"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: PERJAMUAN PARA PREDATOR
Lantai marmer kediaman Walikota membiaskan cahaya dari lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit, menciptakan ilusi bahwa kami sedang berjalan di atas hamparan berlian yang dingin. Namun bagiku, kemewahan ini hanyalah lapisan pernis tipis yang menutupi bau busuk pembusukan moral. Di balik dinding-dinding berlapis emas ini, keputusan diambil bukan untuk kesejahteraan rakyat, melainkan untuk menentukan siapa yang akan menjadi tumbal demi kelancaran bisnis Klub 0,1%.
Aku melangkah masuk dengan gaun sutra merah tua yang memeluk raga Zura seperti kulit kedua. Gaun itu memiliki potongan punggung yang terbuka rendah, memperlihatkan tato ular yang melilit dari bahu hingga tulang belikatku. Setiap langkah yang kuambil memicu denyutan rasa sakit di sumsum tulang—sisa-sisa pertempuranku melawan sakau di van tadi—namun aku mengubah rasa sakit itu menjadi ketajaman mental. Aku harus menjadi aktris terbaik malam ini, atau aku akan berakhir menjadi mayat tercantik di ruang rubanah gedung ini.
"Ingat perannya, Zura," bisik Adrian Vane di telingaku. Ia mencengkeram lenganku dengan posesif, jari-jarinya menekan bekas memar suntikan yang kusembunyikan di balik foundation tebal. "Malam ini kau adalah trofi. Jangan biarkan otak kecilmu itu mulai berpikir terlalu banyak. Tersenyum, minum, dan layani mereka yang membayar untuk keberadaanmu. Jika kau membuat satu saja kesalahan, aku tidak akan menjamin keselamatanmu."
"Aku tahu persis apa yang harus kulakukan, Adrian," jawabku pelan. Suaraku kini sepenuhnya adalah suara Zura—serak, menggoda, namun dengan lapisan es yang hanya bisa dideteksi oleh mereka yang benar-benar mengenalku. Di dalam kepalaku, Valerie yang asli sedang membedah struktur keamanan ruangan ini: enam pengawal di pintu masuk, empat di setiap sudut aula, dan entah berapa banyak lagi yang tersembunyi di balik dinding.
Aku merasakan beban mikrofon subminiatur yang tersembunyi di balik kalung mutiara imitasi yang melingkar di leherku. Kalung itu terasa seperti jerat, namun dialah satu-satunya senjataku untuk menjatuhkan mereka semua. Di ujung lain frekuensi, Julian sedang mendengarkan dari van yang terparkir satu kilometer jauhnya, merekam setiap napas, setiap detak jantung, dan setiap bisikan yang terjadi di sekitarku.
Kami berjalan menuju balkon lantai dua, area eksklusif yang dijaga oleh pria-pria bertubuh raksasa dengan setelan jas hitam tanpa cela. Di sana, di tengah kepulan asap cerutu Kuba yang pekat dan aroma wiski berumur puluhan tahun, duduk Senator Bram.
Senator itu adalah pria paruh baya dengan perut buncit yang dipaksakan masuk ke dalam tuksedo mahal buatan Italia. Dia adalah target utama malam ini. Log Hitamku menyebutkan bahwa Bram memiliki ketergantungan patologis pada kekuasaan dan memiliki kecenderungan narsistik untuk memamerkan rencana besarnya saat sedang berada di bawah pengaruh alkohol atau stimulasi seksual. Dia adalah mata rantai terlemah sekaligus yang paling berbahaya.
"Ah, Adrian! Kau membawa permata mahkotamu!" Bram berseru saat kami mendekat, suaranya parau dan berat. Ia tidak berdiri, melainkan hanya menepuk kursi kosong di sebelahnya dengan tangan yang dipenuhi cincin emas. "Kemarilah, Manis. Biarkan pak tua ini mencium aroma kesuksesan yang kau bawa."
Adrian mendorongku maju dengan gestur yang halus namun penuh paksaan. Aku duduk di samping Bram, membiarkan tangannya yang gempal dan berkeringat mendarat di pahaku. Rasa jijik merayap di tenggorokanku, seolah-olah serangga sedang merangkak di kulitku, namun sebagai Valerie, aku menutup emosiku rapat-rapat di balik topeng profesionalitas.
"Kudengar Anda sedang merayakan sesuatu yang sangat besar, Senator," kataku sambil menuangkan wiski ke gelas kristalnya. Aku memiringkan tubuh sedemikian rupa agar mikrofon di leherku menghadap tepat ke arah wajahnya, memastikan setiap desahan dan kata-katanya tertangkap jelas. "Apa ini soal kargo yang akan mendarat di Dermaga Utara minggu depan? Adrian bilang itu akan mengubah peta kekuatan kota ini."
Bram tertawa terbahak-bahak, memperlihatkan gusi yang memerah. "Kau terlalu pintar untuk sekadar menjadi gadis cantik, Zura. Tapi ya, itu adalah paku terakhir di peti mati musuh-musuh kita. Begitu kontainer itu turun, tidak akan ada lagi yang bisa melacak asal-usul modal kampanye Walikota. Kita akan menjadi pemilik sah kota ini secara absolut."
"Bukankah itu berisiko?" tanyaku dengan nada manja yang dibuat-buat, sambil jemariku meraba-raba saku jasnya secara halus, seolah-olah aku sedang menggodanya. "Maksudku, kepolisian... dan si psikolog forensik Valerie itu... bukankah mereka sedang mengawasi pelabuhan dengan sangat ketat?"
Mendengar nama "Valerie", Bram mendengus menghina dan meneguk wiskinya hingga tandas. "Valerie? Wanita itu sudah 'dijinakkan'. Dia sekarang bekerja untuk kita, merancang skenario untuk menghapus jejak digital kita. Dia bahkan sedang duduk di bawah sana," ia menunjuk ke arah aula bawah di mana "diriku" yang palsu—Zura dalam tubuh asliku—sedang asyik berbincang dengan para sosialita.
Aku menelan ludah, menatap diriku sendiri dari kejauhan. Melihat keanggunan palsu yang ia kenakan menggunakan wajahku membuatku ingin berteriak. "Lalu bagaimana dengan bukti-bukti lama? Kau tahu, dia punya brankas rahasia yang kabarnya berisi daftar semua anggota Klub."
"Segalanya terkendali," Bram membisikkan ini tepat di telingaku, aromanya adalah campuran alkohol murah dan tembakau. "Kunci enkripsinya ada padaku. Sebuah master key fisik. Tanpa kunci ini, data di server pusat pelabuhan tidak akan bisa dibuka oleh siapa pun, bahkan oleh unit siber pusat sekalipun. Dan kunci itu tidak akan pernah meninggalkan tubuhku."
Tanganku merayap ke saku dalam jasnya. Di sana, di balik kain sutra pelapis jas, aku merasakan benda keras berbentuk persegi kecil. Flash drive. Itulah jantung dari konspirasi ini. Itulah bukti yang bisa memenjarakan mereka seumur hidup.
Aku harus mengambilnya tanpa dia sadari. Sebagai psikolog forensik, aku telah mempelajari ribuan jam rekaman cctv tentang teknik pengalihan perhatian. Aku tahu bahwa otak manusia tidak bisa fokus pada dua stimulasi taktil yang kuat secara bersamaan.
Aku menjatuhkan sedikit wiski ke celana mahalnya dengan sengaja. "Oh, astaga! Maafkan aku, Senator! Tanganku sedikit gemetar karena terlalu bersemangat bertemu dengan Anda."
Aku berpura-pura panik, menggunakan sapu tangan sutra untuk membersihkan celananya dengan gerakan yang sedikit provokatif di area pahanya. Fokus Bram terpecah sepenuhnya; matanya menatap dadaku sementara otaknya memproses rangsangan di kakinya. Di saat yang sama, jemari tangan kiriku menyelinap masuk ke saku jasnya yang terbuka lebar.
Dengan satu gerakan halus yang kulatih secara mental ribuan kali dalam perjalanan tadi, flash drive itu kini berada di dalam genggamanku. Aku segera menyelipkannya ke dalam belahan gaun merahku, menekannya ke kulit dadaku di mana ia tidak akan terlihat.
"Tidak apa-apa, Manis. Kesalahan kecil adalah bagian dari kenikmatan," kata Bram, suaranya semakin berat oleh nafsu. Ia mencengkeram daguku, memaksa aku menatap matanya yang kabur. "Bagaimana kalau kita beralih ke ruangan yang lebih tenang? Di atas, ada suite pribadi yang jauh dari gangguan musik berisik ini. Aku ingin menunjukkan padamu bagaimana seorang pria penguasa memperlakukan aset favoritnya."
Jantungku berdegup kencang, seolah-olah ia ingin menembus tulang rusukku. Aku sudah mendapatkan kuncinya, tapi aku terjebak. Jika aku menolak secara tiba-tiba, kecurigaannya akan bangkit. Jika aku ikut, aku akan berada di ruang tertutup dengan monster ini tanpa ada jalan keluar yang mudah.
"Tentu saja, Senator," jawabku dengan senyum Zura yang paling memikat, meski di dalam hati aku sedang menghitung setiap detik kemungkinan untuk melarikan diri. "Pimpin jalannya. Tapi aku ingin mengambil satu gelas lagi sebelum kita naik. Bisakah Anda menunggu di pintu lift?"
Bram menyeringai, merasa menang. Ia berdiri, sedikit terhuyung namun tetap penuh otoritas. "Jangan lama-lama, Zura. Kesabaranku setipis gaun yang kau pakai itu."
Saat Bram berjalan menuju lift pribadi di ujung balkon, aku berbalik ke arah meja minuman. Aku melihat Julian di kejauhan, menyamar sebagai pelayan dengan nampan di tangannya. Aku memberikan isyarat mata yang sangat tipis—sebuah kode bahwa aku sudah mendapatkan kuncinya dan aku dalam bahaya.
Namun, saat aku hendak melangkah menuju tangga darurat untuk menghilang, sebuah tangan menepuk bahuku dari belakang.
"Cepat sekali kau pergi, Zura? Pesta ini baru saja dimulai."
Suara itu. Dingin, berwibawa, dan sangat familiar. Aku berbalik perlahan dan menemukan diriku menatap wajahku sendiri. Zura, dalam raga Valerie, berdiri di sana dengan segelas sampanye di tangannya. Ia menatapku dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus kulit merah tua gaunku.
"Dokter Valerie," aku menyapa, memaksakan suaraku tetap rendah. "Saya pikir Anda sedang sibuk dengan para pejabat di bawah."
"Aku selalu punya waktu untuk melihat bagaimana kabar pasienku," katanya dengan senyum yang tidak mencapai matanya. Ia melirik ke arah saku jas Senator Bram yang kini kosong, lalu kembali menatap dadaku tempat aku menyembunyikan flash drive itu. "Kau terlihat... sedikit cemas. Apa ada sesuatu yang mengganjal di hatimu? Atau mungkin... di gaunmu?"
Dia tahu. Insting kriminalnya sebagai Zura mendeteksi gerakan tanganku tadi, meski Bram yang mabuk tidak merasakannya. Dia sedang mengujiku, bermain-main dengan mangsanya sebelum memanggil penjaga.
"Hanya sedikit sesak napas karena keramaian, Dokter," balasku, tetap menjaga jarak. "Jika Anda permisi, Senator Bram sedang menunggu saya."
"Biarkan dia menunggu," desisnya, langkahnya semakin mendekat hingga aroma parfum asliku yang kini ia pakai memenuhi indra penciumanku. "Aku tahu apa yang kau lakukan, Valerie. Kau pikir raga pecandu ini bisa memberikanmu keajaiban? Di dunia ini, kebenaran tidak ada harganya jika wajah yang mengucapkannya adalah sampah."
Tepat saat itu, alarm di kepalaku berbunyi. Aku melihat Julian mulai bergerak mendekat. Ketegangan di antara dua wanita dengan jiwa yang tertukar ini mencapai puncaknya di tengah perjamuan para predator. Aku harus memutuskan: menyerang, lari, atau terus berakting sampai pintu lift itu tertutup.
"Nikmatilah wajah itu selagi bisa, Zura," bisikku di telinganya saat aku melewatinya dengan sengaja menyenggol bahunya. "Karena pemilik aslinya baru saja mengambil kembali kunci ke rumahnya."
Aku berjalan cepat menuju lift tempat Senator Bram menunggu, meninggalkan "diriku" yang berdiri terpaku dengan kemarahan yang mulai membakar matanya. Di dalam saku gaunku, kunci enkripsi itu terasa sangat panas, sebuah beban yang akan menentukan siapa yang akan tetap bernapas besok pagi.