Ash adalah pria dari dunia lain yang datang tanpa misi heroik. Ia bercanda, bertarung, dan bertahan hidup dengan cara yang terasa terlalu santai untuk dunia yang penuh perang dan kebohongan. Namun di balik tawanya, ada sesuatu yang tersegel di dalam dirinya kekuatan purba yang mulai bangkit setiap kali ia kehilangan. Saat konflik antar kerajaan, malaikat, Naga, dan iblis memanas, Ash terjebak di pusat siklus kehancuran yang jauh lebih tua dari peradaban mana pun. Semakin kuat ia menjadi, semakin tipis batas antara manusia dan monster. Pada akhirnya, dunia tidak hanya bertanya apakah Ash bisa menyelamatkan mereka, tetapi apakah ia masih Ash yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 12 - KELUH KESAH
Pagi datang dengan suara burung yang sangat berisik. Atau mungkin bukan burung. Di dunia ini, Ash sudah belajar untuk tidak cepat berasumsi.
Dia membuka mata dan langsung meringis. Seluruh tubuhnya pegal. Bukan pegal biasa. Ini pegal level "habis lari marathon sambil dipukuli".
"Oh tidak," erangnya sambil mencoba duduk. "Ototku protes. Semuanya protes. Bahkan otot yang aku nggak tahu aku punya, ikut protes."
"Bangun," suara Razen terdengar dari luar tenda kecil yang mereka dirikan semalam. "Matahari sudah naik."
"Biarkan matahari naik sendiri," gumam Ash sambil memeluk selimut tipisnya. "Aku butuh lima menit lagi."
"Aku beri kau tiga menit. Kalau tidak keluar, aku siram dengan air dingin."
"Kau nggak akan berani—"
BYUUURRR!
Air dingin mengguyur Ash dari celah tenda. Dia melompat dengan teriakan yang mirip kucing kehujanan.
"RAZEN! APA-APAAN?!"
"Aku sudah peringatkan," sahut Razen dari luar dengan nada tanpa penyesalan.
Ash keluar dari tenda dengan pakaian basah dan rambut yang menempel di wajah. Dia menatap Razen dengan pandangan membunuh yang sama sekali tidak menakutkan.
"Ini penyiksaan. Aku akan lapor ke... ke siapa ya yang urus HAM di dunia ini?"
"Tidak ada," jawab Eveline yang sudah duduk di dekat api unggun yang baru dinyalakan. "Kau sudah tanya kemarin."
"Dunia yang tidak beradab," gerutu Ash sambil memeras bajunya. "Kalian tahu nggak sih, di duniaku ada yang namanya alarm. Bunyi pelan, membangunkan dengan lembut, nggak pakai siram-siram segala."
"Kedengarannya lemah," komentar Razen sambil mengulurkan sepotong roti kering. "Makan ini. Kita akan latihan lagi sebelum melanjutkan perjalanan."
"LAGI?!" Ash menatap roti itu dengan horor. "Ototku belum pulih! Aku butuh istirahat! Recovery time! Protein shake!"
"Protein apa?"
"Lupakan." Ash mengambil roti itu dengan lesu. "Ini penyiksaan. Aku lagi di boot camp neraka."
"Boot camp?" Eveline memiringkan kepala sedikit.
"Latihan militer intensif yang bikin orang menderita demi jadi lebih kuat." Ash menggigit rotinya. "Bedanya, di boot camp ada bayaran. Di sini aku cuma dapat roti batu dan air dingin di muka."
"Kau dapat ilmu bertahan hidup," koreksi Razen. "Itu lebih berharga dari bayaran."
"Bayaran bisa beli makanan enak. Ilmu bertahan hidup nggak bisa."
"Tapi ilmu bertahan hidup bikin kau tetap hidup untuk makan makanan enak di masa depan."
Ash membuka mulut untuk membalas, lalu menutupnya lagi. "Okay. Itu logika yang... Menyebalkan tapi masuk akal."
Razen tersenyum. "Sekarang habiskan rotimu. Kita mulai dalam sepuluh menit."
---
Sepuluh menit kemudian, Ash berdiri di lapangan terbuka dengan dua batang kayu di tangan. Satu untuk dia, satu untuk Razen. Eveline duduk di bebatuan di pinggir, mengamati sambil mengasah belatinya.
"Aturan hari ini berbeda," ucap Razen sambil mengambil posisi siaga. "Kemarin kau hanya menghindar. Hari ini, kau harus membalas."
"Membalas? Maksudnya mukul balik?"
"Tepat. Tapi tidak asal mukul. Kau harus cari celah di pertahananku."
Ash menatap Razen yang berdiri dengan postur sempurna, tidak ada celah yang terlihat. "Aku nggak lihat celah sama sekali."
"Karena kau belum bergerak." Razen mengangkat kayunya. "Celah muncul saat orang menyerang. Sekarang, coba serang aku."
"Serius?"
"Serius."
Ash menarik napas dalam. Okay. Ini kesempatan memukul Razen secara legal. Dia mengayunkan kayunya ke arah bahu Razen dengan kekuatan penuh.
PROK!
Razen menangkis dengan mudah, lalu balik menyerang. Kayunya menyambar kaki Ash.
"Aduh!" Ash melompat mundur sambil memegangi kakinya. "Itu sakit!"
"Itu karena kau terlalu fokus pada serangan dan melupakan pertahanan." Razen kembali ke posisi awal. "Lagi."
Ash menyerang lagi. Kali ini lebih hati-hati, tapi hasilnya sama. Razen menangkis dan membalas dengan pukulan ringan ke lengannya.
"Lagi."
"Aku mulai merasa ini bukan latihan tapi pembalasan dendam karena aku berisik kemarin," keluh Ash sambil menyerang lagi.
"Mungkin sedikit," jawab Razen sambil menangkis dan memukul perut Ash pelan. "Tapi tetap latihan."
"Sadis!"
Mereka terus berlatih selama hampir satu jam. Ash diserang, menghindar, menyerang balik, gagal, dipukul, dan terus mengulang. Pada menit kelima puluh, dia sudah tergeletak di tanah, napas terengah-engah.
"Aku... menyerah... Razen menang... aku kalah total..."
"Kau belum kalah," ucap Razen sambil mengulurkan tangan. "Kau hanya lelah. Itu berbeda."
"Rasanya sama," gumam Ash sambil mengambil tangan Razen dan ditarik berdiri. "Aku merasa seperti dihajar sama mesin pemukul otomatis."
"Karena kau masih berpikir terlalu banyak. Otakmu bilang 'aku harus mukul di sini' tapi tubuhmu terlambat bereaksi." Razen menepuk bahu Ash. "Tapi kau sudah lebih baik dari kemarin. Hari ini kau berhasil menghindar lima kali tanpa jatuh."
"Cuma lima?!"
"Kemarin tidak ada sama sekali. Jadi ini kemajuan."
Ash menatap tangannya yang penuh memar kecil. Anehnya, memar itu sudah mulai memudar. Regenerasinya bekerja, meski lambat.
"Aku nggak tahu ini pelatihan atau penyiksaan dengan dalih pendidikan."
"Keduanya," jawab Eveline tiba-tiba. Dia berdiri dan berjalan mendekat. "Sekarang giliranku."
Ash menatapnya dengan was-was. "Giliran kau ngapain?"
"Mengajarimu cara bergerak tanpa suara."
"Oh. Itu kedengarannya lebih aman daripada dipukuli Razen."
Eveline tersenyum tipis. Senyum yang membuat Ash langsung merasa ini tidak akan aman sama sekali.
---
Ternyata benar. Latihan Eveline jauh lebih menyiksa dalam cara yang berbeda.
"Berjalan dari sini ke sana," instruksi Eveline sambil menunjuk dua titik yang berjarak sekitar sepuluh meter. "Tanpa membuat suara."
"Gampang," ucap Ash percaya diri. Dia mulai berjalan.
KREK. KREK. KREK.
Setiap langkahnya menginjak ranting kering atau batu kecil yang berbunyi.
"Berhenti," ucap Eveline. "Kau gagal."
"Aku baru jalan dua langkah!"
"Dan sudah membuat tiga suara. Ulangi."
Ash menghela napas dan kembali ke posisi awal. Dia mencoba lagi, kali ini lebih pelan dan hati-hati.
KREK.
"Gagal."
"INI LANTAI PENUH RANTING! Gimana caranya jalan tanpa suara?!"
"Dengan melihat ke bawah sebelum melangkah. Dengan merasakan tanah di bawah kakimu. Dengan tidak terburu-buru." Eveline berjalan ke posisi awal, lalu berjalan ke titik tujuan dengan gerakan yang sangat lambat dan hati-hati. Tidak ada suara sama sekali. "Seperti ini."
Ash menatapnya dengan mulut terbuka. "Kau seperti ninja."
"Aku assassin." Eveline kembali ke posisi awal. "Sekarang coba lagi. Dan jangan terburu-buru. Lambat namun pasti."
Ash mencoba lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Pada percobaan kesepuluh, dia berhasil mencapai separuh jarak tanpa suara. Lalu kakinya menginjak ranting besar.
KRAK!
"SIAL!"
"Ulangi."
"Eveline, ini sudah—"
"Ulangi."
Nada suaranya tidak tinggi, tidak marah. Tapi ada tekad di sana yang membuat Ash tidak berani membantah.
Dia mencoba lagi.
Pada percobaan kelima belas, dia berhasil. Sepuluh meter penuh tanpa satu suara pun.
Ash sampai di titik tujuan dan langsung mengangkat tangan dengan gaya heroik. "YES! AKU BERHASIL! Dimana medali emasku?!"
"Bagus," puji Eveline. Hanya itu. Tapi ada sedikit senyum di wajahnya.
"Cuma 'bagus'? Aku baru saja jadi ninja!"
"Kau belum ninja. Kau hanya bisa jalan tanpa suara di lapangan terbuka tanpa tekanan. Coba lakukan itu saat ada musuh yang mengawasimu."
"Kau nggak bisa ngasih pujian sekali aja ya?" keluh Ash.
"Tidak. Pujian membuat orang lengah. Lengah membuat orang mati."
"Filosofi hidup yang ceria sekali."
Eveline mengangkat bahu. "Itu kenyataan."
Razen, yang sedang membereskan kemah, memanggil mereka. "Sudah cukup untuk pagi ini. Kita harus lanjut perjalanan. Kalau mau sampai di pos berikutnya sebelum malam, kita harus berangkat sekarang."
"Pos berikutnya?" tanya Ash sambil berjalan mendekat. "Kita mau nginep di kota lagi?"
"Bukan kota. Menara pengawas. Milik Lunaria. Tempat terakhir sebelum kita masuk ke wilayah inti kerajaan."
"Menara pengawas? Kedengarannya keren. Ada lift nggak?"
"Lift?" Razen mengerutkan kening.
"Kotak yang naik turun untuk bawa orang ke lantai atas tanpa harus naik tangga."
"Tidak ada yang seperti itu. Kita naik tangga."
"Tentu saja," gumam Ash. "Kenapa aku berharap ada kemudahan?"
Mereka naik ke kereta lagi. Dan Ash langsung meringis saat bokongnya menyentuh bangku kayu keras itu.
"Oh tidak. Teman lamaku. Si papan keras. Kita ketemu lagi."
"Berhenti mengeluh," ucap Eveline sambil duduk di sebelahnya.
"Aku nggak mengeluh. Aku cuma... menyatakan fakta dengan nada sedih."
"Itu definisi mengeluh."
"Kau mulai jago debat, Eveline."
"Aku belajar dari orang yang tidak pernah berhenti bicara."
Ash menatapnya dengan mata menyipit. "Itu sarcasm?"
"Ya."
"Wah. Kau berkembang. Aku bangga." Ash usap-usap kepala Eveline seperti mengelus anak kecil.
Eveline menepis tangannya dengan cepat tapi tidak keras. "Jangan sentuh kepalaku."
"Kenapa? Itu tradisi pujian di duniaku."
"Ini bukan duniamu."
"Betul juga." Ash bersandar sambil menatap keluar jendela kereta yang sudah mulai bergerak. Pemandangan pepohonan dan bukit-bukit kecil berlalu. "Ngomong-ngomong, Razen?"
"Ya?"
"Kenapa sih Lunaria dan Varnhold musuhan? Aku tahu ada perbedaan soal sihir dan aura, tapi sampai segitunya ya?"
Razen terdiam sebentar, seperti memilih kata yang tepat. "Karena keyakinan. Varnhold percaya bahwa sihir itu dosa. Hadiah dari iblis. Mereka percaya hanya Aura dari Samael yang suci dan benar. Sementara Lunaria percaya bahwa sihir adalah ilmu, bukan dosa. Dan mereka menolak untuk tunduk pada dogma Varnhold."
"Jadi pada dasarnya perang agama?"
"Lebih kompleks dari itu, tapi ya, dasarnya adalah konflik keyakinan."
"Bodoh," gumam Ash. "Di duniaku juga ada perang kayak gitu. Dan nggak ada yang menang. Cuma banyak orang yang mati."
"Sama dengan di sini," ucap Razen pelan. "Perang itu tidak pernah benar-benar dimenangkan. Yang kalah cuma rakyat biasa yang terseret."
Suasana jadi berat lagi. Ash benci saat suasana jadi begini. Dia mencari cara untuk mengalihkan topik.
"Oh! Aku baru ingat. Kemarin aku lihat kelinci bertanduk. Itu normal di sini?"
Eveline mengangguk. "Horned Rabbit. Mereka agresif kalau terpojok. Tanduknya beracun."
"Kelinci. Beracun. Dunia ini gila," gumam Ash sambil menggeleng. "Di duniaku kelinci itu lucu dan lembut. Paling bahaya ya gigit wortel."
"Di sini, kelinci bisa membunuhmu kalau kau lengah," ucap Razen.
"Noted. Jangan dekatin kelinci."
Perjalanan berlanjut dengan Ash sesekali bertanya tentang hal-hal acak yang dia lihat, dan Razen atau Eveline menjawab dengan sabar. Ada saatnya mereka diam, hanya menikmati pemandangan. Ada saatnya Ash bercerita tentang dunianya yang aneh dengan "kotak ajaib yang bisa tunjukkan gambar bergerak" dan "kereta metal yang jalan tanpa kuda".
Razen dan Eveline mendengarkan dengan ekspresi antara kagum dan bingung.
"Kedengarannya seperti sihir tingkat tinggi," komentar Razen.
"Bukan sihir. Itu namanya teknologi. Sains Ilmu pengetahuan," jelas Ash.
"Ilmu pengetahuan yang terdengar seperti sihir," ucap Eveline.
"Jika doraemon ada disini, mungkin dia akan di sembah." gumam Ash.
"Apa itu?"
"Oh, lupakan. Terlalu rumit jelasinnya."
Matahari mulai turun saat mereka melihat menara pengawas di kejauhan. Tinggi, terbuat dari batu abu-abu, dengan bendera biru Lunaria berkibar di puncaknya.
"Sampai juga," ucap Razen sambil mengarahkan kereta ke jalan setapak yang menuju menara.
Ash menatap menara itu dengan takjub. "Ini kayak tower defense game."
"Apa?"
"Nggak penting. Yang penting, aku harap ada kasur di sana. Kasur beneran. Bukan papan dengan kain tipis."
"Jangan berharap terlalu banyak," ucap Eveline.
"Mimpi gratis kok," balas Ash. "Aku boleh bermimpi tentang kasur empuk sambil tidur di lantai batu."
Razen tertawa kecil. "Kau ini... benar-benar tidak pernah berhenti mengeluh ya?"
"Itu bakat alamiku. Mengeluh dan tetap hidup."
"Kombinasi yang aneh tapi efektif," komentar Eveline.
Kereta berhenti di depan gerbang menara. Seorang penjaga dengan seragam jubah putih mendekat, matanya memindai mereka dengan waspada.
"Tujuan?" tanya penjaga itu.
"Transit ke ibu kota," jawab Razen sambil menunjukkan sebuah surat dari Violet. "Atas perintah Yang Mulia Ratu."
Penjaga itu membaca surat dengan teliti, lalu mengangguk. "Silakan masuk. Kamar ada di lantai tiga. Makan malam akan disediakan di aula."
"Terima kasih," ucap Razen.
Mereka masuk ke dalam menara. Di dalam lebih hangat dan terang dari yang Ash bayangkan. Ada perapian besar di aula utama, dan beberapa penjaga lain sedang duduk makan atau bercanda ringan.
"Lantai tiga," ulang Ash sambil menatap tangga spiral yang menanjak ke atas. "Tentu saja. Nggak mungkin lantai satu."
"Anggap saja latihan kaki," ucap Razen sambil mulai naik tangga.
Ash mengikuti dengan lesu. Setiap anak tangga terasa seperti gunung kecil yang harus didaki.
Tapi saat mereka sampai di kamar dan Ash melihat kasur, kasur dengan jerami dan selimut tebal dia nyaris menangis bahagia.
"KASUR! KASUR SUNGGUHAN!"
Dia langsung melemparkan dirinya ke kasur dan memeluknya seperti orang yang menemukan harta karun.
Eveline dan Razen hanya bisa menatapnya dengan heran.
"Dia benar-benar senang dengan hal-hal sederhana," komentar Eveline.
"Karena di dunianya, dia sudah biasa dengan kemudahan," balas Razen. "Di sini, hal sederhana seperti kasur jadi kemewahan."
Ash, dengan wajah masih tertanam di kasur, berkata dengan suara teredam, "Aku nggak akan beranjak dari sini. Kalian boleh panggil aku untuk makan, tapi aku akan bawa makanan ke sini dan makan sambil tidur."
"Itu jorok," ucap Eveline.
"Aku nggak peduli. Ini surga."
Razen tertawa dan menggeleng. "Baiklah. Istirahat dulu. Nanti malam kita makan bersama. Besok kita lanjutkan perjalanan terakhir ke ibu kota."
"Mmm hmm," gumam Ash tanpa bergerak.
Eveline mendekati kasur dan menarik kaki Ash. "Bangun. Kau harus cuci muka dan tangan dulu. Kau bau keringat."
"Biarkan. Ini aromaku yang natural."
"Natural yang menjijikkan."
"Kejam," keluh Ash tapi dia akhirnya bangun dan pergi mencuci dengan langkah terseret.
Malam itu, mereka makan bersama di aula dengan penjaga-penjaga lain. Makanannya sederhana sup kental dengan sayuran dan daging, roti yang lebih lembut dari biasa, dan buah-buahan lokal yang Ash tidak tahu namanya tapi enak.
Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Ash merasa kenyang dan hangat.
Dan saat dia kembali ke kasur setelah makan, dia tertidur dalam hitungan menit. Tidak ada mimpi. Tidak ada bisikan. Hanya tidur nyenyak yang sangat dia butuhkan.
Di seberang kamar, Eveline dan Razen duduk di dekat jendela, berbicara pelan.
"Dia berkembang," ucap Razen. "Lebih cepat dari yang kukira."
"Tapi masih lemah," balas Eveline.
"Secara fisik, ya. Tapi mentalnya... dia lebih kuat dari yang terlihat. Dia terus tertawa dan mengeluh, tapi dia tidak pernah menyerah."
Eveline menatap Ash yang tidur dengan posisi aneh setengah di kasur, setengah nyaris jatuh. "Dia aneh."
"Aneh, tapi tulus. Dan itu langka di dunia ini."
Eveline tidak menjawab, tapi ada ekspresi lembut di wajahnya saat dia menarik selimut untuk menutupi Ash yang hampir kedinginan.
"Selamat tidur, Ash," bisiknya pelan. "Besok kau harus bangun pagi lagi. Dan aku tidak akan kasihan meski kau mengeluh."
Tapi meski begitu, dia meninggalkan segelas air di meja kecil di samping kasur, berjaga kalau Ash haus tengah malam.
Dan Razen, melihat itu semua, tersenyum kecil. Mereka mulai terasa seperti keluarga.
Keluarga kecil yang disfungsional, tapi tetap keluarga.