NovelToon NovelToon
Rahasia Kakak Ipar

Rahasia Kakak Ipar

Status: tamat
Genre:One Night Stand / CEO / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Satu malam yang kelam … mengubah segalanya.

Lidya Calista, 23 tahun, gadis polos, yang selama ini hanya bisa mengagumi pria yang mustahil dimilikinya—Arjuna Adiwongso, 32 tahun, suami dari kakaknya sendiri, sekaligus bos di kantornya—tak pernah membayangkan hidupnya akan hancur dalam sekejap. Sebuah jebakan licik dalam permainan bisnis menyeretnya ke ranjang yang salah, merenggut kehormatannya, dan meninggalkan luka yang tak bisa ia sembuhkan.

Arjuna Adiwongso, lelaki berkuasa yang terbiasa mengendalikan segalanya. Ia meminta adik iparnya untuk menyimpan rahasia satu malam, demi rumah tangganya dengan Eliza—kakaknya Lidya. Bahkan, ia memberikan sejumlah uang tutup mulut. Tanpa Arjuna sadari, hati Lidya semakin sakit, walau ia tidak akan pernah minta pertanggung jawaban pada kakak iparnya.

Akhirnya, gadis itu memilih untuk berhenti kerja, dan menjauh pergi dari keluarga, demi menjaga dirinya sendiri. Namun, siapa sangka kepergiannya membawa rahasia besar milik kakak iparnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3. Kamu Di Mana, Lidya?

Hari itu, Lidya memanfaatkan waktu untuk beristirahat, memulihkan dirinya hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 wib. Sedangkan Arjuna yang masih memantau proyek pembangunan apartemen tampak gelisah. Pikirannya mendadak bercabang ke mana-mana, terutama memikirkan Lidya yang seharusnya tidak ia pikirkan.

“Huft.” Arjuna menghela napas sembari mendongak ke langit-langit.

“Pak Arjuna, mau saya siapkan makan siang di sini atau bagaimana?” tanya Syamsul—mandor proyek.

Arjuna menoleh, “Saya kembali ke hotel saja. Pak Syamsul, saya tunggu laporan anggaran proyek yang telah digunakan, secepat mungkin. Dan, bahan-bahan tolong diperhatikan kualitasnya.”

“Baik Pak, segera akan saya siapkan. Nanti akan saya kirim email lewat Mbak Lidya.”

Arjuna melepas helm proyek, dan bergegas ke parkiran mobil. Tanpa menunggu waktu lama mandor proyek mengantarnya kembali ke hotel.

Begitu sampai di hotel yang tidak terlalu jauh jaraknya dari tempat proyek, ia langsung menuju lantai lima.

“Lidya! Lidya!” Berulang kali Arjuna memanggil, mengetuk pintu, dan memencet bel kamar, tapi tetap aja tidak ada jawaban dari dalam.

“Ke mana dia? Tidur ‘kah? Atau pergi?” gumamnya sendiri.

“Lidya!” Arjuna kembali memencet bel, sembari mengeluarkan ponselnya.

“Lidya, kamu ada di mana? Kamu ada di kamar, kan?” cecar Arjuna begitu panggilan teleponnya dijawab.

“Oh, Kak Arjun. Aku lagi makan,” jawab Lidya dengan santainya.

“Makan di mana?”

“Makan di restoran, ya kali makan di toko buku.”

“Aku serius tanyanya, Lidya! Tidak sedang bercanda!” Suara Arjuna mulai meninggi.

“Aku juga lagi nggak bercanda, Kak Arjun. Aku makan ya di restoran lah, ya kali bisa makan di toko buku. Emangnya buku bisa dimakan. Lagian, aneh amat ... tumben-tumbennya nanya aku ada di mana,” jawabnya agak ketus.

Mata Arjuna mengerjap, agak sedikit terkesiap mendengar jawaban adik iparnya yang agak lain. Mana pernah Lidya menjawab seperti ini, pasti selalu sopan dan suaranya begitu lemah lembut. Apakah Lidya mulai menjelma seseorang, atau jiwa Lidya tertukar?

Arjuna menarik napasnya dalam-dalam. Dan itu terdengar di telinga Lidya. “Aku ada di depan kamarmu. Hampir 10 menit aku memanggil, mengetuk, tapi tidak ada sahutan sama sekali. Sekarang, aku bertanya, kamu jawabnya seperti ini? Kamu ini tidak menghormati aku!” tegasnya.

Kini, giliran Lidya yang menarik napas, sampai suara dentingan sendoknya terdengar jelas. “Mohon maaf sekali Pak Arjuna, kalau karyawannya mendadak tidak sopan seperti ini. Suatu kehormatan bagi saya ... Bapak sampai mencari saya. Apakah ada yang bisa saya bantu sampai-sampai Bapak mencari saya? Bukankah seharusnya Bapak masih berada di tempat proyek?” Suara Lidya berubah menjadi formal seperti komunikasi yang biasa ia lakukan bila di kantor.

“Aku mau ada di tempat proyek kek, mau di tempat lain, itu urusan aku bukan urusan kamu!” Suaranya mulai meninggi.

Lidya terdiam. Ia menundukkan kepalanya memandang makanan yang baru saja ia nikmati.

“Aku sangat tidak suka dengan jawaban kamu seperti tadi. Dan, jangan mentang-mentang kita telah melakukan hubungan intim, kamu tidak lagi menghormatiku, dan bersikap semena-mena seperti ini! Ingat, posisimu, Lidya!” sentak Arjuna, tiba-tiba emosi sendiri.

Gadis itu mengusap ujung matanya yang mulai berair. Ia bukan perempuan yang mudah menangis, tapi sejak tadi pagi hatinya sedang tidak baik-baik saja, dan sekarang Arjuna menambahkan kembali luka yang masih menganga.

“Maaf.” Suara Lidya begitu pelan, lalu tak lama ia putuskan sambungan teleponnya, ketimbang ia juga ikutan tersulut emosi.

“Lidya ... Lidya!”

Arjuna mengeram sembari menatap layar ponselnya. “Berani sekali ia menutup telepon dariku!”

***

Gadis itu tak lagi bernafsu melanjutkan makan siangnya, padahal ia sengaja turun dari kamar ke restoran hotel karena perutnya sangat lapar. Sekarang rasanya ambyar gara-gara telepon Arjuna.

Sementara itu, Arjuna yang sudah terlanjur balik ke hotel, akhirnya memilih turun ke lobi menuju salah satu restoran yang ada di hotel tersebut. Untungnya saja bukan restoran yang sama.

“Lebih baik aku balik ke Jakarta saja, dari pada lama-lama emosi di sini,” gumam Lidya.

Setibanya di kamar, ia langsung mengemas baju dan barang-barangnya. Dan bergegas berganti pakaian, usai itu Lidya langsung turun ke lobi, padahal jadwal ia dan Arjuna akan kembali ke Jakarta esok hari.

***

Langkah-langkah Arjuna terdengar mantap saat memasuki restoran hotel siang itu. Napasnya terasa berat, pikirannya masih berputar tentang kejadian semalam yang membuat dadanya sesak. Ia tidak pernah menyangka akan terjebak dalam situasi yang begitu menjijikkan, tapi juga menikmatinya. Wajahnya muram, tatapan matanya tajam, seakan mencari sesuatu yang tidak kasatmata.

Namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Di salah satu sudut restoran, duduklah seorang pria paruh baya dengan jas rapi, wajahnya penuh senyum puas sembari meneguk wine. Arjuna mengenali pria itu seketika—Tommy, relasi bisnisnya.

Darah Arjuna mendidih. Seluruh tubuhnya menegang, otaknya seolah meledak oleh ingatan semalam.

Dialah orangnya.

Tanpa pikir panjang, Arjuna menghampiri meja itu dengan langkah panjang, suaranya bergemuruh begitu ia membuka mulut.

“Berengsek!” Arjuna menggebrak meja hingga gelas bergetar dan sebagian minuman tumpah. “Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan?!”

Tommy hanya tersenyum tipis, sama sekali tidak terkejut. “Arjuna, duduklah. Jangan membuat keributan. Kita bisa bicarakan ini dengan tenang.”

Namun ucapan itu justru menjadi bensin di atas api. Arjuna langsung mencengkeram kerah jas Tommy, wajahnya merah padam.

“Kamu menjebak aku! Semalam … semalam kamu—” Suaranya tercekat. Arjuna tidak sanggup melanjutkan, bayangan Lidya yang tak berdaya membuatnya semakin terguncang.

Tommy tertawa kecil, dingin dan penuh ejekan. “Kamu terlalu polos, Arjuna. Kamu menikmatinya, kan, bersama sekretarisku?"

Arjuna tidak bisa lagi menahan diri. Tinju kerasnya mendarat tepat di rahang Tommy. Brak! Suara dentuman membuat semua mata pengunjung restoran menoleh.

“Dasar iblis! Aku bunuh kamu!” Arjuna kembali melayangkan pukulan, kali ini lebih keras. Tommy terhuyung, namun dengan cepat membalas. Pertarungan sengit pun pecah di tengah restoran mewah itu. Kursi-kursi terbalik, piring pecah, suara teriakan para pengunjung bercampur dengan dentuman meja yang bergeser.

“Pak! Tolong hentikan!!” teriak beberapa waiter panik, mencoba melerai. Tapi Arjuna sudah dibutakan amarah. Baginya, hanya ada satu tujuan, menghancurkan pria yang telah merusak kehormatannya, dan—lebih parah lagi—kehormatan Lidya.

Tinju demi tinju saling bertukar. Tommy, meski tampak lebih tua, ternyata cukup gesit. Ia berhasil menendang keras ke arah perut Arjuna, membuat pria itu terhuyung beberapa langkah.

Sementara itu, Lidya yang sudah turun lobi dengan kopernya memperhatikan suara ribut dari sisi restoran. “Lho, bukannya itu.”

Lidya penasaran mencoba mendekat.

Sebelum Arjuna sempat bangkit lagi, suara yang begitu familiar menusuk telinganya.

“Kak Arjun …? Pak Tommy?!”

Arjuna menoleh cepat. Matanya terbelalak. Di lobi hotel yang terhubung langsung dengan area restoran, berdiri sosok yang begitu ia kenal—Lidya.

Tubuh gadis itu kaku, wajahnya pucat pasi, matanya melebar melihat kenyataan di depan mata.

Tidak … Lidya seharusnya tidak melihat ini.

“Kalian berdua … hentikan!” Lidya berlari mendekat, tangannya terangkat, seakan ingin menjadi penengah. Wajahnya penuh kecemasan, bibirnya bergetar menyebut nama keduanya.

Namun segalanya terjadi terlalu cepat.

Tommy, yang sudah kehilangan kendali, melancarkan tendangan keras ke arah Arjuna. Arjuna sempat menghindar, namun justru tubuh Lidya yang sedang berlari ke tengah pertarungan menjadi sasaran.

Bugh!

Tendangan itu mendarat telak di punggung Lidya.

Bersambung ... ✍️

1
Ani Kurniati
bagus
Kukun Sabarno
semasa masih sehat Elisa maunya foya foya,muda berjaya tua menderita kasian
Kukun Sabarno
bahagianya berdua👍
Kukun Sabarno
lanjut👍
Kukun Sabarno
akhirnya lidya berterus terang
Kukun Sabarno
ayo lidya hadapi camermu🤣
Kukun Sabarno
semua marah dengan Elisa bukan berubah malah semakin merajalela. mau terima karma seperti apa dia nanti🤭
Kukun Sabarno
Elisa emang mau kalau dicerai atau dipoligami???
Kukun Sabarno
bikin Juna yang mabok mual dan muntah. biar rasa dia
Kukun Sabarno
masalah saling berkaitan rumta Arjuna dan Elisa sedang tidak baik baik saja sementara urusan dengan lidya tambah ruwet
Kukun Sabarno
kalau lidya hamil gimana ya
Kukun Sabarno
sebagai isteri suruh hamil gak mau takut tubuhnya jelek tapi maunya shopping. harusnya ada bakti dn kewajiban
Kukun Sabarno
Elisa itu type orang yang selalu menuntut
Irizka RA Yusuf
Aaah ceritanya bagus, tidak bertele" dengan part yg panjang. Terimakasih ya kakak😍
Siti Aisyah
iiih kang arjun...face nya idola ku banget...😍😍
Lisna Wati
bagus banget
Siti Aisyah
wiiih...jiwa miskin ku abrug.abrugan....thooor gak kira.kira yaa....uang mut'ah nya 5M...brner bener ngehalu nyaa....masya Allah...🤭🤣😇
Siti Aisyah
wiiihh...arjuna kata.kata nya bikin meleot hati ku ajaaahh....🤭😍
Siti Aisyah
aaah jadi gemes...bacanya terlalu di slow motion cerita nya...
Siti Aisyah
apa kabar dengan eliza..??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!