NovelToon NovelToon
The Crimson Legacy

The Crimson Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: BlueFlame

‎Thomas Watson—Presiden Amerika Serikat termuda yang pernah menjabat, dengan approval rating 91% dan dijuluki "The People's President" ia meninggal dalam serangan jantung mendadak di usia 52 tahun. Namun kematiannya bukanlah akhir.

‎Ia terbangun dalam tubuh Arthurian Vancroft, satu-satunya Archduke di Kekaisaran Valcrest—seorang legenda hidup yang dijuluki "The Crimson Aegis" karena kehebatannya yang mampu memusnahkan pasukan iblis sendirian. Tapi ada masalah besar: tubuh ini sekarat.

‎Dua bulan lalu, Arthur bertarung melawan Demon god Zarathos dan menang—tetapi dengan harga mengerikan. Dia kehilangan 92% kekuatannya.

‎Lebih buruk lagi? Apapun yang terjadi tidak ada yang boleh tahu.

‎Jika musuh-musuh politiknya—para Duke serakah, bangsawan korup, dan faksi-faksi yang iri dengan kekuasaannya yang hampir setara Kaisar—mengetahui kelemahannya, mereka pasti tidak akan tinggal diam.

bagaimana kisah selanjutnya? Ayo kita lihat bersama.

#System
#Transmigrasi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlueFlame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26. Istana kekaisaran

Jangan pernah berpikir Valerine akan benar-benar terenyuh dengan pertanyaan itu. Awalnya ia sempat mengira Arthur telah banyak berubah. Namun kebiasaan lama rupanya memang tak semudah itu dihapuskan. Sejak dulu, Arthur selalu mengusiknya dengan ucapan-ucapan semacam itu. Menghina atau melontarkan kata-kata kasar tak akan pernah mempan pada Valerine—maka ia memilih cara lain: menggoda dengan nada penuh kesedihan.

Bedanya, dahulu ia melakukannya tanpa ekspresi, datar dan sulit ditebak. Sekarang, ia mengucapkannya dengan raut menyedihkan yang seolah-olah penuh penyesalan.

Namun sebelum Valerine sempat merangkai balasan yang pantas, seorang bangsawan lain kembali mendekat. Siklus itu pun terulang. Mereka berjalan perlahan menuju pintu masuk utama istana, dan setiap beberapa meter langkah mereka terhenti oleh seseorang yang ingin memberi salam. Di setiap sela gangguan itu, Valerine melanjutkan perdebatan dalam bisikan tajam, sementara Arthur menanggapi dengan tenang dan menyebalkan.

“Berhenti berkata seperti itu!” bisik Valerine ketika mereka melewati air mancur besar.

“Omong kosong yang mana? Sadarlah, sekarang kita sudah menjadi sahabat sehidup semati,” jawab Arthur ringan.

“Sehidup semati? Sepertinya justru kamu yang sedang mencari mati.”

“Baiklah, maafkan aku. Aku akan berhenti menggodamu.”

“Aku. Tidak. Memaafkanmu.”

“Yang Mulia Archduke!”

Gangguan lain kembali menyela.

Di kejauhan, di balkon lantai dua istana, tiga sosok berdiri memperhatikan kedatangan Arthur dan Valerine dengan ketertarikan yang berbeda-beda.

Perdana Menteri Stephen menyapa Arthur dengan penuh hormat.

“Senang dapat bertemu dengan Anda, Yang Mulia.”

Arthur membalas dengan senyum tipis yang terlatih. “Aku juga.”

Mereka bertiga berbincang sejenak—topik ringan seputar persiapan sidang dewan dan kabar dari wilayah perbatasan. Valerine berdiri di sisi Arthur, menjaga ekspresi netralnya, meski sesekali ia melirik ke arah pria itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah percakapan selesai dan Perdana Menteri Stephen pamit, suasana formal itu pun menghilang seketika.

Begitu langkah sang perdana menteri menjauh, Valerine langsung berbisik tajam, “Kamu tadi hampir saja mengatakan hal yang tidak perlu.”

Arthur mengangkat bahu ringan. “Aku hanya berbicara seperlunya.”

Koridor Utama Istana — Menuju Ruang Dewan

Mereka melangkah memasuki koridor utama istana. Dinding-dinding tinggi dihiasi potret para kaisar pendahulu, masing-masing dengan tatapan agung yang seakan mengikuti setiap langkah mereka. Langit-langitnya dipenuhi fresco rumit yang menggambarkan sejarah panjang kekaisaran—perang, penaklukan, perjanjian suci, hingga momen-momen kejayaan. Lantai marmer putih membentang berkilau seperti es, memantulkan bayangan langkah mereka yang selaras.

Para pelayan dan prajurit kekaisaran yang berpapasan secara refleks membungkuk hormat. Beberapa bahkan berlutut ketika menyadari siapa yang melintas di hadapan mereka.

Kehadiran Arthur terasa jelas.

Sovereign’s Presence masih aktif—memancar darinya seperti tekanan tak kasatmata yang memenuhi udara. Bukan sesuatu yang bisa dilihat, namun cukup untuk membuat napas orang-orang di sekitarnya terasa sedikit lebih berat.

DING.

Jendela sistem muncul di sudut penglihatan Arthur.

╔══════════════════════════════════╗

║ PEMBERITAHUAN SISTEM ║

╚══════════════════════════════════╝

Sovereign’s Presence (Tingkat 1) — Aktif

Pengaruh:

Bangsawan peringkat lebih rendah: intimidasi ringan (+5% rasa hormat)

Bangsawan setara: kewaspadaan dengan pengakuan

Reputasi: 87% → 99% (+12%)

Persepsi Publik: 68%

Status: “The Crimson Aegis masih menakutkan seperti dulu.”

Catatan: Penampilan pertama Anda sukses. Tidak ada yang mencurigai kelemahan. Pertahankan postur dan kepercayaan diri.

Peringatan: Duke Torrhen, Marquis Blackwell, dan Count Ashford sedang mengamati dari balkon timur. Mereka merencanakan sesuatu.

Arthur menutup jendela sistem itu dengan perintah mental. Sedikit kerutan muncul di dahinya.

Tentu saja, mereka pasti mengawasi ku

“Ada apa?” bisik Valerine, menangkap perubahan ekspresinya.

Arthur tersenyum tipis dan menggeleng pelan. “Tidak ada.”

Valerine menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.

Langkah mereka melambat sejenak. Valerine sempat menunduk ketika Arthur melepaskan tangan Valerine dari lengannya—namun detik berikutnya, pria itu menyelipkan jemarinya di antara jemari Valerine dengan lembut. Ia menggenggamnya, menatap singkat tangan mereka yang saling terjalin.

Arthur menunduk, mendekat ke telinga Valerine, suaranya rendah dan lembut—mengakhiri perdebatan mereka dengan cara yang tak terduga.

“Aku tahu kamu belum ingin berdamai denganku sekarang,” katanya pelan. “Dan aku tidak mengharapkan maaf atau persahabatan instan. Aku hanya… menghargai apa yang sudah kamu lakukan. Dan aku ingin kamu tahu bahwa aku menganggapmu sebagai sekutu. Partner. Mungkin… suatu hari nanti, sebagai teman.”

Valerine menatapnya dari sudut mata—tatapan singkat, namun sarat makna.

“Mungkin.”

Senyum tipis terbit di bibirnya. Sangat tipis, dan nyaris tak terlihat.

Namun Arthur melihatnya.

Senyumnya sendiri muncul—hangat, tulus.

“Aku akan menerima ‘mungkin’ itu.”

“Jangan terlalu bersemangat. Itu bukan janji.”

“Tentu saja tidak.”

“Aku masih bisa membekukanmu kapan saja.”

“Aku mengerti.”

Mereka berhenti di depan pintu ganda besar dari kayu ek berukir emas—gerbang menuju Grand Hall Dewan Kekaisaran. Dua prajurit kekaisaran dalam zirah seremonial berdiri tegak di kanan dan kiri, tombak di tangan, postur sempurna.

Begitu melihat kedatangan mereka, keduanya memberi hormat serempak.

“Yang Mulia Archduke Vancroft! Duchess Valerine Vancroft!”

Arthur mengangguk singkat sebagai pengakuan. Para prajurit bersiap membuka pintu.

Sebelum daun pintu terayun, Valerine berbisik sekali lagi—sangat pelan, hanya cukup untuk Arthur.

“Jangan mati di dalam sana.”

Arthur meliriknya dengan senyum tipis. “Aku tidak berniat melakukannya.”

“Bagus. Karena kalau kamu mati, aku akan membangkitkanmu hanya untuk membunuhmu lagi karena menyia-nyiakan tiga hari pelatihan.”

Arthur terkekeh pelan. “anehnya... Ancaman mu terdengar menyentuh.”

“Diam.”

Namun genggaman tangannya menguat sedikit—gerakan kecil yang mengkhianati ucapannya.

Arthur menutup tangan Valerine dengan tangan kanannya, sentuhan singkat namun meyakinkan.

“Aku akan baik-baik saja,” bisiknya. “Aku sudah bersiap dan punya rencana. Dan yang terpenting... Aku memilikimu disampingku.”

Valerine mendongak ke atas untuk menatapnya.

Tatapan mereka bertemu.

Dan tanpa Arthur sadari, tangannya terangkat—menyentuh pipi Valerine dan mengusapnya pelan, seolah tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya.

Valerine langsung membelalak.

Matanya melebar, lalu ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain, seolah langit-langit koridor tiba-tiba jauh lebih menarik untuk diperhatikan. Ujung telinganya memerah tipis, meski ia berusaha keras menyembunyikannya.

Arthur tersadar sedetik kemudian.

Tangannya berhenti.

Apa yang baru saja aku lakukan?

Ia segera menarik kembali tangannya dan berdeham pelan.

Valerine menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Dalam hitungan detik, ekspresinya kembali seperti biasa—dingin, tenang, dan sepenuhnya terkendali.

“Buka pintunya,” perintah Arthur pada para prajurit.

Dengan gerakan serempak, kedua prajurit mendorong pintu ganda itu.

CREEEAK.

Pintu terbuka perlahan dan secara dramatis, memperlihatkan Grand Hall di baliknya.

Ruangan itu megah—cukup luas untuk menampung ratusan orang. Langit-langit berkubah dihiasi fresco tentang pendirian kekaisaran. Pilar-pilar marmer raksasa menjulang dengan ukiran rumit. Jendela kaca patri memantulkan cahaya berwarna-warni ke lantai, membentuk pola cahaya yang hidup.

Di tengah ruangan, meja panjang dari kayu mahoni membentang, dikelilingi kursi-kursi tinggi berlapis beludru. Puluhan bangsawan telah duduk di sana—para duke, marquis, count, dan duchess—semuanya mengenakan busana resmi terbaik mereka.

Di ujung meja, sedikit lebih tinggi di atas platform, berdiri singgasana Kaisar—kursi emas dengan sandaran terukir seperti sinar matahari.

Namun kursi itu masih kosong.

Begitu pintu terbuka sepenuhnya dan Arthur terlihat di ambang, percakapan di dalam ruangan berhenti.

Semua kepala menoleh dan atmosfer pun ikut berubah.

Sovereign’s Presence menyapu ruangan seperti gelombang tak terlihat.

Ia melangkah masuk, Valerine di sampingnya. Postur sempurna. Kepala tegak. Setiap langkah terukur dan penuh keyakinan.

Mereka menuju kursi yang telah ditentukan—paling dekat dengan singgasana Kaisar mencerminkan peringkat tertinggi di luar keluarga kekaisaran.

Para bangsawan di jalur mereka tanpa sadar memberi ruang, seperti lautan yang terbelah.

Bisikan mulai terdengar—pelan, namun cukup jelas bagi telinga yang tajam.

“Arcduke… dia masih menakutkan seperti dulu.”

“Aku dengar dia hampir mati dua bulan lalu, tapi lihat dia sekarang… entah siapa yang membuat rumor tersebut.”

“Duchess Valerine terlihat memukau.”

Arthur dan Valerine tiba di kursi mereka—dua kursi tinggi berlapis beludru merah, dengan papan nama emas di depan:

Archduke Arthurian Vancroft

Duchess Valerine Vancroft

Arthur terlebih dahulu membantu Valerine duduk—menarik kursinya, menunggu hingga ia benar-benar , lalu mendorongnya kembali dengan lembut.

Setelah itu ia duduk di sampingnya. Posturnya tegap namun santai, tangan bertumpu di sandaran kursi dengan kepercayaan diri yang terlatih.

Dari seberang meja, tiga pasang mata menatap mereka dengan intensitas berbeda. Dengan permusuhan yang nyaris tak tersembunyi.

Arthur membalas tatapan mereka, satu per satu, dengan ketenangan namun provokatif.

Senyum tipis terbit di bibirnya.

Dan hampir seketika, ketiganya mengalihkan pandangan—tertekan oleh aura yang tak kasatmata.

Di sampingnya, Valerine duduk dengan postur sempurna—punggung lurus, tangan terlipat anggun di pangkuan, ekspresi dingin.

‎Namun di bawah meja—tersembunyi dari pandangan siapa pun—Valerine mengulurkan kelingkingnya dan mengaitkannya pada kelingking Arthur. Genggamannya kecil, tapi erat.

‎Arthur tidak menoleh. Namun tanpa melihat pun, ia memahami maksudnya. Tangannya bergerak perlahan, meraih tangan Valerine dan menyelipkan jemarinya di antara jemari wanita itu, membalas dengan tekanan lembut.

Suara terompet seremonial menggema dari aula masuk.

“YANG MULIA KAISAR TELAH TIBA.”

Semua orang berdiri serempak.

Kursi-kursi bergeser. Puluhan bangsawan membungkuk hormat. Dan memberikan salam secara bersamaan.

"Salam kepada cahaya Kekaisaran."

...***...

Catatan:

‎Maaf, kawan kawanku🙏🙏🙏🙏. Aku hanya bisa update 1 hari ini, itu saja aku maksain... Lagi sakit sekarang, jadi mohon di maklumi yah...😭😭😭🙏🙏🙏🙏

1
anak panda
🔥🔥🔥
anak panda
santai aja tor utamakan kesehatan
blueberry
semangat thor
blueberry
/Plusone/
anak panda
🔥🔥🔥
Xiao Ling Yi
Hei.. Dia ini melampaui batas kan?
blueberry
haha lucuuu
anak panda: lanjuttt
total 1 replies
blueberry
nanti kolo udah bertarung jangan sampai di gantung thor
anak panda
cepet sembuh tor
Fel N: Amiiiin, makasih kak.🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Nggak sekarat juga dong Kak~
Xiao Ling Yi: Istirahat banyak-banyak Kak Fel!💪/Determined/
total 4 replies
Xiao Ling Yi
Geloo🤣🤣🤣
Xiao Ling Yi
Cepet sembuh Kak Othor/Bye-Bye/💪
Fel N: Amiiiiiiin, makasih yah, kak.🥰🥰😭
total 1 replies
blueberry
cepat sembuh thor 👍👍
Fel N: Amiiiiiin, makasih yah.🥰🥰😭
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Imutnya~
Fel N: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Kurangg/Frown/
Xiao Ling Yi
Semangat updatenya Thor~/Smile/
Fel N: Makasih banyak, kak.🥰🥰🥰
total 1 replies
Xiao Ling Yi
Kawaii😍
Fel N: 🤭🤭🤭😅😅
total 1 replies
Khns_
setting yang detail, penjelasan yang rinci di setiap kejadian, bahasa yang enak dibaca, dan penggambaran karakternya yang joss bgt sih yg bikin betah baca 1 bab lagi, lagi, dan lagi.
Fel N: Makasih banyak, kak.😭😭😭🥰🥰🥰
total 1 replies
Khns_
kakak author update tiap kapan ya?
Fel N: Tiap hari, kak.🥰🥰🥰
total 1 replies
blueberry
lucu bgt pasangan ini🤭
Fel N: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!