NovelToon NovelToon
Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Kecelakaan Itu Bukan Kebetulan

Status: sedang berlangsung
Genre:TKP / Horror Thriller-Horror / Action / Misteri / Detektif
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rin Arunika

Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.

Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.

Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?

Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?

🍀🍀🍀

Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Tetangga Baru

Untuk pulang menuju kostnya, Naya harus menempuh perjalanan selama hampir satu jam lamanya dengan menggunakan transportasi umum. Hal itu terjadi karena jalanan sering kali macet. Sebenarnya, waktu yang Naya tempuh bisa hanya sekitar setengah jam saja jika lalu lintas benar-benar lancar. Namun sebelum itu, Naya harus terlebih dulu berjalan kaki menuju pemberhentian bus terdekat dari kantornya. Jaraknya hanya sekitar sepuluh menit berjalan kaki.

Untung saja Naya tinggal di sebuah kost yang berada tepat di pinggir jalan raya, persis juga di sebelah pemberhentian bis.

Setelah ia tiba di tempat tinggalnya, Naya segera merebahkan tubuhnya pada kasur yang berada di sudut kamarnya.

Keheningan yang menemaninya setiap malam sering kali membuatnya teringat pada Astrid.

Bagaimana kabar wanita baik hati itu? Apa yang sedang dilakukannya? Siapa yang menemaninya? Di mana Astrid berada saat ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul dalam benak Naya.

TING...!

TING...!

TING...!

Ponsel yang Naya letakkan di sebelahnya itu beberapa kali berbunyi menandakan terdapat sejumlah pesan yang masuk.

Eko OB || Mlm bu.

Eko OB || Ma’v ganggu.

Eko OB || bsk mlm jalan yu? mlm mingguan, hehee

Kedua bola mata Naya membulat seperti mau loncat dari tempatnya setelah membaca isi pesan yang muncul dari bilah notifikasi ponselnya.

“Astaga... Orang ini…” Naya masih terkejut dengan pesan yang Ia terima.

“Untung aja besok libur, Senin juga mulai WFH. Gak enak hati kalau sampai papasan,” ucap Naya seraya meletakkan kembali ponselnya. Ia bahkan belum benar-benar membuka pesan yang diterimanya barusan.

Kedua matanya kembali ia pejamkan sambil melepaskan semua energi negatif yang ia rasakan. Naya tengah mencari ketenangan diantara sepi yang mendominasi.

BUGH!

BUGH!

BUGH!

Namun lagi-lagi ketenangan yang hampir ia dapatkan itu menguap begitu saja ketika Naya mendengar seseorang di ruangan sebelah tengah membenturkan sesuatu ke dinding.

“Ya ampun... Emang harus banget malu jam segini?” gerutunya sebal.

Dengan kesadaran penuh, Naya bangkit dan balas memukul tembok pembatas yang tak kedap suara itu. Satu kali pukulan dirasanya akan cukup untuk ‘menegur’ orang di ruangan sebelah.

Benar saja. Setelah ‘teguran’ itu Naya berikan, kini ia tak lagi mendengar suara hantaman yang tadi sempat mengusik ketenangannya.

“Eh bentar...” kedua mata Naya kembali terbelalak. Naya baru ingat bahwa ruangan di sebelahnya itu telah ditinggalkan penghuninya selama sekitar satu bulan lamanya.

Artinya ruangan kosong di sebelahnya itu kembali berpenghuni dan Naya menyapa tetangga barunya itu dengan sebuah pukulan keras.

“Hmp. Ya udah,l lah.” Naya lebih memilih tak memikirkan hal itu. Lagi pula, siapa suruh dia yang terlebih dulu memulai. Begitu kira-kira isi kepala Naya.

#

Sebelum matahari terbit menjadi bulat sempurna dan suasana bertambah ramai, Naya telah menyelesaikan putaran terakhirnya berlari mengelilingi komplek perumahan mewah yang tak jauh dari tempat tinggal sederhananya. Naya memilih lokasi itu bukan hanya karena ia ingin melihat-lihat kemewahan orang lain. Lokasi di sana cenderung sepi dan jaraknya terbilang dekat dari tempat tinggal Naya. Sangat cocok untuk mengumpulkan jumlah langkah kaki pada aplikasi olahraga.

Berolah raga sambil menatap kemewahan yang dimiliki orang lain terkadang membuat imajinasi Naya bertumbuh liar.

‘Seandainya ia memiliki rumah semewah itu, berapa lama waktu yang dihabiskan untuk menyapu lantai dan mengepelnya...’ Ah, benar-benar imajinasi yang liar yang harus dihilangkan.

Ketika Naya tiba di sekitar tempat tinggalnya, ia sempat terdiam saat melihat seorang pria tengah meletakkan sebuah dus tak jauh dari pintu kontrakan yang Naya tempati.

“Kak Addam?” gumam Naya sambil terus menatap pria yang tengah berjalan hendak menuruni anak tangga.

Salah satu ruangan dari bangunan dua lantai dengan empat pintu berjejer rapi di tiap lantainya itu adalah tempat Naya pulang untuk saat ini. Sudah tentu tangganya berada di luar karena memang itulah akses yang dibutuhkan dan digunakan para penghuni di sana.

Ruangan Naya berada paling ujung di lantai dua sana, dan pria yang ia sebut ‘Addam’ itu terbukti adalah tetangga barunya.

Lalu tanpa menunggu lama, Naya berjalan mendekati dua buah dus lain yang masih berada di halaman.

“Kak Addam?” Naya akhirnya menyapa pria yang baru kembali ke tempat kedua dus itu berada.

“Hei? Naya, ya?” pria itu pun tampak mengenali Naya. Segera saja ia mengulurkan tangan dan menyambut baik kehadiran wanita di hadapannya. “Apa kabar?”

“Baik, Kak. Kak Addam apa kabar?” Naya membalas uluran tangan Addam.

“Baik. Kamu lagi apa di sini, Nay?” Addam balas bertanya.

“Saya tinggal di sini, Kak. Tuh di pojok, atas.”

“Oalah... Jadi kita tetanggaan, nih. Salam kenal, tetangga baru...” Addam terkekeh.

Naya ikut tersenyum mendengar ucapan Addam barusan.

Addam Walter, pria tampan berhidung mancung dan bertubuh tinggi itu merupakan kakak tiri Astrid–sahabat baik Naya.

Sedikit cerita.

Addam dan Astrid adalah dua orang asing yang tak sengaja menjadi saudara karena ikatan pernikahan orang tua mereka.

Ketika Addam berusia sepuluh tahun, kedua orang tuanya bercerai dan hak asuh Addam jatuh ke tangan ayahnya. Dulu mereka tinggal di luar negeri. Tapi tak lama setelah perceraiannya, Ayah Addam yang bernama David mengajak putra semata wayangnya itu untuk pergi dan menetap di Indonesia. Baik Addam maupun David, keduanya sama-sama tak pernah lagi berkomunikasi dengan Lilianne, Ibu kandung Addam, mantan istri David.

Lilianne seolah menghilang ditelan bumi.

Tiga tahun kemudian, Ayah Addam menikahi seorang wanita yang telah memiliki putri kecil yang berusia delapan tahun. Bisa ditebak, anak kecil itu adalah Astrid. Jadi, Addam dan Astrid memiliki perbedaan usia sekitar lima tahun.

Ayah Addam, Addam, Ibu Astrid dan Astrid, mereka hidup menjadi keluarga bahagia dan berkecukupan. Namun, kebahagiaan keluarga kecil itu seolah lenyap ketika Ibu Astrid meninggal dunia karena penyakit kanker yang dideritanya.

Sejak saat itu, David memilih untuk melanjutkan hidupnya sebagai orang tua tunggal dan fokus mengurus kedua anaknya yang saat itu masih remaja.

Ketika Astrid telah menyelesaikan pendidikannya, gadis itu memutuskan menjadi seorang guru mengikuti jejak mendiang ibunya. Memiliki hobi menulis ceritalah yang kemudian mengantarkan Astrid pada pertemuannya dengan Naya, seorang editor naskah yang lambat laun berubah menjadi sahabat karibnya.

Sementara itu, Addam memilih karirnya sendiri sebagai staf di sebuah perusahaan. Karena hal itulah Addam bisa mengenal sosok Naya meski mereka tak begitu dekat.

Kembali lagi pada area hunian sederhana di pinggir jalan itu, kali ini Naya dan Addam telah berada di tempat tinggal mereka masing-masing.

Addam sibuk menata barang bawaannya yang tak seberapa itu sementara Naya terlihat mengoperasikan laptopnya dengan serius.

“Astrid… Kamu di mana sih…” Naya berbicara sendiri sambil mengetikkan sesuatu pada laptopnya.

Saat itu Naya tengah mengakses internet dan menyelami berita tentang ‘Kasus Orang Hilang di Jakarta’ yang ia tulis di kotak pencarian. Namun hingga matanya terasa perih karena terlalu lama menatap laptop-pun tetap saja Naya belum menemukan sesuatu yang baru.

1
nurul supiati
berarti memang dia nyamar jadi beberapa orang yakkk hihihi
Flyrxn: ayooo udah mulai ketebak belum.../Proud/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!