NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: tamat
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Jangan Panggil Siapa-Siapa

Bu Lita menarik napas panjang. Wajahnya tidak lagi memohon. Sudah selesai.

“Ibu keluar dulu,” katanya singkat.

Ia berbalik.

Langkahnya tidak tergesa, tapi tegas.

Bu Rika memandang punggungnya dengan cemas, lalu menoleh ke Krisna, ingin berkata sesuatu—namun mengurungkan niat.

Kamar tamu terasa sunyi meski tangisan Ezio masih terdengar.

Krisna berdiri mematung beberapa detik.

Kalimat ibunya menggema.

Ego dan gengsi.

Apakah ini tentang itu?

Atau tentang rasa bersalah yang belum ia akui—karena membiarkan Raisa pergi tanpa benar-benar mencoba menahannya?

“Pak,” suara Lena lembut, hampir seperti bisikan. “Saya sungguh tidak keberatan. Saya di sini untuk Ezio. Saya akan berusaha sampai dia nyaman.”

Krisna menatapnya.

Wajah Lena tampak tulus.

Sabar.

Bersedia berjuang.

Ia ingin percaya itu cukup.

“Baik,” katanya akhirnya. “Kita coba dulu. Jangan panggil siapa-siapa.”

Lena mengangguk, menunduk sedikit. “Baik, Pak.”

Di dalam benaknya, rasa lega mengalir hangat.

Aman.

Untuk sekarang.

Ezio masih menangis, tapi lebih pelan—suara kecil yang serak dan kelelahan.

Krisna mendekat, menyentuh pipi anaknya dengan ujung jari. Hangat. Terlalu hangat? Atau hanya perasaannya saja?

Ia menelan ludah.

“Papa di sini,” bisiknya lagi, kali ini lebih pada dirinya sendiri.

Dari lorong menuju kamarnya, Bu Lita berhenti sebentar tanpa terlihat. Ia mendengar suara tangisan yang belum benar-benar reda.

Dadanya sesak.

Ia tahu anaknya keras kepala. Dari kecil begitu. Kalau sudah memutuskan, sulit digeser.

Tapi ini bukan soal harga diri. Ini soal bayi yang belum bisa bicara.

Bu Lita melangkah lagi, menghilang di balik pintu kamar yang tertutup perlahan.

Di kamar tamu, Lena tetap mengayun Ezio dengan ritme yang sama, senyum tipis masih terpasang. Tangannya mulai pegal, tapi ia tidak berani berhenti.

Tangisan itu akhirnya berubah menjadi isakan kecil.

Belum tidur.

Belum benar-benar tenang.

Tapi cukup untuk membuat Krisna berpikir semuanya akan baik-baik saja.

Dan di sela isakan yang tersisa, satu pertanyaan menggantung di udara yang semakin berat:

Apakah ini benar proses adaptasi—atau tanda bahwa ada sesuatu yang dipaksa, padahal hati kecil sudah tahu jawabannya?

***

Di tempat yang berbeda, pagi terasa lebih terang.

Raisa mengayuh sepedanya dengan semangat yang hampir terlalu besar untuk tubuhnya yang ramping. Rambut panjangnya ia kuncir tinggi, bergerak naik-turun mengikuti irama kayuhan. Beberapa helai terlepas dan menempel di pelipisnya yang berkeringat. Ia mengenakan blus sederhana dan celana bahan hitam yang sedikit longgar agar leluasa bergerak.

Jalanan desa yang berliku ia lalui tanpa banyak berpikir.

Hari ini harus ada hasil.

Ia sudah terlalu lama diam di rumah, menunggu sesuatu yang tidak pasti. Menunggu panggilan yang mungkin tidak akan pernah datang.

Roda sepedanya berderit pelan ketika melewati jalan berbatu. Matahari belum terlalu tinggi, tapi peluh sudah membasahi tengkuknya. Ia menyeka dengan punggung tangan, lalu kembali fokus ke jalan.

Selama halal, apa pun akan ia lakukan.

Kali ini ia sengaja mengambil rute yang lebih jauh dari pasar di desa Kulon Progo. Ia tidak ingin bertemu terlalu banyak orang yang mengenalnya. Terlalu banyak tatapan iba. Terlalu banyak pertanyaan yang membuat dadanya sesak.

Di kejauhan, papan besar dengan tulisan kawasan wisata baru menarik perhatiannya. Beberapa bangunan kayu berdiri rapi. Ada gazebo, spot foto, dan deretan warung yang belum semuanya terisi.

Raisa memperlambat kayuhannya.

“Semoga ada lowongan,” gumamnya pelan.

Ia berhenti di depan gerbang kecil. Beberapa motor terparkir di sisi kanan. Ia menuntun sepedanya, memarkirkannya di samping motor-motor itu. Keranjang depan ia buka, mengambil map plastik bening yang sudah agak kusut di sudutnya.

Surat lamaran kerja.

Fotokopi KTP.

Ijazah.

Semua tersusun rapi, meski kertasnya mulai melengkung karena sering dibuka-tutup. Rambutnya yang terurai sedikit ke depan ia rapikan, lalu ia tarik kembali kuncirannya agar lebih rapi.

Raisa menarik napas dalam, lalu melangkah masuk.

Di salah satu bangunan utama, seorang pria paruh baya sedang menyapu halaman. Raisa mendekat dengan sopan.

“Permisi, Pak.”

Pria itu berhenti menyapu. “Iya, Mbak?”

“Saya mau tanya, Pak. Di sini sedang buka lowongan kerja tidak?”

Pria itu mengamati Raisa dari atas sampai bawah. Tidak ada yang mencolok. Hanya perempuan muda dengan wajah lelah tapi tekad yang jelas.

“Kerja apa?”

“Apa saja, Pak. Jaga warung, bersih-bersih, bantu dapur .…”

Pria itu berpikir sebentar. “Kalau sekarang belum ada yang kosong. Tapi nanti mungkin butuh tambahan.”

Raisa menggenggam mapnya lebih erat. “Kalau boleh, Pak, saya titip surat lamaran saja?”

Pria itu mengangguk. “Titip saja. Nanti kalau cocok, dihubungi.”

Raisa menyerahkan map itu dengan kedua tangan. “Terima kasih banyak, Pak.”

“Nomor HP ada di dalam?”

“Ada, Pak.”

Pria itu mengangguk lagi, lalu menaruh map tersebut di meja kayu dekat pintu. Tidak membuka. Tidak membaca. Hanya meletakkannya bersama dua map lain.

Raisa menatap sejenak.

Ia tahu prosedur itu.

Nanti dihubungi sering kali berarti tidak pernah dihubungi.

Tapi ia tetap tersenyum. “Terima kasih, Pak.”

Ia berbalik, melangkah keluar. Rambut kuncirnya kembali bergoyang saat ia berjalan menuju sepeda.

Matahari sudah sedikit naik. Ia berdiri di samping sepedanya beberapa detik, memandangi kawasan wisata itu.

Semoga kali ini berbeda.

Ia mengayuh lagi, tidak tahu bahwa di tempat lain, seseorang kecil yang sangat ia kenal sedang menangis tanpa henti.

Sementara itu, di kediaman kepala desa, suasana makin menegang.

Tangisan Ezio memang sempat turun menjadi isakan kecil, tapi tidak pernah benar-benar hilang. Sejak pagi, suara itu seperti menjadi latar tetap rumah besar itu.

Kini, menjelang siang, Ezio kembali merengek.

Wajahnya pucat kemerahan. Matanya sembap karena terlalu lama menangis.

“Sudah waktunya makan MPASI,” kata Lena lembut, mencoba tetap profesional.

Ia menyiapkan bubur halus yang tadi dibuatkan Bu Rika. Teksturnya lembut, masih hangat. Ia menuangkannya ke mangkuk kecil, lalu membawa Ezio ke baby chair.

Krisna berdiri tidak jauh dari situ, kedua tangannya terlipat di dada. Matanya berat. Lingkar hitam di bawah mata makin jelas.

Ia belum tidur sejak pukul tiga.

Seharusnya pagi ini ia ke klinik untuk memantau renovasi ruangan rawat inap dan mengecek alat kesehatan yang baru tiba. Sebagai dokter penyakit dalam, ia tidak bisa sembarang percaya laporan orang lain.

Tapi langkahnya tertahan.

Ezio seperti tidak mengizinkan ia pergi.

“Pak, saya coba suapi dulu ya,” kata Lena.

Krisna mengangguk pelan.

Lena duduk di depan baby chair, mengambil sendok kecil. “Buka mulutnya, Sayang.”

Ezio menoleh.

Sendok pertama masuk sedikit.

Separuh keluar lagi.

Lena tersenyum tipis. “Pelan-pelan ya, Nak.”

Di dalam hatinya, ia mulai menghitung napas.

Sudah capek dari pagi.

Sudah mengayun, sudah menyuapi susu, sudah menggendong.

Kenapa tidak berhenti juga sih?

Sendok kedua ia sodorkan lagi.

Ezio merengek, mencoba memalingkan wajahnya. Lena tetap sabar—setidaknya dari luar.

Bersambung ... ✍️

1
Ila Lee
wah IBU2 tertinggal bas ni Raisa sudah beretam loh dengan dokter Krisna atau duda ganteng 🤣🤣🤣
Ila Lee
wah Krisna belum lama sudah ada rindu2 gitu dengan Riasa atau jatuh cinta mungkin /Drool/
Ila Lee
betul kata tiada kn jalan kg kenapa laju2 bawa mobil di kejar setan Krisna nya🤣🤣🤣🤣🤣
Ila Lee
wah kira berjodoh ni awal2 sudah beretam 🤣🤣
Ila Lee
lama menunggu mami ghina novelnya aku hadir Thor dari melaysia pasti best cerita nya ya mantap❤️❤️❤️❤️❤️ hebat Raisa berani kerana benar💪💪💪💪
Lies Atikah
kenapah pak Dokter kebih suka jande yah 😄😄😄
Lies Atikah
diam2 pasang cctv atuh kris kok jadi orang oon banget katanya Dokter tapi kalah sama si jandes lena di belain terus udah mulai klik yah 😄
Lies Atikah
yang udah nyaman sama silena kayanya bapak nya deh 😄😄
Lies Atikah
sukurin jangan di tolong biarin aja biar tahu rasa si kris pengen tetep sama si lena udah lu kawin aja sama si lena pilihan mu 😄
Endang Sulistia
Waduuh..kerja yg betol mbak lena😤😤
Endang Sulistia
langsung kena ..
Lies Atikah
tuan arogan dapat lawan setimpal bagus Ris salut sama sipat mu jangan mau di hinakan
Novano Asih
wah ternyata udah dibelikan rumah
Novano Asih
waalaikumusalam Alhamdulillah semoga mommy selalu diberi kesehatan dan bisa menciptakan karya"yg lebih baik aamiin
Novano Asih
untungnya bu kades orangnya bijaksana tdk memandang status sosial👍
Mefazha ghania
lho wong si lena tujuannya mau deketin bapaknya..
Novano Asih
wah ternyata yg bikin nangis bpknya digelitik apa dicubit itu anknya😄😄
Novano Asih
😄😄😄
Ningsih Gedeona
neneknya ko ga ngemong banget ya.... padahal cucu pertama... 😄😄😄😄
sweetpurple
keren!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!