Eva sangat membenci ibunya yang terus-menerus membuat masalah, sementara ia harus bekerja keras seorang diri demi bertahan hidup.
Untuk meredakan stres, Eva gemar menari. Ia bekerja sebagai cleaning-service di sebuah perusahaan balet dan kerap mencuri waktu untuk menari sendirian saat gedung sudah kosong.
Hingga suatu malam, pemilik gedung yang tampan itu memergokinya, mengira Eva adalah penari balet sungguhan, dan Eva memilih tidak meluruskan kesalahpahaman itu. Pekerjaan ini terlalu penting untuk dipertaruhkan.
Farris Delaney.
Hampir semua perempuan di perusahaan itu tergila-gila padanya. Banyak yang berharap bisa menjadi kekasihnya. Eva berbeda. Ia hanya ingin rahasianya aman dan sebisa mungkin menjauh darinya.
Masalahnya, dosa-dosa ibunya kembali menyeretnya ke masalah yang lebih dalam. Dan perlahan Eva menyadari, Farris memiliki kuasa untuk mengubah hidupnya, bahkan menyelamatkannya dari kematian. Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
୨ৎ MARUNDA SEASON IV ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen Farris
...୨ৎ──── F A R R I S ────જ⁀➴...
Aku dan Eva sudah pacaran dua minggu, dan aku mulai kehilangan kesabaran karena enggak bisa ketemu dia sesering yang aku mau.
Aku berhasil membujuk dia buat menginap di rumahku. Waktu aku parkir R8, aku bisa merasa dia agak gugup.
Pertunjukan dimulai Rabu dan berjalan sampai akhir pekan depan, yang artinya jadwal kami bakal bentrok dan aku enggak bakal sering ketemu Eva.
Aku ambil tas kecilnya yang ada di dekat kakinya dan bilang, "Ayo naik."
Keluar dari mobil, aku menunggu Eva, lalu pegang tangannya dan menuntun dia ke lift.
"Tempat tinggal kamu enggak jauh dari gedung balet," katanya.
Pintu lift terbuka dan kami masuk. Aku scan kartu akses buat naik ke lantai atas dan menengok ke dia.
"Makasih udah mau nginep sama aku."
Dia bersandar ke arahku dan senyum. "Sama-sama."
Begitu pintu terbuka, Barbbie menggonggong dan langsung lari ke arah kami.
"Ya Tuhan!" seru Eva sambil langsung melepaskan tanganku.
Dia jongkok di depan Barbbie. "Aku enggak tahu kamu punya anjing."
"Namanya Barbbie," kataku sambil jalan ke arah ruang tamu.
Eva mengelus kepala Barbbie sebelum berdiri dan melihat sekeliling apartemenku. Senyumnya langsung hilang dan bibirnya terbuka karena kaget.
"Gila!" bisiknya, matanya membelalak.
Dia berdiri kaku di dekat lift, wajahnya tegang sambil mengamati karya seni di dinding, furnitur mahal, dan ruang terbuka yang luas.
Ketegangan mulai terasa, lalu tiba-tiba dia tertawa.
"Astaga, aku takut banget buat gerak. Aku enggak mau ngotorin lantai pakai sepatu aku."
Dia mengusap rambutnya dengan tangan gemetar. Tahu dia lagi kewalahan sama kekayaanku, aku hampiri dan pegang tangannya. Aku tarik dia ke ruang tamu dan dudukkan di sofa, di samping aku.
Dia masih gugup waktu bilang, "Tempat kamu keren banget. Ini … ini gila."
"Anggap aja rumah sendiri!" kata Rozalla, tiba-tiba muncul dari arah dapur.
Eva berdiri. "Hai."
Rozalla tahu Eva bakal menginap, jadi dia enggak kelihatan kaget waktu bilang, "Hai. Aku Rozalla, pengurus rumah Farris. Tolong bilang kalau butuh apa pun."
"Senang ketemu Ibu. Makasih. Aku baik-baik aja. Makasih."
Aku pegang tangan Eva lagi dan tarik dia duduk ke sofa.
"Kamu bisa pulang, Rozalla. Sampai besok."
Eva memperhatikan pengurus rumahku pergi, lalu melirik sekeliling apartemen sebelum bilang, "Aku tahu kamu punya duit, tapi ini kelewatan."
Nada suaraku tetap lembut waktu aku bertanya, "Hal apa?"
Eva mengayunkan tangannya ke arah TV yang menutup setengah dinding dan sofa-sofa kulit.
Dia berdiri lagi dan jalan ke arah sebuah patung marmer penari balet berukuran manusia. Itu karya yang baru aku beli, dan aku lagi pesan dua lagi buat ditaruh di kanan kiri pintu lift.
Dia hampir menyentuh patung itu, tapi tangannya ditarik ke belakang, takut kalau merusaknya.
Waktu dia menengok, matanya bertemu mataku, cuma sedetik sebelum dia buru-buru mengalihkan pandangan lagi. "Kita hidup di dunia yang benar-benar beda."
"Itu enggak penting!" Aku yakinkan dia. "Setidaknya buat aku."
Eva jalan ke arah Barbbie yang lagi tiduran di salah satu sofa lain dan sengaja menghindari aku dengan kasih perhatian ke anjingku.
"Eva," gumamku.
"Iya?"
"Lihat aku!"
Dia tetap mengelus Barbbie sambil melirikku.
"Ini enggak penting buat aku," ulangku.
Dia menatapku sebentar, lalu mengaku, "Tapi ini penting buat aku."
Dia mengeluarkan suara antara meledek dan tertawa kecil, lalu balik menengok Barbbie.
"Kamu itu cowok sempurna dengan hidup yang sempurna, dan aku?" Dia geleng kepala, dan rasa khawatir langsung menghantam dadaku. "Aku jauh dari sempurna."
Bahkan aku sendiri adalah bos mafia bajingan yang sudah membunuh dan jelas akan membunuh lagi.
Sebenarnya, justru Eva lah yang terlalu baik buat aku.
Dia angkat kepala lagi dan waktu matanya ketemu mataku, dia bertanya, "Kenapa aku?"
Aku berdiri, menutup jarak di antara kami, tarik dia dari sofa dan menempelkan dia ke dadaku. Aku melingkarkan tangan di sekeliling tubuhnya dan menunggu sampai dia mendongak buat melihatku.
Mungkin ini terlalu cepat, tapi itu enggak bikin aku berhenti buat bilang, "Aku mulai jatuh cinta sama kamu karena kamu itu petarung yang menari seperti malaikat. Mungkin kamu enggak punya apa-apa, tapi kamu kerja keras buat dapetin sedikit ruang buat diri kamu di dunia ini. Kamu bisa aja nyerah sama keadaan, tapi kamu milih buat berjuang melawannya. Hal kayak gitu butuh keberanian dan tekad yang besar, dan itu bikin aku hormat sama kamu."
Aku bisa lihat kata-kataku benar-benar berpengaruh ke dia waktu dagunya mulai gemetar.
Aku menunduk dan mengecup bibirnya yang bergetar itu dengan lembut.
"Harusnya aku yang bertanya, kenapa aku?" gumamku sambil mantap menatap matanya. "Apa yang bikin aku spesial sampai cewek sehebat kamu mau melirik aku?"
Napas Eva jadi cepat waktu dia terus memperhatikanku, lalu di detik berikutnya, lengannya melingkar di leherku dan bibirnya langsung menabrak bibirku.
Aku mencengkeram pantatnya dan angkat tubuhnya ke badanku, sampai kakinya melilit pinggangku.
Kami berciuman sambil berusaha jalan ke arah tangga. Menyerah, aku berhenti di dekat dinding, mencengkeram sweater dan tarik kain itu melalui kepalanya.
Dia turunkan kakinya dan kami pun berlanjut ciuman sambil saling mencopot baju.
Begitu akhirnya kami telanjang, aku pegang pinggulnya dan dorong dia ke dinding. Mataku menyusuri tubuhnya, memperhatikan payudara dan kubangan rahimnya.
"Ya, Tuhan," bisikku. "Kamu sempurna banget."
Jarinya melingkar di batang aku yang keras, dan dia mulai mengelusku sambil menyebarkan ciuman ke seluruh dadaku.
Napasnya menghembus di kulitku waktu dia bilang, "Kamu ganteng banget, sampai aku pingin makan kamu."
Dengan napas tertahan, aku lihat Eva jatuh berlutut. Begitu dia masukin batang aku ke mulutnya, aku melepaskan erangan penuh nikmat.
Enggak pernah ada yang kelihatan secantik dan seseksi cewek di depan aku ini, saat dia menghisap batang aku dalam-dalam.
"Sayang," kataku, sudah ngos-ngosan sama sensasi gilanya. "Aku enggak bakal bertahan lama, kalau gini caranya!"
Matanya penuh godaan waktu dia makin kencang menghisap aku, dan enggak lama kemudian aku dihantam gelombang kenikmatan yang kuat saat aku muncrat di mulutnya.
Melihat dia menelan benih aku, lalu menjilat bibirnya, membuatku langsung angkat dia dari lantai.
JD penasaran Endingnya