Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 - Tidak Kembali Utuh, Tapi Bertahan
Pagi datang tanpa peringatan.
Tidak ada alarm yang membangunkan Nadira. Tidak ada suara tergesa di lorong. Hanya cahaya pucat yang menyelinap dari sela tirai, jatuh ke lantai dalam garis-garis tipis seperti luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Ia membuka mata perlahan.
Tubuhnya terasa berat tapi bukan sakit yang tajam, hanya kelelahan yang menetap. Seperti membawa beban yang sudah terlalu lama dipikul, sampai otot lupa bagaimana rasanya rileks. Sendi lututnya berdenyut pelan. Bahunya kaku. Napasnya pendek di awal, lalu ia paksa memanjang.
Masih di sini, pikirnya.
Itu bukan afirmasi optimis. Hanya fakta...
Nadira bangun duduk, berhenti sejenak ketika pusing menyapu. Ia menunggu. Tidak melawan. Tidak memaki tubuhnya karena lambat. Itu hal kecil tapi dulu, hal kecil seperti ini selalu jadi awal kemarahan.
Ia menurunkan kaki ke lantai, dingin menyentuh telapak kakinya. Ada bekas memar samar yang belum sepenuhnya memudar. Tubuhnya menyimpan arsip kegagalan yang rapi.
Di cermin kecil dekat pintu, ia menatap bayangannya.
Wajahnya lebih tirus. Mata masih menyimpan bayangan gelap, tapi sorotnya tidak kosong. Ada sesuatu yang lain di sana bukan harapan besar, melainkan kewaspadaan yang tenang. Seperti seseorang yang tahu dunia bisa runtuh kapan saja, dan memilih berdiri dengan lutut sedikit menekuk.
Ia mengangkat tangan, menyentuh bekas jahitan di perut. Refleks. Kebiasaan.
"Aku tahu." Gumamnya pada tubuhnya sendiri. "Aku denger."
Hari ini ia akan pulang.
Bukan pulang ke rumah lama tempat yang terlalu banyak kenangan, terlalu banyak versi dirinya yang sudah mati. Tapi ke apartemen kecil yang disiapkan Arvin. Sementara. Aman. Netral.
Transisi, kata Arvin.
Nadira menyebutnya... napas di antara reruntuhan.
Arvin datang tepat waktu.
Ia tidak membawa senyum besar. Tidak membawa pidato motivasi. Hanya tas kecil dan kunci.
"Kamu siap?" Tanyanya.
Nadira mengangguk. "Sejauh yang aku bisa."
Itu jawaban paling jujur yang ia punya.
Perjalanan turun terasa panjang. Setiap langkah mengingatkan bahwa tubuhnya belum selesai bernegosiasi dengan dunia. Tangannya mencengkeram pegangan. Rahangnya mengeras bukan karena sakit, tapi karena dorongan lama untuk tidak terlihat lemah.
Pride itu masih ada.
Ia benci fakta itu, sekaligus belum siap melepaskannya sepenuhnya.
Di depan gedung, udara luar menyambutnya dengan bau debu dan kendaraan. Kota berjalan seperti biasa tidak peduli siapa yang hampir hancur di dalamnya.
Nadira berhenti sejenak.
Arvin menoleh. "Kenapa?"
"Aku cuma... takut." Jawab Nadira tanpa berusaha terdengar kuat. "Takut ternyata aku nggak bisa."
Arvin tidak menyangkal. "Takut itu valid."
"Kamu nggak bilang aku pasti bisa?"
"Tidak." Jawab Arvin jujur. "Tapi aku bilang kamu tidak sendirian waktu gagal."
Nadira menelan ludah. Itu lebih menenangkan daripada janji kosong mana pun.
Apartemen itu sunyi.
Tidak steril seperti ruang rehabilitasi, tapi juga tidak penuh. Dindingnya polos. Jendela menghadap gang sempit. Ada sofa kecil, meja makan sederhana, dan kasur rendah.
Nadira berdiri di tengah ruangan, napasnya terasa aneh. Seperti berada di ruang tunggu antara hidup lama dan yang baru.
"Aku akan sering ke sini." Kata Arvin. "Tapi aku tidak akan selalu ada."
Nadira mengangguk. "Aku tahu."
Ia duduk perlahan di sofa. Otot-ototnya protes. Ia membiarkannya.
"Kamu mau minum?" Tanya Arvin.
"Air."
Saat Arvin ke dapur kecil, Nadira menyandarkan kepala. Matanya terpejam. Sekilas, pikirannya kembali ke hari-hari terakhir sebelum semuanya runtuh. Jadwal padat, tidur singkat, obsesi pada kontrol. Ia ingat rasa bangga saat mengabaikan rasa sakit, seolah itu bukti kekuatan. Sekarang, kenangan itu terasa seperti ironi kejam.
Arvin kembali, menyerahkan gelas. "Aku akan pergi sebentar lagi." Katanya.
Nadira membuka mata. Ada dorongan impulsif untuk meminta Arvin tinggal. Untuk bergantung. Untuk menyerahkan sisa kendali.
Ia menahannya.
"Oke." Katanya. "Hati-hati."
Arvin tersenyum kecil. "Kamu juga."
Pintu tertutup pelan. Sunyi menelan ruangan.
Nadira duduk sendiri. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak merasa panik karena itu.
***
Raka berdiri di depan bengkel saat hujan turun rintik. Tangannya diperban. Bahunya pegal. Punggungnya nyeri. Tubuhnya berisik dengan keluhan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Ia menyalakan rokok lalu mematikannya sebelum sempat dihisap. Kebiasaan lama yang tidak lagi terasa cocok.
Ponselnya bergetar.
Pesan masuk. Nama yang membuat dadanya menegang.
[Kamu sudah pulang?]
Nadira.
Raka membaca pelan. Tidak terburu-buru. Tidak berusaha menyusun jawaban yang tepat.
[Iya. Hari ini.]
Balasan datang cepat.
[Capek?]
Raka tersenyum tipis.
[Selalu.]
Ia ragu sejenak, lalu menambahkan...
[Tapi masih berdiri.]
Ada jeda lebih lama kali ini sebelum balasan datang.
[Itu sudah cukup.]
Raka menatap layar lama. Dadanya terasa hangat dan berat sekaligus. Tidak ada janji. Tidak ada nostalgia yang diperas. Hanya pengakuan diam-diam bahwa mereka masih ada dengan jarak yang perlu dihormati.
Ia memasukkan ponsel ke saku. Hujan turun sedikit lebih deras.
Raka melangkah pulang, sepatu basah, tubuh lelah, pikiran tidak lagi berisik seperti dulu. Ada luka yang tidak ia bahas, keputusan yang belum sepenuhnya matang. Tapi tidak ada lagi keinginan untuk kembali ke lingkaran yang sama.
Ia tidak sembuh. Namun ia bergerak menjauh dari kehancuran.
***
Aluna duduk di lantai ruangannya sendiri. Tidak ada rapat. Tidak ada forum. Tidak ada peran yang harus ia mainkan.
Ia memegang buku catatan kosong. Pena di tangannya bergetar sebentar sebelum ia mulai menulis.
Bukan rencana. Bukan strategi. Hanya kalimat-kalimat pendek...
Aku takut tidak dibutuhkan. Aku terbiasa mengendalikan karena takut ditinggalkan. Aku melukai orang tanpa menyadarinya. Aku tidak ingin jadi orang itu lagi.
Air mata jatuh, membasahi kertas. Ia tidak menyekanya cepat-cepat. Ia membiarkannya.
Menangis tanpa penonton terasa aneh. Sepi. Tapi jujur.
Ketika ponselnya berbunyi, ia hampir mengabaikannya. Hampir.
Nama Nadira muncul.
Aluna menarik napas, lalu menjawab panggilan.
"Halo."
"Aku sudah pulang." Kata Nadira di seberang sana. Suaranya pelan, tapi stabil.
Aluna menelan ludah. "Kamu... bagaimana?"
"Capek." Jawab Nadira. "Tapi aku nggak hancur."
Itu jawaban yang membuat dada Aluna sesak.
"Aku mau bilang." Lanjut Nadira, "aku belum bisa memaafkan semuanya."
Aluna mengangguk, meski Nadira tidak bisa melihat. "Aku tahu."
"Tapi aku juga nggak mau terus hidup dalam marah."
Hening di antara mereka. Bukan hening yang menekan lebih seperti ruang bernapas.
"Aku juga sedang belajar." Kata Aluna. "Kalau suatu hari kamu ingin bicara... aku ada. Kalau tidak, aku juga mengerti."
Nadira menghela napas. "Terima kasih."
Panggilan berakhir tanpa drama.
Aluna menatap buku catatannya lagi. Tangannya masih gemetar, tapi tulisannya berlanjut.
***
Malam tiba pelan.
Nadira berdiri di dapur kecil apartemennya, mencoba memasak sesuatu yang sederhana. Tangannya lambat. Koordinasinya belum sempurna. Beberapa kali ia berhenti karena pusing ringan.
Ia tidak memaksa.
Ketika akhirnya ia duduk untuk makan, porsinya kecil. Tubuhnya menolak lebih.
Ia menatap makanan itu lama, lalu tertawa kecil, kering, nyaris pahit.
"Dulu aku marah kalau begini." Katanya pada ruangan kosong. "Sekarang... aku cuma capek."
Setelah makan, ia membersihkan dengan pelan. Setiap gerakan diukur. Setiap batas dihormati.
Di kasur, ia berbaring miring. Ponselnya di tangan. Tidak ada pesan baru. Tidak ada krisis.
Hanya pikirannya sendiri.
Rage itu masih ada terhadap dunia yang membiarkannya jatuh, terhadap dirinya yang terlalu keras kepala. Trauma masih muncul dalam kilasan-kilasan pendek. Guilt masih menempel seperti debu halus. Obsession pada kontrol kadang berdenyut, meminta diakui.
Namun sekarang, semua itu tidak lagi berteriak bersamaan.
Mereka berbicara satu per satu.
Dan Nadira untuk pertama kalinya mendengarkan tanpa harus patuh.
Ia menatap langit-langit.
"Aku nggak kembali jadi aku yang lama." Bisiknya. "Dan mungkin itu bukan kegagalan."
Lampu kamar dimatikan.
Gelap menyelimuti.
Di luar, kota terus hidup. Di dalam, seseorang belajar hidup dengan sisa-sisa dirinya, tidak utuh, tidak bersih, tapi masih bernapas.
Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍