Di pesta 1 tahun pernikahan, dia dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Terlibat dalam kecelakaan mobil yang membuatnya meregang nyawa,
Namun tuhan memberi Reta kesempatan untuk menjalani kehidupan kedua.
Kali ini, dia berjanji akan mengambil kembali semua yang pernah menjadi miliknya. Berencana menghubungi satu-satunya keluarga,
"Mulai sekarang kamu adalah wanitaku." tegas Max menatap tajam gadis yang telah ia lucuti,
Secuil tragedi mengantar mereka ke hubungan yang salah.
Bisakah Reta membalas dendam sembari mengatur takdir yang membelenggu tubuh keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan balik
"Tenang saja, aku akan membalas mereka yang dulu pernah menghinamu..." batin Ana menyeringai,
Tetap memakai dress piyama polosnya. Bergegas berjalan menuju taman, tak sabar melihat langsung bagaimana rupa mereka,
Dari jauh, tampak dua sepupu serta satu teman asing yang mereka ajak bertamu.
Ketiganya begitu riang menikmati secangkir teh seperti putri kerajaan,
Tap...
Langkah Ana berhenti tepat di depan kursi yang telah terisi. Namun ketiga gadis itu tetap diam, seakan tak peduli.
"Mau jenguk apanya? Bilang aja kalian datang cuma mau pamer barang mewah!" batin Ana menyipitkan mata,
Ana yang dulu pasti tidak tahu dan dengan polosnya terhasut pengaruh mereka. Namun kini, bersemayam jiwa wanita dewasa yang sudah mencicipi banyak garam kehidupan,
Anting besar, gelang dan cincin kebesaran, bahkan gaun sewaan, terlihat jelas kalau mereka hanya ingin tampil hedon.
"Cih...dasar bocah ingusan! Kalian pikir bisa menipuku?" tegurnya dalam hati,
Ketiga gadis itu, telah meracuni pikiran polos Ana dengan kehidupan duniawi. Mengatakan bahwa hal yang paling penting bagi wanita adalah popularitas.
Bahkan Ana terpaksa menggunakan sesuatu, hanya demi mengikuti selera mereka.
"Apa ini yang kamu pakai?" celetuk Mia terbelalak,
"Apanya? Tentu saja baju," Ana menyahuti santai,
Tak segan menempati kursi kosong. Menikmati secangkir teh di depannya, lalu mengambil salah satu cemilan.
"Tunggu. Kami belum mencicipi kue itu,"
"Dia ini, siapa lagi?" pikir Ana berusaha mengingat,
Langsung melahap habis makanan di tangannya dalam satu suapan.
Tentu sikapnya membuat mereka terkejut. Karena dulu, Ana sudah diajarkan untuk menjadi yang paling terakhir dalam memilih barang dan menikmati makanan.
Ana diperlakukan seperti budak yang hanya boleh bertindak seusai arahan mereka.
Lebih tepatnya Sarah. Dia lah biang serta ketua dari kelompok gadis bodoh ini,
"Mm...enak sekali," Ana tersenyum riang.
"Kenapa diam aja? Ayo makan..." dengan polos menatap yang lain secara bergantian,
"Kalau mau makan, tinggal makan saja." terus mengambil cemilan di piring lain,
"Mm...kue yang ini lebih enak," menggoyangkan kepala.
"Ayo, kalian makanlah juga."
Ana mengangkat piring, menawarkan sekilas pada yang lain. Namun mereka tetap diam melirik Sarah, seakan menunggu persetujuan.
"Ngapain harus tunggu segala...kalau ga cepat dimakan, nanti keburu habis lho!" ujar Ana tak acuh, menyesap seteguk teh.
"Ck, Kenapa tiba-tiba sikapnya berubah?" batin Sarah tampak geram,
Tangannya mengepal kuat. "Biasanya dia cuma diam dan tak berani bicara selancang tadi!"
"Apa maksudnya? Seenaknya mengoceh di depanku," Sarah menggertakkan gigi,
Sebagai putri sulung, dia selalu mendapat tekanan dari ibunya. Sarah dituntut menjadi wanita sempurna yang akan menjunjung kehormatan keluarga, dengan begitu takkan ada yang menghinanya sebagai anak dari hasil perselingkuhan.
Sejak mengenal Arana, muncul rasa iri pada diri Sarah. Dia selalu merasa kesal, melihat segala hal yang Ana miliki.
Hidup yang tenang, ibu pengertian, ayah yang tak pernah marah, dan juga kakak yang selalu memanjakannya.
"Hh! Padahal dia cuma gadis penyakitan yang beruntung lahir di keluarga ini," benak Sarah, tersenyum remeh.
"Sepertinya kamu lupa, Kak Sarah tidak berteman dengan gadis culun." tegur Mia memandangi dengan tatapan jijik,
"...?" Ana mengangkat alis,
"Ya, kamu benar Mia---Oh, iya Ana. Pakaianmu ini sangat norak, bukankah aku sering mengajarimu soal fashion?"
"Oh ya, ngomong-ngomong soal fashion, semalam aku mempelajari banyak model baju dari aktris terkenal." timpal Ana tanpa ragu,
Terus menjawab sambil mengunyah suap demi suapan kue yang diambilnya.
"Mereka menyukai baju yang terkesan polos, tanpa motif...seperti yang kupakai sekarang."
"Dan setelah kupikir-pikir, bajumu memang terlihat lebih norak dan absurd. Bunga besar di bajumu persis seperti baju nenek-nenek,"
JLEB!
Kalimat itu terlempar kencang masuk ke telinga Sarah. Dia tercengang, matanya membulat sempurna menerima hinaan tadi,
Ucapan itu berhasil membuatnya malu. Bahkan dua gadis lain hanya terdiam seakan tersadar,
Mereka mulai membandingkan pakaian yang mereka kenakan dengan milik Ana.
"Hh! Kalian cuma gadis labil, sedikit gertakan saja sudah bisa menghasut kalian." batin Ana menyeringai,
Begitu puas melihat reaksi mereka.
"Dia benar! Walau polos, bajunya terkesan anggun seperti wanita kalem yang kulihat difilm. Sedangkan bajuku..." gumam Mona, berpikir keras.
Dia teman sekelas mereka yang berhasil dijadikan kurcaci Sarah.
Sebenarnya Sarah hanya pintar berlagak dan mencari muka. Jadi dia selalu menargetkan gadis kaya dan bodoh seperti Mona agar mengikutinya,
"Tunggu! Apa aku sudah salah berteman dengan Sarah?"
"Jadi selama ini, aku lah yang memakai baju norak!"
"T-tenanglah. Banyak aktris yang memiliki selera berbeda,"
"D-dan menurutku kita sangat cocok menggunakan baju seperti ini..." sanggah Sarah menjelaskan,
Dia sadar kalau temannya mulai condong ke arah lain dan membuat kedudukannya terancam.
"Ck. Aku tidak boleh kehilangan teman seperti Mona,"
"Kata mama, keluarga Mona lebih kaya dari kami...kebetulan Mona punya kakak laki-laki, ini kesempatanku untuk menjadi istri pewaris keluarga kaya!"
"Dengan begitu, aku akan punya posisi aman dan membuktikan kepada ayah...kalau aku bisa membantu perusahaan Pratama menjadi lebih maju,"
1 jam pun berlalu...
Langkah santai seorang pelayan baru saja menapak pijakan jalan yang dibuat dalam bentuk susunan batu,
Dia berjalan menuju taman belakang, membawa kudapan lain untuk disuguhkan kepada tamu.
"Non, ini ad-" kalimatnya terhenti, tertegun mendapati Ana yang tengah duduk seorang diri.
Wajahnya bingung, celingak-celinguk mencari tiga gadis yang sebelumnya bertamu.
"Eh! yang lain pada kemana?"
Bertanya sambil mengisi ulang mangkok camilan kosong di atas meja.
"Sudah pulang." Ana menjawab singkat,
Mencelupkan sebatang biskuit ke dalam teh. Ana tersenyum seakan menikmati kesendiriannya,
"Ha! Pulang? Kok cepet banget, ga kaya biasanya..."
"Entahlah. Mungkin minder," gumam Ana mengangkat bahu.
"Minder? Apa maksudnya?"
"Itu...anu---semacam tugas sekolah. Mereka pulang cepet karena mau ngerjain PR!" timpal Ana berlagak serius,
Mana mungkin bercerita kalau ketiga gadis itu pulang karena lelah mendengar komentar pedas darinya.
"Oh..." ujar Bibi mengangguk paham.
"Padahal bibi udah bikinin banyak banget camilan. Itu di dalam masih ada,"
"Tenang aja! Bibi bawa ke kamarku. Biar aku saja yang ngabisin semuanya,"