Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Es Mutlak Pemutus Jiwa
Mata Air Dingin di Puncak Belakang Sekte Awan Hijau adalah tempat yang dihindari oleh mayoritas murid. Airnya memancarkan kabut beku sepanjang tahun, ditenagai oleh urat bumi berelemen Yin yang tertidur di kedalaman gunung.
Tengah malam itu, kabut beku tampak lebih pekat dari biasanya.
Lin Xuan melangkah menembus semak belukar yang diselimuti embun es. Di tepi mata air, sesosok wanita berpakaian sutra hitam tipis sedang berdiri membelakanginya. Kaki telanjangnya menyentuh permukaan air yang sedingin es, namun ia tidak menggigil sedikit pun. Sebaliknya, air di sekitarnya perlahan membeku menjadi teratai-teratai es kecil setiap kali kulitnya bersentuhan dengan riak air.
Bai Qing'er berbalik. Wajah cantiknya tidak tertutup cadar malam ini. Di bawah cahaya bulan, kulitnya sepucat pualam, dan bibirnya semerah darah segar.
"Kau tepat waktu, Tuan Pembunuh," sapanya dengan senyum tipis. Di tangannya, ia memegang sebuah mangkuk giok putih dan tiga batang jarum perak yang memancarkan kabut beku yang sangat pekat.
"Kau sudah memasang Formasi Kedap Suara?" tanya Lin Xuan, matanya menyapu sekeliling dengan waspada.
"Tentu saja. Bahkan jika langit runtuh di tempat ini, Tetua Mo kesayanganmu tidak akan mendengar apa-apa," Bai Qing'er melangkah maju, keluar dari air. "Buka jubahmu. Duduk di atas batu itu. Waktu kita tidak banyak. Yin Qi di tubuhku sedang berada di puncaknya."
Lin Xuan melepaskan jubah atasnya, membiarkan tubuhnya yang dipenuhi bekas luka dan memancarkan kilau tembaga samar terpapar udara malam yang membekukan. Ia duduk bersila di atas batu datar di tepi mata air.
Di dalam Lautan Kesadarannya, Gu Tianxie mulai merasakan kejanggalan.
"Bocah, apa yang kau lakukan dengan wanita iblis ini?!" bentak Gu Tianxie. "Tubuhmu menyerap energi Yin. Ini berlawanan dengan tulang besi hitam mu yang bersifat Yang murni!"
Lin Xuan menjaga pikirannya tetap tenang. "Aku membuat kesepakatan dengannya. Mata air ini memiliki energi Yin kuno. Jika dikombinasikan dengan teknik jarumnya, ini akan menyeimbangkan panas dari esensi emas putih yang kuserap kemarin. Jangan ganggu aku, biarkan meridianku terbuka."
Gu Tianxie terdiam sejenak. Penjelasan itu masuk akal dalam teori kultivasi fana, namun insting iblis kunonya tetap merasa waswas.
Di dunia nyata, Bai Qing'er berdiri tepat di belakang Lin Xuan. Jari-jarinya yang lentik menyusuri tulang belakang pemuda itu, mengirimkan sensasi dingin yang menusuk hingga ke sumsum.
"Aku akan menusukkan tiga Jarum Es Yin Mutlak ini langsung ke tiga titik nadir di atas Dantian-mu," bisik Bai Qing'er di telinga Lin Xuan. "Begitu jarum ini masuk, aliran Qi-mu akan membeku sepenuhnya. Parasit jiwa itu akan terhenti selama tiga tarikan napas. Kau tahu apa yang harus kau lakukan setelahnya?"
"Tiga tarikan napas sudah lebih dari cukup untuk membunuh," jawab Lin Xuan pelan. Ia memejamkan mata. Niat Pedang yang selama ini ia sembunyikan di dalam darahnya mulai ditarik dan dipadatkan menjadi satu bilah energi mental yang tak kasat mata di dalam Dantian-nya.
"Kita mulai."
Mata Bai Qing'er tiba-tiba berubah sepenuhnya menjadi hitam pekat. Energi Yin yang luar biasa mengerikan meledak dari tubuhnya. Tangannya bergerak secepat kilat.
TRANG! TRANG! TRANG!
Tiga jarum perak tertancap dalam di punggung bawah Lin Xuan, menembus langsung ke arah Dantian.
"Argh!" Lin Xuan menggertakkan giginya hingga berdarah. Sensasi dingin yang masuk bukanlah rasa dingin biasa, melainkan hawa kematian yang seolah menghentikan putaran waktu di dalam tubuhnya.
Di dalam Dantian, sembilan pilar hitam legam yang sedang berputar tiba-tiba membeku. Terlapisi oleh kristal es biru pekat dalam sekejap mata.
Dan bersamaan dengan itu, retakan-retakan halus di dasar pilar yang tadinya berdenyut menyerap energi... ikut membeku.
"SIAL!! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Raungan Gu Tianxie meledak bagaikan guntur yang membelah Lautan Kesadaran Lin Xuan. Hantu tua itu akhirnya menyadari jebakan inangnya.
"Kau berani mengkhianatiku?! Aku akan meledakkan pilar-pilar ini dan menghancurkan fondasimu sekarang juga!" Gu Tianxie mencoba memicu benang-benang parasit yang ia tanamkan, berniat melakukan merebut fondasi dao secara paksa.
Namun, tidak ada yang terjadi. Energi jiwanya tertahan sepenuhnya oleh es Yin Mutlak milik Bai Qing'er.
"Tiga..." suara Bai Qing'er menggema di telinga Lin Xuan.
Lin Xuan membuka mata batinnya di dalam Dantian. Ia menatap benang-benang energi merah menjijikkan yang menghubungkan dasar pilarnya dengan Cincin Samsara Darah.
"Kau pikir aku akan membiarkan seekor lintah menghisap darah asuraku selamanya, Hantu Tua?" suara Lin Xuan bergema dengan kekejaman absolut.
"Dua..."
Lin Xuan mengayunkan bilah Niat Pedang yang telah ia padatkan. Bukan pedang fisik, melainkan manifestasi murni dari tekad membunuhnya yang diasah dari dasar jurang kematian.
"PUTUS!"
Bilah Niat Pedang itu menebas tepat di akar benang-benang jiwa tersebut.
traaak!
"TIDAAAAAAK!!"
Jeritan penderitaan Gu Tianxie terdengar begitu menyayat hati. Hubungan jiwanya dengan fondasi Lin Xuan terputus secara brutal. Sebagian jiwanya robek dan terbakar oleh Niat Pedang Lin Xuan, memaksanya mundur dan meringkuk kembali ke dalam segel Cincin Samsara Darah seperti anjing yang dipukuli.
"Satu."
Tarikan napas ketiga berakhir. Es Yin Mutlak di dalam Dantian Lin Xuan mencair dengan cepat, berubah menjadi uap putih yang keluar dari pori-pori kulitnya.
Sembilan pilar hitam di Dantian-nya kembali berputar. Namun kali ini, putarannya jauh lebih ringan, lebih murni, dan sepenuhnya berada di bawah kendali mutlak Lin Xuan. Tidak ada lagi garis retakan parasit. Fondasi foundation establishment miliknya telah sempurna.
Di dunia nyata, Lin Xuan memuntahkan seteguk darah hitam kental darah busuk yang terkontaminasi oleh energi parasit Gu Tianxie.
Ia jatuh bertumpu pada satu tangan, napasnya terengah-engah parah. Wajahnya sangat pucat, dan tubuhnya menggigil akibat sisa energi Yin. Namun, matanya menyala dengan kebebasan buas seorang kaisar yang baru saja memenggal pengkhianat di istananya.
"Kau berhasil," kata Bai Qing'er pelan, mencabut ketiga jarum peraknya yang kini telah menghitam karena menahan tekanan jiwa kuno. Ia melangkah ke depan Lin Xuan, menyodorkan mangkuk giok putih di tangannya.
"Sekarang, bayaran pelayananku. Darah Jantung Asura."
Lin Xuan mendongak menatap wanita itu. Ia tidak membuang waktu. Tangan kanannya, yang telah mencapai tulang tembaga darah, membentuk cengkeraman cakar.
Tanpa ragu sedikit pun, Lin Xuan menusukkan kukunya sendiri ke tengah dadanya.
craaash.
Darah segar merembes keluar. Ia tidak menembus jantungnya, melainkan memaksa keluar tiga tetes Esensi Darah Jantung darah paling murni yang mengandung vitalitas sejati seorang kultivator. Mengeluarkan darah ini berarti mengorbankan setidaknya sepuluh tahun umur fana dan menimbulkan kelemahan luar biasa selama berhari-hari.
Tiga tetes darah kental berwarna merah keemasan jatuh berdenting ke dalam mangkuk giok Bai Qing'er.
Begitu darah itu menyentuh mangkuk, aroma kehidupan yang sangat kuat meledak di udara, membuat Bai Qing'er menarik napas dalam-dalam dengan mata berbinar penuh hasrat.
"Sempurna..." gumamnya takjub, menatap mangkuk itu seperti melihat pusaka terhebat di dunia. Dengan darah ini, ia bisa mempelajari sutra iblis bunga darah tanpa takut tubuhnya layu akibat serangan balik teknik iblis tersebut.
Lin Xuan menutup luka di dadanya dengan totokan Qi. Ia perlahan bangkit berdiri, mengambil jubahnya, dan menyampirkannya kembali ke bahunya.
"Transaksi selesai," kata Lin Xuan dingin. Suaranya serak karena kelelahan, tapi Niat Membunuh yang melingkupinya justru terasa lebih menakutkan dari sebelumnya.
Bai Qing'er menatap pemuda itu. Pemuda yang berani membedah fondasinya sendiri dan mengukir dadanya sendiri tanpa mengedipkan mata. Di dunia kultivasi beraliran iblis, kekejaman terhadap musuh adalah hal biasa. Namun kekejaman terhadap diri sendiri demi mencapai tujuan... itu adalah ciri khas makhluk yang akan menginjak-injak surga.
"Kau benar-benar tidak kenal ampun, Mu Chen," senyum Bai Qing'er melembut, sebuah ketertarikan yang langka dan berbahaya muncul di hatinya. "Jaga dirimu. Jika kau mati sebelum mencapai puncak, aku akan sangat kecewa karena kehilangan rekan bisnis sebaik dirimu."
Wanita itu perlahan mundur, sosoknya membaur dengan kabut beku dan kegelapan, menghilang tanpa jejak.
Lin Xuan berdiri sendirian di tepi Mata Air Dingin. Ia menunduk menatap cincin hitam di jarinya.
"Keluar," perintah Lin Xuan di dalam pikirannya. Nadanya absolut, tidak lagi menyembunyikan kekuatannya.
Di dalam cincin, roh Gu Tianxie yang kini transparan dan sangat lemah, gemetar ketakutan. Semua arogansinya sebagai leluhur iblis telah lenyap. Ia kini menyadari, pemuda yang ia anggap sebagai wadah bodoh ini adalah monster yang jauh lebih licik darinya.
"T-Tuan..." suara Gu Tianxie terdengar parau dan merendah. "Ampuni aku... Aku masih berguna! Aku tahu lokasi ribuan pusaka kuno! Aku tahu teknik-teknik—"
"Tutup mulutmu," potong Lin Xuan tanpa belas kasihan. "Mulai detik ini, kau bukan lagi guruku, bukan lagi sekutuku. Kau adalah budak pengetahuanku. Kau hanya berbicara ketika aku menyuruhmu berbicara. Jika kau mencoba menyentuh sedikit pun Qi di tubuhku lagi..."
Lin Xuan mengalirkan Niat Pedangnya yang tajam ke dalam cincin, membuat roh Gu Tianxie menjerit tertahan.
"...aku akan menggunakan Api Yang Murni untuk membakar jiwamu perlahan-lahan selama seratus tahun."
"B-Baik! Aku mengerti, Tuan!" Gu Tianxie bersujud di dalam cincin, jiwanya sepenuhnya ditaklukkan oleh teror Asura.
Lin Xuan memutus koneksi mentalnya.
Ia menarik napas panjang, membiarkan udara malam mengisi paru-parunya. Untuk pertama kalinya sejak ia jatuh ke dasar jurang, tubuh dan jiwanya sepenuhnya menjadi miliknya sendiri. Tidak ada belenggu, tidak ada parasit.
Lin Xuan melangkah meninggalkan Puncak Belakang. Dengan Dantian yang kini murni.. saatnya bagi sang Asura untuk membersihkan sisa-sisa sampah di Puncak Awan Dalam, dimulai dari paviliun milik Tuan Muda Wang Long.