NovelToon NovelToon
After Moon : Sekutu Di Paleside

After Moon : Sekutu Di Paleside

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Murdoc H Guydons

*Update tiap hari*

Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.

Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.

Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.

Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.

Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Resonance 3 - Gelang Perak

Cahaya matahari sore menerobos masuk melalui jendela kayu rumah kami yang hangat, menebarkan debu-debu emas di udara yang beraroma masakan rumahan dan kayu Aranel yang baru dipotong.

Aku, yang saat itu baru berusia tiga belas tahun, duduk bersila di lantai. Mataku terpejam, mencoba fokus pada setetes air yang melayang setengah meter di atas telapak tanganku.

Ini adalah latihan dasar Crafting—kemampuan memanipulasi elemen di alam. Setiap orang punya bakat berbeda di setiap elemen. Ada 4 elemen Crafting; air, angin, tanah dan listrik. Aku cenderung lebih mudah mengendalikan elemen air.

Tanganku terulur, mencoba mempertahankan bentuk bulat setetes air itu di udara. Namun, butiran air itu malah naik tak berbentuk dan bergetar hebat.

“Kau memaksanya lagi, Zane,” suara Ayah memecah keheningan. Ia lewat ruang tengah itu sambil membawa kayu ukirannya, namun matanya mengawasi latihanku. "Lihat itu. Airnya berasap. Latihanmu membuat air itu membulat Zane, bukan menjadi panas.

Aku membuka mata dan mendengus kesal. Benar saja, setetes air yang melayang rendah itu mengeluarkan uap tipis. Ini adalah kelemahan terbesarku: ketika fokusku pecah, Daya-ku bocor menjadi energi panas yang tak terkendali. Tetesan itu jatuh dan buyar saat konsentrasiku lenyap.

"Ingat filosofi Suku Mien," kata Ayah dari ruang kerjanya. "Tiga Langkah Kendali: Dengar, Rasa, Arahkan. Jangan langsung paksa dengan Daya Kriya-mu."

"Jauh lebih sulit untuk dilakukan daripada diceritakan Ayah," keluhku.

"Haha. semua orang pernah sepertimu Zane, Ayah dulu juga begitu. Itu karena Daya Indra-mu belum tajam. Kau belum 'mendengar' airnya, tapi sudah kau paksa 'berjalan'," koreksi Ayah, kepalanya muncul dari ruang kerja.

"Coba lagi. Pelan-pelan. Rasakan betul airnya dengan Daya Indra-mu."

Aku menghela napas, mencoba lagi. Aku menajamkan Daya Indra—sensor tak kasat mata yang menyelubungi tubuhku. Aku mencoba merasakan partikelnya yang terpecah di lantai, kemudian ‘menggiringnya’ pelan untuk kembali menyatu, dan ‘mengajaknya’ perlahan untuk melayang. Perlahan, setetes air melayang naik, kali ini lebih stabil dan tak lagi panas.

Namun, momen harmoni itu diuji oleh gangguan super ribut: adik perempuanku, Serra.

"Lihat, Kak! Bagus, kan?"

katanya untuk yang kesekian kalinya, suaranya yang ceria akhirnya memecah konsentrasiku.

Plop. Tetesan air yang sudah bulat langsung ke lantai

Usianya baru sepuluh tahun. Serra berputar-putar kecil di tengah ruangan, membuat gelang perak di pergelangan tangannya yang ramping bergemerincing pelan. Sebuah bandul huruf 'S' berkilauan setiap kali terkena cahaya.

"Ayah bilang ini perak murni dari Haldara. Dan huruf 'S' ini untuk Serra! Hanya untukku!" Ia berhenti berputar dan menatapku dengan mata berbinar, menunggu pujian yang tak kunjung datang.

Ini bocah berisik betul dari tadi, pikirku dalam hati, namun sebuah senyum seringai yang sulit kutahan mulai terukir di wajahku. Dia tidak akan berhenti membicarakannya sepanjang hari.

"Zane, jangan ganggu adikmu," suara Ibu terdengar dari dapur, seolah bisa membaca niat iseng di kepalaku bahkan dari ruangan lain. Aku hanya bergumam tak jelas sebagai jawaban.

Baiklah, jika dia sangat senang dengan hadiahnya, mari kita taruh di tempat yang lebih terlihat. Akan kutempel di jidatnya, agar huruf S itu terpampang nyata dan semua orang tahu kalau 'S' itu singkatan dari 'Siribut'.

"Sini, biar kulihat lebih dekat," kataku dengan nada iseng, mencoba terdengar serius sambil bangkit dari lantai. "Perak dari Haldara kadang tidak murni. Bisa-bisa tanganmu jadi hijau nanti."

"Tidak mungkin! Ayah yang memilihnya!" balasnya, sedikit cemberut, tapi ia tetap mendekat, menjulurkan tangannya dengan bangga.

"Lihat, tidak ada cacatnya sama sekali!"

Tanpa aba-aba, aku menyambar ke arah tangannya. Serra memekik kaget, "Kakak jangan!" teriaknya separuh tertawa.

Ia mencoba menarik tangannya, tapi aku lebih cepat. Terjadilah perebutan konyol itu. Sialnya, jemari kami mendarat di posisi yang fatal. Telunjukku tersangkut di lengkungan atas huruf 'S', sementara jari Serra mengait kuat di lengkungan bawahnya.

Aku pun ikut tertawa menariknya, ternyata lebih kuat dari yang kumaksud.

Krak!

Seketika gelak tawa kami tadi hilang, semuanya hening.

Di tanganku ada barang bukti dari kejahilanku yang kelewat batas, sebuah huruf S perak yang sudah patah dua di dekat pangkalnya. Mata Serra yang semula berbinar kini mulai berkaca-kaca. Wajahnya memerah menahan tangis, bibir bawahnya bergetar. Lalu, bendungan itu pecah juga.

"HUWAAAA... AYAH! IBU! KAKAK JAHAT! GELANGKU DIPATAHKAN!" teriaknya dengan suara melengking, berlari ke arah ruang kerja Ayah.

Tak lama, sosok bayangan besar muncul dari ambang pintu ruang kerja. Ayah berdiri di sana, masih memegang sebilah pisau ukir di satu tangan, serutan kayu menempel di pakaiannya. Wajahnya tenang, namun matanya menatap lurus ke arahku, lalu ke bandul perak patah di tanganku. Ia tidak perlu bertanya apa yang terjadi.

Ibu muncul dari dapur, menyandarkan gagang alunya di dinding, tangannya yang berbau rempah dilap ke celemeknya. Ia hanya menatapku dengan tatapan "Sudah Ibu bilang, kan?"

Tangan Ayah yang besar dan kokoh mendarat di atas kepalaku.

DUAK!

Bukan jitakan yang menyakitkan, melainkan jitakan tegas yang "penuh kasih sayang", yang selalu berhasil membuatku sadar seketika akan kebodohanku. Rasanya tidak sakit, hanya sedikit panas, dan penuh pesan tak terucap.

"Zane," kata Ayah, suaranya tenang namun terasa sedikit kecewa.

Aku mengusap kepalaku, cemberut, lebih karena malu daripada sakit. Ayah mengambil bandul patah itu dari tanganku. Ia menghela napas panjang, lalu duduk di kursinya yang terbuat dari kayu Aranel yang kokoh.

Ia memberi isyarat agar aku dan Serra mendekat. "Lihat ini, kalian berdua," katanya, suaranya kini lebih lembut. Ia mengeluarkan sebuah Sigil Electrocraft kecil dari sakunya. Ayah memegang patahan huruf S itu, bagian ujungnya yang tajam menekan telunjuk Ayah.

“Aku selalu penasaran Ayah. Kenapa benda tajam bisa memotong ukiran atau makanan, tapi tidak bisa memotong tangan kita?” ucapku biasa, seolah sudah melupakan prahara barusan.

“Hmm... Perhatikan Zane. Ini sekalian mengulang pelajaran tentang Crafting-mu tadi.” ujar Ayah sambil meletakkan kedua patahan perak itu di meja agar saling bersentuhan.

"Pertama, Daya Indra. Rasakan elemen yang berada di dalam Sigil atau yang ada di udara."

"Kedua, Daya Kriya. Salurkan energimu, ‘giring’ elemen itu menuju titik yang kau inginkan."

Bzzt!

Kilatan listrik kecil melompat dari Sigil, menyambar titik patahan perak itu. Logam itu mendesis, memerah, dan meleleh seketika. Percikan bunga api panas memuncrat ke tangan Ayah.

Ayah menarik tangannya menghindari bunga api itu.

"Dan yang ketiga: Daya Tempa," jelas Ayah tenang. "Perisai alami tubuhmu. Pisau bisa memotong makanan, karena mereka tak punya Daya Tempa. Tapi Daya Tempa pun, tak bisa melindungimu dari panas ataupun dingin.”

Dalam sekejap, pijaran merah itu padam. Logam itu menyatu kembali. Ayah meniupnya pelan.

Di tempat patahan tadi, kini terdapat tonjolan kecil yang tidak rata. Bekas sambungan yang sedikit kasar.

"Sudah nyambung," gumamku takjub.

"Benda ini... dan keluarga... sama saja, Zane," kata Ayah sambil mengamati hasil kerjanya, memutar-mutar bandul gelang itu di bawah cahaya lampu.

"Boleh jadi kau tidak sengaja merusaknya. Tapi lihat," ia menunjuk bekas sambungan itu dengan ujung kukunya. "Sekali patah, memperbaikinya akan selalu meninggalkan bekas. Bekas ini akan menjadi bagian dari ceritanya.”

“Kau harus lebih hati-hati lain kali."

Ia menyerahkan gelang yang kini utuh kembali kepadaku.

"Nah, berikan pada adikmu. Perbaiki apa yang sudah kau rusak."

Aku mengambilnya dengan enggan, merasa sedikit bersalah sekarang. Rasa jailku sudah sepenuhnya hilang, berganti dengan pemahaman dari pelajaran Ayah.

Aku menyodorkan gelang itu, tidak berani menatap matanya. "Ini," kataku pelan. Aku menelan ludah, menekan gengsi. "...maaf."

Serra menatapku sejenak, bibirnya masih cemberut. Lalu, ia melirik di tanganku, dan matanya beralih ke wajahku lagi. Perlahan, ia mengambil gelang itu. Sebuah senyum kecil mulai merekah di wajahnya yang basah oleh air mata, seperti matahari yang muncul dari balik awan badai.

Ia kembali memasang gelang itu di tangannya, memandangnya dengan binar yang sama seperti sebelumnya, seolah insiden tadi tidak pernah terjadi. Senyumnya saat itu, di tengah cahaya matahari keemasan yang memenuhi ruangan, terasa begitu hangat dan menyejukkan...

1
Mingyu gf😘
Mau nanya, tarker itu apa hehe😁
Murdoc H Guydons: Ada Kak.. di chapter ini,, lebih lanjut bacanya.. 😀
total 1 replies
Mingyu gf😘
Kurang kerjaan gak tuh😭😭
Murdoc H Guydons: hehe.. lebih mending daripada nganggur.. 🤭
total 1 replies
Mingyu gf😘
Jika memang tidak membutuhkan pendapat setiap orang, untuk apa juga rapar
Murdoc H Guydons: iya.. rapatnya sebenarny sudah d hari sebelumnya,, cuma Zane ga ikut karena ada misi dadakan..

hari ini cuma pengumuman hasil rapat ke semua anggota.. 😀😬
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
bagus cerita menarik dan recommended dech
Murdoc H Guydons: Waah.. Terimakasih Kak.. Lanjut baca terus y.. 😀
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
batu itu menyimpan air ya thor sehingga ia bisa menyimpan air sampai bertong tong. apakah memilik kesaktian🤔🤔🤔
Murdoc H Guydons: Mmm.. ga sakti juga sih Kak.. cuma bisa menyimpan elemen aja.. 🤭
total 1 replies
Blueberry Solenne
Suara siapa itu, dan karena apa ya dia berteriak, jadi penasaran...
Murdoc H Guydons: Wihii.. langsung lanjut d Episode selanjutnya Kak.. 😬
total 1 replies
Blueberry Solenne
waduh menghambat perjalanan ini, harus bawa sol sepatu kemaa-mana ini bang🤭
Murdoc H Guydons: Hehe.. sepatunya udah jelek Kak.. harus d ganti.. 🤭
total 1 replies
Serena Khanza
semakin bagus ceritanya, ayo semangat lanjut terus thor 💪🏻💪🏻💪🏻
Serena Khanza: iya kak
total 2 replies
Serena Khanza
kek manalah ya biskuit tapi kek batu 😭😭 tuh gigi gak rontok ya 🤣
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu
Serena Khanza: oh berarti beneran ada ya real nya ku pikir cuma di fiksi aja 😅
total 2 replies
CACASTAR
ini cerita tentang pemburu hewan sejenis predator, kan ya...
Murdoc H Guydons: Pemburu hewan cuma sebagian kecil Kak,, bahkan cuma worldbuilding ny aja.. konflikny jauh lebih luas Kak.. 😬
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Mungkin mereka lebih sayang sama peliharaannya kali🤭
Murdoc H Guydons: Soalny mau dipake buat kabur Kak.. lagian makanny kan cuma rumput.. 🤭
total 1 replies
Indira Mr
apakah kulit hewan buas dijual belikan
Murdoc H Guydons: Bisa dong Kak.. d olah jadi pakaian biasanya..😬
total 1 replies
Indira Mr
benar lebih baik memikirkan sol sepatu daripada memikirkan hal hal yang beratin pikiran🚀🚀🚀
Murdoc H Guydons: haha.. ga nyampe mikir jauh",, kalo yang urusan yang deket msih bermasalah Kak..😅
total 1 replies
Lukman Mubarok
mirip anime 👍 genre fantasi petualang
Murdoc H Guydons: Ya.. betul Kak.. rata" anime petualangan mirip sih settingny Kak.. 🤭
total 1 replies
Jing_Jing22
ada visualnya pasti lebih seru/Chuckle/
Murdoc H Guydons: Ada sih.. tapi belum rampung.. kalau udah jadi nanti d posting y Kak.. 😬
total 1 replies
Jing_Jing22
apakah tarker itu detektip??
Jing_Jing22: Ooh, jadi lebih ke arah penjelajah dan peneliti ya Kak?
total 2 replies
Serena Khanza
ini tarker macam kek forum atau organisasi atau kelompok gitu ya
Serena Khanza: oh kayak di game gitu ya aliansi gitu ya
total 2 replies
Wida_Ast Jcy
Lah adiknya hilang ya thor
Murdoc H Guydons: Iya Kak.. emang premis utamanya nyari adeknya yang hilang Kak.. slow pace banget ya Kak? hehe.. 😅
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
seram amat sich thor gak kebayang wujudnya giman🤔🤔🤔
Murdoc H Guydons: hehe.. iya.. gitu deh Kak.. 🙏🏻
total 1 replies
studibivalvia
kalo domba harusnya lebih lembut lagi ga sih? apalagi kalo domba muda
Murdoc H Guydons: wah saya juga belum riset tentang tekstur daging dombanya sih Kak.. ntar d riset dulu yak.. habis itu kita buat deskripsi detailny d buki 3.. 🤭😀
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!