Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:
• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.
Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.
Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Shadow Trail
Pagi berikutnya, aula istana masih beraroma dupa dan lilin yang padam semalam. Sunyi menyelimuti, namun Anthenia tahu: senyap itu palsu.
Ia melangkah ke balkon, menatap taman yang basah oleh hujan semalam. Angin dingin menyapu rambutnya, tapi ia tetap tenang. Belati Blackwood tersembunyi di pinggang, seperti peringatan kecil dari ayahnya—bahwa di Araluen, bahkan udara bisa menjadi senjata.
Langkah di belakangnya terdengar ringan. William muncul, wajahnya serius, namun tetap tenang.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya.
“Ya. Tapi aku merasa… mereka mulai bergerak,” jawab Anthenia pelan.
William menatapnya, mata kelabunya tajam. “Aku tahu. Heilen tidak pernah bermain tanpa rencana.”
Anthenia mengangguk. “Dan Alistair?”
“Dia mengikuti arahan,” jawab William. “Tapi dia licik. Ia akan mencoba menguji batasmu.”
Anthenia menahan napas pelan. Ia tahu—semalam sudah menjadi ujian kecil. Sekarang, ujian besar belum datang.
Di sayap barat istana, Heilen Valerius tersenyum tipis. “Semua berjalan sesuai rencana,” gumamnya. “Anthenia menolak tawaran, menolak alat kami… bagus. Sekarang, waktunya membuatnya kehilangan sesuatu yang berharga.”
Alistair berdiri di belakangnya, wajah penuh ambisi. “Siapa targetnya?”
Heilen menoleh, mata tajam. “Nelia. Kau tahu betapa dia dekat dengan kakaknya, Putri Blackwood. Jika kita bermain dengan benar… kita bisa memaksa Anthenia untuk bereaksi.”
Alistair tersenyum tipis. “Menyenangkan. Aku suka permainan seperti ini.”
Sementara itu, di aula utama, Nelia tertawa riang bersama Genevieve, tanpa menyadari bahwa pandangan mata beberapa bangsawan menyelidik, menilai, bahkan menandai.
Tiba-tiba, Frederick Miller mendekat, mencoba berbicara santai. Namun tatapannya jatuh pada Anthenia yang baru saja kembali dari balkon. Raut wajahnya berubah—gemetar tapi berusaha tenang.
Beatrice Lavenza mengamati dari jauh, menyipitkan mata. Ia segera bergabung dengan Frederick, membisikkan sesuatu—dan tatapannya tertuju pada Nelia.
Anthenia merasakan keganjilan itu. Instingnya—yang bukan insting biasa—menyala.
“Siap?” William berbisik di sisi Anthenia.
“Selalu,” jawabnya.
Pertemuan kecil itu segera memuncak ketika seorang pelayan membawa dokumen resmi dari Kaisar—undangan untuk putri Duke menghadiri rapat diplomatik rahasia sebelum pesta siang hari.
Anthenia membacanya sekilas, lalu menatap William. “Ini jebakan.”
William mengangguk. “Benar. Jika kau menolak… mereka akan bertanya-tanya mengapa Duke Blackwood tidak menuruti Kaisar. Jika kau menerima… kau berada dalam posisi yang lebih berisiko.”
Anthenia tersenyum tipis. “Bagus. Aku suka permainan.”
William menatapnya lama. “Hati-hati. Ini baru awal.”
Di sisi lain, Alistair dan Heilen menatap dari balkon atas. “Dia tidak tahu, tapi langkah selanjutnya… akan memaksa reaksi,” kata Heilen.
Alistair menepuk tangan perlahan. “Dan kita hanya menunggu momen yang sempurna.”
Di bawah, aula istana tetap ramai. Tawa dan musik menutupi ketegangan. Namun bayangan telah bergerak, dan semua langkah kini terhubung—setiap senyum, setiap tatapan, setiap keputusan Anthenia di bawah pengawasan ketat para licik Araluen.
Ruang Diplomatik Rahasia, Istana Araluen
Anthenia melangkah masuk, dokumen Kaisar masih tergenggam di tangan. Ruangan itu lebih kecil daripada aula utama, tapi hangat—dilengkapi meja panjang dan kursi tinggi untuk tamu resmi.
Di dalam, beberapa bangsawan menatapnya. Di ujung meja, Alistair Valerius tersenyum ramah—tidak tulus. Ia berdiri saat Anthenia mendekat, membungkuk sopan.
“Putri Blackwood,” katanya halus, “selamat datang. Kami sangat menantikan pandanganmu mengenai situasi diplomatik terbaru.”
Anthenia menatap sejenak. Nada suaranya ramah, tapi matanya tidak menipu. “Aku akan memberikan pandangan yang jujur, bukan hanya yang diharapkan.”
Alistair tersenyum tipis. “Tentunya. Kejujuran adalah… aset berharga di Araluen.”
Di sisi lain, seorang bangsawan tua menatapnya dengan raut ingin menguji. “Apakah Nona Blackwood sudah siap menghadapi tekanan politik?”
Anthenia mengangkat bahu ringan. “Aku belajar menilai risiko sejak muda.”
William berdiri di pintu, mata tajamnya tidak lepas dari Anthenia. Ia menahan napas. Setiap kata, setiap gerakannya, bisa menjadi jebakan.
Alistair mengambil gulungan peta dan menaruhnya di depan Anthenia. “Ini rencana wilayah baru untuk Araluen. Tentukan di mana kita bisa menempatkan pengaruh. Keputusanmu akan menjadi… penting.”
Anthenia menatap peta. Di permukaannya, beberapa daerah telah ditandai dengan simbol hitam kecil—tanda kekuasaan yang sedang diperebutkan.
“Ini terlalu berisiko,” gumam Anthenia. “Jika aku setuju pada beberapa titik, aku memberi mereka keuntungan. Jika aku menolak, aku akan dianggap menghalangi Kaisar.”
Alistair menyipitkan mata, senyum tetap di wajahnya. “Pilihanmu, Putri Blackwood. Aku hanya… penasaran.”
William melangkah ke samping Anthenia, tenang tapi tegas. “Kau tidak sendirian. Aku di sini untuk memastikan tidak ada yang memanfaatkan keputusanmu secara salah.”
Anthenia menatapnya, setuju. Namun matanya tidak lepas dari Alistair. “Aku membuat keputusan berdasarkan fakta, bukan ketakutan atau tekanan.”
Alistair menghela napas dramatis. “Fakta… selalu relatif di Araluen. Tapi baiklah. Kita lihat.”
Saat Anthenia menaruh peta, satu detail kecil menarik perhatiannya: sebuah tanda yang tidak sesuai dengan catatan resmi Kaisar—tanda yang sengaja ditanam Alistair.
Dengan sigap, Anthenia menandai area itu berbeda, seolah memberi sinyal: “Aku tahu ini jebakanmu.”
Alistair menatapnya tajam, tapi tidak berkata apa-apa. Sebuah permainan mulai.
William menepuk bahu Anthenia pelan. “Bagus. Kau tidak terjebak.”
Anthenia tersenyum tipis. “Ini baru permulaan.”
Di luar ruangan, Heilen menunggu di bayangan koridor. “Dia melihat jebakan pertama… sekarang kita tingkatkan tekanan,” gumamnya pelan.
Alistair mencondongkan tubuh ke depan. “Dan kali ini, targetnya lebih dekat ke hatinya.”
Anthenia keluar dari ruangan, langkahnya tetap mantap. Namun instingnya berkata: ada badai yang menunggu, dan bukan satu atau dua orang saja.
Koridor Istana Araluen
Anthenia melangkah keluar dari ruang diplomatik rahasia, peta di tangan tetap terselip rapi. Hati dan pikirannya penuh perhitungan—ia tahu bahwa setiap keputusan kecil tadi telah diperhatikan oleh lebih dari satu pasang mata licik.
Di lorong panjang, William menunggunya, jubahnya menutupi sebagian tubuhnya. Matanya tidak pernah lepas dari Anthenia.
“Kau menandai ulang area itu,” ucapnya pelan.
“Ya,” jawab Anthenia singkat. “Aku tahu ada jebakan. Tidak sulit membaca pola mereka.”
William tersenyum tipis, hampir tak terlihat. “Bagus. Tapi ini baru awal. Mereka akan mencoba cara lain—lebih halus, lebih berani.”
Di balik tirai lorong, dua pasang mata diam-diam mengawasi. Heilen Valerius berdiri tegak, memerhatikan setiap gerak Anthenia. Di sisinya, Alistair tersenyum tipis, matanya penuh ambisi.
“Dia membaca kita,” bisik Heilen. “Sekarang, kita tekan sedikit—buat dia merasa kehilangan sesuatu yang berharga.”
Alistair mencondongkan tubuh, menyeringai. “Dan targetnya adalah… Nelia.”
Tidak jauh dari situ, Nelia sedang bermain dengan beberapa bangsawan muda. Tawa riangnya murni, tidak tahu bahwa sebuah skema telah dipersiapkan untuknya.
Seorang pelayan mendekat dan menyampaikan undangan—bukan dari Kaisar, tapi dari Alistair dan Heilen. Ia membawa catatan halus: “Nelia, ingin kau menghadiri sebuah permainan… di taman barat, sendirian.”
Nelia menatap catatan itu bingung, lalu menoleh ke Anthenia. “Aku… boleh pergi?”
Anthenia merasakan instingnya menyala. “Apa ini jebakan?”
Nelia tersenyum polos. “Siapa yang akan menaruh jebakan di taman pagi seperti ini?”
Anthenia menggigit bibir. Ia tahu, jawabannya pasti: mereka akan menaruh jebakan di tempat yang paling tidak terduga.
William muncul di samping Anthenia, tatapannya dingin. “Jangan biarkan dia pergi sendiri.”
Nelia menatap kakaknya—mata ceria tapi sedikit bingung. “Tapi aku ingin ikut bermain… dengan teman-temanku.”
William menunduk, serius. “Ini bukan permainan.”
Anthenia menatapnya, lalu menatap Nelia. “Kau tetap di sini,” perintahnya lembut tapi tegas.
Nelia menolak sedikit, tapi melihat tatapan Anthenia—tidak ada kompromi. Ia menunduk.
Di balkon atas, Alistair menatap kejadian itu melalui celah tirai. “Dia menolak jebakan kami… tapi kita akan menemukan celah lain.”
Heilen menepuk tangan pelan, senyumnya tipis. “Dan sekarang, Anthenia tahu… mereka menargetkan orang yang ia sayangi.”
Anthenia menahan napas panjang. Langkahnya mantap saat kembali ke aula utama. Musik masih terdengar, tawa dan percakapan menutupi ketegangan. Namun ia tahu: badai nyata baru saja dimulai.
William berjalan di sampingnya, perlahan. “Mereka akan terus menguji batasmu,” katanya rendah.
Anthenia menatap aula yang berkilau. “Biarkan mereka mencoba. Aku siap.”
William tersenyum tipis, mata kelabunya tajam. “Bagus. Karena aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu—atau orang yang kau lindungi—tanpa konsekuensi.”
Di sayap barat istana, Heilen dan Alistair saling berpandangan. “Kita mulai permainan yang sebenarnya,” gumam Heilen.