Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Malam Perburuan 2
Zhao Wei menampar gadis itu menggunakan tangan kirinya yang tersisa dengan sekuat tenaga. Wajah pria arogan itu kini berubah sangat buas dan dipenuhi oleh kepanikan yang luar biasa. Air matanya bahkan hampir menetes karena ketakutan setengah mati melihat Lin Xia memaki Ye Xuan. Wanita jalang ini mencoba membunuh kita semua! jerit Zhao Wei dalam hatinya.
"TUTUP MULUTMU, JALANG!!!" raung Zhao Wei dengan suara yang pecah dan bergetar. Dia menunjuk tepat ke depan hidung Lin Xia. "Jangan pernah... jangan pernah kau berani berbicara padanya dengan nada seperti itu! Jika kau ingin mati, mati saja sendiri! Jangan bawa-bawa aku!"
Lin Xia mematung. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya. Seluruh harga dirinya, pesonanya, dan ilusi kehidupan mewahnya hancur lebur di depan puluhan murid kelas 2-B. Pria yang semalam memujanya kini menamparnya dan memanggilnya jalang hanya karena dia membela pria itu di depan seorang yatim piatu miskin?
"Z-Zhao Wei... kenapa kau..." isak Lin Xia dengan bibir bergetar, air matanya mulai merusak riasan mahalnya.
Zhao Wei tidak mempedulikannya sama sekali. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan siapapun, dan berjalan setengah berlari menuju kursi kosong yang letaknya paling jauh dari meja Ye Xuan. Pria itu duduk meringkuk, memeluk tasnya seperti perisai, dan gemetar seperti daun kering yang ditiup angin badai. Kesombongannya telah mati total.
Di sudut belakang, Ye Xuan masih mempertahankan posisi duduknya yang santai. Dia menyaksikan seluruh drama itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun. Monolog batin pria berusia 35 tahun itu berputar pelan.
"Hahhhhh... anjing yang menggonggong paling keras selalu menjadi yang paling cepat menunduk saat melihat tuannya membawa tongkat pemukul," batin Ye Xuan dengan nada merendahkan. "Dan kau, Lin Xia... kau mempertaruhkan seluruh harga dirimu pada pria yang rapuh. Betapa menyedihkannya masa muda kalian."
Kehidupan sekolah telah benar-benar ditaklukkan tanpa Ye Xuan perlu mengangkat satu jari pun hari ini. Teror psikologis jauh lebih efektif daripada kekerasan fisik.
Namun, Ye Xuan tahu bahwa masalah utamanya bukanlah anak-anak ingusan ini. Masalah utamanya ada di luar tembok sekolah ini, menunggu malam tiba.
Pukul sembilan malam, di sebuah gang gelap kawasan kota tua Jinghai.
Klinik Chuncao yang menjual obat-obatan herbal dan barang antik sudah menutup pintu kayunya sejak satu jam yang lalu. Papan tanda klinik dimatikan. Di dalam, pria tua berkumis tipis sedang menghitung uang hasil penjualannya hari ini di bawah cahaya lampu kuning yang temaram.
Tiba-tiba, suhu di dalam klinik itu turun drastis. Lilin di sudut ruangan mati tertiup angin yang entah dari mana asalnya.
Kringgg!
Lonceng di pintu depan berbunyi nyaring, diikuti oleh pintu kayu berderit terbuka perlahan.
Pria tua itu tersentak. Dia buru-buru memasukkan uangnya ke dalam laci dan mengambil sebilah parang pendek dari bawah meja. "Siapa di sana?! Toko sudah tutup! Jika kau mencari masalah!"
Kata-katanya terhenti di tenggorokan.
Di ambang pintu, berdirilah sosok tinggi yang seluruh tubuhnya tertutup jubah hitam panjang. Tudung jubahnya ditarik rendah, menyembunyikan wajahnya dalam bayangan kelam. Hawa membunuh yang sangat pekat, dingin, dan menyesakkan menguar dari tubuh sosok itu, membuat pria tua itu merasa seolah ada tangan tak kasat mata yang sedang mencekik lehernya.
"S-Siluman... maksudku, Tuan! A-Apa yang membawa Anda kemari selarut ini?" suara pria tua itu bergetar hebat. Dia langsung mengenali sosok itu. Itu adalah pemuda misterius yang beberapa malam lalu memaksa membeli jarum perak dan jubah hitam darinya!
Sosok itu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya dengan satu tendangan pelan.
Brak.
Itu adalah Ye Xuan. Dia berjalan perlahan mendekati meja kasir. Setiap langkahnya tidak mengeluarkan suara, persis seperti hantu yang melayang.
"Malam yang indah untuk menghitung uang kotor, Paman," ucap Ye Xuan dengan suaranya yang sengaja dibuat rendah dan parau.
Pria tua itu menelan ludah. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Dia menjatuhkan parangnya ke lantai karena tangannya terlalu lemas untuk menggenggamnya. "T-Tuan... aku bersumpah aku tidak pernah menceritakan transaksi kita kepada siapa pun! Aku tutup mulut!"
"Aku tahu kau tutup mulut," balas Ye Xuan santai, mencondongkan tubuhnya ke atas meja kaca etalase. "Jika mulutmu bocor, kepalamu pasti sudah terlepas dari lehermu saat ini."
Ye Xuan menatap mata pria tua itu dari balik kegelapan tudungnya. "Aku tidak datang untuk membunuhmu. Aku datang untuk membeli sebuah informasi. Dan kau adalah lintah darat informasi terbaik di pasar gelap wilayah ini."
Pria tua itu sedikit bernapas lega, meski jantungnya masih berdebar kencang. "I-Informasi apa yang Anda butuhkan, Tuan? Asalkan aku tahu, aku akan mengatakannya."
"Keluarga Ji," ucap Ye Xuan tanpa basa-basi. Dua kata itu meluncur tajam seperti belati.
Mata pria tua itu seketika melebar. Warna wajahnya langsung berubah menjadi abu-abu pucat. "K-Keluarga Ji?! Tuan, Anda... Anda mencari mati! Mereka adalah penguasa bayangan di Jinghai! Sejak tadi pagi, anak buah mereka menyebar ke seluruh apotek dan klinik di kota ini. Mereka mencari siapa saja yang membeli jarum perak dalam jumlah banyak. Tuan, jangan bilang kalau Anda..."
"Itu bukan urusanmu," potong Ye Xuan dingin, menghentikan kepanikan pria tua itu seketika. "Aku hanya butuh satu hal darimu. Di mana markas rahasia tempat wanita ular bernama Ji Wuyue itu bersembunyi?"
Pria tua itu menggelengkan kepalanya dengan panik. "Aku tidak tahu! Sungguh! Tidak ada yang tahu di mana Nona Wuyue! Jika aku membocorkannya dan mereka tahu itu dariku, seluruh keluargaku akan dikuliti hidup-hidup!"
"Hahhhhh..." Ye Xuan menghela napas pelan.
Trak!
Tangan kanan Ye Xuan melesat menembus kaca etalase setebal tiga sentimeter dengan mudahnya. Pecahan kaca berhamburan. Dia mencengkeram kerah baju pria tua itu dan menariknya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci.
Kekuatan fisik murni dari Ye Xuan membuat pria tua itu merasa seperti ditabrak oleh palu besi.
"Kau takut mereka menguliti keluargamu esok hari?" bisik Ye Xuan dengan nada yang sangat mematikan. Tangan kirinya perlahan terangkat, memegang sebuah pistol Desert Eagle perak yang moncong peredamnya langsung diarahkan tepat ke dahi pria tua itu.
Logam dingin dari pistol itu membuat pria tua itu menahan napasnya. Pistol modern yang dimodifikasi khusus untuk menembus armor Qi. Di jarak sedekat ini, kepalanya akan meledak seperti semangka yang dihantam tongkat bisbol.
"Jika kau tidak memberitahuku sekarang," lanjut Ye Xuan dengan suara datar dan tanpa emosi. "Aku tidak akan menunggu sampai esok hari untuk meledakkan isi kepalamu menjadi dekorasi dinding tokomu."
Pilihan yang ditawarkan Ye Xuan sangat absolut. Mati sekarang secara pasti, atau menanggung risiko nanti.
"B-Baik! Aku katakan! Aku katakan!" jerit pria tua itu histeris, air matanya mulai mengalir karena teror yang menumpuk. "Di pinggiran utara kota! Ada sebuah kawasan vila klasik bernama 'Taman Bunga Teratai Darah'. Bangunan paling besar di tengah danau buatan! Itu adalah kediaman pribadi Nona Wuyue! Tapi tempat itu dijaga oleh puluhan master elit dan perangkap Qi! Anda tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari sana!"
Ye Xuan tersenyum tipis dari balik tudungnya. Dia melepaskan cengkeramannya pada kerah pria tua itu dan menyimpan kembali pistolnya ke dalam saku jubah.
"Terima kasih atas kerja samanya, Paman," ucap Ye Xuan dengan sopan, sangat kontras dengan ancaman mautnya sedetik yang lalu. Dia mengambil selembar uang seratus yuan dari sakunya dan meletakkannya di atas meja yang hancur. "Ini untuk mengganti kaca etalasemu."
Ye Xuan berbalik badan dan melangkah keluar dari klinik tersebut. Lonceng berbunyi pelan saat pintu tertutup di belakangnya, meninggalkan pria tua itu yang jatuh terduduk di lantai, menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang terjepit di antara dua monster.
Di luar gang, udara malam terasa dingin.
Ye Xuan mendongak menatap bulan purnama yang bersinar terang di langit Kota Jinghai. Matanya yang hitam pekat memancarkan ketenangan seorang pemburu yang sudah mengetahui letak sarang mangsanya.
"Kawasan vila klasik pinggiran utara..." gumam Ye Xuan pelan. Tangan kanannya merogoh saku jubah, menyentuh token kristal merah Segel Darah Perbudakan Mutlak yang berdenyut hangat di telapak tangannya.
"Mereka sedang sibuk mencariku di luar sana. Mereka tidak akan pernah menyangka bahwa mangsa yang mereka buru justru datang mengetuk pintu rumah mereka malam ini juga."
Malam perburuan resmi dimulai.