"Tandatangani surat cerai ini dan pergi dari rumahku! Kau hanyalah wanita yatim piatu yang tidak berguna bagi karierku!"
Tiga tahun pengabdian Alana sebagai istri yang penurut berakhir dengan selembar kertas dan hinaan pedas dari suaminya, Raka. Tidak hanya diceraikan, Alana juga diusir di tengah hujan badai demi seorang wanita yang diklaim Raka sebagai "pembawa keberuntungan".
Raka tidak tahu, bahwa Alana bukan yatim piatu biasa. Dia adalah putri tunggal Keluarga Adiwangsa yang hilang sepuluh tahun lalu—keluarga penguasa ekonomi negara yang memiliki tujuh putra mahkota.
Saat Alana berjalan gontai di jalanan, sebuah konvoi helikopter dan puluhan mobil mewah mengepungnya. Tujuh pria paling berpengaruh di negeri ini turun dan berlutut di hadapannya.
"Tuan Putri kecil kami sudah ditemukan. Siapa yang berani membuatmu menangis, Dek? Katakan pada Kakak, besok perusahaannya akan rata dengan tanah."
Kini, Alana tidak lagi menunduk. Bersama tujuh kakak "Sultan"-nya yang protektif dan gila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: TAKHTA DARI MASA LALU
BAB 17: TAKHTA DARI MASA LALU
Bau karbol rumah sakit yang tajam biasanya membuat Alana mual, namun hari ini, ia berdiri di lobi utama dengan punggung setegak baja. Di hadapannya, berdiri seorang pria paruh baya dengan setelan jas tweed khas bangsawan Eropa. Rambutnya disisir klimis ke belakang, dan matanya yang berwarna abu-abu menatap Alana dengan ketajaman yang sanggup menguliti rahasia siapapun.
Pria itu adalah Maximilian, kepala pelayan sekaligus orang kepercayaan keluarga Von Heist dari Jerman.
"Nona Alana Roseline," suara Maximilian terdengar berat dan sangat formal, kontras dengan keributan di lobi rumah sakit. "Kami telah mencarimu selama sepuluh tahun ke seluruh penjuru dunia. Dan menemukanmu di tempat seperti ini... dalam kondisi seperti ini... sungguh di luar perkiraan kami."
Alana mengeratkan genggaman tangannya pada tas kerja hitamnya. "Siapa kau? Dan kenapa kau memanggilku dengan nama itu?"
Maximilian tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin mawar hitam yang identik dengan lambang di dokumen yang Alana temukan di Bogor. Ia membukanya, dan di dalamnya terdapat foto seorang bayi kecil yang sedang digendong oleh wanita yang wajahnya adalah kembaran Alana.
"Ibumu, Elena von Heist, tidak tewas karena kecelakaan biasa, Nona. Dia melarikan diri ke Indonesia untuk melindungimu dari perebutan takhta di keluarga besar kami. Namun, garis darah tidak bisa dihapus dengan jarak," Maximilian melangkah maju, suaranya merendah menjadi bisikan yang penuh ancaman sekaligus harapan. "Kakekmu, Sang Baron, sedang sekarat. Dia ingin pewaris sahnya kembali sebelum paman-pamanmu menghancurkan warisan Von Heist. Kau harus ikut denganku ke Berlin. Malam ini juga."
"Malam ini?" Alana tertawa getir, matanya melirik ke arah lift menuju ruang ICU tempat Kenzo berjuang. "Pria yang kucintai sedang bertaruh nyawa karena melindungiku, dan kau memintaku pergi ke belahan dunia lain untuk sebuah takhta yang tidak pernah kuinginkan?"
"Jika kau tidak pergi, Nona," Maximilian menatap lurus ke mata Alana, "Keluarga Adiwangsa dan pria bernama Kenzo itu tidak akan pernah aman. Pamanmu sudah mengirim tentara bayaran untuk menghapus setiap jejakmu di sini. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan mereka adalah dengan mengambil kekuasaanmu di Jerman. Hanya dengan menjadi pemimpin Von Heist, kau punya kekuatan untuk memusnahkan mereka yang memburumu."
Dunia Alana seolah berputar. Ia merasa seperti ditarik oleh dua gravitasi yang sangat kuat. Di satu sisi, cintanya pada Kenzo, dan di sisi lain, tanggung jawab untuk melindungi semua orang yang ia sayangi dari ancaman internasional yang jauh lebih besar dari Raka.
Alana kembali ke lantai ICU dengan langkah gontai. Di sana, Tuan Besar Dirgantara sedang duduk diam, menatap putranya melalui kaca. Saat melihat Alana mendekat, pria tua itu tidak lagi berteriak. Ia melihat gurat penderitaan yang sama di wajah Alana.
"Pria Eropa itu..." Tuan Dirgantara memulai, suaranya terdengar sangat lelah. "Dia mencarimu sampai ke rumahku tadi. Dia memberitahuku siapa kau sebenarnya."
Alana berdiri di samping kursi roda pria itu. "Tuan Besar, saya..."
"Pergilah, Alana," potong Tuan Dirgantara. Ia menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan. "Selama ini aku membencimu karena kau Adiwangsa. Tapi sekarang aku sadar, kau adalah badai yang terlalu besar untuk putraku. Jika kau tetap di sini, musuh-musuhmu dari Eropa akan meratakan rumah sakit ini hanya untuk membunuhmu. Kenzo tidak akan sanggup melindungimu dalam kondisi seperti ini."
"Anda mengusir saya lagi?" bisik Alana perih.
"Bukan mengusir," Tuan Dirgantara memegang tangan Alana, tangannya yang keriput terasa dingin. "Aku memintamu menyelamatkannya. Ambillah kekuatanmu di sana, jadilah wanita yang paling berkuasa di dunia, dan kembalilah saat kau sudah bisa menjamin tidak ada lagi peluru yang akan menembus kaca kamarnya. Pergilah sebelum mereka menemukannya di sini."
Alana merasakan hatinya pecah menjadi ribuan keping. Ia masuk ke dalam ruang ICU, mengabaikan protokol kesehatan. Ia mendekati ranjang Kenzo. Di sana, di tengah bunyi mesin yang monoton, Alana membungkuk dan mencium kening Kenzo untuk waktu yang lama.
"Kenzo... kau mendengarku?" Alana membisikkan kata-kata itu di telinga Kenzo, air matanya jatuh membasahi bantal pria itu. "Aku harus pergi untuk menjagamu. Aku harus menjadi monster agar para iblis itu tidak bisa menyentuhmu lagi. Tunggu aku. Jangan berani-berani menutup matamu selamanya sebelum aku kembali untuk menagih janji pernikahan kita."
Alana melepaskan kalung pemberian Kenzo dan meletakkannya di telapak tangan pria itu yang kaku. Ia menutup jari-jari Kenzo agar menggenggam kalung itu.
"Aku mencintaimu. Lebih dari nyawaku sendiri."
Pukul dua pagi, sebuah jet pribadi dengan lambang Mawar Hitam bersiap lepas landas dari bandara Halim Perdanakusuma. Alana berdiri di atas tangga pesawat, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang perlahan mulai menjauh.
Di dalam kabin, Maximilian sudah menunggu dengan berbagai dokumen hukum dan rencana pendidikan militer serta bisnis yang harus Alana jalani dalam beberapa bulan ke depan.
"Nona, ini akan sangat berat. Anda tidak akan bisa menghubungi siapapun selama masa pelatihan ini," ujar Maximilian.
Alana tidak menjawab. Ia melepas blazer hitamnya dan menggantinya dengan jubah bulu mewah pemberian Maximilian—simbol pertama dari identitas barunya. Ia mengambil sebuah tablet dan melihat berita terakhir di Indonesia.
Headline berita tersebut berbunyi: "KEBANGKITAN RATU BARU: ALANA ADIWANGSA MENGHILANG SETELAH MENGUASAI BURSA SAHAM."
"Biarkan mereka berpikir aku menghilang," ucap Alana dingin, matanya menatap awan gelap di luar jendela. "Maximilian, beri tahu kakekku. Aku akan datang. Tapi aku tidak akan datang sebagai cucu yang penurut. Aku akan datang sebagai pemilik baru Von Heist yang akan membersihkan setiap pengkhianat di keluarga itu dengan tanganku sendiri."
Di kursi penumpang, Alana membuka map yang diberikan Maximilian. Di dalamnya terdapat daftar nama orang-orang yang terlibat dalam penghapusan identitasnya sepuluh tahun lalu. Dan di urutan paling atas, ada sebuah nama yang membuatnya tersentak.
Nama itu adalah Ibu Mira.
Ternyata, hubungan Mira dengan masa lalu Alana bukan sekadar kebetulan. Mira adalah pelayan yang dibayar oleh keluarga Von Heist untuk membuang Alana ke panti asuhan setelah kecelakaan itu terjadi.
"Jadi, kau sudah merencanakan ini sejak awal, Mira?" Alana meremas foto Mira hingga hancur. "Nikmatilah sisa harimu di penjara, karena saat aku kembali nanti, penjara akan terasa seperti hotel bintang lima dibandingkan apa yang sudah kusiapkan untukmu."
Pesawat meluncur naik, menembus awan dan meninggalkan semua kenangan manis serta pahit di Indonesia. Alana Roseline Adiwangsa telah mati malam itu. Yang lahir adalah Alana Roseline von Heist—sang Mawar Hitam yang akan menuntut balas ke seluruh dunia.