Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Sunyi Alea
🕊
Pagi selalu datang tanpa bertanya apakah aku siap menjalaninya. Aku bangun sebelum matahari benar-benar tinggi, menyiapkan seragam dengan tangan yang sudah terbiasa bekerja lebih keras dari seharusnya.
Di rumah ini, suaraku jarang dicari, kehadiranku jarang dihitung. Papa sibuk dengan dunia barunya, kakakku dengan keistimewaannya, adik-adikku dengan kasih sayang yang seolah tak pernah habis. Aku belajar sejak lama bahwa diam adalah cara paling aman untuk tetap bertahan.
Maka aku berangkat ke sekolah dengan langkah tenang, menyimpan lelah dan rindu yang tak tahu harus kutitipkan ke siapa—seolah hidup memang mengajarkanku satu hal sejak awal: menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan, meski hatiku retak perlahan.
“Alea, kamu sudah sarapan?” suara Dahayu terdengar manja dari ruang makan, disertai tawa kecilnya yang selalu berhasil menarik perhatian orang lain. Kakakku, anak pertama yang selalu dimanja, menatapku dengan senyum tipis. Aku mengangguk, menahan lelah.
“Sudah… hanya roti,” jawabku singkat. Dahayu Pramudya mengangkat alis, seperti menyadari jawabanku terlalu datar, tapi ia tidak bertanya lebih jauh—sibuk dengan ponselnya sendiri. Aku menarik nafas pelan, menyadari betapa sepinya posisiku di tengah keramaian ini.
Adikara Wiratama, adik laki-laki yang selalu menjadi pusat perhatian papa, lalu masuk dengan langkah tegas. “Kakak, mau nggak aku bantu bawa tas mu ke sekolah?” tawarnya. Aku tersenyum tipis, menolak. “Aku bisa, Adi.” Ia mengangguk dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban panjang, terlalu terbiasa melihatku mandiri. Aku menatap punggungnya yang pergi, dan rasa sepi itu lagi-lagi menusuk, tapi aku tidak mengeluh.
Chandrika Larasati, si bungsu yang manja dan selalu menginginkan perhatian, melompat-lompat kecil di sampingku. “Kaka… main sebentar sama aku dong!” tanyanya polos. Aku menunduk, mengelus rambutnya sebentar, lalu tersenyum lembut. “Nanti ya, Ara. Kaka harus berangkat sekolah.” Ia cemberut sebentar, tapi segera berlari kembali ke mainannya, tidak terlalu lama kecewa. Hatiku sesaat bergerak, ingin sekali membiarkan waktu berhenti agar bisa tetap bersama mereka. Tapi dunia nyata menuntutku untuk terus bergerak.
Papa masih sibuk di ruang kerjanya, dunia barunya menyerap semua perhatian. Aku, di tengah kehangatan yang pecah antara tawa, keributan, dan kasih sayang yang berlimpah untuk yang lain, berdiri di sini—anak kedua yang hampir tak terlihat. Diamku sering dianggap tenang, padahal aku belajar sejak lama, diam adalah cara paling aman untuk bertahan.
Langkahku menuju sekolah berat, tapi aku menahannya dengan nafas panjang. Sepanjang perjalanan, pikiranku memutar tentang hari-hari yang selalu sama, tentang cinta yang tidak kuminta, perhatian yang tidak pernah kuterima, dan luka yang tersimpan rapat di dada. Tapi aku tidak rapuh. Aku tidak berteriak. Aku hanya berjalan, membawa hati yang retak, membuktikan bahwa seseorang yang sering dilupakan tetap mampu menjadi kuat—dengan caranya sendiri.
Alea menghembus napas panjang sebelum menapak di jalan. Berbeda dari saudaranya yang sekolah dekat, hari-hari Alea selalu dimulai dengan perjalanan panjang—dua kali naik angkutan umum sebelum sampai ke sekolah. Setiap langkah terasa berat, tapi ia terbiasa. Diam-diam, ia sering bertanya pada dirinya sendiri apakah ada orang yang akan menunggunya atau peduli dengan kelelahan yang ia sembunyikan.
“Selamat pagi, Kaka Alea,” suara hangat memecah sepinya. Tante Gita Maheswari berdiri di teras rumahnya, tersenyum lembut. Wajahnya tegas, berwibawa, namun matanya memancarkan rasa sayang yang menenangkan. Alea tersenyum tipis, mencoba menampakkan wajar, padahal hatinya sesak.
“Pagi, Tante Gita,” jawabnya, suaranya nyaris terdengar serak. Setiap kali bertemu tante, Alea selalu merasa hangat—seperti masa lalu yang pernah ada. Tapi rasa hangat itu juga menyisakan luka. Sepupunya selalu mendapat perhatian yang sama seperti yang Tante Gita berikan kepadanya dulu. Dulu Alea pun merasakan kasih sayang itu, tapi sosok itu telah pergi, meninggalkan ruang hampa dalam hati yang terbiasa menanggung sendiri.
“Jangan lupa hati-hati di perjalanan, ya,” Tante Gita menepuk bahunya perlahan. Alea mengangguk, menahan kerinduan yang mengganjal. Senyum itu, meski sederhana, terasa seperti pelukan kecil yang dirindukan.
Alea melangkah ke jalan, menyusuri trotoar yang sama setiap hari. Di kejauhan, angkutan umum pertama sudah menunggu. Ia menunggu di sana sambil memandang rumah-rumah tetangga—yang tampak hangat, penuh tawa dan perhatian, persis seperti rumah sepupunya. Rasanya pahit, tapi ia menelan rasa itu. Ia selalu menatap ke depan, menyembunyikan luka-luka yang tidak pernah sempat disembuhkan.
Saat menaiki angkutan, ia duduk di pojok, menggenggam tas dan hatinya sendiri. Keramaian di dalam bus terasa jauh, seperti tidak menyentuhnya. Tapi dalam diam, Alea meneguhkan diri, ia akan bertahan. Ia akan tumbuh. Ia akan kuat. Karena meski sering terlupakan, ia tahu, ada kekuatan dalam kesunyian yang tidak dimiliki oleh mereka yang selalu dimanja.
Saat tiba di sekolah, riuh tawa dan percakapan teman-teman menyambutku. “Pagi Kaka Alea!” suara ceria terdengar, membuatku menoleh. Seorang teman sekelas, Tami, tersenyum sambil melambaikan tangan. “Pagi, Tami,” jawabku pelan. Aku selalu menikmati perhatian kecil itu, tapi tetap menjaga jarak.
Di kelas, aku duduk di pojok paling belakang. Dari tempatku, aku mengamati semua orang—teman yang tertawa bersama, guru yang mengajar dengan penuh semangat, dan murid-murid yang tak menyadari bahwa di sudut kelas ini, ada seorang gadis yang hidup dalam kesunyian. Dalam diam, aku menegaskan pada diriku sendiri, aku akan kuat. Luka-luka yang tersembunyi ini tidak akan membuatku rapuh. Aku akan bertahan, berjalan di antara cahaya dan sunyi, hingga menemukan tempatku sendiri.
Bel pulang berbunyi, menandai akhir hari yang panjang. Aku menatap keluar jendela, memikirkan perjalanan pulang yang sama melelahkannya. Tapi aku tersenyum tipis—hari ini, aku masih berdiri. Masih bertahan. Dan besok, aku akan melakukannya lagi.
Pikiran Alea mulai melayang ke rumah. Bagaimana kak Ayu selalu mendapat perhatian tanpa batas? Bagaimana Dika selalu dimanja papa, dipersiapkan jadi penerus? Bagaimana Ara selalu mendapat pelukan hangat yang dulu juga pernah ku rasakan? Semua itu terasa begitu jauh dari diriku. Aku menelan perasaan iri dan cemburu, menekankan pada diriku sendiri, aku harus tetap kuat. Aku harus bertahan, walau sendirian.
Saat bel terakhir berbunyi, menandai akhir pelajaran, aku menatap jendela. Matahari sore mulai merunduk, dan bayangan panjang sekolah jatuh di tanah. Hatinya berdebar saat memikirkan perjalanan pulang yang panjang. Tapi di dalam, ada bisikan kecil yang membuatnya terhenti sejenak:
“Kalau aku terus begini… kapan aku akan berhenti merasa seperti anak yang tak diinginkan?”
Langkahnya terhenti, dan untuk pertama kalinya hari itu, Alea merasa dunia seolah menatapnya—memaksa dia menghadapi rasa sakit yang selama ini ia sembunyikan. Hatiku retak, tapi aku tahu, esok, aku harus berjalan lagi. Tapi pertanyaan itu tetap menggantung, tajam, dan membekas.
Dan di sanalah, di tengah keramaian jalan pulang, Alea menyadari sesuatu yang menakutkan, sesuatu akan terjadi hari ini yang mungkin akan mengubah segalanya.
☀️☀️