NovelToon NovelToon
Bukan Sistem Biasa

Bukan Sistem Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:175.4k
Nilai: 4.6
Nama Author: Sarif Hidayat

Beberapa bulan setelah ditinggalkan kedua orang tuanya, Rama harus menopang hidup di atas gubuk reot warisan, sambil terus dihantui utang yang ditinggalkan. Ia seorang yatim piatu yang bekerja keras, tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi dunia yang kejam.
​Puncaknya datang saat Kohar, rentenir paling bengis di kampung, menagih utang dengan bunga mencekik. Dalam satu malam yang brutal, Rama kehilangan segalanya: rumahnya dibakar, tanah peninggalan orang tuanya direbut, dan pengkhianatan dingin Pamannya sendiri menjadi pukulan terakhir.
​Rama bukan hanya dipukuli hingga berdarah. Ia dihancurkan hingga ke titik terendah. Kehampaan dan dendam membakar jiwanya. Ia memutuskan untuk menyerah pada hidup.
​Namun, tepat di ambang keputusasaan, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
​[PEMBERITAHUAN BUKAN SISTEM BIASA AKTIF UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA TUAN YANG SEDANG PUTUS ASA!
APAKAH ANDA INGIN MENERIMANYA? YA, ATAU TIDAK.
​Suara mekanis itu menawarkan kesepakatan mutlak: kekuatan, uang,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Pulang

Rama dan Bela berjalan keluar dari pusat perbelanjaan, membawa kantong belanjaan berisi pakaian baru Bela. Udara sore terasa lebih segar, dan senyum puas tak lepas dari wajah Bela.

​"Terima kasih sekali lagi, Kak Rama," kata Bela tulus, memeluk kantong belanjaannya erat-erat. "Aku-aku, pasti akan memakai semuanya setiap hari !"

Rama tersenyum sekilas menatap gadis itu, meski bela bukan adik kandungnya.. Tetapi ia benar-benar sudah menganggap gadis itu sebagai adiknya sendiri, dan tentu saja ia takan melupakan pak suhardi dsn bu maya yang telah memberinya tempat tinggal juga merawatnya begitu baik seperti anak mereka sendiri.

​"Sama-sama, Bela," jawab Rama, matanya beralih menatap tajam ke arah sebuah toko besar dengan neon terang bertuliskan "Mega Gadget". "Tapi belanja kita belum selesai."

​Bela mengerutkan kening. "Belum selesai? Tapi aku rasa aku tidak butuh apa-apa lagi, Kak."

​Rama hanya tersenyum misterius. "Ada satu hal penting yang kamu lupakan." Ia berjalan lurus menuju pintu masuk toko ponsel modern itu.

​"Tunggu, Kak Rama! Kenapa kita ke sini?" tanya Bela, setengah berlari menyusul. Ia melihat etalase yang memamerkan ponsel-ponsel berkilau keluaran terbaru. Jantungnya berdebar, tetapi ia segera menepis harapan. Mustahil, pikirnya. Ponsel Android yang bagus harganya bisa mencapai jutaan.

​"Kita perlu upgrade alat komunikasi," jawab Rama singkat sambil mendorong pintu kaca toko.

​Di dalam, suasana ramai dengan pembeli yang sibuk mencoba berbagai gawai. Seorang pramuniaga muda segera mendekati mereka.

​"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu, Tuan?"

​Rama mengangguk, lalu menoleh pada Bela. "Bela, Kakak ingin membelikanmu ponsel baru. Pilih yang kamu suka."

​"Hah?!" Mata Bela terbelalak. Ia memegangi tangan Rama. "Tidak, Kak! Aku tidak perlu! Ponselku yang lama... yang tombolnya sedikit macet, itu masih bisa dipakai untuk telepon dan SMS. Jangan buang-buang uang, Kak. Ponsel di sini pasti mahal sekali!"

​Rama menatap adiknya lembut namun tegas, sama seperti di toko pakaian tadi. "Dengarkan, Bela. Kakak tidak mau kamu punya masalah komunikasi. Kita butuh ponsel yang bagus. Yang bisa kamu pakai untuk belajar dan juga menghubungi Kakak dengan mudah nantinya." Ia meraih tangan Bela dan meletakkannya di atas sebuah ponsel yang terpajang di etalase, model terbaru yang ramping dan elegan.

​"Pilih saja. Harga bukan masalah," kata Rama, nadanya mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

​Keberanian dan ketenangan Rama kembali melenyapkan keraguan Bela. Air muka Bela berubah dari panik menjadi takjub, lalu perlahan memancarkan binar kegembiraan yang tak bisa ia sembunyikan.

​"B-baiklah, Kak..." ucap Bela, suaranya pelan. Ia menunjuk ponsel yang ada di tangannya. "Kalau begitu, aku mau yang ini saja. Warnanya bagus."

​Pramuniaga itu, yang sedari tadi terkejut melihat interaksi mereka, segera mengecek harga. "Pilihan yang bagus, Nona. Ini adalah model 'X-Series' terbaru. Harganya Rp 5.499.000."

​Wajah Bela langsung pucat. Ia buru-buru menarik tangannya dari ponsel itu. "Tuh kan! Kak Rama, aku tidak mau yang ini! Itu terlalu—"

​Rama memotong ucapannya tanpa menoleh. "Ambil dua. Model yang sama," Rama berkata kepada pramuniaga itu.

​Pramuniaga itu bingung. "Maksud Tuan? Dua unit model X-Series?"

​"Ya," jawab Rama datar. "Satu untuk adik saya, dan satu untuk saya."

​Pramuniaga itu segera tersenyum lebar. Total dua unit ponsel itu sudah mencapai Rp 10.998.000. Sebuah komisi yang sangat menggiurkan.

​"Baik, Tuan! Saya akan siapkan segera. Kami punya unit warna Rose Gold untuk Nona, dan warna Midnight Black untuk Tuan. Dan kami juga akan memberikan kartu paket data berikut aksesori lainnya?" Ucapnya antusias,

​Rama mengangguk dan berkata, "Siapkan saja kedua unit itu. Dan satu lagi," Rama merogoh saku celananya, mengeluarkan Kartu Hitam polos tanpa logo. "Saya akan membayar dengan ini."

​Melihat kartu tanpa logo itu, senyum pramuniaga itu sedikit memudar. Ia teringat akan prosedur ketat toko untuk kartu asing.

​"M-maaf, Tuan. Tapi ini kartu apa, ya? Kami biasanya hanya menerima kartu dari bank resmi," tanyanya, ragu-ragu.

​Rama tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Kartu Hitam di tangannya, lalu Manajer Toko itu—yang sedang berjalan melewati mereka—melirik dan berbalik. Rama merasakan Otoritas Mutlak di telapak tangannya.

​"Gesek saja," perintah Rama, suaranya tenang dan tegas, tetapi entah kenapa, terdengar berat dan final.

​Pramuniaga itu merasakan getaran aneh, seolah ia benar-benar harus patuh. Ia mengambil kartu itu dengan gemetar dan berjalan ke mesin kasir. Manajer Toko yang memperhatikan dari jarak dua meter ikut menajamkan pandangan.

​Pramuniaga itu menggesek Kartu Hitam di mesin EDC. Sama seperti di toko pakaian, mesin itu seharusnya mengeluarkan bunyi kesalahan, tetapi kali ini, mesin itu berkedip terang.

​Layar kasir menampilkan pesan "TRANSAKSI SUKSES - TOTAL: Rp 10.998.000".

​Manajer Toko dan pramuniaga itu terdiam sejenak. Mereka menatap layar, lalu Kartu Hitam di tangan mereka, lalu ke Rama. Tidak ada bunyi, tidak ada konfirmasi bank, hanya keberhasilan mutlak.

​"S-sudah berhasil, Tuan," kata pramuniaga itu, nadanya kembali penuh hormat dan sedikit ketakutan. Ia buru-buru mengembalikan Kartu Hitam dan mulai mengemas dua kotak ponsel itu.

​Bela, yang menyaksikan segalanya, hanya bisa menatap Rama dengan mulut sedikit terbuka. Pertanyaan demi pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya. Dari mana Rama mendapatkan kartu hitam itu?

​"Ini dia, Tuan," Pramuniaga itu menyerahkan dua kantong berisi ponsel baru.

​Rama mengambilnya, lalu menyerahkan kotak ponsel Rose Gold kepada Bela. "Ambil, Bela. Ponselmu yang lama... Kamu bisa simpan saja. Ini untukmu."

​Bela menerima kotak itu dengan tangan gemetar. Berat kotak itu terasa seperti membawa sebongkah emas.

​"Kak Rama... terima kasih..." bisiknya, matanya berkaca-kaca, kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena kebahagiaan yang meluap-luap. Ia tidak menyangka ternyata Rama tidak berbohong mengajaknya ke pasar dan akan membelikan apapun yang dia inginkan.

​Rama tersenyum. "Ayo kita beli beberapa kebutuhan untuk dapur agar ibu sebelum pulang." Ucap Rama dan bela hanya mengangguk pelan tanpa kata,

​Saat mereka melangkah keluar dari toko, Bela menatap ponsel di tangannya, lalu ke Rama. Ada getaran aneh di hatinya yang tak bisa ia ungkapkan.

Kemudian mereka pun memebeli cukup banyak kebutuhan dapur berikut dengan berbagai macam buah segar yang membuat bela tampak begitu senang apalagi Rama membeli buah naga kesukaannya,

"kak, ap-apakah ini tidak terlalu banyak,"? Biarkan aku membawanya sebagian, " Melihat kedua tangan Rama penuh dengan belanjaan, bela menawarkan untuk membawanya sebagian,

"Tidak perlu, kamu cukup bawa saja beberapa kantong belanjaan mu itu, lagipula ini tidak berat dan kita akan menaiki angkot setelah ini,"

Jawab rama, lalu tak lama mereka pun menaiki angkatan umum untuk pulang,

1
Dirman Ha
gc ckp
Dirman Ha
ig go
Zulterry Apsupi
yang ini masuk polisi pasti lewat koneksi atau melalui sogokan
Zulterry Apsupi
terlalu naif si mc
Dirman Ha
g book
Dirman Ha
I g nk
Zulterry Apsupi
MC idiot
Memyr 67
𝗋𝖺𝗇𝖽𝗒 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖺𝗌𝗎𝗁𝖺𝗇 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗁𝖺𝗁? 𝗐𝗂𝖽𝗒𝖺? 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗄𝖺𝗂 𝗉𝗋𝖾𝗆𝗉𝗎𝖺𝗇, 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄?
Memyr 67
𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇? 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍. 𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝗌𝗎𝗉𝖾𝗋𝗂𝗈𝗋 𝗆𝖺𝗎 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂, 𝗒𝗀 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 "𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇" 𝗋𝖺𝗆𝖺. 𝗋𝖺𝗆𝖺? 𝖽𝗂𝗌𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗎𝗋𝖽 𝗌𝗂𝗁 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗍𝗎
Memyr 67
𝗌𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝗁𝗎𝖻𝗎𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗍𝖺𝗌 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁. 𝗄𝖺𝗌𝗂𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗌𝖾𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎.
Manusia Biasa
lucu gw suka interaksi bela x rama😁
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗉𝖾𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖽𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗍𝗈𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗅𝗂𝗆𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝖺𝗇. 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝗆𝖾𝗆𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗅𝖺 𝗂𝗇𝖿𝗈𝗋𝗆𝖺𝗌𝗂 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗌𝗁𝖾𝗋𝗅𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗉𝖺𝗋𝗈. 𝗉𝖾𝗇𝗀𝖺𝗐𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗋𝗂𝖼𝗈 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋.
Dirman Ha
hv gi
Dirman Ha
yd dg
Dirman Ha
hv no
Dirman Ha
ig gi
Dirman Ha
ih bko
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!