Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Meskipun rasa lelah terus menghampiri, aku tidak menyerah untuk mempromosikan daganganku—ayam geprek yang kini menjadi harapan terakhirku.
Setiap pagi, setelah memastikan kandunganku baik-baik saja, aku mulai menyiapkan bahan. Mengulek sambal dengan napas yang kadang tersengal, menggoreng ayam dengan hati-hati agar tidak terlalu lama berdiri. Perutku semakin membesar, tapi tekadku jauh lebih besar dari itu.
Aku berjualan menggunakan sepeda motor milik Arumi. Motor itu bukan sekadar kendaraan, tapi saksi perjuanganku. Dengan membawa kotak berisi pesanan, aku berkeliling dari satu gang ke gang lain. Kadang panas menyengat, kadang hujan tiba-tiba turun tanpa aba-aba.
Namun aku tidak berhenti.
Untungnya, aku memiliki sahabat seperti Arumi. Dia bukan hanya teman, tapi seperti saudara yang dikirim Tuhan untuk menjagaku. Perhatiannya membuatku merasa tidak sendirian.
“Udah, kamu jangan yang jauh-jauh. Biar aku aja yang antar,” katanya setiap kali ada pesanan di luar kecamatan.
Bahkan kalau delivery yang agak jauh, Arumi yang membawanya. Tanpa mengeluh. Tanpa pamrih.
Kadang aku menatapnya diam-diam, hatiku menghangat. Di saat seseorang yang dulu berjanji menjagaku malah menjatuhkan, justru Arumi yang berdiri paling depan membelaku.
Aku sadar, mungkin hidupku sedang diuji. Tapi selama aku masih bisa berdiri, selama tanganku masih bisa menggoreng ayam dan mengulek sambal, aku tidak akan menyerah.
Siang itu aku sedang menunggu pembeli di pinggir jalan. Motor milik Arumi terparkir sederhana di bawah pohon yang tak terlalu rindang. Kotak ayam geprek masih hangat, uapnya tipis terlihat saat aku membuka sedikit tutupnya.
Tiba-tiba suara mobil berhenti tak jauh dariku.
Aku tidak terlalu peduli… sampai terdengar suara yang sangat familiar.
“Rania?”
Jantungku langsung bergetar.
Aku menoleh.
Monika turun dari mobilnya. Penampilannya anggun, elegan, sempurna—seperti biasa. Di sampingnya ada dua temannya yang terlihat sama mewahnya.
Dia tersenyum… tapi bukan senyum hangat. Senyum yang penuh kemenangan.
“Jadi ini kehidupan barumu?” tanyanya sambil melirik kotak daganganku.
Aku diam. Menahan diri.
Temannya berbisik cukup keras untuk kudengar,
“Bukannya dia istri kedua ya dulu? Kok sekarang begini?”
Tawa kecil terdengar.
Monika melangkah mendekat.
“Aku harusnya berterima kasih ya… karena kamu, aku dan Bram justru jadi lebih kuat.”
Kalimat itu seperti pisau yang perlahan diputar di dadaku.
“Sekarang kamu sadar kan? Posisi istri pertama itu nggak akan pernah tergantikan.”
Aku menggenggam ujung bajuku erat.
Dulu… aku terlalu bodoh untuk tidak memahami sepenuhnya rumitnya hubungan mereka. Aku pikir cintaku cukup. Aku pikir aku dipilih.
Ternyata… aku hanya persinggahan.
“Kenapa diam?” lanjut Monika. “Nggak ada lagi mobil mewah? Nggak ada lagi kartu yang bisa kamu pakai?”
Teman-temannya kembali tertawa.
Aku menatapnya pelan.
“Kalau kamu memang sudah menang, untuk apa masih repot menghampiriku?”
Wajah Monika sedikit berubah.
“Aku nggak merasa kalah, Mon,” lanjutku pelan tapi tegas. “Aku hanya sedang memulai ulang hidupku. Bedanya, sekarang aku nggak merebut apa pun dari siapa pun.”
Mata Monika menajam.
“Aku memang bukan istri pertama,” kataku lagi, menahan getar di suara. “Tapi setidaknya aku pergi dengan harga diri.”
Beberapa orang mulai melirik ke arah kami.
Monika terlihat tidak nyaman.
Sebelum masuk ke mobilnya, dia berbisik,
“Bram nggak akan pernah kembali ke perempuan seperti kamu.”
Aku tersenyum kecil.
“Aku juga nggak sedang menunggunya.”
Mobil itu pergi.
Aku terduduk kembali di jok motor, napasku tidak teratur. Perutku terasa sedikit menegang karena emosi.
Aku mengelusnya pelan.
“Nak… mungkin ibu pernah salah langkah. Tapi ibu tidak akan salah lagi.”
Angin siang itu terasa panas. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak merasa kecil di hadapan Monika.
Karena kali ini… aku berdiri bukan sebagai bayangan siapa pun.
Belum sempat air mataku benar-benar jatuh, suara motor berhenti di depanku.
“Mbak, ini yang ayam geprek level tiga, ya?”
Aku langsung tersadar. Cepat-cepat menghapus sudut mataku dan memasang senyum terbaik yang kupunya.
“Iya, Kak. Ini pesanannya.”
Tanganku masih sedikit gemetar saat menyerahkan bungkusan itu. Tapi aku pastikan suaraku terdengar biasa saja. Pelanggan itu tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Dan memang tidak perlu tahu.
Setelah transaksi selesai, aku menarik napas panjang.
Sakitnya masih ada. Kata-kata Monika masih terngiang jelas di telingaku. Tapi hidup tidak berhenti hanya karena seseorang merendahkanku.
Aku menyalakan motor milik Arumi.
Kotak daganganku masih tersisa beberapa porsi. Hari masih panjang. Dan aku tidak punya waktu untuk larut dalam luka.
Perlahan aku kembali berkeliling, menawarkan daganganku dari gang ke gang.
“Ayam geprek… ayam geprek…”
Suaraku mungkin tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat beberapa orang menoleh. Ada ibu-ibu yang memesan dua bungkus. Ada anak sekolah yang membeli satu porsi dengan uang receh di tangannya.
Setiap transaksi kecil itu seperti obat untuk hatiku.
Mungkin aku bukan lagi perempuan yang turun dari mobil mewah.
Mungkin aku hanya penjual ayam geprek di pinggir jalan.
Tapi setiap rupiah yang masuk ke tanganku hari ini adalah hasil keringatku sendiri.
Dan itu jauh lebih berharga.
Sebelum matahari mulai condong ke barat, daganganku hampir habis. Aku berhenti sebentar di bawah pohon, tersenyum kecil melihat kotak yang kini nyaris kosong.
“Habis juga…” gumamku pelan.
Langit mulai menguning saat aku menyadari perutku terasa berbeda.
Awalnya hanya seperti kram ringan. Aku pikir hanya lelah biasa karena terlalu lama duduk di motor. Tapi beberapa menit kemudian, rasa itu datang lagi.
Lebih kuat.
Aku spontan meringis dan memperlambat laju motor.
“Ya Allah…” bisikku pelan.
Napas mulai terasa berat. Tanganku bergetar saat menepikan motor di pinggir jalan yang tidak terlalu ramai. Aku mematikan mesin dan memegang perutku yang mengencang.
Kontraksi ringan… tapi cukup membuatku panik.
“Tenang, Nak… jangan sekarang… jangan dulu…” gumamku sambil mengelus perut.
Keringat dingin mulai turun di pelipisku. Aku mencoba duduk tegak, tapi rasa nyeri itu datang lagi, membuatku sedikit membungkuk.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tak jauh dariku.
Aku tidak terlalu memperhatikan… sampai seseorang memanggil namaku.
“Rania?!”
Aku mendongak pelan.
Leon.
Dia turun dengan wajah panik dan langsung menghampiriku.
“Kamu kenapa?” tanyanya cepat.
“Aku… cuma kram sedikit… mungkin kecapekan,” jawabku, mencoba tersenyum tapi gagal.
Leon langsung berlutut di depanku, memperhatikan wajahku yang pucat.
“Kamu pucat banget. Ini bukan cuma kram biasa kan?” suaranya berubah serius.
Aku tak bisa lagi menahan ekspresi kesakitan saat kontraksi itu datang lagi.
Leon tanpa banyak bicara langsung memegang setang motorku.
“Kamu nggak bisa lanjut jualan. Masuk mobil sekarang.”
“Leon… daganganku…” lirihku lemah.
“Dagangannya bisa dipikir nanti. Kamu dan bayi itu lebih penting.”
Nada suaranya tegas… tapi penuh kekhawatiran.
Aku menatapnya sekilas.
Di saat orang yang dulu berjanji menjagaku justru menjatuhkanku, lelaki ini selalu muncul ketika aku hampir jatuh.
Leon membantuku berdiri perlahan dan menggandengku ke mobilnya. Tangannya hangat, hati-hati sekali seolah aku barang yang rapuh.
“Aku antar kamu ke klinik,” katanya.
Aku menggeleng lemah.
“Mungkin cuma kontraksi palsu…”
“Lebih baik kita pastikan.”
Mobil pun melaju perlahan.
****