Kalian percaya Transmigrasi? Percaya Jiwa manusia bisa tertukar?
Jessie Cassandra, gadis cantik yang terkenal Queen Bullying di sekolah, tak ada yang berani padanya termasuk guru, dia benci orang miskin. Secara mendadak membuat jiwanya tertukar dengan gadis yang sering ia bully.
Raya Azzahra, Korban Bully. Gadis culun dan miskin yang beruntung mendapatkan beasiswa di sekolah ternama.
=-=-=
"Kembalikan tubuh gue, cupu!" Hardik Jessie.
"B-bagaimana caranya? Aku gak tau apa yang terjadi." Raya masih heran.
"Lo pasti main dukun. Lo mau rebut kehidupan gue yang sempurna ini." Tuduh Jessie.
=-=-=
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana jiwa mereka bisa tertukar? Bagaimana mereka menjalani hari di tubuh yang berbeda? Lantas apakah jiwa mereka bisa kembali ke tubuh asli?
=-=-=
Penasaran? Ikuti kisahnya. Jangan lupa beri dukungan LIKE, COMMENT, VOTE dan FAVORIT.
LOVE YOU~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amha Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu
*
Waktu berlalu cepat, matahari mulai memberikan cahaya pada dunia. Sinarnya masuk melewati kaca jendela dan mengusik seseorang yang sibuk dengan alam mimpi.
Raya menggeliat, perlahan mengerjapkan mata, ia masih sangat mengantuk. Semalam tidak bisa tidur cepat, merasa gerah, panas tubuh sakit akibat kasur keras. Jika terus begini, dia bisa mati muda.
Ia duduk, melirik kanan kiri seperti orang linglung lalu menghela nafas kasar "Bodohnya gue masih berharap ini mimpi." Lirihnya dengan muka di tekuk saat mengetahui ia berada di kamar kecil.
Mengingat akan pergi, Raya segera bangkit untuk membersihkan diri. Begitu keluar kamar menuju kamar mandi, ia mendapati ibunya sedang sibuk memasak.
"Sudah bangun sayang, ayo mandi lalu sarapan bareng." Bu Indah tersenyum hangat.
Raya berdehem singkat, ia mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi. Di dalam sana kembali ia menghela nafas.
"Arrghh... Bisa mati muda gue kalo begini terus. Masa gue mandi pake gayungnya nenek gayung." Gerutunya sejak kemarin setiap masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Raya sudah mandi. Ia bercermin di dalam kamar setelah mengganti bajunya.
"Really? Gak ada makeup? Skincare? Hahh." Helaan nafas kembali terdengar.
Ia menatap dirinya dalam cermin, keningnya di plester, menyadari sesuatu jika rambutnya sedikit keriting. "Ini pasti keseringan di kepang dua. Mendukung banget jadi cupu, di tambah kacamatanya." Melirik kacamata di atas meja yang diberikan ibunya.
Berulang kali dia menolak tapi ibunya malah meletakkan kacamata disana. Katanya barangkali butuh.
Cukup lama ia bercermin, menatap dirinya seakan menilai apa yang harus ia lakukan untuk mempercantik diri. Ia mengetukkan jari di dagu, sambil bergumam kecil.
"Cantik." Satu kata lolos.
"Kalo di lihat lebih detail begini, si cupu ini aslinya cantik. Cuman kurang budget aja dan gak bisa ngerawat diri. Emang dasar kutu buku." Lanjutnya terus menilai.
"Oke. Berhubung sekarang gue yang menempati tubuh ini, jadi gue akan buat lo berubah." Ucapnya menunjuk dirinya di dalam cermin "Karna gue gak tau sampai kapan kita balik ke tubuh asli. Gue gak mau selama jadi lo, terus di injak injak sama mereka karna penampilan lo yang cupu. So... Lo beruntung gue masih berbaik hati sama tubuh lo ini."
"Ya yaaa... Lo beruntung and gue sengsara." Lanjutnya sinis.
Setelah puas mengobrol dengan cermin, Raya keluar kamar untuk sarapan dengan ibunya.
"Ini untukmu." Bu Indah memberikan sepiring nasi.
Raya menghela nafas "Ini lagi." Gumamnya pelan sata tahu lauknya tempe bacem, padahal dia tidak pernah habis makan itu dan alasannya diet.
"Kamu bilang apa?" Tanya Bu Indah.
Raya gelagapan "Oh itu, ayah dimana?" Dia membicarakan hal lain secara asal.
Wajah Bu Indah sedikit lesu "Ayah kamu sudah sarapan." Balasnya.
Raya tahu Bu Indah berbohong. Apakah mungkin ayahnya tidak pulang semalam? Soalnya seingat dia setelah kejadian kemarin siang, dia tidak melihat lagi ayahnya.
"Bu, habis ini aku mau keluar." Ujar Raya meminta ijin, ini pertama kalinya Raya alias Jessie meminta saat mau keluar.
"Mau kemana? Kamu baru sembuh." Bu Indah cemas.
"Jalan sebentar nanti sama teman. Terlalu bosan di rumah sakit kemarin." Balas Raya tersenyum, dalam hati mendengus 'Idiihh teman, sejak kapan gue temenan sama si cupu.'
"Baiklah, tapi hati hati ya dan jangan pulang malam." Bu Indah akhinrya menginjinkan.
"Iya Bu, terimakasih." Raya tersenyum
Mereka mulai menghabiskan makanan. Setelah itu, Bu Indah mencuci piring kotor, sedangkan Raya duduk di ruang tamu sambil memainkan handphone.
Terdengar suara ketukan pintu, Raya segera bangkit lalu membuka. Wajahnya sedikit sumringah, namun ia sembunyikan dengan aura dingin.
"Akhirnya lo dateng juga." Ucapnya ketus sambil menyilangkan tangan di perut.
"Aku sudah berjanji akan kesini." Balas Jessie.
"Siapa tamunya sayang?" Dari dalam suara Bu Indah terdengar semakin mendekat.
Wajah Jessie alias Raya yang asli terpaku, menatap wajah ibunya yang sejak kemarin tidak ia temui.
Bu Indah mengernyit bingung, ia sedikit mengenali wajahnya. Detik berikutnya ia ingat jika gadis di depannya itu orang yang sudah menabrak putrinya.
"Ibu." Lirih Jessie.
"Hah?" Bu Indah heran.
Jessie langsung menggeleng pelan "Maksudku tante." Segera ia menyalami Bu Indah sopan.
Bu Indah tersenyum hangat, ia merasa gadis itu sangat baik.
"Aku Jessie, temannya Raya." Ucap Jessie tersenyum.
"Sejak kapan kita berteman?" Raya menceletuk lirih, Jessie dengar tapi bodoamat.
"Oh kamu yang ingin mengajak Raya jalan keluar?" Tanya Bu Indah.
"Iya." Jessie mengangguk.
"Bu, aku pergi dulu." Pamit Raya kemudian, ia sudah siap sejak tadi.
"Langsung pergi? Gak mau duduk dulu? Kasihan temanmu jauh kesini tapi langsung pergi, pasti lelah." Ujar Bu Indah.
Jessie hendak menjawab, tapi Raya lebih dulu memotongnya "Gak usah Bu, dia gak capek kok. Iyakan?" Raya melirik Jessie dengan senyum mematikan.
Jessie menelan ludah, lalu mengangguk pasrah.
"Baiklah, kalian hati hati di jalan dan jangan pulang malam." Ucap Bu Indah.
Raya dan Jessie mengangguk. Jessie dengan sopan menyalami Bu Indah lalu berpamitan, sedangkan Raya terdiam memperhatikan. Jessie melirik Raya seolah mengatakan 'Ayo salim dulu sama ibu sebelum pergi.'
Raya mendengus kecil, sudah lama dia tidak salim pada orang. Terakhir kali pada ibu kandungnya dulu. Tapi berhubung ini bukan tubuhnya, jadi ia terpaksa ikut salim pada Bu Indah.
"Kami pergi Bu." Ucapnya lirih.
"Iya, Ibu masuk dulu." Bu Indah kembali masuk ke dalam rumah.
Raya melangkah menuju teras, melihat mobil hitam Marcedes Ben-Z terparkir disana juga di depan ada seseorang yang sangat ia kenal.
Raya melirik Jessie "Kenapa lo sama mang Ujang?" Tanyanya lirih.
"Aku gak di bolehin bawa mobil sendiri. Lagipula, aku gak bisa naik mobil." Balas Jessie ikut pelan.
Raya memutar bola matanya malas "Naik mobil aja gak bisa." Cibirnya, Jessie diam tak membantah. Itu benar kok.
"Suruh dia pulang, biar gue yang nyetir." Titah Raya.
"Kamu bisa?" Tanyanya polos, ia takut nabrak lagi.
"Lo pikir--..." Wajah Raya memerah, hampir aja darahnya mendidih jika Jessie tidak memotong ucapannya.
"Ah iya iya, aku suruh mang Ujang pulang." Parah Jessie, Raya mencibirnya dalam hati.
Jessie mendekati mang ujang yang berdiri "Maaf, mang Ujang bisa pulang aja?" Tanyanya lembut.
"Kenapa Nona? Saya harus mengantar Nona." Mang Ujang keberatan, itu tugas dia menjaga Nona mudanya.
"Saya ingin pergi berdua sama teman saya." Ucap Jessie melirik Raya.
Raya memperhatikan itu, dia mencebik kembali 'Apaan kek gitu? Ngomong gak ada tenaganya, udah kek gak makan sebulan.' Ia jengah mendengar Jessie berkata sangat lembut.
Terlalu bosan menunggu, Raya mendekat "Kami harus pergi berdua, saya yang akan menyetir." Ucapnya tegas.
Mang Ujang melirik Raya "Anda bisa jadi supir Nona Muda?" Tanyanya.
"What?! Supir?" Raya hampir meledak. "Kau--..."
"Iya mang, jadi saya aman bersamanya." Potong Jessie cepat, daripada kebongkar rahasianya. Dia bahkan tidak berani melirik Raya yang kini menatapnya seperti ini menerkam.
Mang Ujang tampak berpikir "Bagaimana jika Tuan tanya?"
"Iya juga ya." Gumam Jessie ikut bingung.
Raya menghembuskan nafas kasar "Mang Ujang bisa pergi kemanapun asal jangan pulang ke rumah dulu. Nanti Jessie akan menghubungi mang Ujang agar kembali kesini saat kami pulang, jadi biar pas pulang ke rumahnya nanti tetap Mang Ujang yang menyetir. Bagaimana?" Dia memberi usul.
"Tapi saya mau kemana dulu?" Tanya Mang Ujang, membuat Raya naik pitam.
"Ya kemana aja kek, jalan jalan, pulang ke rumah sendiri, hangout sama keluarga, ke rumah teman, atau apa kek. Masa gitu aja nanya." Seru Raya tiada henti. Mang Ujang langsung kicep.
Jika di suruh memilih, pasti Raya lebih suka membully daripada ngomel panjang lebar tanpa melakukan apapun. Itulah dia, jika merasa lawan bicaranya tidak bisa di kasari maka lebih baik ngomel tiada henti.
Jessie melirik Raya, dia tidak pernah menghormati orang yang lebih tua. Sangat kasar, pikirnya.
"Baik Non, saya akan kembali kesini saat Nona muda sudah menghubungi saya." Ucap Mang Ujang pasrah.
"Dari tadi kek." Ketus Raya.
Akhirnya setelah perdebatan kecil, Raya dan Jessie masuk ke mobil dan meninggalkan pelataran rumah. Sedangkan mang Ujang pergi menaiki taxi dan pulang ke rumah keluarganya untuk sementara.
...----------------...