NovelToon NovelToon
Perjuangan Ahli Kungfu Terlemah?

Perjuangan Ahli Kungfu Terlemah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Epik Petualangan / Komedi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: djase

Kisah dari seorang pemuda yang di hina karena gaya kungfunya yang unik. Apakah dia bisa menjadi legenda di masa depan, atau justru menjadi aib . Mari masuk ke novel ku yuk.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon djase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: "DUEL DI LAPANGAN BAMBU"

Paginya datang lebih cepat dari yang diharapkan Zhao Luan. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalaman – pikirannya penuh dengan duel yang akan datang dan rasa obat pahit terakhir yang diberikan Lin Mei kemarin malam.

"Ini rasanya kayak makan tanah liat yang dicampur dengan cabai super pedas dan air asam!" bisik Luan sambil menggosok perutnya saat berjalan menuju Lapangan Bambu – tempat yang sudah jadi saksi banyak duel penting di Desa Tianwu.

Lapangan itu sudah penuh dengan orang yang datang menyaksikan. Mbok Lan sedang menyajikan teh hangat untuk para penonton tua. Zhao Feng berdiri di sisi kanan lapangan dengan wajah serius. Dan di tengah lapangan, Chen Hao sudah berdiri siap dengan pakaian latihan yang rapi, matanya terpaku pada pintu masuk lapangan.

Saat Luan muncul, semua mata langsung menatapnya. Tapi yang paling membuat hatinya berdebar adalah Lin Mei yang berdiri di pojok lapangan dengan tas obatnya dan wajah yang penuh perhatian. Dia bahkan mengangkat tangan dan memberikan isyarat jempol ke atas – yang langsung membuat Luan merasa lebih percaya diri.

"Halo Zhao Luan. Kamu sudah siap?" tanya Chen Hao dengan suara yang tegas tapi tidak sombong lagi.

"Siap saja! Tapi janji ya, kalau aku menang kamu tidak boleh marah ya!" jawab Luan dengan senyum yang membuat beberapa penonton tertawa.

Chen Hao sedikit mengerutkan kening tapi kemudian tersenyum juga. "Tentu saja. Mari kita mulai dengan aturan dasar – tidak boleh menyerang titik vital, dan yang pertama menyerah atau keluar dari batas lapangan adalah yang kalah."

Mereka berdiri berhadapan di tengah lapangan yang dikelilingi oleh ratusan bambu tinggi. Suara angin yang menyapu dedaunan bambu menjadi latar belakang yang menenangkan. Mbok Lan berdiri di tengah dan mengangkat tangan nya tinggi-tinggi.

"DUEL MULAI!"

Chen Hao langsung bergerak dengan kecepatan luar biasa. Dia menggunakan gaya kungfu khas Klan Qinglong – gerakan yang lincah seperti ular dengan serangan yang cepat dan akurat. "Sakitnya Naga Putih!" teriaknya saat kedua tangannya menyambar ke arah kepala Luan.

Luan langsung mengikuti gerakan Wu Wei Shen Quan nya – dia bergoyang ke belakang seperti aliran air yang menghindari batu, kemudian meluncur ke samping dengan gerakan yang terlihat seperti dia sedang menari di atas awan. Serangan Chen Hao hanya menyambar udara dan membuat dia sedikit kehilangan keseimbangan.

"Bagus Luan!" teriak Lin Mei dari pinggir lapangan, membuat Luan semakin bersemangat.

Chen Hao tidak mudah menyerah. Dia mengubah gaya serangannya menjadi lebih keras dan kuat. "Pukulan Kepala Naga!" Dia melompat tinggi dan menghantam kedua tinjunya ke arah dada Luan dengan kekuatan yang besar.

Luan tidak punya waktu untuk menghindar, jadi dia mengangkat kedua tangannya untuk menangkis seperti yang dia pelajari dari naskah. Saat tinju Chen Hao menyentuh telapak tangannya, dia merasakan qi yang kuat mengalir masuk ke tubuhnya. Tapi kali ini bukan seperti sebelumnya – dia bisa merasakan bagaimana aliran qi itu bergerak di dalam tubuhnya, kemudian keluar lagi melalui ujung jarinya dengan kekuatan yang lebih besar.

"Wha... apa ini?" terkejut Chen Hao saat rasanya seperti terkena pukulan dari dua arah sekaligus. Dia mundur beberapa langkah dan melihat tangan nya dengan mata membulat lebar.

"Aku juga tidak tahu kok! Tapi rasanya menyenangkan sekali!" ujar Luan dengan wajah ceria. Dia mulai bergerak lebih percaya diri, mengikuti aliran angin dan gerakan bambu yang bergoyang di sekitar mereka.

Chen Hao mulai serius. Dia mengumpulkan seluruh qi nya ke dalam tubuh, membuat baju nya sedikit mengembang dan rambut nya mengembang karena kekuatan yang keluar. "Silat Naga Berkedip!" Serangan ini sangat cepat sehingga hanya terlihat seperti kilatan cahaya kebiruan yang melesat ke arah Luan.

Luan merasa tubuhnya seperti ditarik oleh sesuatu. Tanpa berpikir panjang, dia mengikuti nalurinya dan berputar dengan cepat seperti top yang berputar – gerakan yang dia temukan secara tidak sengaja saat latihan kemarin sore. Saat serangan Chen Hao menyentuh tubuhnya, seluruh kekuatan itu langsung terserap dan dialirkan ke tanah melalui tapak kakinya.

"BOOM!"

Tanah di sekitar kaki Luan sedikit berlubang dan bambu di sekitar mereka bergoyang hebat. Chen Hao terpental mundur dan hampir keluar dari batas lapangan. Untung saja dia bisa menahan diri dengan menancapkan tangan nya ke tanah.

Semua penonton terkejut dan kemudian mulai bersorak sorai. Zhao Feng berdiri tercengang dengan mulut terbuka lebar. Lin Mei tersenyum puas dan mengangguk-angguk.

Chen Hao berdiri dengan perlahan, menghapus debu dari wajahnya. Wajahnya penuh kagum dan tidak ada rasa sakit hati sama sekali. "Kamu benar-benar kuat, Zhao Luan. Aku mengaku kalah dengan tangan terbuka."

Luan langsung berlari mendekati nya dan membantu nya berdiri dengan benar. "Maaf ya kalau aku terlalu kuat! Aku sendiri juga belum bisa mengontrol dengan baik."

"Tidak apa-apa. Bahkan guru saya belum bisa mengalahkan serangan itu dengan mudah." ujar Chen Hao dengan senyum hormat. "Seperti yang aku janjikan, aku akan merekomendasikanmu untuk belajar di Akademi Kungfu Besar Qinglong. Tapi ada satu hal lagi..." Dia melihat ke arah Lin Mei yang sedang mendekat mereka berdua. "Kakak Lin Mei... bolehkah aku juga mengajakmu? Akademi membutuhkan ahli obat yang handal seperti kamu."

Lin Mei sedikit terkejut tapi kemudian tersenyum. "Tentu saja Chen Hao. Aku juga ingin melihat bagaimana perkembangan Luan di akademi."

Luan merasa hati nya terasa hangat. Bisa belajar di akademi besar dan juga ditemani oleh Lin Mei – ini adalah impian yang tidak pernah dia sangka bisa jadi kenyataan.

"Tetapi tunggu dulu!" suara Mbok Lan terdengar membuat semua orang menoleh. Dia datang dengan membawa ember besar berisi apa yang terlihat seperti ramuan berwarna kehijauan. "Sebelum kamu pergi, kamu harus minum ramuan ini dulu Luan! Untuk memperkuat tubuh kamu agar bisa menahan perjalanan jauh!"

Luan melihat ramuan itu dengan wajah melengkung seperti orang melihat hantu. "Mbok Lan... rasanya seperti apa ya?"

"Rasanya? Pasti lebih pahit dari semua obat yang kamu minum sampai sekarang! Tapi ini sangat baik untuk kesehatanmu!" jawab Mbok Lan dengan senyum yang membuat Luan merinding.

Chen Hao dan Lin Mei langsung tertawa terbahak-bahak. "Yaudah lah Luan, minum aja. Kalau tidak tahan pahitnya, aku punya permen manis di tas obatku lho!" ujar Lin Mei dengan suara ramah.

Luan menghela nafas panjang dan mengambil cangkir yang diberikan Mbok Lan. Dia menutup mata dan menelan ramuan itu dengan cepat. Segera setelah itu, wajahnya menjadi merah seperti bara api dan matanya mulai berkaca-kaca.

"ADUH PAHITNYA LUAR BIASA! RASANYA KAYAK MAKAN DAUN BAMBU YANG DICAMPUR DENGAN AIR KEMARIN!" teriak Luan sambil berlari-lari kecil mencari air minum, membuat semua orang di lapangan tertawa terbahak-bahak.

Di balik bambu yang tinggi, sosok tua itu lagi-lagi menyaksikan. Dia tersenyum dan menggeleng-geleng kepala. "Perjalanan besar akan segera dimulai. Semoga kamu bisa menghadapi semua tantangan yang menanti, Zhao Luan." bisik nya sebelum menghilang tanpa jejak.

..."PERJALANAN KE AKADEMI KUNGFU QINGLONG"...

 

Hari keberangkatan tiba dengan cepat. Zhao Luan sudah siap dengan tas kecil yang berisi beberapa baju dan naskah kuno Wu Wei Shen Quan nya. Lin Mei membawa tas obat yang lebih besar dari biasanya, ditambah tas kecil berisi permen manis yang sudah dia siapkan khusus untuk Luan. Chen Hao datang dengan kereta yang ditarik oleh dua ekor kuda putih yang kuat dan cepat.

"Wow, kereta nya keren banget Chen Hao!" teriak Luan dengan mata bersinar melihat kereta kayu bergambar naga yang sangat indah.

"Ini kereta khusus dari Klan Qinglong untuk membawa tamu penting. Semoga kamu nyaman dalam perjalanan." jawab Chen Hao dengan bangga. Dia kemudian membantu Lin Mei memasang tas obat nya ke dalam kereta dengan hati-hati.

Mbok Lan dan Zhao Feng datang untuk mengantar mereka. "Jangan lupa ya Luan, minum ramuan yang aku berikan setiap hari! Dan jangan lupa belajar dengan giat!" ujar Mbok Lan sambil menyerahkan toples kecil berisi ramuan yang sudah dikemas.

Luan langsung mengerutkan kening tapi tetap menerima nya dengan senyum. "Baik Mbok Lan, aku akan ingat."

Zhao Feng datang dengan tangan terbuka. "Semoga sukses ya adik. Aku akan terus berlatih agar suatu hari nanti bisa menyamai kamu."

"Terima kasih kakak Feng! Nanti kalau aku sudah pandai, aku akan mengajari kamu gaya kungfu ku ya!" jawab Luan sambil berpelukan dengan kakaknya.

Setelah beberapa sapaan terakhir, mereka mulai berangkat. Kereta bergerak dengan lancar melalui jalan desa yang dikelilingi oleh pepohonan tinggi. Udara pagi yang segar membuat perjalanan terasa sangat menyenangkan.

Namun tidak lama setelah keluar dari desa, jalan mulai berubah menjadi jalan tanah yang bergelombang. Kereta mulai bergoyang kencang hingga membuat Luan terjatuh ke arah Lin Mei yang sedang duduk di sebelahnya.

"Aduh maaf kak Lin Mei!" ujar Luan dengan wajah kemerahan saat tubuhnya menyentuh bahu Lin Mei.

"Tidak apa-apa Luan. Kamu lebih baik duduk dengan benar aja ya, kalau tidak kamu akan terus terjatuh." jawab Lin Mei dengan senyum tipis, tapi Luan bisa melihat bahwa wajahnya juga sedikit memerah.

Chen Hao yang sedang mengemudi kuda melihatnya dari belakang dan sedikit tersipu. "Maaf ya jalan nya tidak rata. Kita akan sampai di Pos Penginapan Hutan Cemara dalam beberapa jam lagi."

Setelah sekitar dua jam perjalanan, mereka tiba di sebuah sungai yang airnya jernih dan tenang. Chen Hao berhenti kereta untuk istirahat sejenak dan memberi makan serta minum pada kuda-kudanya.

"Mari kita istirahat dulu ya. Aku akan mencari ikan di sungai untuk makan siang." ujar Chen Hao sambil melepas tali pinggang nya yang berisi pisau kecil.

Luan langsung bersemangat. "Aku ikut juga Chen Hao! Aku bisa membantu menangkap ikan dengan gaya kungfu ku lho!"

"Boleh saja, tapi jangan sampai kamu terjatuh ke dalam sungai ya!" jawab Chen Hao dengan tersenyum.

Mereka pergi ke tepi sungai sambil membawa ember kecil. Luan mulai menunjukkan gaya nya – dia berdiri dengan tenang dan menggerakkan tangan nya seperti sedang menggoyangkan air. Tidak lama kemudian, ikan-ikan di sungai mulai bergerak mendekati dia dengan sendirinya.

"Wah luar biasa! Bagaimana kamu bisa melakukan itu?" terkejut Chen Hao.

"Aku tidak tahu juga, tapi rasanya aku bisa merasakan aliran air dan mengontrol gerakan ikan sedikit saja." jawab Luan sambil dengan cepat menangkap beberapa ikan besar dan memasukkannya ke dalam ember.

Sementara itu, Lin Mei sedang mencari tumbuhan obat di sekitar tepi sungai. Dia menemukan beberapa jenis daun yang jarang ditemukan dan langsung memetik nya dengan hati-hati.

"Ini bisa dibuat menjadi obat untuk menyembuhkan luka bakar lho. Sangat berguna kalau ada kecelakaan di jalan." ujar Lin Mei saat kembali ke tempat kereta.

Setelah menangkap cukup banyak ikan, mereka mulai memasaknya di atas bara api yang sudah dibuat Chen Hao. Luan menawarkan untuk memasak dengan menggunakan gaya kungfu nya – dia mengaduk adonan bumbu dengan gerakan yang unik, membuat aroma masakan semakin harum.

"Wah rasanya enak banget! Gaya kungfu mu bikin masakan jadi lebih lezat ya Luan!" puji Chen Hao saat menikmati ikan bakar yang sudah matang.

"Iya dong! Aku belajar memasak dari Mbok Lan, dan aku tambahkan sedikit sentuhan kungfu aja." jawab Luan dengan bangga sambil menggigit ikan yang masih hangat.

Setelah makan siang yang menyenangkan, mereka melanjutkan perjalanan. Namun saat memasuki hutan yang lebih dalam, suasana mulai berubah menjadi lebih sepi dan sedikit menyeramkan. Udara menjadi lebih dingin dan suara binatang liar mulai terdengar dari kejauhan.

"Hati-hati ya, kita memasuki wilayah Hutan Gelap yang terkenal dengan makhluk-makhluk anehnya." ujar Chen Hao dengan suara lebih serius.

Tiba-tiba, suara dering yang keras terdengar dari atas pepohonan. Beberapa ekor monyet besar berwarna hitam dengan wajah merah muncul dari balik pepohonan dan mulai mengelilingi kereta mereka.

"Monyet Ganas Hutan Gelap! Mereka suka menyerang orang yang lewat di sini!" teriak Chen Hao sambil siap mengambil senjatanya.

Namun sebelum dia bisa bergerak, salah satu monyet melompat ke arah Lin Mei yang sedang duduk di kereta. Luan yang melihatnya langsung bereaksi cepat – dia melompat dan menggerakkan tangan nya dengan gaya Wu Wei Shen Quan nya. Saat tangannya menyentuh monyet itu, dia merasakan kekuatan monyet tersebut terserap dan kemudian dialirkan kembali dengan lembut, membuat monyet itu terjatuh dengan tenang tanpa terluka.

"Jangan menyerang mereka! Mereka hanya lapar dan ingin mendapatkan makanan!" ujar Luan dengan suara tenang. Dia kemudian mengambil beberapa ikan yang tersisa dari makan siang dan memberikan nya kepada para monyet.

Para monyet melihat Luan dengan cermat, kemudian mulai mengambil ikan yang diberikan dan memakannya dengan senang hati. Setelah makan, salah satu monyet yang lebih besar mendekati Luan dan menjilati tangannya sebagai tanda terima kasih sebelum mereka semua pergi kembali ke dalam hutan.

Chen Hao dan Lin Mei melihatnya dengan tercengang. "Bagaimana kamu bisa melakukan itu Luan?" tanya Lin Mei dengan kagum.

"Aku hanya merasakan apa yang mereka rasakan. Mereka tidak jahat, hanya butuh makanan saja." jawab Luan dengan senyum sederhana.

Chen Hao mengangguk dengan penuh hormat. "Kamu benar-benar spesial, Zhao Luan. Gaya kungfu mu tidak hanya kuat untuk bertarung, tapi juga bisa menyelesaikan masalah dengan damai."

Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih tenang. Saat matahari mulai merunduk, mereka melihat puncak gunung yang tinggi dengan bangunan besar berbentuk naga yang bersinar di bawah sinar matahari sore.

"Itu dia Akademi Kungfu Besar Qinglong!" teriak Chen Hao dengan bangga.

Luan dan Lin Mei melihatnya dengan mata penuh kagum. Bangunan yang megah itu terlihat sangat indah dan mengesankan. Perjalanan panjang mereka akhirnya akan sampai di tujuan. Tapi mereka tidak menyadari bahwa tantangan baru yang lebih besar sedang menanti mereka di dalamnya.

1
pinguin
semangat kk💪🤗
djase: maacih kak💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!