Di jagat hiburan, nama Leonard Abelano bukan sekadar aktor, dia adalah jaminan rating. Setiap drama yang dibintanginya pasti menyentuh angka dua digit. Leo, begitu publik memanggilnya, punya segalanya: struktur wajah yang dipahat sempurna, status pewaris takhta bisnis Abelano Group, dan sebuah reputasi yang membuatnya dijuluki "Duta Kokop Nasional."
Bagi penonton, cara Leo mencium lawan mainnya adalah seni. Namun bagi Claire Odette Aimo, itu adalah ancaman kesehatan masyarakat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Altar di Tepi Samudra
Hari yang dinantikan oleh seluruh penjuru New York akhirnya tiba. Langit di atas pulau pribadi tempat pemberkatan berlangsung tampak biru bersih, seolah alam pun merestui penyatuan dua dinasti besar ini.
Suasana upacara sangat intim namun luar biasa mewah. Karpet putih panjang membentang menuju altar yang dihias dengan jutaan bunga lili putih dan mawar langka. Leo berdiri di sana, tampak sangat gagah dengan tuksedo putih gading yang membuatnya terlihat seperti pangeran dari negeri dongeng. Wajahnya yang biasa terlihat angkuh di layar kaca, kini tampak tegang dan penuh haru.
Saat pintu besar terbuka, musik orkestra mulai memainkan melodi yang megah. Claire muncul, digandeng oleh ayahnya. Ia tampak seperti dewi dalam balutan gaun berliannya yang berkilau di bawah sinar matahari.
Cadar tipis menutupi wajah cantiknya, namun binar matanya tidak bisa disembunyikan.
Begitu Tuan Aimo menyerahkan tangan Claire kepada Leo, Leo membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh Claire.
"Kamu benar-benar ingin membuatku gila dengan kecantikanmu, ya?"
Di depan pendeta dan keluarga besar, mereka mengucapkan janji suci. Suara Leo yang berat terdengar sangat stabil namun penuh emosi saat berjanji untuk menjaga Claire selamanya. Saat giliran Claire, suaranya sedikit bergetar, menunjukkan sisi rapuhnya yang hanya ia tunjukkan pada pria di hadapannya.
"Dengan cincin ini, aku menyerahkan seluruh duniaku padamu," ucap Leo sambil menyematkan cincin berlian 15 karat di jari manis Claire.
"Dan dengan cintaku, aku akan menjadi rumah bagimu," balas Claire lembut.
Saat pendeta mempersilakan Leo mencium mempelai wanita, Leo tidak hanya mencium bibir Claire dengan lembut, ia mengangkat tubuh Claire dan memutarnya, membuat gaun berlian itu berkilau indah tertimpa cahaya.
Sorak-sorai keluarga dan sahabat pecah, menandai lahirnya pasangan paling berpengaruh di abad ini.
Hari pernikahan itu ditutup dengan pesta kembang api yang mewarnai langit Manhattan, namun bagi Leo dan Claire, pesta yang sebenarnya baru saja dimulai saat pintu Penthouse pengantin baru mereka tertutup rapat.
Suasana di dalam kamar pengantin mereka sangat berbeda dari kemegahan resepsi tadi. Hanya ada cahaya temaram lilin aromaterapi dan harum ribuan bunga mawar putih yang memenuhi ruangan.
Leo tidak lagi memakai jasnya, ia hanya mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya sudah terbuka, sementara Claire masih berdiri di depan cermin besar, mencoba membuka ritsleting gaun berliannya yang rumit.
Leo berjalan mendekat, bayangannya menyatu dengan Claire di cermin. Ia menggeser tangan Claire dan mengambil alih tugas itu.
"Biarkan aku, Wife," bisik Leo. Kata 'istri' yang pertama kali diucapkannya membuat bulu kuduk Claire merinding.
Saat ritsleting itu turun perlahan, menyingkap punggung mulus Claire yang selama ini menjadi candu bagi Leo, Leo tidak bisa menahan diri lagi.
Ia menciumi pundak Claire, memberikan tanda-tanda baru yang lebih dalam di atas kulit yang putih bersih itu.
Leo memutar tubuh Claire, mengangkatnya ke atas meja rias yang penuh dengan botol parfum mewah.
Tanpa jarak, Leo menatap mata Claire dengan intensitas yang meluap-luap.
"Malam ini, tidak ada kamera, tidak ada bisnis, dan tidak ada orang tua yang mengganggu," ujar Leo dengan suara serak.
"Malam ini hanya ada aku yang akan memujamu sampai pagi."
Claire menarik kerah kemeja Leo, membawanya ke dalam ciuman yang sangat menuntut. Rasa lelah setelah berdiri seharian di pelaminan seolah sirna, digantikan oleh adrenalin gairah yang membakar.
Mereka berpindah ke ranjang besar yang sudah ditaburi kelopak mawar. Leo menjelajahi setiap inci tubuh Claire dengan penuh rasa lapar, seolah ia ingin menghafal setiap lekuk tubuh istrinya.
Claire pun tidak tinggal diam, jemarinya meremas rambut Leo, dan sesekali kukunya yang cantik kembali meninggalkan jejak-jejak kemerahan di punggung dan dada Leo, menandai wilayah kekuasaannya.
Gairah mereka mencapai titik didih saat Leo bergerak dengan ritme yang dominan namun penuh cinta.
Suara desahan Claire memenuhi ruangan, memanggil nama Leo berulang kali.
"Leo... ah, lebih dalam..." rintih Claire, matanya terpejam erat menikmati setiap sentuhan suaminya.
Leo, yang ingin memberikan malam yang tak terlupakan, menuruti setiap keinginan Claire. Ia memuaskan istrinya dengan berbagai cara, memberikan sensasi yang membuat Claire merasa terbang ke awan.
Di saat-saat terakhir menuju puncak, Leo berbisik di telinga Claire, "Aku milikmu sepenuhnya, sekarang dan selamanya."
Mereka mencapai klimaks bersama dalam pelukan yang begitu erat, seolah raga mereka telah melebur menjadi satu.
Namun, malam itu tidak berakhir di sana. Leo, dengan stamina yang seolah tak ada habisnya, kembali memulai ronde-ronde berikutnya.
"Kamu bilang ingin malam yang panjang, kan?" goda Leo saat Claire mengira mereka sudah selesai.
Claire hanya bisa tertawa lemas di tengah ciuman mereka. "Kamu benar-benar tidak memberi ampun, Abelano."
Matahari mulai mengintip dari balik gedung-gedung pencakar langit saat mereka akhirnya benar-benar tertidur dalam keadaan saling mendekap.
Leo memeluk Claire dari belakang, menyembunyikan wajahnya di leher istrinya yang kini penuh dengan jejak cinta.
Malam panjang itu telah membuktikan satu hal, hubungan mereka bukan sekadar persatuan dua perusahaan besar, melainkan api gairah yang tidak akan pernah padam.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
keren....