergi dulu dan urus masalah perbatasan. Aku akan mengurus wanita ini."
Li Xuan mendengus kesal, namun ia tidak punya pilihan selain membungkuk hormat. "Baik, Baginda. Saya permisi."
Begitu pintu kamar tertutup rapat dan langkah kaki Li Xuan menghilang, suasana menjadi hening. Long Wei menunduk, menatap Yang Chi yang masih memejamkan mata di pangkuannya.
"Dia sudah pergi. Bangun," ucap Long Wei datar.
Satu mata Yang Chi terbuka sedikit, melirik ke arah pintu. "Beneran sudah pergi? Huft... capek juga jadi aktris dadakan," gumam Yang Chi. Ia bukannya segera bangun, malah menggeliat di pangkuan Long Wei seperti kucing yang malas.
"Wah, paha kaisar ternyata empuk juga ya, lebih nyaman dari kursi kafe tempatku ngerjain tugas kelompok kemarin," ceplos Yang Chi sambil menepuk-nepuk paha Long Wei seolah-olah sedang mengetes kualitas kasur.
Long Wei membeku. Wajahnya mulai memerah karena kesal bercampur malu. "Kau... apa yang kau lakukan?! Cepat bangun!"
"Sebentar, Tuan Kaisar yang Galak! Biarkan aku istirahat lima menit lagi. Di duniaku—eh, maksudku, di kepalaku ini banyak banget beban pikiran gara-gara nulis... eh, mikirin takdir kita," sahut Yang Chi santai.
Ia kemudian mendongak, menatap Long Wei dari bawah dengan pose konyol, lalu menarik-narik tali sutra yang mengikat tangan mereka. "Tapi Tuan, kalau kita mau mandi, apa tali ini tetap harus dipakai? Apa Tuan mau mandiin saya juga? Wah, kalau itu sih judul novelnya ganti jadi 'Pelayan Mandi Kaisar' dong?"
Yang Chi tertawa cengengesan, sementara Long Wei merasa urat di pelipisnya hampir putus.
"Kau... benar-benar tidak punya rasa malu ya?" geram Long Wei sambil menjewer telinga Yang Chi agar gadis itu mau bangun.
"Aduh! Aduh! Sakit, Om! Eh, Baginda! Jangan ditarik, nanti telinga saya jadi panjang sebelah kaya kelinci!" teriak Yang Chi sambil berusaha melepaskan diri dengan gerakan-gerakan konyol yang membuat Long Wei tanpa sadar hampir saja menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.
"Diam! Atau aku benar-benar akan membungkusmu dengan karpet dan membuangmu ke sungai!" bentak Long Wei, meski genggamannya pada tangan Yang Chi kini terasa jauh lebih lembut daripada sebelumnya.