Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Pagi Yang Kacau Di Rumah Daviko
Pagi itu, terminal Depok mulai dipadati oleh hiruk-pikuk manusia yang mengejar waktu.
Di sudut bangku kayu yang catnya sudah mengelupas, Saliha duduk memeluk tas kainnya. Pandangannya kosong, menatap aspal yang menghitam oleh ceceran oli.
Dunia di sekitarnya bergerak cepat. Namun waktu bagi Saliha seolah berhenti di saat gerbang rumah Daviko tertutup di belakang punggungnya subuh tadi.
Ia bingung. Benar-benar bingung. Ingin meminta bantuan Helda, sahabatnya, ia tak mau. Saliha tidak ingin membebani sahabatnya itu.
Ingin menghubungi kakak perempuan satu-satunya, akan tetapi kakaknya sudah dibawa pergi jauh ke pulau Sulawesi oleh suaminya, tanpa kabar yang pasti.
Pulang ke rumah saudara almarhum orang tuanya? Saliha menggeleng lemah. Saudara-saudaranya adalah orang-orang terpandang yang hanya mau mengakui keberadaannya disaat keadaan sedang mapan, bukan saat ia sedang luntang-lantung terusir seperti ini.
Hatinya masih tertinggal di rumah Daviko. Biasanya jam segini Kaffara mandi lalu menyusu dan bermain sejenak lalu tidur lagi.
"Kaffara sudah bangun belum, ya? Dia pasti mencari bauku," batinnya perih.
Seolah merespons gejolak batinnya, dada Saliha tiba-tiba terasa berdenyut sangat nyeri. Cairan bening yang menjadi sumber nyawa bagi Kaffara selama enam bulan ini justru keluar semakin deras, membasahi dress tipisnya.
Saliha tersentak, rasa malu dan sakit bercampur jadi satu. Dengan terburu-buru, ia membungkus tubuhnya dengan jaket tebal untuk menutupi dadanya yang mulai basah. Untung saja, tadi dia membawa jaket tebal satu-satunya pemberian almarhumah ibunya dulu.
Rasa perih itu semakin menjalar, harusnya ketika ASInya sedang melimpah, ia segera susukan pada Kaffara. Tapi, kali ini ia hanya bisa menahan rasa perih itu dengan ditutupi jaket tebal.
Empat jam ia luntang-lantung seperti raga tanpa jiwa. Mencari kontrakan di Depok atau Jakarta? Baginya, kedua kota ini sudah seperti ibu tiri yang kejam, hanya memberikan luka dan kenangan pahit.
"Aku harus ke mana?" bisiknya parau.
Tiba-tiba, sebuah bus besar bercat putih-biru dengan tulisan mencolok "YOGYAKARTA" berhenti tepat di depannya. Saliha menatap bus itu lama.
Kota Gudeg. Kota yang katanya tenang dan penuh keramahan. Mungkin di sana, di antara jalanan Malioboro atau kesunyian desa-desanya, ia bisa mengubur lukanya dan memulai hidup yang baru.
Dengan langkah yang dipaksakan, Saliha menaiki bus itu. Ia ingin menjauh sejauh mungkin dari Daviko yang masih melekat di ingatannya. Dan dari luka yang pernah ditorehkan dari rumah itu.
Sementara itu, di kediaman Daviko, suasana pagi yang biasanya tertata rapi kini berubah menjadi kekacauan yang bising.
Suara tangisan Kaffara yang melengking memecah kesunyian, hingga ke langit-langit rumah.
Bi Tita berlarian naik turun tangga dengan wajah pucat. Ia harus menyiapkan sarapan Daviko, membersihkan rumah, sekaligus menenangkan Kaffara yang rewelnya luar biasa pagi ini.
Namun, tangisan bayi itu bukan tangisan biasa. Itu adalah tangisan kerinduan pada hangatnya pelukan Saliha.
Di lantai bawah, Bu Ratna dan Tari baru saja keluar dari kamar tamu dengan mata mengantuk, layaknya tamu agung di hotel berbintang. Mendengar tangisan Kaffara, Tari mendengus kasar sambil merapikan daster mahalnya.
"Dasar perempuan pemalas! Saliha itu ke mana sih? Tidak dengar apa Kaffara sudah jerit-jerit kehausan? Pasti dia sengaja lamban supaya kita yang repot," dumel Tari sinis. Ia seakan lupa dengan kegembiraannya semalam saat kontrak Saliha diputus.
"Tari, kamu lupa?" Bu Ratna menyahut sambil menguap. "Perempuan itu sudah pergi pagi ini. Bukankah kontraknya sudah habis?"
Seketika, Tari dan Bu Ratna saling pandang. Wajah mereka yang tadinya santai langsung berubah tegang. Mereka berlarian menuju lantai atas, memburu kamar Kaffara yang pintunya terbuka lebar.
Benar saja, Saliha tidak ada di sana. Hanya ada Bi Tita yang sedang berusaha menggendong Kaffara dengan tangan gemetar.
"Bi Tita, minggir. Biar kami yang urus! Bibi turun saja!" bentak Tari, mencoba menunjukkan kesigapannya di depan Daviko yang kebetulan baru saja keluar dari ruang kerjanya dengan wajah kusam.
Bu Ratna dan Tari segera mengambil alih. Mereka kalang kabut menyiapkan susu formula premium yang tempo hari mereka beli.
Air panas disiapkan, botol dikocok dengan terburu-buru. Namun, malapetaka terjadi. Kaffara justru memalingkan wajahnya saat botol itu menyentuh bibirnya.
Bayi itu menangis semakin kencang, menendang-nendang dengan kaki mungilnya, menolak cairan asing yang bukan berasal dari Saliha.
"Ayo sayang, minum ini. Ini susu mahal, lebih enak dari yang kemarin," bujuk Tari dengan suara yang dibuat-buat lembut, meski dahinya sudah berkeringat dingin karena panik.
Daviko menghampiri mereka. Rahangnya mengeras melihat pemandangan di depannya. Anaknya menangis sampai suaranya serak, sementara mantan mertua dan adik iparnya terlihat sangat tidak kompeten.
"Kenapa dia tidak mau minum?" tanya Daviko dingin, matanya menatap botol susu yang ditolak Kaffara.
"Mungkin dia cuma butuh penyesuaian, Dav. Namanya juga bayi," jawab Bu Ratna membela diri. Namun, satu jam berlalu, tangisan Kaffara justru semakin menjadi.
Bayi itu mulai demam karena terlalu banyak menangis dan perutnya yang kosong.
Melihat kekacauan itu, Bu Ratna mengambil kesempatan. Ini adalah bagian dari rencana besarnya.
"Daviko, dengarkan Ibu. Kaffara akan kami bawa tinggal di rumah Ibu. Di sini tidak ada yang mengurus dengan benar sejak wanita itu pergi. Bi Tita juga sudah tua, dia tidak akan sanggup mengurus Kaffara," ucap Bu Ratna dengan nada mendesak.
"Sebentar, Bu. Bagaimana Ibu mau mengurus Kaffara di rumah Ibu, sementara barusan diberikan susu formula yang mahal saja dia tidak mau? Ibu juga bilang kalau Kaffara sudah bisa MPASI, tapi mana buktinya?" Daviko menatap mantan mertuanya, seakan sedang menagih bukti dari Bu Ratna.
"Kamu jangan khawatir, Dav. Sudah Ibu bilang, Kaffara hanya belum bisa menyesuaikan keadaan. Nanti di rumah Ibu, dia bakal terbiasa. Dia harus dibiarkan terbiasa, setelah itu Kaffara pasti tenang," bujuk Bu Ratna meyakinkan.
"Tidak bisa, Bu. Kaffara tetap di sini. Kalau butuh ibu susu baru, saya yang akan cari," tolak Daviko tegas.
"Mas Daviko, jangan egois!" seru Tari menimpali. "Kami janji akan carikan ibu susu yang jauh lebih handal, lebih berkelas, dan bukan wanita menjijikan seperti Saliha. Kami punya hak mengasuh Kaffara, sebab Kaffara ini adalah anak dari Mbak Amara, kakakku. Dan Ibu, lebih tahu apa yang terbaik untuk cucunya sendiri!"
Daviko terdiam. Serangan kata "hak" dan "Amara" selalu menjadi titik lemahnya. Ia menatap Kaffara yang wajahnya sudah memerah karena lelah menangis. Dalam hatinya, ada keraguan besar. Namun, desakan Bu Ratna yang terus-menerus membawa nama almarhumah istrinya membuat Daviko tersudut.
"Kamu tenang saja, Daviko. Di rumah Ibu, Kaffara akan bahagia." Bu Ratna meyakinkan dengan senyum liciknya.
Dengan berat hati dan perasaan yang tidak rela, Daviko akhirnya hanya bisa terpaku saat melihat Bu Ratna dan Tari mengemasi perlengkapan Kaffara.
Ia membiarkan bayinya dibawa pergi dari rumah itu, menjauh dari aroma Saliha yang sebenarnya masih tertinggal tipis di sudut-sudut ruangan.
Daviko tidak tahu, bahwa keputusannya pagi ini akan menjadi awal dari penderitaan baru bagi Kaffara, dan penyesalan terdalam bagi dirinya sendiri.
semangat ya😚