NovelToon NovelToon
Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Ijazah Di Tangan , Nasib Di Tangan Tuhan

Status: tamat
Genre:Fantasi / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.

Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Angin Dari Eropa

Hidup di Dubai telah memberikan segalanya bagi Bagas: kehormatan, pundi-pundi dirham yang melimpah, hingga pengakuan internasional. Namun, seperti kata pepatah, angin bertiup lebih kencang di tempat yang lebih tinggi. Pagi itu, sebuah panggilan video masuk melalui jalur privat di laptopnya. Di layar, muncul wajah seorang pria Jerman dengan rahang tegas dan kacamata minimalis yang memancarkan aura intelejensi tingkat tinggi. Nama di bawah layarnya tertulis Hans Weber, Ceo of Global Logistics Alliance ( GLA) Fran truf

"Bagas Pratama, saya sudah memantau caramu menangani krisis vendor di Dubai. Sangat impresif. Kami di Frank truf membutuhkan kepala operasional untuk jalur distribusi Eropa Tengah. Saya tidak ingin basa-basi; kami menawarkan kontrak lima tahun dengan fasilitas relokasi penuh, gaji dua kali lipat dari posisimu sekarang, dan status kewarganegaraan yang akan kami bantu prosesnya," ujar Hans dengan bahasa Inggris yang sangat efisien.

Bagas tertegun. Jerman. Jantung industri Eropa. Tempat di mana teknologi dan keteraturan berada di puncaknya. Ini bukan lagi soal pindah kota, ini soal pindah peradaban. Namun, ada satu syarat yang membuat Bagas ragu.

"Kontrak ini mewajibkan Anda tinggal di sana minimal lima tahun. Anda boleh membawa keluarga inti. Kami akan menanggung semua biaya rumah, sekolah, dan asuransi untuk mereka di Frank truf ," tambah Hans.

Setelah pembicaraan itu berakhir, Bagas duduk terdiam di kursi kerjanya yang empuk. Pikirannya melayang. Membawa Ibu dan Bapak ke Jerman? Apakah mereka sanggup? Ibu yang bahasa Inggrisnya hanya tahu "Thank you" dan "I love you", dan Bapak yang sangat mencintai suasana gang sempitnya di Jakarta. Namun di sisi lain, ini adalah kesempatan emas untuk benar-benar membawa orang tuanya melihat dunia yang lebih luas, seperti janji Bagas dulu.

Malam itu, Bagas menelepon ke rumah lewat video call. Ia melihat Ibu sedang asyik memilah kerupuk untuk digoreng, sementara Bapak sibuk mengelas sesuatu di sudut teras rumah mereka yang kini sudah jauh lebih bagus.

"Bu, Pak... Bagas dapat tawaran kerja lagi. Kali ini di Jerman, Eropa," kata Bagas perlahan, mencoba membaca reaksi wajah mereka.

Ibu berhenti memilah kerupuk. "Jerman? Itu jauh sekali ya, Gas? Lebih jauh dari Dubai?"

"Jauh sekali, Bu. Naik pesawatnya bisa empat belas jam. Tapi mereka mau kita semua pindah ke sana. Bapak dan Ibu nggak perlu kerja lagi, tinggal menikmati masa tua di sana. Udara di sana bersih, banyak taman bunga, dan kalau musim dingin ada salju asli, bukan cuma bunga es di kulkas," jelas Bagas sambil tersenyum.

Bapak mematikan mesin lasnya, membuka topeng pelindungnya, lalu mendekat ke layar ponsel. "Gas, kamu ini anak baik. Bapak tahu kamu pengen bahagiain kami. Tapi kamu harus tahu, pohon yang sudah tua itu susah kalau dipindah akarnya ke tanah baru. Bapak dan Ibu sudah biasa sama bau oli di gang ini, biasa dengerin suara toa masjid, biasa ngobrol sama tetangga. Kalau di Jerman, Bapak mau ngobrol sama siapa? Sama burung gereja di sana?".

Bagas terdiam. Ia merasakan tenggorokannya tercekat.

"Tapi Pak, di sana fasilitas kesehatannya bagus. Bagas mau Bapak dan Ibu terjamin semuanya," bantah Bagas lembut.

Ibu menyela dengan suara yang sangat teduh. "Gas, kebahagiaan Ibu itu bukan di Jerman, bukan di Paris, bukan juga di Dubai. Kebahagiaan Ibu itu ada di mana pun kamu merasa bangga sama diri kamu sendiri tanpa beban. Kalau kamu ambil kerjaan itu demi kami, tapi hati kamu berat karena kami nggak betah di sana, itu namanya bukan bahagia, Gas. Itu namanya pindah penjara.

Malam itu, Bagas tidak bisa tidur. Ia teringat kembali semua perjuangannya. Dari ijazah SMK yang ditolak, sampai sekarang ditawar oleh CEO di Frankfurt. Ia menyadari satu hal: ia sudah terlalu jauh mengejar "simbol" kesuksesan sampai hampir lupa esensi dari kebahagiaan orang tuanya.

Keesokan harinya, Bagas mengirimkan email balasan kepada Hans Weber. Isinya bukan penolakan, tapi sebuah negosiasi berani yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah punya nilai tawar tinggi.

"Mr. Hans, saya sangat menghargai tawaran Anda. Namun, prioritas hidup saya adalah orang tua saya yang tidak mungkin direlokasi ke Eropa. Saya menawarkan solusi: Saya akan memimpin divisi tersebut secara remote dari kantor regional Dubai dengan kunjungan rutin ke Frankfurt setiap bulan. Dengan begitu, saya tetap bisa menjaga operasional Anda dan tetap dekat dengan akar saya."

Hans Weber membalas email itu dua jam kemudian. Isinya singkat: "Daring, but logical. I like your terms. Let's sign the contract next week in Dubai."

Bagas bersorak kegirangan di apartemennya. Ia berhasil! Ia mendapatkan karier kelas Eropa tanpa harus kehilangan waktunya dengan orang tua. Inilah hasil dari menjadi teknisi yang tidak hanya paham mesin, tapi juga paham "mesin" kehidupan.

Beberapa hari kemudian, saat Bagas sedang merayakan keberhasilannya dengan makan di sebuah kedai nasi briyani langganannya, ia melihat seseorang di TV lokal Dubai sedang diwawancarai. Sosok itu adalah Marco, mantan rekan kerjanya yang dulu kabur karena korupsi. Marco tertangkap di perbatasan Oman dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.

Bagas menatap layar itu sambil mengunyah nasinya. Ia teringat kata-kata Pak Danu di yayasan dulu: "Kerja itu secukupnya, jujur itu selamanya." Marco punya segalanya, tapi ia kehilangan karakternya. Bagas pernah tidak punya apa-apa, tapi ia menjaga kejujurannya sebagai modal utama.

Kini, Bagas bersiap untuk misi baru. Ia akan menjadi jembatan logistik antara Timur Tengah dan Eropa. Dan yang paling penting, bulan depan ia sudah

Menjadwalkan tiket untuk Ibu dan Bapak berkunjung ke Dubai sebelum mereka bersama-sama terbang ke Paris hanya untuk sekadar jalan-jalan, bukan untuk pindah hidup.

Sambil menatap langit Dubai yang mulai meredup, Bagas merogoh dompetnya. Di sana masih tersimpan foto kecil saat ia memakai seragam SMK yang lecek.

"Kita sudah jauh ya, Gas," bisiknya pada foto itu. "Dan perjalanan kita masih panjang untuk menuju akhir yang sempurna."

Bagas tertawa sendiri. Hidupnya mungkin penuh lika-liku, tapi setidaknya sekarang ia tahu, setinggi apa pun ia terbang, ia tahu di mana tempatnya untuk mendarat.

1
Theresia Sri
keren, ceritanya urut, konfliknya bagus, tidak ada kata yang hanya berfungsi untuk menambah kata memenuhi kuota, keren tor, lanjutkan dengan karya-karya baru yang konsisten mengisi jiwa pembacanya dengan hal-hal yang positif
Theresia Sri
cerita yang bagus tor, ditunggu kelanjutannya 😍
Kal Ktria
sabar ya masi dalam proses update masi panjang kok🙏
BoimZ ButoN
dah tamat ni teh 😅
BoimZ ButoN
muantabs semangat thhooor 💪
Sri Jumiati
carí kerja susah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!