NovelToon NovelToon
Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Cintaku Nyangkut Di Utang Kopi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita / Romansa / Komedi / Slice of Life / Urban
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Gia mengira hidupnya sudah berakhir saat karier cemerlangnya di Jakarta hancur dalam semalam akibat fitnah dari mantan tunangannya, Niko. Pulang ke kampung halaman untuk menjaga kedai kopi tua milik ayahnya adalah pilihan terakhir untuk menyembuhkan luka.
Namun, kedai itu ternyata sarang para pengutang! Yang paling parah adalah Rian, tukang bangunan serabutan yang wajahnya selalu belepotan debu semen, tapi punya rasa percaya diri setinggi langit. Rian tidak punya uang untuk bayar kopi, tapi dia punya sejuta cara untuk membuat hari-hari Gia yang suram jadi penuh warna—sekaligus penuh amarah.
Saat Gia mulai merasa nyaman dengan kesederhanaan desa dan aroma kopi yang jujur, masa lalu yang pahit kembali datang. Niko muncul dengan kemewahannya, mencoba menyeret Gia kembali ke dunia yang dulu membuangnya.
Di antara aroma espresso yang pahit dan senyum jail pria tukang utang, ke mana hati Gia akan berlabuh? Apakah kebahagiaan itu ada pada kesuksesan yang megah, atau justru nyangkut di dalam d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Teror di Balik Pintu Kayu

Malam di desa ternyata tidak sesunyi yang Gia bayangkan. Memang tidak ada deru mesin bus atau klakson mobil yang saling bersahutan seperti di Jakarta, tapi suara jangkrik dan embusan angin yang menggoyang pepohonan bambu di belakang kedai sanggup membuat bulu kuduknya berdiri.

Gia baru saja selesai menghitung pendapatan hari ini yang tidak seberapa. Ia menguap lebar, bersiap untuk mengunci pintu kayu kedai yang sudah mulai dimakan usia. Namun, saat tangannya baru saja menyentuh palang pintu, sebuah ketukan keras mengejutkannya.

Tok! Tok! Tok!

Jantung Gia berdegup kencang. Ini sudah hampir jam sepuluh malam. Ayahnya sudah tidur di rumah utama yang terletak beberapa meter di belakang kedai. Tidak biasanya ada orang bertamu selarut ini.

"Siapa?" tanya Gia dengan suara sedikit bergetar.

Tidak ada jawaban. Hanya ada suara napas berat dari balik pintu. Gia memberanikan diri mengintip dari celah kayu. Di sana, di bawah remang lampu jalan, berdiri dua orang pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam. Mereka bukan Rian, bukan juga orang desa yang ia kenal.

"Nona Gia? Kami punya pesan dari Tuan Niko," salah satu dari mereka bersuara. Suaranya dingin, seperti mesin.

Gia mundur selangkah. Tangannya mencari-cari apa saja yang bisa dijadikan senjata, dan ia hanya menemukan sebuah tamper kopi—besi berat untuk memadatkan bubuk kopi. "Sampaikan pada tuan kalian, aku tidak mau bicara! Pergi atau aku teriak!"

"Tuan Niko hanya ingin Anda berpikir ulang, Nona. Jangan sampai tempat usaha ayah Anda ini mengalami 'kecelakaan' hanya karena Anda keras kepala," ancam pria itu lagi. Salah satu dari mereka menendang pintu bawah dengan keras, membuat debu-debu tua berjatuhan dari langit-langit.

Gia memejamkan mata, ketakutan mulai merayap di dadanya. Ia merasa sendirian dan tak berdaya. Di kota dulu, ia punya satpam kantor. Di sini? Ia hanya punya pintu kayu yang hampir lapuk.

"Waduh, waduh... Ada apa ini? Malam-malam kok main tendang pintu orang? Mau pesan kopi atau mau latihan karate, Bang?"

Suara itu! Gia merasa beban di pundaknya mendadak terangkat.

Gia kembali mengintip. Rian berdiri di sana, masih dengan kaus oblongnya—tapi kali ini warnanya putih bersih. Ia membawa sebuah plastik hitam berisi martabak manis. Ekspresinya santai, seolah dua pria berotot di depannya itu hanyalah dua karung semen yang harus ia pindahkan.

"Jangan ikut campur, Gelandangan!" bentak salah satu anak buah Niko. "Pergi sebelum tulangmu kami buat bergeser."

Rian tertawa. Bukan tawa jail yang biasanya Gia dengar, melainkan tawa rendah yang terdengar sangat berbahaya. Ia meletakkan plastik martabaknya di atas pagar tanaman dengan sangat hati-hati.

"Duh, tulang saya sudah sering bergeser karena angkut bata, Bang. Jadi nggak usah repot-repot," Rian melangkah maju. "Begini saja, ini kan daerah saya. Kalau Abang-abang ini pergi sekarang, saya anggap kita nggak pernah ketemu. Tapi kalau masih di sini dalam hitungan ketiga..."

"Kenapa? Mau apa kamu?" tantang pria itu sambil melayangkan pukulan ke arah wajah Rian.

Gia menahan napas, hampir berteriak. Namun, apa yang terjadi selanjutnya membuat matanya membelalak.

Rian tidak menghindar jauh. Ia hanya memiringkan kepala sedikit, menangkap pergelangan tangan pria besar itu dengan satu tangan, lalu dengan satu gerakan cepat—yang tampak sangat terlatih—ia memutar tangan pria itu ke belakang punggungnya. Bunyi krek pelan terdengar, diikuti erangan kesakitan.

"Satu," ucap Rian tenang.

Pria satunya lagi mencoba menyerang dengan tendangan, tapi Rian dengan cekatan menggunakan tubuh rekannya sebagai tameng, lalu memberikan satu tendangan telak ke arah perut lawan hingga pria itu terjungkal ke semak-semak.

"Dua," lanjut Rian. Matanya kini berkilat tajam di bawah cahaya lampu jalan. "Mau lanjut ke angka tiga?"

Kedua pria itu saling pandang. Mereka menyadari bahwa pria berbaju lusuh ini bukan lawan sembarangan. Dengan langkah seribu dan napas tersengal, mereka lari menuju mobil yang terparkir agak jauh di kegelapan.

Suasana kembali hening. Rian menghela napas, lalu mengambil kembali martabak manisnya. Ia mengetuk pintu kedai dengan lembut. "Neng Gia? Sudah aman. Buka pintunya, martabaknya nanti dingin."

Gia membuka pintu dengan tangan gemetar. Ia menatap Rian seolah pria itu adalah alien. "Kamu... kamu tadi itu apa? Kamu bisa bela diri?"

Rian kembali ke mode "tukang utang" yang menyebalkan. Ia nyengir lebar. "Ah, cuma keberuntungan, Neng. Tadi saya cuma asal gerak, eh mereka yang terlalu lemah. Makanya, jangan cuma makan nasi kotak, sekali-kali makan singkong rebus biar kuat."

"Rian, aku serius!" Gia menarik lengan Rian. "Kamu bukan tukang bangunan biasa, kan? Gerakanmu tadi... itu bukan gerakan orang yang cuma angkut bata."

Rian terdiam sejenak, menatap Gia yang wajahnya pucat pasi. Ia mengulurkan tangan, lalu tanpa sadar mengusap kepala Gia dengan lembut—sebuah gerakan yang sangat manusiawi hingga membuat Gia tertegun.

"Neng Gia, di dunia ini ada orang yang memilih jadi 'kecil' supaya nggak perlu lihat hal-hal yang 'besar' dan kotor," bisik Rian. "Sudah, jangan dipikirkan. Nih, martabak kacang cokelat. Bayar pakai kopi besok pagi ya? Jangan dimasukkan catatan utang."

Gia menerima martabak itu, masih dengan sejuta tanya. Rian berbalik, berjalan pulang menembus kegelapan malam dengan santai.

Gia menutup pintu dan menguncinya. Malam ini, ia tahu satu hal pasti: Niko telah memulai perang, tapi ia juga baru menyadari bahwa pria yang berutang seribu rupiah di kedainya adalah seorang prajurit yang siap berdiri di garis depan untuk menjaganya.

1
Satri Eka Yandri
penasaran pov gia wktu di kota,di fitnah apa yah?
Sefna Wati: ayo baca bab selanjutnya kak
biar GK penasaran waktu gia di kota kenapa difitnah🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!