NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:34.1k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 - Tidak Kembali Utuh, Tapi Bertahan

Pagi datang tanpa peringatan.

Tidak ada alarm yang membangunkan Nadira. Tidak ada suara tergesa di lorong. Hanya cahaya pucat yang menyelinap dari sela tirai, jatuh ke lantai dalam garis-garis tipis seperti luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Ia membuka mata perlahan.

Tubuhnya terasa berat tapi bukan sakit yang tajam, hanya kelelahan yang menetap. Seperti membawa beban yang sudah terlalu lama dipikul, sampai otot lupa bagaimana rasanya rileks. Sendi lututnya berdenyut pelan. Bahunya kaku. Napasnya pendek di awal, lalu ia paksa memanjang.

Masih di sini, pikirnya.

Itu bukan afirmasi optimis. Hanya fakta...

Nadira bangun duduk, berhenti sejenak ketika pusing menyapu. Ia menunggu. Tidak melawan. Tidak memaki tubuhnya karena lambat. Itu hal kecil tapi dulu, hal kecil seperti ini selalu jadi awal kemarahan.

Ia menurunkan kaki ke lantai, dingin menyentuh telapak kakinya. Ada bekas memar samar yang belum sepenuhnya memudar. Tubuhnya menyimpan arsip kegagalan yang rapi.

Di cermin kecil dekat pintu, ia menatap bayangannya.

Wajahnya lebih tirus. Mata masih menyimpan bayangan gelap, tapi sorotnya tidak kosong. Ada sesuatu yang lain di sana bukan harapan besar, melainkan kewaspadaan yang tenang. Seperti seseorang yang tahu dunia bisa runtuh kapan saja, dan memilih berdiri dengan lutut sedikit menekuk.

Ia mengangkat tangan, menyentuh bekas jahitan di perut. Refleks. Kebiasaan.

"Aku tahu." Gumamnya pada tubuhnya sendiri. "Aku denger."

Hari ini ia akan pulang.

Bukan pulang ke rumah lama tempat yang terlalu banyak kenangan, terlalu banyak versi dirinya yang sudah mati. Tapi ke apartemen kecil yang disiapkan Arvin. Sementara. Aman. Netral.

Transisi, kata Arvin.

Nadira menyebutnya... napas di antara reruntuhan.

Arvin datang tepat waktu.

Ia tidak membawa senyum besar. Tidak membawa pidato motivasi. Hanya tas kecil dan kunci.

"Kamu siap?" Tanyanya.

Nadira mengangguk. "Sejauh yang aku bisa."

Itu jawaban paling jujur yang ia punya.

Perjalanan turun terasa panjang. Setiap langkah mengingatkan bahwa tubuhnya belum selesai bernegosiasi dengan dunia. Tangannya mencengkeram pegangan. Rahangnya mengeras bukan karena sakit, tapi karena dorongan lama untuk tidak terlihat lemah.

Pride itu masih ada.

Ia benci fakta itu, sekaligus belum siap melepaskannya sepenuhnya.

Di depan gedung, udara luar menyambutnya dengan bau debu dan kendaraan. Kota berjalan seperti biasa tidak peduli siapa yang hampir hancur di dalamnya.

Nadira berhenti sejenak.

Arvin menoleh. "Kenapa?"

"Aku cuma... takut." Jawab Nadira tanpa berusaha terdengar kuat. "Takut ternyata aku nggak bisa."

Arvin tidak menyangkal. "Takut itu valid."

"Kamu nggak bilang aku pasti bisa?"

"Tidak." Jawab Arvin jujur. "Tapi aku bilang kamu tidak sendirian waktu gagal."

Nadira menelan ludah. Itu lebih menenangkan daripada janji kosong mana pun.

Apartemen itu sunyi.

Tidak steril seperti ruang rehabilitasi, tapi juga tidak penuh. Dindingnya polos. Jendela menghadap gang sempit. Ada sofa kecil, meja makan sederhana, dan kasur rendah.

Nadira berdiri di tengah ruangan, napasnya terasa aneh. Seperti berada di ruang tunggu antara hidup lama dan yang baru.

"Aku akan sering ke sini." Kata Arvin. "Tapi aku tidak akan selalu ada."

Nadira mengangguk. "Aku tahu."

Ia duduk perlahan di sofa. Otot-ototnya protes. Ia membiarkannya.

"Kamu mau minum?" Tanya Arvin.

"Air."

Saat Arvin ke dapur kecil, Nadira menyandarkan kepala. Matanya terpejam. Sekilas, pikirannya kembali ke hari-hari terakhir sebelum semuanya runtuh. Jadwal padat, tidur singkat, obsesi pada kontrol. Ia ingat rasa bangga saat mengabaikan rasa sakit, seolah itu bukti kekuatan. Sekarang, kenangan itu terasa seperti ironi kejam.

Arvin kembali, menyerahkan gelas. "Aku akan pergi sebentar lagi." Katanya.

Nadira membuka mata. Ada dorongan impulsif untuk meminta Arvin tinggal. Untuk bergantung. Untuk menyerahkan sisa kendali.

Ia menahannya.

"Oke." Katanya. "Hati-hati."

Arvin tersenyum kecil. "Kamu juga."

Pintu tertutup pelan. Sunyi menelan ruangan.

Nadira duduk sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak merasa panik karena itu.

***

Raka berdiri di depan bengkel saat hujan turun rintik. Tangannya diperban. Bahunya pegal. Punggungnya nyeri. Tubuhnya berisik dengan keluhan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Ia menyalakan rokok lalu mematikannya sebelum sempat dihisap. Kebiasaan lama yang tidak lagi terasa cocok.

Ponselnya bergetar.

Pesan masuk. Nama yang membuat dadanya menegang.

[Kamu sudah pulang?]

Nadira.

Raka membaca pelan. Tidak terburu-buru. Tidak berusaha menyusun jawaban yang tepat.

[Iya. Hari ini.]

Balasan datang cepat.

[Capek?]

Raka tersenyum tipis.

[Selalu.]

Ia ragu sejenak, lalu menambahkan...

[Tapi masih berdiri.]

Ada jeda lebih lama kali ini sebelum balasan datang.

[Itu sudah cukup.]

Raka menatap layar lama. Dadanya terasa hangat dan berat sekaligus. Tidak ada janji. Tidak ada nostalgia yang diperas. Hanya pengakuan diam-diam bahwa mereka masih ada dengan jarak yang perlu dihormati.

Ia memasukkan ponsel ke saku. Hujan turun sedikit lebih deras.

Raka melangkah pulang, sepatu basah, tubuh lelah, pikiran tidak lagi berisik seperti dulu. Ada luka yang tidak ia bahas, keputusan yang belum sepenuhnya matang. Tapi tidak ada lagi keinginan untuk kembali ke lingkaran yang sama.

Ia tidak sembuh. Namun ia bergerak menjauh dari kehancuran.

***

Aluna duduk di lantai ruangannya sendiri. Tidak ada rapat. Tidak ada forum. Tidak ada peran yang harus ia mainkan.

Ia memegang buku catatan kosong. Pena di tangannya bergetar sebentar sebelum ia mulai menulis.

Bukan rencana. Bukan strategi. Hanya kalimat-kalimat pendek...

Aku takut tidak dibutuhkan. Aku terbiasa mengendalikan karena takut ditinggalkan. Aku melukai orang tanpa menyadarinya. Aku tidak ingin jadi orang itu lagi.

Air mata jatuh, membasahi kertas. Ia tidak menyekanya cepat-cepat. Ia membiarkannya.

Menangis tanpa penonton terasa aneh. Sepi. Tapi jujur.

Ketika ponselnya berbunyi, ia hampir mengabaikannya. Hampir.

Nama Nadira muncul.

Aluna menarik napas, lalu menjawab panggilan.

"Halo."

"Aku sudah pulang." Kata Nadira di seberang sana. Suaranya pelan, tapi stabil.

Aluna menelan ludah. "Kamu... bagaimana?"

"Capek." Jawab Nadira. "Tapi aku nggak hancur."

Itu jawaban yang membuat dada Aluna sesak.

"Aku mau bilang." Lanjut Nadira, "aku belum bisa memaafkan semuanya."

Aluna mengangguk, meski Nadira tidak bisa melihat. "Aku tahu."

"Tapi aku juga nggak mau terus hidup dalam marah."

Hening di antara mereka. Bukan hening yang menekan lebih seperti ruang bernapas.

"Aku juga sedang belajar." Kata Aluna. "Kalau suatu hari kamu ingin bicara... aku ada. Kalau tidak, aku juga mengerti."

Nadira menghela napas. "Terima kasih."

Panggilan berakhir tanpa drama.

Aluna menatap buku catatannya lagi. Tangannya masih gemetar, tapi tulisannya berlanjut.

***

Malam tiba pelan.

Nadira berdiri di dapur kecil apartemennya, mencoba memasak sesuatu yang sederhana. Tangannya lambat. Koordinasinya belum sempurna. Beberapa kali ia berhenti karena pusing ringan.

Ia tidak memaksa.

Ketika akhirnya ia duduk untuk makan, porsinya kecil. Tubuhnya menolak lebih.

Ia menatap makanan itu lama, lalu tertawa kecil, kering, nyaris pahit.

"Dulu aku marah kalau begini." Katanya pada ruangan kosong. "Sekarang... aku cuma capek."

Setelah makan, ia membersihkan dengan pelan. Setiap gerakan diukur. Setiap batas dihormati.

Di kasur, ia berbaring miring. Ponselnya di tangan. Tidak ada pesan baru. Tidak ada krisis.

Hanya pikirannya sendiri.

Rage itu masih ada terhadap dunia yang membiarkannya jatuh, terhadap dirinya yang terlalu keras kepala. Trauma masih muncul dalam kilasan-kilasan pendek. Guilt masih menempel seperti debu halus. Obsession pada kontrol kadang berdenyut, meminta diakui.

Namun sekarang, semua itu tidak lagi berteriak bersamaan.

Mereka berbicara satu per satu.

Dan Nadira untuk pertama kalinya mendengarkan tanpa harus patuh.

Ia menatap langit-langit.

"Aku nggak kembali jadi aku yang lama." Bisiknya. "Dan mungkin itu bukan kegagalan."

Lampu kamar dimatikan.

Gelap menyelimuti.

Di luar, kota terus hidup. Di dalam, seseorang belajar hidup dengan sisa-sisa dirinya, tidak utuh, tidak bersih, tapi masih bernapas.

Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!