NovelToon NovelToon
Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Beda Usia / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
​Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
​Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Di lantai teratas gedung Wijaya Group, jam di dinding telah menunjukkan pukul tujuh malam.

Permadi baru saja menutup map laporannya dengan desahan lega.

Pikirannya sudah melayang jauh ke rumah, membayangkan aroma masakan Rengganis yang mungkin sudah memenuhi ruangan, atau mungkin membayangkan wajah istrinya yang sedang merengut karena ia pulang terlambat.

Namun, saat ia meraih kunci mobil di atas meja, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan.

Seorang wanita cantik dengan pakaian musim dingin yang terlihat mahal berdiri di sana.

Rambutnya pirang kecokelatan hasil perawatan salon kelas atas di luar negeri.

Larad yang merupakan mantan kekasih Permadi yang pergi meninggalkannya tiga tahun lalu demi mengejar ambisi dan seorang pria ekspatriat di Kanada.

"Permadi..." suara Laras terdengar serak, penuh drama yang sangat ia kuasai.

Sebelum Permadi sempat bereaksi, Laras melangkah cepat dan menghambur ke pelukan Permadi.

Ia memeluk tubuh pria itu dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada Permadi.

Saking eratnya, lipstik merah menyala yang ia kenakan menempel dengan sempurna di kerah kemeja putih Permadi, tepat di samping bekas "tanda tangan" Rengganis tadi pagi.

"Aku minta maaf, Permadi. Seharusnya aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku menyesal," isak Laras palsu.

Permadi terdiam saat mendengar perkataan dari Laras.

Tangannya tidak bergerak untuk membalas pelukan itu.

Ia justru memegang bahu Laras dan mendorong wanita itu menjauh dengan gerakan yang tegas namun tetap tenang.

Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibir Permadi.

"Kenapa, Laras? Apa pria Kanada itu ternyata tidak sekaya aku? Atau dia tidak bisa memberikan gaya hidup yang kamu mau?" tanya Permadi.

Laras tersentak, namun ia segera mengatur ekspresi wajahnya agar terlihat memelas.

Ia yakin, dengan kecantikannya dan sejarah masa lalu mereka, Permadi akan luluh.

Ia sangat yakin kalau Permadi masih menjadi pria yang dulu mengejar-ngejarnya.

"Bukan begitu, aku hanya sadar kalau hatiku masih milikmu..."

Permadi tidak mendengarkan. Ia berbalik, mengambil tas kerjanya dengan gerakan santai, seolah keberadaan Laras di sana tidak lebih penting dari debu di mejanya.

"Kalau kamu keluar dari ruanganku nanti, tolong tutup pintunya dengan rapat," ucap Permadi tanpa menoleh.

Ia berjalan menuju pintu keluar dengan langkah mantap.

"Kamu mau ke mana? Kita perlu bicara!"

Permadi menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, menoleh sedikit dengan tatapan yang penuh kemenangan.

"Istriku sudah menungguku di rumah. Dia sedang memasak ayam kecap dan cap jay untukku. Aku tidak punya waktu untuk drama basi."

Wajah Laras seketika pucat pasi saat mendengar Permadi yang ternyata sudah menikah.

"Kamu sudah menikah?"

Permadi hanya menganggukkan kepalanya dengan mantap, memberikan senyum kemenangan yang paling tulus sebelum melangkah keluar menuju lift.

Ia meninggalkan Laras yang membeku di tengah ruangan, sementara di kerah kemejanya, noda merah lipstik Laras kini menjadi bom waktu yang siap meledak saat ia sampai di rumah nanti.

Permadi hanya memikirkan satu hal: pulang dan memakan masakan Rengganis.

Ia sama sekali tidak menyadari bahwa kepulangannya malam ini akan membawa 'oleh-oleh' yang bisa menghancurkan suasana romantis yang sudah disiapkan istrinya.

Sementara itu di rumah di meja makan kayu jati itu kini tampak seperti ilustrasi di majalah gaya hidup.

Ayam kecap dengan kuah kental yang mengkilap, capjay warna-warni yang masih mengeluarkan uap tipis, dan semangkuk salad buah segar dengan saus yogurt racikan sendiri telah tertata rapi.

Rengganis bahkan menyalakan dua buah lilin aroma terapi untuk menyamarkan bau bumbu yang terlalu kuat.

Tak hanya masakan, Rengganis pun bertransformasi.

Ia menanggalkan apronnya dan mengenakan gaun sleeveless berwarna hitam yang pas di tubuh, memberikan kesan elegan namun tetap menggoda.

Ia ingin membuktikan bahwa wanita empat puluh tahun pun bisa terlihat mempesona.

Vroom...

Terdengar suara deru mobil sport Permadi terdengar memasuki garasi.

Jantung Rengganis berdegup kencang antara antusias dan rasa malu yang aneh.

Ceklek!

Pintu utama terbuka. Permadi melangkah masuk dengan wajah yang tampak sangat lelah.

Bahunya sedikit merosot, dan tas kerjanya dijinjing dengan lesu. Namun, saat melihat istrinya berdiri di dekat ruang makan dengan gaun cantik, matanya sempat berbinar sesaat.

"Sayang, aku pulang," sapa Permadi dengan suara serak.

Ia berjalan mendekat ke arah Rengganis, hendak memberikan kecupan rutin di kening seperti pagi tadi.

Rengganis tersenyum lembut, tangannya bergerak hendak menyambut tas kerja Permadi.

"Kamu kelihatan lelah sekali. Mandilah dulu dan aku akan siapkan..."

Kalimat Rengganis terputus. Udara di sekitarnya seolah membeku.

Mata tajam seorang dokter yang biasa melihat detail terkecil pada pasiennya kini menangkap sesuatu yang sangat kontras di atas bahu suaminya.

Di kerah kemeja putih Permadi yang sedikit berantakan, terdapat noda merah muda yang sudah ia kenali sejak pagi, namun tepat di sampingnya, ada noda merah menyala yang jauh lebih segar dan tebal.

Rengganis menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh bara api.

Senyumnya luntur, digantikan oleh gurat kekecewaan yang mendalam.

"Ganis? Kenapa?" tanya Permadi bingung, belum menyadari apa yang ada di kerahnya.

"Ternyata semua lelaki sama saja..." bisik Rengganis.

Segala rasa percaya diri yang ia bangun sejak siang tadi runtuh seketika.

Ia merasa konyol karena sudah berdandan cantik, memasak sepenuh hati, dan sempat berpikir bahwa 'berondong' ini benar-benar tulus mencintainya.

"Ganis, tunggu! Apa maksudmu?" Permadi mencoba meraih lengan istrinya.

Tanpa sepatah kata pun, Rengganis memutar tubuh.

Ia berlari menaiki tangga dengan langkah seribu, mengabaikan panggilan Permadi yang terdengar panik.

Suara pintu kamar yang dibanting keras menggema ke seluruh penjuru rumah.

Di dalam kamar yang remang, Rengganis terduduk di tepi tempat tidur dengan bahu yang berguncang hebat.

Air mata yang sejak tadi ia tahan kini tumpah, merusak riasan wajah yang ia poles dengan penuh harapan satu jam yang lalu.

Rasa sesak itu datang bukan karena cemburu buta, melainkan karena rasa tidak percaya diri yang kembali menghantamnya seperti palu godam.

Matanya tertuju pada tas kerjanya. Dengan tangan gemetar, ia merogoh laci dan mengeluarkan bungkusan satin berisi lingerie merah pemberian Permadi.

Kain sutra itu terasa begitu panas di tangannya, seolah mengejek setiap helai keriput halus di sudut matanya yang baru saja ia tutupi dengan concealer.

"Jangan mimpi, Ganis. Kamu hanya perawan tua yang dipaksa menikah. Kamu pikir kamu benar-benar menarik di matanya?"

Dengan gerakan penuh emosi, ia melemparkan kain merah itu ke dalam tempat sampah di sudut kamar.

Ia merasa konyol telah berusaha menjadi wanita penggoda di depan pria yang jelas-jelas bisa mendapatkan wanita mana pun yang lebih muda, lebih segar, dan tanpa noda lipstik "asing" di kemejanya.

Ceklek!

Suara kunci pintu yang diputar dari luar terdengar.

Rengganis tersentak. Ia lupa bahwa Permadi memegang kunci cadangan rumah ini.

Sebelum ia sempat berdiri untuk mengusir pria itu, sebuah sepasang lengan yang kokoh sudah melingkar erat di pinggangnya.

Permadi memeluk tubuh istrinya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Rengganis yang kaku.

Ia tidak memakai jas lagi, hanya kemeja yang kini kancing atasnya terbuka, memperlihatkan noda yang menjadi pemicu badai malam ini.

"Boleh aku menjelaskannya, Ibu Dokter?" tanya Permadi dengan suara rendah yang sangat tenang, meski ia bisa merasakan detak jantung Rengganis yang berpacu liar.

"Tidak usah," sahut Rengganis dingin.

Ia berusaha melepaskan pelukan itu, namun Permadi justru mempereratnya.

"Seharusnya aku yang sadar diri sejak awal. Aku ini hanya perawat tua—ah, maksudku wanita tua yang membosankan. Kamu mungkin hanya kasihan melihatku, atau mungkin hanya ingin menjalankan wasiat Papa."

Rengganis tertawa getir di tengah isak tangisnya. "Pergilah pada wanita yang memiliki warna lipstik itu, Permadi. Dia pasti jauh lebih cocok bersanding denganmu daripada aku yang bau antiseptik."

Permadi tidak melepaskan pelukannya dan justru memutar tubuh Rengganis agar menghadapnya.

Ia menangkup wajah istrinya yang basah karena air mata, memaksa mata sembab itu menatap lurus ke dalam manik matanya.

"Dengar, Ganis. Wanita itu, Laras, dia datang ke kantorku tanpa izin. Dia memelukku secara sepihak dan aku langsung mendorongnya keluar. Aku bahkan bilang padanya kalau aku sudah punya istri yang sangat cantik yang sedang menungguku masak ayam kecap."

Permadi mengusap air mata di pipi Rengganis dengan ibu jarinya.

"Kamu pikir aku kasihan? Kalau aku cuma kasihan, aku tidak akan sefrustrasi ini saat melihatmu menangis. Aku tidak akan membuang waktu meyakinkanmu setiap hari."

Ia melirik ke arah tempat sampah, melihat secercah warna merah di sana. "Dan satu lagi... kamu bukan perawan tua bagiku. Kamu adalah wanita yang ingin aku jaga sampai rambut kita sama-sama memutih. Jadi, tolong, berhenti menghina dirimu sendiri, karena itu artinya kamu juga menghina seleraku." ucap Permadi yang menyakinkan kepada istrinya.

1
falea sezi
hyper ne bahaya bgt lo klo dia g puas biasa sih selingkuh
Ita Putri
hyoer seksual dapat nya Tante" umur 40 th
falea sezi
lanjut
Rais Raisya
lanjut ka
falea sezi
Permadi jaga nafsu deh istrimu bukan gadis abg di ajak. gaya gaya demi nafsu egois gk sih
Ita Putri
ya jelas la wong masih 25 th
Endang Sulistia
asem si Permadi 🤭
Endang Sulistia
modus 🤦🤦
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Fitra Sari
lanjut KK
awesome moment
👍😄👍😄
Fitra Sari
lanjut donk KK doubel
Ita Putri
seru banget thor😄😄
Fitra Sari
makasihh Thor ...update selalu ..pkoknya lope2 seneng banget 🤣🤣😍
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 🤣😍😍😍😍
my name is pho: ok kak
sabar 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel2 up donk ..syuka banget sama karya2 KK ...seru banget pkok ya greget banget 🤣😍😍
my name is pho: ok kak
🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut lagi kk 😍😍😍
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
Sherin Loren
lanjut thor😎
Fitra Sari
lanjut KK ...serius bagus banget ..doubel2 pkoknya 🙏🙏😘
Fitra Sari
lanjut doubel donk KK
my name is pho: sudah kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!