NovelToon NovelToon
CINTA DI ANTARA DUA SAF

CINTA DI ANTARA DUA SAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Reuni yang Menyakitkan

Setelah menghabiskan waktu berjam-jam bersembunyi di balik pohon sawo seperti pencuri, ia akhirnya memaksakan diri untuk menjauh dari rumahnya sendiri. Ia belum sanggup menghadapi wajah ibunya yang renta. Ia butuh waktu untuk menata serpihan harga dirinya yang hancur berantakan.

Langkah kakinya membawa Bayu menuju alun-alun desa, tempat yang dulu menjadi saksi bisu masa remajanya yang penuh ambisi. Di sana, suasana menjelang buka puasa mulai terasa. Beberapa pedagang takjil mulai menggelar dagangan, dan aroma gorengan serta kolak pisang menguar di udara, menusuk penciuman Bayu yang sejak pagi tadi hanya menghirup debu jalanan.

"Bayu? Ini beneran Bayu, kan?"

Suara lembut itu menghentikan langkah Bayu. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita berhijab anggun sedang berdiri di depan sebuah kedai kopi kekinian yang nampak baru di sudut alun-alun. Nayla. Sahabat masa kecilnya, sekaligus perempuan yang dulu diam-diam ia kagumi sebelum obsesinya pada harta mengubah segalanya.

"Nayla?" Bayu berusaha mengatur napasnya, mencoba menutupi kegugupan yang melanda.

"Ya Allah, Bay! Kamu ke mana aja? Tiba-tiba ilang nggak ada kabar, eh tau-tau nongol di sini," seru Nayla dengan binar mata yang jujur. Ia mendekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan. "Kamu habis dari mana, Bay? Kayak capek banget."

Bayu memaksakan sebuah senyum tipis yang terasa kaku di wajahnya. "Ah, ini ... tadi habis jalan jauh aja, Nay. Biasalah, lagi pengen backpacker-an dikit," bohongnya, sebuah dusta yang terasa hambar di lidah.

Nayla tidak tampak percaya sepenuhnya, namun ia terlalu santun untuk mendesak. "Kebetulan banget kamu di sini. Bentar lagi buka puasa. Yuk, masuk dulu! Kita makan bareng. Aku yang traktir, anggep aja syukuran karena kamu udah pulang."

Bayu ingin menolak. Ia merasa tidak pantas duduk di kafe yang bersih dan wangi itu dengan kondisi tubuh yang kumal. Namun, perutnya yang melilit hebat seolah memiliki kehendak sendiri.

Sebelum ia sempat berucap, seorang pria keluar dari pintu kaca kafe tersebut. Pria itu berperawakan tegap, mengenakan koko modern berwarna putih bersih dengan jam tangan yang tampak berkelas namun tidak mencolok.

"Ada tamu ya, Nay?" tanya pria itu. Begitu matanya menangkap sosok Bayu, senyumnya langsung merekah. "Bayu! Kapan sampai?"

Fahmi. Sahabat karibnya sejak SMA. Dulu, mereka sering bersaing dalam hal nilai, namun kini perbedaannya begitu kontras. Fahmi nampak begitu tenang, mapan, dan bercahaya. Ada ketulusan yang terpancar dari wajahnya, jenis ketenangan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah berdamai dengan dunia dan Tuhannya.

"Baru aja, Mi," jawab Bayu pendek. Ia merasa kerdil berdiri di hadapan Fahmi.

"Alhamdulillah. Pas banget, kita mau buka puasa. Ayo masuk, Bay. Jangan sungkan, ini kafe punya gue, kok. Gue baru buka cabang kedua bulan lalu," ajak Fahmi sambil menepuk bahu Bayu dengan akrab.

Di dalam kafe yang sejuk oleh hembusan AC, Bayu merasa seperti alien. Ia duduk di kursi empuk, menatap meja yang segera dipenuhi dengan berbagai hidangan berbuka. Ada kurma sukari yang besar, es kelapa muda, dan sepiring nasi kebuli yang aromanya sangat menggoda. Namun, setiap kali ia melihat tangannya yang kotor, seleranya mendadak lenyap.

"Gimana Jakarta, Yu? Pasti makin gila ya persaingannya di sana?" tanya Fahmi santai setelah mereka membatalkan puasa dengan seteguk air dan sebutir kurma.

Bayu berdehem, mencoba menghilangkan rasa sesak di kerongkongannya. "Ya gitu deh, Mi. Sibuk. Kadang sampe lupa napas."

"Gue denger-dengar dari temen angkatan kita yang di sana, bisnis lo lagi ada kendala ya?" Fahmi bertanya dengan nada bicara yang sangat hati-hati, seolah takut menyinggung perasaan Bayu. "Wajar kok, Yu. Namanya usaha pasti ada pasang surutnya. Rasulullah pun pernah mengalami masa sulit dalam berniaga."

Bayu terdiam. Kalimat Fahmi yang membawa-bawa agama justru membuatnya merasa semakin terpojok. Ia merasa seperti sedang diceramah oleh seseorang yang berada di atas angin.

"Yu, sebenernya gue udah lama pengen kontak lo," lanjut Fahmi, kini suaranya merendah, penuh kesungguhan. "Gue lagi buka cabang baru untuk manajemen logistik di kota sebelah. Gue butuh orang yang punya pengalaman manajerial kayak lo. Kalau lo nggak keberatan, lo bisa isi posisi Manajer Operasional di sana. Gajinya mungkin nggak segede di Jakarta, tapi insya Allah berkah. Kita bisa kerja bareng lagi kayak dulu pas kita bangun OSIS."

DEG.

Tawaran itu menghujam jantung Bayu. Di satu sisi, itu adalah pelampung yang ia butuhkan untuk keluar dari lumpur kemiskinan. Namun, di sisi lain, bagi ego Bayu yang setinggi langit, tawaran itu terasa seperti sedekah yang dipaksakan. Ia merasa Fahmi sedang mengasihaninya, melihatnya sebagai pengemis yang butuh diselamatkan.

"Lo ... lo nawarin gue kerjaan karena denger gue bangkrut?" suara Bayu terdengar getir.

Nayla yang sejak tadi menyimak langsung menyela, "Bukan gitu, Bay. Fahmi emang udah lama nyari orang yang terpercaya. Pas tau kamu balik, dia seneng banget. Ini murni karena kompetensi kamu, bukan karena kasihan."

Namun, telinga Bayu sudah tertutup oleh rasa rendah diri yang akut. Baginya, senyum tulus Fahmi berubah menjadi seringai kemenangan. Ia melihat kemeja putih Fahmi yang tanpa noda sebagai simbol kesempurnaan yang mengejek kegagalannya.

"Gue nggak butuh dikasihanin, Mi," ucap Bayu tiba-tiba, suaranya naik satu oktav. Beberapa pengunjung kafe sempat menoleh.

Fahmi tampak terkejut, namun sorot matanya tetap tenang. "Astaghfirullah, Bay. Bukan itu maksud gue. Kita kan sahabat. Di agama kita diajarkan untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Kalau gue punya jalan, kenapa nggak gue bagi sama lo?"

"Tapi caranya nggak gini! Gue bukan peminta-minta!" Bayu berdiri, kursinya berderit keras di lantai porselen. "Lo pikir dengan lo sukses sekarang, lo bisa dengan gampang ngatur-ngatur hidup gue? Lo mau pamer kalau lo lebih hebat dari gue karena lo tetep di desa sementara gue hancur di kota?"

"Bay, tenang dulu ...." Nayla mencoba menenangkan, wajahnya nampak sedih.

"Nggak, Nay. Gue tau kalian liat gue kayak apa. Gembel, kan? Pecundang, kan?" Bayu menatap Fahmi dengan tatapan penuh kebencian yang sebenarnya ditujukan pada dirinya sendiri. "Simpen aja posisi manajer lo itu. Gue bisa bangkit sendiri. Gue nggak butuh bantuan dari orang yang mau kelihatan jadi pahlawan di atas penderitaan temennya sendiri."

Fahmi menghela napas panjang, tidak ada amarah di wajahnya. Hanya ada kesedihan mendalam yang tersirat di sana. "Yu, kesombongan itu adalah hijab yang menutupi rahmat Allah. Gue nggak bermaksud apa-apa selain ingin kita sukses bareng. Kalau omongan gue salah, gue minta maaf."

Kata-kata 'minta maaf' dari Fahmi justru terasa seperti tamparan paling keras bagi Bayu. Bagaimana mungkin orang yang sedang memberinya bantuan justru meminta maaf?

Ketulusan Fahmi justru membuat Bayu merasa semakin kotor dan hina. Ia merasa harga dirinya yang tinggal seujung kuku telah habis dilumat oleh kebaikan sahabatnya.

"Gue pergi," desis Bayu.

Ia menyambar tas ranselnya yang kumal, mengabaikan nasi kebuli yang belum sempat ia cicipi lebih dari dua suap. Ia berjalan cepat keluar kafe, meninggalkan kehangatan reuni yang ia ubah menjadi medan perang batin.

Di luar, adzan Maghrib telah usai berkumandang, namun kegelapan di hati Bayu justru semakin pekat. Ia berjalan menjauh dari alun-alun, kembali menuju kegelapan jalanan desa. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. Ia marah pada Fahmi, namun jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu bahwa ia lebih marah pada dirinya sendiri.

Ia telah menolak satu-satunya uluran tangan yang jujur padanya. Keangkuhan yang dulu membawanya ke puncak kesuksesan, kini menjadi rantai yang menyeretnya semakin dalam ke dasar jurang penderitaan.

Di tengah suasana Ramadhan yang penuh ampunan, Bayu justru merasa pintu maaf Allah dan manusia sedang tertutup rapat untuknya, bukan karena dikunci oleh mereka, tapi karena ia sendiri yang memasang palangnya dengan rasa sombong yang tersisa.

Langkah kakinya kini tak tentu arah, sementara perutnya kembali berteriak perih, mengingatkannya bahwa ia baru saja membuang rezeki yang datang dari ketulusan seorang sahabat.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..

‎🥰🥰🥰
Hary Nengsih
baru baca kayanya bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!