NovelToon NovelToon
CINTA PERTAMA ANDREA

CINTA PERTAMA ANDREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.

Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?

Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SARAPAN BERSAMA YANG TAK BIASA

Cahaya matahari pagi mulai menyelinap di antara celah gorden, namun hangatnya tak mampu mencairkan suasana kaku di ruang makan kediaman Surya.

Pagi itu, Vhirel turun dengan langkah ringan dan setelan kantor yang sudah rapi—kontras dengan aura dingin yang menyelimuti meja makan.

Terdengar, ​suara gesekan kaki kursi yang ditarik Maudi terdengar memekakkan telinga di tengah keheningan yang janggal. Surya pun melakukan hal yang sama tanpa sepatah kata pun, hanya fokus pada handphone dan kopinya.

​Vhirel turun dari anak tangga terakhir, namun gerakannya terhenti saat matanya tertuju pada satu salah satu kursi di sebelahnya kosong. ​"Dea belum ke bawah?" tanyanya, memecah kesunyian.

​Maudi menoleh lalu menggeleng pelan, raut wajahnya sulit ditebak. "Bik Minah tadi sudah panggil, tapi belum ada jawaban..." Jelasnya. "... coba kamu yang panggil, suruh dia cepat sarapan. Hari ini ada jadwal dia cek butik."

​Vhirel hanya mengangguk patuh. Sebelum berbalik, ia sempat melirik ke arah ayahnya. Ada ketakutan yang tersirat dalam benaknya; ia hanya berharap diamnya Surya pagi ini bukan karena pria itu sedang menyusun kata-kata untuk kembali membahas topik perjodohan yang sensitif itu.

​​Langkahnya terasa berat saat ia kembali menaiki tangga, seolah setiap anak tangga menambah beban di pundaknya. Batinnya berkecamuk hebat. Ia hanya ingin pagi ini berjalan normal—sebuah permintaan sederhana yang terasa mustahil di rumah ini. Tanpa perdebatan, tanpa tatapan menghakimi, dan tanpa tuntutan yang membuatnya merasa seperti buronan di kediamannya sendiri.

​Begitu Vhirel tiba di depan kamar Dea, sesak di dadanya sedikit melonggar. Hanya Dea, satu-satunya wanita yang entah bagaimana caranya, mulai hari ini terasa berhasil menyuntikkan kekuatan pada dirinya. Namun, saat tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, gerakannya terhenti di udara.

​Pintu itu terbuka lebih dulu.

​Vhirel terpaku. Dea muncul di amban pintu pagi ini, seolah menarik paksa oksigen dari paru-parunya.

Tidak ada lagi kesan gadis kecil yang manja.

Pagi ini. Dea tampak begitu dewasa. Rambut panjangnya yang biasa diikat asal kini tergerai indah dengan gelombang halus di bagian ujung, membingkai wajahnya dengan sempurna. Ia mengenakan terusan slim-fit berwarna pastel yang menonjolkan siluet tubuhnya yang mulai matang, dipadukan dengan riasan tipis yang justru memancarkan keanggunan alami.

Sinting ya, kamu!

​Adik mana yang usia kalian bahkan hampir sama?!

​Kalimat itu tajam, menyindir batas tipis di tengah kekagumannya itu. Kalimat Sofia, sang mantan, kembali terngiang di kepalanya seperti kaset rusak yang perlahan menghantam gendang telinganya diantara kekacauan hatinya hari ini.

​"Kak?" Suara Dea memecah lamunannya, sedikit mengejutkan Vhirel.

Namun akhirnya, ​Vhirel tak peduli lagi pada suara-suara di kepalanya. Ia melempar senyum tulus, sebuah ekspresi langka yang hanya ia simpan untuk gadis di depannya pagi ini. "Kamu cantik hari ini," bisiknya sangat lirih, hampir seperti desau angin dan takut jika dinding rumah ini memiliki telinga.

​Dea tersipu, rona merah menjalar di pipinya. "Sebelum-sebelumnya jadi aku nggak cantik?" Godanya dengan nada manja yang tertahan.

​Vhirel refleks menoleh ke sekitar, memastikan koridor itu kosong. Setelah merasa aman, ia kemudian melangkah maju, memperpendek jarak hingga aroma parfum Dea yang manis dan feminin pun menyeruak, bercampur dengan aroma maskulin dari tubuhnya sendiri.

​Jantung Dea berdegup kencang saat jemari Vhirel terangkat. Dengan gerakan lembut yang penuh proteksi, Vhirel menyelipkan beberapa helai rambut Dea ke belakang telinga.

Vhirel lalu mencondongkan tubuh ke arah Dea. ​"Kamu... selalu cantik di mataku." Bisiknya.

Dea tersentak, antara geli oleh napas Vhirel yang hangat dan kalimatnya yang memabukkan. Sensasi itu menjalar dari tengkuk hingga ke seluruh permukaan kulitnya, meninggalkan jejak panas yang sulit dijelaskan.

​Vhirel lalu menatap lekat manik mata Dea sejenak, memberikan senyum tipis yang penuh arti sebelum akhirnya menarik diri. "Papa dan Mama tunggu kita di bawah," ucapnya, kembali ke nada bicara yang lebih formal.

​Dea hanya mampu mengangguk pelan dengan senyuman bahagia yang berusaha ia tahan, hingga lidahnya kelu.

Seolah mengerti akan ketegangan yang bisa memicu kecurigaan orang tua mereka, Dea membiarkan Vhirel lebih dulu berbalik, melangkah turun menuruni anak tangga dengan punggung tegak, meninggalkannya yang masih berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan.

Saat Dea menyusul turun, pemandangan di ruang makan segera menghempaskannya kembali ke realita. Di sana, Surya duduk di ujung meja dengan koran digitalnya, sementara Maudi sedang menyeruput teh. Suasana begitu sunyi, hanya suara denting sendok yang beradu. ​

Vhirel sudah duduk di kursinya, wajahnya kembali datar, sedingin es, seolah-olah pria yang berbisik manis di depan pintu tadi adalah orang yang berbeda sama sekali.

Juga, ​Dea sendiri menarik kursi di samping Vhirel. Dan di saat yang sama, ia bisa merasakan tatapan Maudi yang tajam, seolah sedang memindai setiap inci penampilannya yang tidak biasa hari ini.

​​"Tumben kamu dandan, De?" Tanya Maudi akhirnya. Suaranya datar, namun matanya menyipit tajam, memindai setiap inci riasan tipis dan tatanan rambut putrinya yang tergerai indah—sebuah pemandangan yang tak biasa di meja makan pagi ini.

​Dea tersentak kecil. Ia tak langsung menjawab, lidahnya mendadak kelu di bawah tatapan menyelidik sang ibu. Sudut matanya lalu sekilas melirik ke arah Vhirel, mencari pegangan atau sekadar sinyal untuk beraksi.

​"Hmmmmm," Vhirel berdehem panjang, memecah keheningan yang sempat menggantung kaku.

​Pria itu sama sekali tidak mengangkat wajah. Matanya tetap terpaku sibuk pada piring di depannya. Sementara, kedua lengannya bergerak ritmis, memotong omelet dengan gerak tegas namun rapi—terlalu teratur untuk menyembunyikan sesuatu yang tengah bergejolak di dalam dirinya.

"Baguslah, Ma!" Celetuk Vhirel. "Dea itu bukan lagi anak manja dan cengeng. Dia cuma lagi belajar jadi dirinya sendiri. Lebih rapi, lebih berani, dan lebih tahu apa yang dia mau. Menurutku, itu hal yang wajar.”

Vhirel melahap omelet itu, wajahnya mulai terangkat menatap sang Ibu yang kini tengah menoleh pada suaminya. "Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?"

Dea hanya membisu dan meneguk minumannya.

"Tumben kamu gak ledek adik kamu?" Kata Surya datar. "Biasanya kamu yang paling semangat dan jadi garda terdepan untuk menjatuhkan adikmu ini."

​Vhirel meletakkan garpunya. Ketegangan yang sejak tadi ia coba hindari kini meledak secara perlahan di atas meja makan. Ia menatap Surya dengan sorot mata yang tak lagi ingin tunduk.

"Lagi gak mood aja!" Celetuk Vhirel, lalu dengan datar, ia kembali melahap makanannya.

Maudi dan Surya kembali saling pandang sejenak, lalu menggeleng bisu. Tak ada bantahan, tak ada komentar lanjutan. Keduanya berpaling, kembali pada makanan masing-masing, seolah percakapan barusan tak pernah terjadi—meski sisa ketegangannya masih tertinggal tipis di udara meja makan.

Sementara Dea yang sejak tadi menahan diri, kini menunduk lebih dalam. Bahunya sedikit mengendur, napasnya perlahan kembali teratur. Ia menyendok makanannya tanpa benar-benar merasakan apa pun, tapi ada kehangatan asing yang menyelinap di dadanya—tenang, karena akhirnya ia tak sendirian.

"Vhirel," Kata Surya kemudian. "siang nanti... Papa akan bertemu dengan Om Dirga untuk makan siang bersama. Kalau bisa kamu juga datang untuk—"

Prang.

Sendok dan garpu yang berada di tangan Vhirel kemudian terlepas dan ia simpan di atas piringnya, menimbulkan bunyi nyaring yang membuat kalimat Surya menggantung.

Di saat yang sama, Vhirel melirik jam digital di lengannya sambil beranjak dari kursi makannya. "Aku kayaknya udah telat deh, Pa. Ma."

Maudi menggeleng. "Vhirel, Papamu belum selesai..."

"Hari ini jadwalku padat sekali," sambar Vhirel cepat. Suaranya terdengar tenang, namun ada ketegasan yang memutus interogasi halus Maudi. "Nanti akan aku kabari bisa datang atau tidaknya. Aku pergi."

​Vhirel lalu mendorong kursinya, bangkit berdiri tanpa menunggu jawaban lebih lanjut. Ia berbalik dan melangkah menjauh dari meja makan dengan aura dingin yang tak pernah biasa ia tunjukkan. Namun, tepat di dekat pilar menuju pintu keluar, langkahnya terhenti. Ia mematung di sana tanpa menolehkan kepala sedikit pun ke arah meja makan.

​"Hey, gadis manja yang hari ini penampilannya sok-sok'an dewasa!" serunya, suaranya menggema di ruang makan yang hening.

​Dea tersentak, hampir tersedak sisa sarapannya. "Ma-maksud Kakak... aku?"

​"Iya, kamu!" Sahut Vhirel ketus, namun ada nada yang tertahan di sana. "Siapa lagi! Mau sekalian pergi bareng aku nggak?"

​Dea mengerang pelan, namun sedetik kemudian ia sadar apa yang Vhirel maksud. Ia kemudian pura-pura kesal di hadapan Surya dan Maudi. Bibirnya yang berpoles lipstik nude itu berkerucut, seolah terganggu dengan ucapan pedas kakaknya.

Dan di balik itu, sungguh, hati Dea justru berbunga-bunga. Ia tahu persis ini adalah sebuah tameng yang dibangun Vhirel—sebuah pertunjukan kasar untuk menutupi getaran yang mereka bagi di depan pintu kamar tadi.

​"Ih, Kak Vhirel nyebelin banget, sih!" gumam Dea dengan nada manja yang dibuat-buat agar orang tuanya tak menaruh curiga. "Aku kira ucapan Kakak tadi beneran!"

"Udah cepetan!" Kata Vhirel dengan nada setengah meninggi. "Mau bareng, gak?!"

​Dea segera menarik kursinya ke belakang, menimbulkan bunyi decit yang memecah kekakuan suasana. Ia menoleh singkat pada Surya dan Maudi yang masih terdiam.

​"Pa, Ma, Dea berangkat bareng Kak Vhirel aja ya, biar nggak telat," pamitnya terburu-buru.

​Tanpa menunggu persetujuan yang lama, Dea menyambar tasnya dan berlari kecil mengejar langkah lebar Vhirel. Di belakang punggung orang tua mereka, senyum kecil mulai terukir di bibir Dea, sementara Vhirel sudah menunggu di dekat pintu dengan kunci mobil di genggaman, siap membawa mereka menjauh dari pengawasan yang menyesakkan itu.

****

1
falea sezi
heran liat ortunya ini egois bgt wong bukan saudara kandung sah saja lah jalin hubungan klo. ttep aja emak nya melarang pergi aja dea pergi jauh biar anak nya gila jd ibu koke egoiss amatt
falea sezi
virel g tegas maunya ma siapa Luna apa dea klo mau dea ya jauhin si ulet luna
Kar Genjreng
pokonya jangan ada cinta Antara kakak' Adek kesan nya yang anak angkat ga tau diri padahall namanya perasaan kan tapi jangan sampai itu memalukan keluarga
falea sezi
lanjut . emakk nya knp sih wong bukan inces aja kok hadeh
Kar Genjreng
jangan ada rasa cinta dong biar pun bukan satu kandung tetapi ,,di besarkan oleh orang tua yang sama kasih sayang yang sama jangan ada rasa cemburu layaknya
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,
Penulis🇰🇷Nuansa Korea: hai kak, salam kenal. jika berkenan saya penulis novel Chef seleb bergaya Korsel, kalau suka yg ada nuansa Korea, kuliner, dan budaya Korsel 😊 saya penulis pemula, masih banyak belajar, boleh dikasih saran & dukungannya ya💜terima kasih🙏
total 1 replies
Kar Genjreng
sapai dua bab belum tau
Kar Genjreng
mampir tapi masih kurang paham ,,, sebenarnya bayi siapa ,,dan Surya dan Oliv itu siapa nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!