Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Festival
Pagi itu datang seperti biasa, namun entah mengapa udara di apartemen terasa berbeda. Tidak ada ketegangan yang menggantung, tidak ada diam yang menyudutkan. Lara duduk di kursinya sambil mengaduk teh hangat, wajahnya tampak lebih cerah dari hari-hari sebelumnya.
Ia lebih banyak bicara.
Bukan bicara yang riuh, hanya cerita-cerita kecil—tentang dosen yang datang terlambat, tentang tugas kelompok yang melelahkan, tentang hal-hal sepele yang biasanya ia simpan sendiri. Arka mendengarkan. Tidak menyela. Tidak menghakimi. Bahkan sesekali menanggapi dengan kalimat pendek yang tak lagi terdengar kaku.
Kosakatanya bertambah.Nada suaranya pun melunak.
Dan itu tidak luput dari perhatian Lara.
Mereka makan bersama tanpa kecanggungan yang dulu sering hadir. Tidak ada adu dingin, tidak ada tatapan menyelidik. Hanya dua orang yang duduk berhadapan, mencoba menyesuaikan kembali ritme yang sempat retak.
Sesekali Lara tersenyum kecil. Dan Arka—tanpa sadar—menangkap senyum itu lebih lama dari seharusnya.
Saat Lara bangkit dari kursinya dan bersiap pergi ke kamar untuk berganti pakaian, Arka masih berdiri di tempatnya. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sebuah keinginan kecil, nyaris sepele, tapi cukup membuatnya ragu.
Namun pagi itu, Arka memilih untuk tidak mundur.
“Lara,” panggilnya.
Lara menoleh, alisnya terangkat menunggu.
“Aku… hari ini searah. Kalau kamu mau, kita bisa berangkat bareng.”
Nada Arka dibuat setenang mungkin. Alasannya terdengar masuk akal—tidak berlebihan, tidak mencurigakan. Tapi bagi Lara, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang lebih.
Mata Lara berbinar seketika.
“Oh… boleh?” tanyanya, meski senyumnya sudah menjawab lebih dulu.
Arka mengangguk singkat. Tapi di dalam dirinya, ada pertahanan yang runtuh perlahan. Satu senyuman itu—yang polos, hangat, tanpa prasangka—mampu mengikis batas yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Dan pagi itu, tanpa mereka sadari, jarak yang sempat menganga mulai tertutup sedikit demi sedikit.
Bukan dengan janji.Bukan dengan kata cinta.Hanya dengan kebersamaan yang kembali terasa… wajar.
Di sepanjang perjalanan, mobil melaju dalam keheningan yang tidak canggung. Tidak ada keharusan untuk mengisi ruang dengan kata-kata. Lara justru menikmati pagi itu dengan caranya sendiri—menatap keluar jendela, memperhatikan cahaya matahari yang menyelinap di antara gedung-gedung, hatinya terasa ringan.
Ada rasa damai yang jarang ia rasakan belakangan ini.
Mungkin karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak sendirian.
Seseorang duduk di sampingnya. Hadir dan Nyata.
Arka sesekali melirik ke arah Lara. Gadis itu terlihat tenang, bibirnya sesekali membentuk senyum kecil yang hampir tak terlihat. Entah mengapa, pemandangan sederhana itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus perih.
Ia menarik napas pelan, lalu membuka percakapan.
“Kalau lain kali kamu butuh jemputan,” ucapnya tanpa menoleh, fokus pada jalan di depannya, “kabarin saja. Jam kerjaku bisa aku atur.”
Lara terdiam sejenak, lalu menoleh ke arah Arka.
“Dan kalau kamu mau pergi ke mana pun, atau butuh apa pun,” lanjut Arka, kali ini suaranya sedikit lebih dalam, “kamu bisa bilang padaku.”
Kalimat itu sederhana. Tidak bernada menggurui. Tidak terdengar posesif. Lebih seperti… permintaan.
Lara mengangguk pelan.
“Iya, Paman,” jawabnya lirih.
Pipinya sedikit merona. Ia tersenyum, malu-malu, namun sama sekali tidak berusaha menyembunyikan rasa senangnya. Jari-jarinya saling bertaut di atas pangkuan, seolah menahan perasaan yang terlalu hangat untuk diucapkan.
Dan di momen itu, Arka akhirnya sadar.
Ternyata, untuk membuat Lara bahagia, ia tidak perlu melakukan hal besar. Tidak perlu janji muluk. Tidak perlu perlindungan berlebihan.
Hal sederhana "hadir disisinya" saja sudah cukup.
Kesadaran itu menghantamnya pelan tapi telak.
Arka mengepalkan satu tangannya di atas kemudi, rahangnya mengeras tipis. Ada penyesalan yang muncul, pahit dan jujur. Ia mengutuk dirinya sendiri—karena selama ini begitu dingin, begitu jauh, begitu tidak peka terhadap hati kecil gadis yang sejak dulu… selalu menunggunya.
Dan pagi itu, tanpa ia sadari, Arka mulai melakukan sesuatu yang selama ini ia hindari:
Ia berhenti menjaga jarak.
Arka menurunkan Lara tepat di depan gerbang kampus. Mobilnya berhenti sejenak, mesin masih menyala. Lara membuka pintu, lalu menoleh kembali.
“Paman… makasih ya,” ucapnya sambil tersenyum.
Senyum itu lagi. Senyum yang entah sejak kapan menjadi kelemahan Arka.
Lara melambaikan tangan kecilnya sebelum berbalik pergi, langkahnya ringan seolah pagi itu memberinya energi ekstra. Arka menunggu sampai sosok Lara benar-benar melewati gerbang kampus sebelum akhirnya melajukan mobilnya kembali. Dadanya terasa hangat—perasaan yang asing, tapi tidak ingin ia tolak.
Hari itu, kelas Lara ternyata hanya berlangsung singkat. Satu materi, satu sesi diskusi, dan tepat pukul satu siang ia sudah bebas. Lara melangkah keluar gedung dengan perasaan lega, sambil merenggangkan bahunya.
Baru beberapa langkah, seseorang berlari kecil ke arahnya.
“Lara!”
Axel.
Lara menoleh dan tersenyum refleks. Axel berhenti di depannya, sedikit terengah karena baru keluar dari toilet dan setengah berlari saat melihat Lara hampir sampai gerbang.
“Kamu udah selesai?” tanya Axel.
“Iya, cuma satu kelas,” jawab Lara santai.
Axel melirik jam tangannya, lalu tersenyum lebar. “Masih siang. Jalan yuk? Sekadar keliling aja.”
Lara berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Boleh. Tapi kali ini aku yang nentuin tempatnya.”
Axel mengangkat alis, pura-pura penasaran. “Wah, kedengarannya serius.”
“Ayo aja,” kata Lara singkat, senyumnya mengembang.
Axel tidak keberatan sama sekali. Justru terlihat senang. Mereka pun meluncur bersama dengan motor sport Axel, meninggalkan area kampus yang mulai sepi.
Tujuan Lara ternyata sebuah festival jajanan Korea yang sedang ramai dibicarakan. Begitu sampai, mata Lara langsung berbinar melihat deretan stand dengan tulisan Hangul, aroma tteokbokki pedas-manis bercampur dengan bau ayam goreng dan hotteok yang menggoda.
“Ini…” Lara berputar pelan sambil menatap sekeliling, “akhirnya kesampaian juga.”
Axel tertawa kecil melihat reaksinya. “Kamu kelihatan kayak anak kecil dibawa ke taman bermain.”
“Karena aku memang penasaran dari dulu,” balas Lara tanpa merasa malu.
Lara memang penggemar drama Korea. Ia hafal beberapa dialog, tahu banyak cerita, dan sering membayangkan bagaimana rasanya mencicipi jajanan yang sering muncul di layar. Padahal, kalau mau jujur, bukan hal sulit baginya untuk sekadar liburan ke Korea. Ayahnya pasti bisa mewujudkan itu dengan mudah.
Tapi entah kenapa, hal itu tak pernah benar-benar terlintas di pikirannya.
Seolah yang Lara cari bukan sekadar tempatnya…melainkan momennya.
Dan hari itu, berjalan di antara keramaian festival, mencicipi jajanan sederhana, tertawa karena rasa pedas yang berlebihan, Lara merasa—cukup.
Sangat cukup.
Axel memperhatikannya diam-diam. Cara Lara tertawa tanpa jaim, cara matanya berbinar karena hal-hal kecil. Dan tanpa ia sadari, sesuatu di dalam dadanya mulai bergerak… pelan, tapi pasti.
Perasaan Axel pada Lara, hari itu, naik satu tingkat.
Lara sedang asyik menggigit bungo-pang, wafel berbentuk ikan dengan isian cokelat yang masih hangat, saat tiba-tiba dari arah panggung kecil di ujung area festival terdengar alunan musik yang begitu familiar.
Nada pembukanya saja sudah cukup membuat Lara membeku.
Matanya membulat.
“Itu…” gumamnya, setengah tak percaya.
Beberapa detik kemudian, suara vokal mengalun—lagu salah satu idol K-pop favoritnya, dibawakan oleh band anak-anak muda yang tampil santai tapi penuh energi. Suasana langsung berubah. Beberapa pengunjung—terutama para cewek—berhamburan mendekat, saling berbisik antusias, bahkan ada yang ikut menyanyikan reffrainnya.
Lara refleks menutup mulutnya dengan satu tangan.
“Axel! Itu lagu favorit aku!” serunya nyaris melompat.
Tanpa memberi Axel waktu untuk bereaksi, Lara spontan menarik tangan Axel dan mulai berlari kecil ke arah kerumunan.
“A—eh—Lara—” Axel terkejut.
Tangannya tertarik begitu saja, langkahnya ikut terburu, tapi Lara tidak menoleh. Rambut panjangnya berkibar, tawanya pecah tanpa beban, dan genggaman tangannya—hangat, nyata—tidak dilepas.
Untuk sesaat…Axel lupa segalanya.
Keramaian, musik yang semakin keras, teriakan penonton, semuanya seperti mengabur. Yang tersisa hanya satu hal:
Lara yang menariknya masuk ke dunianya.
Mereka berhenti di barisan tengah penonton. Lara ikut menyanyi pelan, matanya berbinar, tubuhnya ikut bergoyang kecil mengikuti irama. Axel berdiri di sampingnya, napasnya masih sedikit tersengal—bukan karena berlari, tapi karena perasaan asing yang tiba-tiba menghantam dadanya.
Ia menoleh ke Lara.
Dan di momen itu, Axel sadar.
Ini bukan sekadar nyaman.
Ini bukan sekadar teman yang menyenangkan.
Ada sesuatu yang lebih dalam…
sesuatu yang pelan-pelan menancap, tanpa izin, tanpa aba-aba.
Axel tersenyum kecil, tapi dadanya terasa penuh.
Momen singkat itu—lari kecil sambil digandeng, tertawa tanpa sadar, berdiri di tengah keramaian—
menjadi kenangan yang sangat dalam bagi Axel.
Kerumunan semakin padat seiring lagu memasuki bagian reffrain. Area kecil itu tak lagi memberi ruang untuk sekadar berdiri santai. Dorongan kecil mulai terasa—bahu bersenggolan, langkah maju mundur tanpa kendali.
Axel refleks menggeser tubuhnya sedikit ke depan Lara, naluri melindunginya muncul begitu saja. Tapi justru karena itu, jarak mereka semakin menyempit.
Satu dorongan dari belakang.
Tubuh Lara terdorong ke depan, dan sebelum sempat menyeimbangkan diri, punggungnya sudah menempel ke dada Axel. Terasa hangat dan nyata
“Eh—” Lara terkejut kecil.
Axel ikut membeku.
Awalnya mereka tidak langsung sadar. Fokus masih terpecah oleh musik dan sorakan penonton. Sampai beberapa detik kemudian, Lara sedikit menoleh—dan pandangan mereka bertemu.
Terlalu dekat.
Wajah Lara hanya berjarak beberapa senti dari dada Axel. Ia bisa merasakan napas Axel yang tertahan, bisa mencium aroma maskulin yang samar bercampur dengan udara sore dan wangi makanan festival. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena lagu.
Axel menelan ludah.
Ia baru menyadari posisi mereka sekarang benar-benar berhimpitan. Lengannya refleks menahan tubuhnya sendiri agar tidak makin menekan Lara, tapi ruang benar-benar sempit. Mundur tidak bisa. Bergerak pun mustahil.
“Kayaknya… kita nggak bisa pindah,” gumam Axel pelan, nyaris kalah oleh suara musik.
Lara mengangguk kecil.
“Iya…” jawabnya singkat, tapi suaranya terdengar berbeda—lebih pelan, lebih hati-hati.
Canggung, Namun anehnya… tidak sepenuhnya tidak nyaman.
Mereka terdiam. Musik terus berjalan. Kerumunan terus bergoyang. Tapi bagi Axel, dunia seolah mengecil hanya pada jarak di antara mereka yang hampir tak ada.
Ia bisa merasakan detak jantung Lara—atau mungkin itu jantungnya sendiri yang terlalu berisik.
Lara menatap ke depan, berusaha terlihat tenang, tapi tangannya tanpa sadar mencengkeram ujung jaket Axel. Sekadar pegangan. Sekadar agar tidak terdorong lagi.
Axel menunduk sedikit.
“Kalau nggak nyaman, bilang ya,” ucapnya pelan.
Lara menggeleng cepat.
“Nggak… cuma kaget aja.”
Dan itu jujur.
Beberapa menit terasa jauh lebih lama dari seharusnya. Saat lagu akhirnya berakhir dan kerumunan mulai mengendur, jarak di antara mereka perlahan terbuka kembali.
Mereka sama-sama mundur setengah langkah.
Saling menghindari tatapan.Saling pura-pura biasa saja.
Padahal, di dalam hati masing-masing, ada sesuatu yang baru saja bergerak naik level.
Axel tersenyum kecil, menatap ke depan.
Lara menghembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan jantungnya.