Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya kebebasan itu datang
Anindya menatap tangan Yoga yang menggenggam jemarinya, lalu perlahan menarik tangannya kembali. Wajahnya yang cantik nampak pucat, dan ada gurat kesedihan yang mendalam di matanya.
"Mas Yoga... terima kasih untuk semuanya. Tapi hatiku masih milik Mas Arka. Aku tidak bisa memberikan apa yang Mas minta," ucap Anindya lirih, suaranya nyaris pecah.
"Menikahimu hanya karena janji pada almarhum sahabatmu bukan hal yang benar. Aku bukan barang yang bisa diwariskan, dan aku tidak ingin menjadi alasan hancurnya rumah tanggamu."
Yoga ingin membantah, ingin menjelaskan bahwa cintanya murni, bukan sekadar beban amanah. Namun, ia melihat keteguhan di mata Anindya. Dengan gerakan cepat, Anindya memutar kursi rodanya, membelakangi Yoga.
"Tanda tangan kontrak sudah selesai melalui Dokter Firdaus tadi. Tugas saya di sini sudah berakhir," tutup Anindya dingin, meski hatinya terasa seperti teriris.
Tak lama kemudian, Cakra datang menjemput. Tanpa ada kata perpisahan yang manis, Anindya dan Cakra meninggalkan gedung Rumah Sakit Sentral Medika menuju bandara untuk kembali ke Surabaya. Anindya terus menunduk selama perjalanan, mencoba mengubur dalam-dalam bayangan Yoga yang berlutut di depannya.
Yoga berdiri di lobi lantai atas, menatap mobil yang membawa Anindya menjauh hingga menghilang di antara kemacetan Jakarta. Sorot matanya tidak lagi dingin atau ketus; hanya ada cinta, kerinduan, dan tekad yang membara di sana.
"Kamu boleh menolakku hari ini, Anin. Tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku akan membebaskan diriku dulu, baru setelah itu aku akan mengejarmu dengan namaku sendiri," gumam Yoga pelan.
Begitu Anindya pergi, Yoga tidak membuang waktu. Ia masuk ke ruangannya dan memeriksa notifikasi bank di laptop. Sesuai kesepakatan kontrak besar yang baru saja ditandatangani, bonus dan keuntungan di muka telah cair.
Total Saldo: Rp 15.000.000.000,00
Angka itu akhirnya genap. Lima belas miliar rupiah, harga dari setiap sekolah, makan, dan fasilitas yang diberikan keluarga Raharjo kepadanya selama bertahun-tahun.
Yoga mencetak bukti transfer tersebut dan menyelipkannya ke dalam sebuah map hitam bersama surat gugatan cerai yang sudah ia tanda tangani di atas materai.
Yoga merapikan jasnya, mengambil map tersebut, dan berjalan menuju ruang kerja Dokter Reza dengan langkah yang sangat ringan. Penjara emas itu akan terbuka pintunya hari ini juga.
Suasana di ruangan Dokter Reza mendadak mencekam. Yoga meletakkan map hitam berisi bukti transfer sebesar lima belas miliar rupiah dan dokumen perjanjian pelunasan di atas meja kerja kayu mahoni yang mewah itu.
"Ini adalah seluruh biaya yang keluarga Anda keluarkan untuk hidup dan pendidikan saya, termasuk bunga dan inflasinya. Hari ini, saya kembalikan semuanya tanpa sisa," ujar Yoga dengan suara yang sangat tenang namun bertenaga.
Dokter Reza menatap angka-angka itu dengan mata berkaca-kaca. "Yoga... Papa tidak pernah menganggap ini utang. Papa tulus menyekolahkanmu karena bakatmu, bukan untuk ditagih seperti ini."
"Saya tahu Papa tulus, tapi tidak dengan Ibu Kanaya," balas Yoga datar. "Dan saya tidak bisa lagi bertahan dalam sandiwara ini. Saya menggugat cerai Dinda. Dia telah berselingkuh dengan pria bernama Kenji selama ini. Pernikahan ini hanya cangkang kosong yang menyiksa saya."
Mendengar pengakuan jujur yang menghujam itu, Dokter Reza terperanjat. Ia memegangi dadanya yang mendadak sesak, napasnya memburu. Di saat yang bersamaan, pintu ruangan terbuka kasar. Ibu Kanaya masuk dan menjerit melihat suaminya yang sudah pucat pasi menahan sakit.
"Yoga! Apa yang kamu lakukan pada suamiku?!" teriak Kanaya panik sambil memeluk Dokter Reza yang sedang berjuang mengatur napas.
Yoga tidak gentar. Ia menyodorkan lembar bukti pelunasan tepat di depan wajah Kanaya.
"Lihat ini, Bu Kanaya. Anda selalu merendahkan keluarga saya karena masalah uang. Sekarang, harga diri saya sudah saya beli kembali secara tunai. Lima belas miliar. Jangan pernah lagi menyebut keluarga saya berutang budi pada Anda," ucap Yoga dengan tatapan yang membuat Kanaya bungkam seketika.
Yoga kemudian menoleh ke arah Dokter Reza yang mulai dibantu tabung oksigen kecil oleh asisten medis yang masuk.
"Papa, maafkan saya harus melakukan ini sekarang. Saya sangat menghormati Papa, tapi saya harus pergi untuk menyelamatkan nyawa saya sendiri."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari Kanaya yang masih terpaku antara rasa marah dan malu karena rahasia perselingkuhan Dinda terbongkar, Yoga berbalik arah. Ia melepaskan jas dokter yang bertuliskan nama rumah sakit itu dan meletakkannya di sandaran kursi.
"Mulai hari ini, saya bukan lagi bagian dari rumah sakit ini, dan bukan lagi menantu keluarga Dewi. Saya pamit," tegas Yoga.
Yoga berjalan keluar menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah lebar. Ia tidak membawa apa pun selain kunci mobil dan ponselnya. Semua fasilitas dari keluarga Dewi ditinggalkannya begitu saja.
Di parkiran, ia segera melajukan mobilnya meninggalkan Jakarta yang penuh dengan kepura-puraan. Tujuannya hanya satu: Surabaya. Ia ingin berada dekat dengan Anindya, meskipun wanita itu masih menutup pintu hati. Baginya, melihat Anindya dari jauh sambil membangun kembali kerajaannya di Aditama Yoga Medika jauh lebih membahagiakan daripada menjadi direktur di penjara emas Jakarta.
Langkah Yoga terhenti tepat di ambang pintu saat mendengar suara tubuh terjatuh dan teriakan histeris Kanaya. Naluri dokternya mengalahkan segala amarah dan dendam. Ia berbalik kilat, melihat Dokter Reza sudah terkulai tidak sadarkan diri di atas lantai.
"Om Firdaus! Cepat ke sini!" teriak Yoga memanggil Dokter Firdaus yang berada di ruangan sebelah.
Kanaya menangis meraung-raung, mencoba memeluk suaminya, namun Yoga dengan tegas menariknya menjauh. "Ibu, jangan kerumuni dia! Dia butuh oksigen!"
Pergulatan Antara Dendam dan Sumpah Dokter
Dokter Firdaus berlari masuk dengan wajah pucat pasi. Ia melihat kondisi kakaknya yang sudah membiru. Dengan tangan gemetar, Firdaus menahan lengan Yoga saat Yoga hendak melangkah pergi setelah memastikan bantuan medis tiba.
"Yoga, saya mohon... jangan pergi sekarang," pinta Firdaus dengan mata berkaca-kaca. "Kamu dokter spesialis penyakit dalam terbaik yang kita punya.
Hanya kamu yang tahu riwayat medis lengkap Reza selama setahun terakhir. Tolong selamatkan kakak saya, Yoga. Demi kemanusiaan, bukan demi hutang budi."
Yoga menatap wajah Dokter Reza yang pucat. Di kepalanya terlintas semua kebaikan pria itu. Meskipun keluarganya beracun, Reza tetaplah mentor yang menyayanginya seperti anak kandung. Yoga menghela napas panjang, melepaskan tasnya, dan kembali mengenakan sarung tangan medis.
"Bawa ke ruang tindakan sekarang! Siapkan alat kejut jantung dan hubungi dokter spesialis jantung senior!" perintah Yoga, kembali ke mode dokter yang dingin dan cekatan.
Di ruang tindakan, suasana sangat tegang. Yoga bekerja sama dengan tim spesialis jantung. Ia memberikan instruksi dengan sangat presisi, menyuntikkan obat-obatan darurat, dan memantau monitor dengan mata tajam.
"Detak jantung tidak stabil! Lakukan defribilasi!" seru Yoga.
Setiap kali monitor menunjukkan garis lurus, jantung Yoga ikut mencelos. Namun, berkat ketenangan dan keahlian Yoga yang luar biasa dalam mendiagnosa komplikasi organ dalam yang menyertai serangan jantung tersebut, kondisi Dokter Reza perlahan mulai stabil.
Setelah tiga jam yang melelahkan, grafik di monitor akhirnya menunjukkan ritme yang teratur. Dokter Reza berhasil melewati masa kritisnya.
Yoga keluar dari ruang tindakan dengan peluh yang membasahi keningnya. Firdaus langsung menghampirinya dan memeluk Yoga dengan erat. "Terima kasih, Yoga... terima kasih. Kalau bukan karena kecepatan tanganmu, kakakku sudah tidak ada."
Kanaya, yang berdiri di pojok ruangan, hanya bisa menunduk malu. Ia tidak berani menatap mata Yoga—pria yang baru saja dihina dan diusirnya, justru menjadi malaikat penolong bagi suaminya.
Yoga melepaskan masker medisnya.
Wajahnya nampak sangat lelah. "Om Firdaus, Dokter Reza sudah stabil. Tapi ingat, ini adalah tugas terakhir saya di rumah sakit ini. Saya menyelamatkannya sebagai bentuk penghormatan terakhir saya kepada seorang guru."
Yoga menatap Kanaya sebentar, lalu kembali menatap Firdaus. "Jangan biarkan Dinda memberitahu kabar buruk apa pun lagi padanya untuk sementara waktu jika Om ingin dia tetap hidup."
Setelah itu, Yoga benar-benar melangkah pergi. Ia merasa tugasnya di Jakarta telah tuntas secara paripurna, baik secara finansial maupun secara moral. Dengan perasaan yang benar-benar plong, ia masuk ke dalam mobilnya dan mulai mengemudi menjauhi Jakarta, membiarkan angin malam membawanya menuju satu tujuan pasti: Mengejar maaf dan cinta Anindya di Surabaya.