NovelToon NovelToon
Tuan Higienis Dan Titipan Tak Tahu Diri

Tuan Higienis Dan Titipan Tak Tahu Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Enemy to Lovers / Slice of Life
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Terapi Air dan Teror Piranha Imajiner

Pagi itu, matahari Amazon mengintip dari balik kanopi pohon yang rapat, memantulkan cahaya pada aliran sungai yang tampak seperti kristal cair. Nirbi sudah siap dengan pakaian renangnya, melompat-lompat kecil di tepi sungai yang dangkal.

"Kak Calvin! Ayo turun! Airnya seger banget, bening sampe kelihatan dasarnya!" seru Nirbi sambil mencelupkan kakinya ke air.

Calvin berdiri di pinggir sungai dengan perlengkapan yang sangat tidak cocok untuk berenang: sepatu bot anti-air setinggi lutut, celana pendek yang baru saja ia semprot cairan anti-serangga, dan sebuah handuk mikrofiber antibakteri yang tersampir di bahunya. Di tangannya, ia memegang sebuah alat penguji pH air portabel.

"Tunggu, Nirbita! Jangan bergerak!" Calvin mencelupkan alatnya ke air. "Nilai pH-nya 6.8. Masih bisa ditoleransi. Tapi konsentrasi mikrobanya... kita tidak tahu apa yang dilakukan hewan-hewan hutan di hulu sungai ini."

"Kak, ini sungai Amazon bagian hulu, airnya mengalir terus! Ayo cepetan, atau aku tarik ya!" Nirbi menyeringai nakal.

"Jangan berani-berani, Nirbita—AAAKH!"

Terlambat. Nirbi menarik tangan Calvin dengan satu sentakan kuat, membuat pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh byur! ke dalam air yang jernih.

Calvin muncul ke permukaan dengan rambut klimisnya yang kini berantakan dan basah kuyup. Ia menyapu wajahnya dengan tangan, lalu segera merogoh kantongnya—mencari botol disinfektan yang untungnya ia tinggalkan di darat.

"Nirbita! Kamu baru saja merusak integritas kulit saya dengan air mentah ini!" bentak Calvin, meski suaranya tenggelam oleh tawa Nirbi.

"Liat deh, Kak. Kakak nggak mati kan kena air sungai?" Nirbi mendekat, melingkarkan lengannya di leher Calvin. "Airnya enak kan? Adem banget."

Calvin terdiam. Dinginnya air sungai memang terasa menyejukkan di tengah suhu Amazon yang lembap. Ia menatap wajah Nirbi yang basah, butiran air berkilau di bulu matanya, membuatnya tampak jauh lebih cantik daripada model iklan sabun mana pun.

Perlahan, ketegangan di bahu Calvin mencair. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Nirbi, menariknya lebih dekat hingga dada mereka bersentuhan di bawah permukaan air. "Kamu memang kuman kecil yang sangat berbahaya bagi kesehatan mental saya," bisik Calvin, suaranya kini merendah dan serak.

Nirbi tersenyum manja, memejamkan mata saat wajah Calvin mendekat. "Tapi Kakak suka kan?"

Baru saja bibir mereka hampir bersentuhan untuk momen romantis yang langka itu, Calvin melihat sesuatu dari sudut matanya. Sebuah bayangan perak kecil bergerak cepat di bawah permukaan air, menuju ke arah kaki mereka.

Serangan Predator (Versi Calvin)

Mata Calvin membelalak. Pikirannya langsung melompat ke dokumentasi National Geographic yang pernah ia tonton.

"NIRBITA, JANGAN BERGERAK! ADA PREDATOR!"

"Hah? Apa Kak?" Nirbi bingung.

"PIRANHA! ADA PASUKAN PIRANHA DI SEKITAR KITA!" Calvin langsung mengangkat Nirbi dalam gendongan ala bridal style, berusaha mengangkat kaki mereka setinggi mungkin dari air. Ia mulai bergerak zig-zag menuju tepian dengan panik. "Mereka akan menggerogoti daging kita dalam hitungan detik! Saya melihat giginya yang tajam!"

"Mana ada piranha di air bening begini, Kak?!" Nirbi tertawa sambil berusaha menyeimbangkan diri di gendongan Calvin yang limbung.

"SAYA LIHAT SENDIRI! ADA GEROMBOLAN PERAK!" Calvin sampai di area yang sangat dangkal dan hampir saja terpeleset batu berlumut. Ia menunjuk ke arah sekumpulan ikan kecil berukuran tak lebih dari ibu jari yang sedang berenang dengan tenang. "Lihat itu! Mereka sedang mengintai mangsa!"

Nirbi menoleh ke arah yang ditunjuk Calvin, lalu tertawa sampai air matanya keluar. "Kak... Kak Calvin... itu ikan Tetra. Ikan hias! Yang biasa orang beli buat di akuarium rumah!"

Calvin membeku. "Ikan hias?"

"Iya! Itu ikan pemakan lumut dan serangga kecil. Giginya aja nggak ada, Kak! Mereka justru takut sama kaki Kakak yang ukurannya kayak raksasa buat mereka," Nirbi masih tertawa terpingkal-pingkal di pelukan Calvin.

Calvin menurunkan Nirbi perlahan, wajahnya memerah padam—kali ini bukan karena demam, tapi karena malu yang luar biasa. Ia berdehem, mencoba mengembalikan wibawa CEO-nya yang sudah hanyut di sungai.

"Saya hanya... melakukan tindakan preventif. Dalam situasi bertahan hidup di hutan, lebih baik salah mengidentifikasi ikan daripada kehilangan jempol kaki," ujar Calvin dengan nada sangat formal, meski ia langsung keluar dari air dan meraih handuk antibakterinya.

Nirbi mengikuti ke darat, menarik ujung handuk Calvin. "Cieee, yang takut sama ikan hias seukuran jempol... Bilang aja Kakak mau gendong aku terus kan?"

"Diam, Nirbita. Kembali ke penginapan sekarang. Saya harus segera berendam di cairan antiseptik sebelum ikan-ikan 'predator' itu meninggalkan jejak di kulit saya," sahut Calvin sambil melangkah cepat, tapi ia tidak bisa menyembunyikan senyum tipisnya saat Nirbi merangkul lengannya dengan erat.

Amazon mungkin penuh bahaya, tapi bagi Calvin, bahaya terbesar tetaplah serangan tawa dari istrinya yang tidak tahu diri itu.

1
umie chaby_ba
😍😍😍😍
umie chaby_ba
ga takut di gigit nyamuk bulan madu di hutan 🤣
Rian Moontero
mampiiirrr/Bye-Bye/👍😍
umie chaby_ba
amazon ga tuh... 🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
🤣🤣🤣🤣🤣
An
amit" pake penggaris??diukur segala?? kang bangunan kah🤭🤣🤣🤣
Ariska Kamisa: Terimakasih kak, sudah mampir 🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
yaelah Caplin...
umie chaby_ba
kirain syekh puji... 😄😄😄🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
Vario Vario.. 🤣
umie chaby_ba
buset...🤭🤭🤭🤭
umie chaby_ba
alah sia cemburu... 😄
umie chaby_ba
duh... si Caplin udh kedemenan itu 😍🤣🤣
Ariska Kamisa: Calvin kak... /Facepalm/
tapi lucu sih kenapa jadi Caplin /Chuckle/
Semoga kak umi menikmati cerita saya yaa... /Kiss/
total 1 replies
umie chaby_ba
sumpah lucu😄
umie chaby_ba
Dih.. Varro Kocagghh....
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
ini ceritanya romansa komedian nih... asik kayanya .. kakaknya kocakk.
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!