NovelToon NovelToon
My Kaisar

My Kaisar

Status: tamat
Genre:Romantis / Percintaan Konglomerat / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

Satu minggu telah berlalu sejak titah perjodohan gila itu dijatuhkan. Bagi Freya, tujuh hari ini terasa seperti terjebak dalam simulasi kehidupan yang sangat tidak estetis. Setiap hari ada saja kurir istana yang datang membawakannya jadwal "kunjungan budaya" atau sekadar pesan singkat dari protokol istana yang mengingatkannya untuk tidak memakai jeans robek jika bertemu keluarga inti.

Sabtu sore ini, Freya memutuskan untuk mengambil kendali. Ia tidak mau lagi dipaksa duduk diam di balkon istana sambil minum teh yang harganya mungkin setara dengan biaya kosnya sebulan.

"Turunkan gue di sini!" perintah Freya pada supir mobil kepresidenan istana tepat di depan sebuah rumah makan dengan atap bagonjong yang ikonik.

Kaisar, yang duduk di sampingnya dengan jas formal tanpa dasi, mengernyit. "Kita ada jadwal makan malam di paviliun barat, Freya. Kenapa kita berhenti di Rumah Makan Padang?"

"Sesekali jangan makan jamuan menyebalkan itu! Lo harus jadi rakyat, Kai," cetus Freya sambil melompat turun. "Ayo! Kalau lo nggak turun, gue bakal teriak di sini kalau lo itu Pangeran Mahkota yang lagi nyamar jadi intel!"

Kaisar menghela napas panjang, sebuah kebiasaan baru yang muncul sejak mengenal Freya. Ia pun turun, berusaha menjaga martabatnya meski aroma gulai kambing dan sambal ijo mulai menyerang indra penciumannya.

Suasana di dalam rumah makan itu sangat riuh. Pelayan dengan cekatan membawa tumpukan piring di lengan mereka. Freya memilih meja di pojok, dekat kipas angin yang berputar berisik.

"Satu hal yang harus lo tahu: Makan nasi Padang itu haram pakai sendok!" Freya mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk cuci tangan dengan semangat. "Sini, cuci tangan dulu."

Kaisar menatap mangkuk plastik berisi air dan potongan jeruk nipis itu dengan ragu. "Apakah air ini diganti secara berkala?"

"Aduuuh, cerewet banget sih! Sini tangan lo!" Freya menarik tangan Kaisar, mencelupkannya secara paksa ke air, lalu mengelapnya dengan tisu kasar.

Saat pelayan menghidangkan belasan piring kecil berisi rendang, ayam pop, gulai tunjang, hingga daun singkong, mata Freya berbinar. Tanpa aba-aba, ia mulai mencampur nasi dengan kuah gulai dan sambal merah. Ia makan dengan sangat lahap, menyuap gumpalan nasi besar ke mulutnya seolah ini adalah makanan terakhir di dunia.

"Gila... ini baru namanya hidup," gumam Freya di sela kunyahannya. "Cobain rendangnya, Kai. Jangan cuma dipelototin, dia nggak bakal minta maaf karena udah bikin kolesterol lo naik."

Kaisar mencoba mengikuti cara Freya. Dengan kaku, ia mengambil sedikit nasi dan daging rendang. Begitu rasa rempah yang kaya itu meledak di lidahnya, Kaisar tertegun. "Ini... sangat kompleks. Rasanya lebih berani daripada masakan koki istana."

"Ya jelas! Karena di sini bumbunya pakai perasaan, bukan pakai aturan," timpal Freya.

Asyik menceramahi Kaisar soal nikmatnya bumbu rendang, Freya yang makan terlalu cepat tiba-tiba tersedak biji cabai yang masuk ke tenggorokannya.

"Uhuk! Uhuk-uhuk!"

Wajah Freya seketika memerah. Ia mulai terbatuk-batuk hebat sampai matanya berair. Kaisar yang tadinya sedang berusaha membedah ayam pop langsung berubah panik. Wajah dinginnya luntur seketika.

"Freya! Hei, minum ini!" Kaisar dengan sigap menyodorkan gelas es teh manis milik Freya, tapi tangannya gemetar karena cemas. "Bernapaslah pelan-pelan. Perlukah aku memanggil tim medis?"

"Uhuk! Nggak... uhuk... nggak usah lebay!" Freya meraih gelas itu, meminumnya hingga tandas, lalu memukul dadanya sendiri. "Gue cuma... uhuk... keselek cabe."

Kaisar tidak mempedulikan protes Freya. Ia berdiri, berpindah duduk ke samping Freya, dan menepuk-nepuk punggung gadis itu dengan lembut namun mantap—persis seperti cara seseorang menenangkan sesuatu yang sangat berharga.

"Kamu ini... makan seperti anak kecil yang tidak diberi makan setahun," omel Kaisar, tapi nada suaranya lebih terdengar seperti kekhawatiran yang dalam daripada amarah.

Setelah napasnya kembali normal, Freya mendongak, menatap mata Kaisar yang masih tampak gelisah. Ia tersenyum tipis, merasa ada sesuatu yang hangat menjalari dadanya, dan itu bukan karena kuah gulai.

"Makasih ya, Kai," ucapnya pelan.

Kaisar terdiam. "Kai?"

"Iya, Kai. Mulai sekarang gue panggil lo Kai. Lebih simpel, kayak nama Idol K-Pop yang keren itu. Daripada panggil 'Kaisar', kesannya kayak gue lagi ngomong sama monumen sejarah," ujar Freya sambil kembali meraih kerupuk kulitnya.

Kaisar kembali ke tempat duduknya, mencoba mencerna panggilan baru itu. "Kai... Kedengarannya sangat tidak formal."

"Emang! Dan lo harus terbiasa, karena mulai sekarang, lo adalah 'Kai' buat gue."

Malam pun larut. Kaisar bersikeras mengantar Freya sampai ke depan pagar rumahnya yang sederhana. Mobil mewah itu tampak sangat kontras parkir di depan rumah yang halamannya dipenuhi tanaman hias dalam pot plastik.

"Makasih ya buat nasi Padangnya. Dan makasih udah nggak lapor polisi pas gue keselek tadi," canda Freya saat hendak turun.

Kaisar menatap Freya, kemejanya kini sudah berbau bumbu masakan, sangat jauh dari aroma sandalwood istana yang biasa ia pakai. "Satu minggu ini... terasa sangat panjang. Tapi aku akui, aku tidak pernah makan dengan selera sebesar tadi."

Freya tersenyum lebar. "Bagus. Itu artinya sisi 'manusia' lo mulai muncul, Kai. Sampai ketemu besok di 'penjara' mewah lo ya! Selamat malam!"

Kaisar hanya menatap punggung Freya yang menghilang di balik pintu rumah sampai lampu teras menyala. Ia menyentuh dadanya sendiri, merasakan detak jantung yang sedikit lebih cepat dari biasanya.

Saat mobil Kaisar memasuki gerbang utama Istana Welas, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kaisar berjalan melewati koridor utama dengan langkah yang sedikit lebih ringan. Noda minyak sedikit terlihat di ujung lengan kemejanya, tapi ia tidak tampak kesal.

Di dekat tangga besar, ia melihat sosok Buyut sedang duduk di kursi goyangnya, ditemani seorang pelayan yang membacakan buku. Beliau menatap cucu buyutnya itu dengan tajam namun hangat.

"Kamu baru pulang, Kaisar?" tanya Buyut.

Kaisar membungkuk hormat. "Iya, Buyut. Maaf saya terlambat kembali."

Buyut menghirup udara di sekitar Kaisar, lalu tersenyum penuh kemenangan. "Bau gulai... dan kamu tidak memakai jas. Wajahmu juga tidak sekaku biasanya."

Kaisar terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.

"Pergilah istirahat," ujar Buyut sambil kembali memejamkan mata dengan senyum yang masih tersisa di bibirnya. "Sepertinya pilihanku untuk menjodohkanmu dengan si pelukis liar itu tidak salah. Istana ini butuh seseorang yang bisa membuat calon rajanya tahu cara terbatuk karena pedasnya kehidupan."

Kaisar hanya mengangguk, lalu berjalan menuju kamarnya. Di balik pintu yang tertutup, ia bergumam pelan, mencoba merasakan panggilan baru itu di lidahnya.

"Kai...?"

Dan untuk pertama kalinya dalam seminggu ini, Kaisar Welas tidur dengan senyum yang tertahan.

Apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya?

1
Nita Aprika Nita
🤣🤣🤣🤣MasyaaAllah.. 👍
Nita Aprika Nita
🤣🤣
Nita Aprika Nita
Ya Allah.. karya mu bagus banget kak.. tapi kok sepi yang baca dan like y..
Nadhira Ramadhani: bantu kasih bintang 5 dong kak🤣
total 1 replies
Thata Ayu Lestary
bagusss bgttt karya nya kak , besttttt
Nadhira Ramadhani: baca ceritaku juga yang lain kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!