Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Tangga di Ujung Saldo
"Laraaaaaas...!!!"
Pekikan melengking Bu Ajeng memecah keheningan pagi pukul tujuh. Wanita itu sudah tampil rapi, siap untuk menyantap sarapan. Namun, langkahnya terhenti kaku di depan meja makan. Tidak ada kepulan uap nasi hangat, tidak ada aroma masakan. Yang ada hanyalah tumpukan piring kotor sisa semalam yang mulai mengering, bekas makan malam tiga porsi ayam bakar yang dipesan Arga melalui grabfood.
Laras benar-benar tidak menyentuhnya. Sejak pukul setengah enam pagi, ia telah melesat pergi, dijemput oleh Rani dan Andin. Arga, yang masih terbuai mimpi, sama sekali tidak menyadari bahwa istrinya benar-benar nekat melakukan rencana liburan itu.
"Ada apa sih, Bu? Pagi-pagi sudah teriak, ganggu orang tidur saja." keluh Tiara yang muncul dari kamar tamu dengan wajah bantal dan rambut kusut.
"Lihat itu! Istri kakakmu sampai jam segini belum bangun, apalagi masak. Dasar menantu pemalas. Laraaasss, Bangun!!" teriak Bu Ajeng lagi, urat lehernya tampak menegang.
Tiara menggaruk telinganya yang gatal karena suara cempreng ibunya. "Ya ampun, Bu. Kalau kesal tinggal gedor saja kamarnya, tidak usah teriak-teriak begitu. Sakit telinga Tiara dengarnya."
Bu Ajeng mendengus, lalu melangkah lebar menuju kamar Laras dan Arga. Pintu kayu itu menjadi sasaran kemarahannya.
Braakk! Braakk!
"Laras! Bangun! Matahari sudah tinggi, kamu masih enak-enakan tidur! Cepat bangun dan siapkan sarapan!" titahnya dengan suara lantang yang menggelegar.
Di dalam kamar, Arga mengerang. Kepalanya berdenyut mendengar keributan itu. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia turun dari ranjang dan membuka pintu yang sudah tidak terkunci.
"Ada apa sih, Bu? Ini hari Minggu, Arga mau istirahat." ucapnya dengan mata sayu.
"Mana istrimu??? Jam segini belum kelihatan batang hidungnya. Meja makan masih berantakan dari semalam. Dasar istri tidak berguna. " cerca Bu Ajeng tanpa jeda.
Arga mengucek matanya, lalu menoleh ke arah ranjang yang sudah rapi untuk seseorang yang baru bangun tidur. Kamar mandi pun terbuka lebar dan kosong.
"Laras tidak ada, Bu. Sepertinya sudah bangun." gumam Arga pelan.
"Kalau sudah bangun, kenapa dia tidak masak? Ke mana dia?!"
"Mungkin lari pagi atau ke pasar. Biasanya kan memang begitu kalau hari Minggu." jawab Arga mencoba membela diri sekaligus mencari alasan yang logis.
Namun, insting Bu Ajeng berkata lain. Ia melirik ke arah garasi samping. "Tidak mungkin ke pasar. Motor dan mobil kantornya masih ada di garasi. Jangan-jangan dia benar-benar pergi liburan? Arga, cepat cek barang-barangnya!"
Jantung Arga mencelos. Ia teringat perdebatan mereka kemarin. Ia segera melangkah menuju lemari tempat penyimpanan koper. Kosong. Tempat itu kini hanya menyisakan ruang hampa.
"Kopernya tidak ada, Bu. Sialan, dia benar-benar pergi!" geram Arga, tangannya mengepal kuat.
"Coba periksa pakaiannya!" perintah Bu Ajeng lagi.
"Tidak bisa, Bu. Lemari pakaiannya selalu dikunci dan kuncinya dia bawa sendiri. Aku telepon saja dia. " Arga meraih ponselnya di atas nakas. Baru saja ia hendak mencari kontak istrinya, sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar.
[Maaf ya, Mas, aku pergi tidak pamit dulu. Kalau aku pamit, pasti kamu tidak akan kasih izin. Yang jelas, dari kemarin aku sudah bilang kalau aku mau liburan. Aku pergi empat hari Mas.]
"Kurang ajar!" Arga memaki. Rahangnya mengeras. Laras yang biasanya penurut, kini berani menentangnya secara terang-terangan.
"Laras liburan, Bu. Ini dia baru kirim pesan." ucap Arga dengan nada malas yang menyembunyikan rasa jengkel yang luar biasa.
"Menantu sialan." Bu Ajeng berteriak murka. "Dia lebih mementingkan liburan daripada membayar uang semester Tiara? Awas saja kalau kamu pulang, Laras. Ibu tidak akan memaafkanmu."
Drama kepergian Laras belum juga mereda hingga siang hari. Bu Ajeng terus menggerutu, meluapkan kekesalannya kepada siapa saja yang lewat, termasuk Dimas, putra sulungnya yang baru saja tiba.
Namun, kedatangan Dimas bukan membawa solusi, melainkan beban baru. Dimas hanya duduk diam mendengarkan keluhan ibunya tentang Laras yang 'kurang ajar', sementara pikirannya sendiri sedang carut-marut.
"Terus biaya semester Tiara bagaimana, Bu?" Tiara merengek, wajahnya ditekuk masam. "Cicilan mobilku juga sudah jatuh tempo."
Bu Ajeng menghela napas berat. "Ibu juga bingung. Dimas, kamu ada simpanan tidak? Ibu pinjam dulu untuk bayar semester dan cicilan Tiara. Nanti kalau Laras sudah pulang dan kasih uang, pasti Ibu kembalikan."
Dimas membuang napas dengan kasar. Alih-alih membantu, kedatangannya justru memiliki niat yang sama.
"Justru Dimas ke sini mau pinjam uang sama Ibu," ucap Dimas terus terang. "Dimas lagi susah, Bu. Gaji Dimas memang lumayan, tapi tidak cukup untuk gaya hidup istri Dimas. Sinta juga belum bayar SPP dua bulan, lalu sekolahnya mau ada acara jalan-jalan ke luar kota. Dimas butuh 10 juta, Bu."
Bu Ajeng terdiam. Rumah yang biasanya disubsidi oleh Laras itu kini terasa mencekam. Sang donatur telah pergi mencari ketenangannya sendiri, meninggalkan keluarga yang selama ini hanya tahu cara meminta tanpa pernah menghargai kehadirannya.
Dimas memasang wajah sepucat mungkin, sebuah topeng kesedihan yang ia rancang demi memancing iba sang ibu. Ia tahu persis bahwa Bu Ajeng masih menyimpan rahasia kecil, satu set perhiasan berharga yang bisa menjadi penyelamatnya.
Padahal, di balik alasan biaya sekolah Sinta (anaknya yang terpaksa bersekolah di tempat elit demi gengsi sang istri), tersembunyi sebuah kebohongan besar. Uang itu bukan untuk pendidikan, melainkan untuk membiayai ambisi Ana, istrinya, yang ingin berpelesir mewah bersama geng sosialitanya. Ana dan Bu Ajeng sebenarnya adalah dua sisi dari koin yang sama, haus akan pujian, gemar pamer, dan tak peduli dari mana uang itu berasal, asalkan keinginan mereka terpenuhi saat itu juga.
"Dimas, kamu benar-benar sesusah itu, Nak?" tanya Bu Ajeng dengan suara bergetar. "Ibu tidak punya uang tunai lagi. Sawah bagian kalian sudah ludes terjual. Harapan Ibu satu-satunya cuma Laras, tapi menantu tidak tahu diuntung itu malah pergi bersenang-senang."
"Apa Ibu benar-benar tidak punya simpanan lain?" pancing Dimas dengan nada mendesak.
Bu Ajeng terdiam, batinnya berperang. Aku hanya punya satu set perhiasan terakhir. Kalau kujual, aku pakai apa saat arisan nanti? pikirnya cemas. Namun, sedetik kemudian ia mencoba menghibur diri. "Mungkin aku bisa pakai perhiasan imitasi dulu. Lagipula, kualitasnya mirip sekali dengan yang asli. Sialan kau Laras, andai saja kau tidak pergi, aku tidak perlu mengorbankan emas ini."
"Ibu masih punya perhiasan," ucap Bu Ajeng akhirnya, menyerah pada rasa sayangnya yang pilih kasih. "Kalau kamu memang terdesak, juallah. Kasihan Sinta kalau harus malu karena belum membayar sekolah."
"Ibu! Kok malah perhiasannya dijual untuk Mas Dimas?" seru Tiara tidak terima. "Terus bagaimana dengan biaya kuliahku dan cicilan mobilku?!"
Tiara mengepalkan tangan. Rasa iri membakar dadanya. Sejak dulu, ia merasa ibunya selalu menomorsatukan Dimas dan Maya, sementara dirinya selalu dianaktirikan.
"Masalah itu gampang, nanti kita tinggal paksa Laras," jawab Bu Ajeng enteng. "Kalau kita desak terus, dia pasti akan menyerahkan uangnya."
"Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak!" Dimas berseru girang. "Dimas janji akan segera mengembalikannya, bahkan Dimas lebihkan nanti. Sekarang kita pulang, biar hari ini juga perhiasannya bisa Dimas jual."
"Iya, Ibu bereskan barang-barang dulu," sahut Bu Ajeng sambil menoleh ke arah Tiara. "Tiara, cepat kemas barangmu. Kita pulang sekarang. Nanti kalau Laras sudah kembali, kita ke sini lagi."
"Baiklah, Bu," gumam Tiara pelan, meski hatinya masih diliputi dongkol.
Di sudut ruangan, Dimas tersenyum lebar, merasa beban berat baru saja terangkat dari bahunya. Ia bisa bernapas lega karena istrinya tidak akan murka atau mendiamkannya lagi. Lebih dari itu, ia telah lolos dari ancaman besar; Ana tidak akan jadi angkat kaki menuju rumah orang tuanya hanya karena masalah uang.
Sangat ironis. Bu Ajeng lebih memilih mengorbankan emasnya demi menantu lain Ana daripada membantu Tiara, dan mereka semua berencana mengeroyok Laras begitu dia pulang.