NovelToon NovelToon
Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Ling Feng : Menyulam Tanya Dalam Bahasa Sunyi Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Karya Orisinal.

Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.

Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.

“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”

Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?

Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5 : Kultivasi Tanpa Merampas.

Mereka tidak hanya memenjarakan tubuhnya. Mereka menguras jiwanya.

Tiba-tiba, langkah berat. Dari balik tenda besar, muncul pria yang kulihat tadi dari kejauhan, tinggi, berotot, dengan cambuk di pinggang. Apa dia ketuanya?

Dia berhenti di depan sangkar, menatap serigala dengan tatapan ... ilmiah. Dingin.

"Masih bertahan," gumamnya. "Bagus. Inti binatang liar ini hampir terbentuk sempurna. Dengan menyerapnya, aku bisa mempercepat pembentukan intiku sendiri, Ningjing."

Dia berlutut, menjulurkan tangan. Dari ujung jarinya, merembes asap keabu-abuan yang sama seperti yang kulihat di jaring energi. Asap itu membelit serigala, memasuki tubuhnya.

Serigala itu menggeliat, tapi tidak bersuara. Hanya matanya yang kuning, redup yang berkedip kesakitan.

"Tahan, binatang," bisik Kepala Suku. "Penderitaanmu adalah tangga menuju kekuatanku."

Aku tidak berpikir.

Tubuhku bergerak sendiri.

Aku melangkah keluar dari persembunyian, berdiri di ruang terbuka.

Pemimpin menoleh. Perlahan. Matanya yang abu-abu, dingin, menyempit.

"Anak desa," gumamnya. "Dengan ... mata yang terbuka." Dia berdiri. "Qiqing. Tahap pertama. Siapa yang mengajarimu?"

"Ayahku," jawabku, suara lebih stabil dari yang kuharapkan.

"Ayahmu? Petani di Jinglan?" Dia tertawa pendek. "Mustahil. Qiqing tidak diajarkan pada petani."

"Tapi dia mengajarkannya," kataku. "Sebagai cerita. Sebagai cara hidup."

Pemimpin memandangku, sekarang dengan minat yang berbeda. Bukan ejekan. Tapi analitis. "Kau membukanya sendiri. Dengan bimbingan cerita." Dia menggeleng. "Bakat alam. Langka."

"Lepaskan dia," kataku, menunjuk serigala.

"Kenapa? Apa hubunganmu dengan binatang liar?"

"Dia menderita."

"Penderitaan adalah bagian dari kultivasi," kata Pemimpin, suara datar. "Untuk mencapai Ningjing, untuk membentuk inti, kita harus mengambil. Alam memberi, kita ambil. Itu hukum."

"Bukan hukum yang ayahku ceritakan," kataku. "Dia bilang, kultivasi adalah tentang harmoni. Tentang menjadi bagian, bukan mengambil."

"Naif." Pemimpin mengangkat tangan. "Mari kutunjukkan perbedaan antara cerita dan realitas."

Dari telapak tangannya, asap keabu-abuan berkumpul, membentuk bola kecil yang berputar.

Aku mengangkat tangan dengan gerakan kikuk, tidak terlatih. Tapi di dalam, titik di bawah pusarku bereaksi. Tetesan energi bumi tadi berdenyut.

Dan mengalir.

Tidak melalui jalur yang terlatih. Tapi melalui ... jalur darurat. Jalur yang tubuhku temukan sendiri, dalam kepanikan.

Cahaya biru pucat, sangat tipis, hampir tak terlihat, keluar dari telapak tanganku.

Saat bertemu bola asap abu-abu ...

Tiup.

Seperti meniup lilin. Keduanya padam.

Tapi efeknya membuat Kepala Suku terkejut.

"Murni," bisiknya. "Terlalu murni untuk pemula." Matanya menyala. "Kau ... tubuhmu masih bersih. Belum terkontaminasi oleh cara-cara yang salah."

Dia melangkah mendekat. "Bergabunglah denganku. Aku akan mengajarimu cara yang benar. Cara yang efisien."

"Aku tidak tertarik."

"Kau akan tertarik." Senyum tipis muncul. "Karena jika tidak ..." Dia menoleh ke arah serigala. "Aku akan mengambil intimu nanti. Dan kau akan menyaksikan serigala bodoh ini tergantung pilihanmu."

Pilihan.

Aku melihat serigala. Matanya menatapku. Dan dalam tatapan itu ... ada sesuatu. Bukan permohonan. Tapi ... pengertian.

Pergi, seolah katanya. Selamatkan dirimu.

Tapi aku ingat kata ayah tentang tahap kedua, Rongti. Tubuh menjadi wadah. Tapi wadah itu harus kuat. Harus berani menampung apa yang benar, dan menolak apa yang salah.

Aku mengambil napas dalam.

"Tidak."

Pria itu mengangguk, seperti mengharapkan jawaban itu.

"Maka kau akan belajar dengan cara lain." Dia mengayunkan cambuk. Bukan ke arahku. Ke arah sangkar.

Crack.

Crack.

Crack.

Cambuk itu menghantam kayu. Tapi bukan kayu yang pecah. Tapi ... energi di dalam sangkar. Benang abu-abu yang menyedot energi serigala tiba-tiba mengencang, menarik lebih kuat.

“Gra—rrh—!” Serigala itu menjerit. Suara yang memilukan.

Aku bergerak.

Tidak menyerang orang itu, aku tahu tidak mungkin. Tapi ke arah sangkar. Ke arah jerat energi.

Ada sesuatu di dadaku yang runtuh. Aku tak sanggup lagi menjadi saksi. Setiap detik menatap penderitaannya terasa seperti ikut mengkhianati napas yang masih kupunya.

Tangan kanan mengulur, menyentuh salah satu benang abu-abu.

Saat jemariku menyentuhnya ...

Guncangan.

Apa ini?

Bukan fisik. Tapi spiritual. Gambar-gambar berkilat di pikiran, penderitaan, keserakahan, rasa lapar yang tak pernah puas. Emosi dari mereka yang membuat jaring ini.

Tapi di bawah itu semua ... ada sesuatu yang lain. Cahaya redup. Keinginan untuk bebas.

Energi serigala.

Aku menutup mata, fokus pada tetesan energi di Dantian-ku. Dan aku ... mendorongnya. Keluar. Melalui tangan. Ke dalam benang.

Cahaya biru pucat mengalir ke benang abu-abu.

Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa.

Lalu ... benang itu bergetar. Retak. Dan putus.

Efeknya langsung.

Di sangkar, serigala itu menarik napas dalam, napas pertama yang bebas dalam lama. Matanya yang kuning bersinar sedikit lebih terang.

Pria itu memandang, terkejut. "Kau ... memutus sambungan? Dengan Qi tahap pertama?" Dia menggeleng, tidak percaya. "Itu ... tidak mungkin."

Tapi itu terjadi.

Dari perkemahan, teriakan panik. "KETUA XUE GOU! Peralatan pengumpul rusak! Energi tidak mengalir!"

Jadi benar dia ketuanya ... matanya melihat ke arah suara, lalu kembali padaku. Kemarahan dan sesuatu yang lain. Kekaguman?

"Kau memiliki bakat alami," katanya, suara rendah. "Sia-sia di desa. Bergabunglah, dan aku akan menjadikanmu kuat. Sungguh."

"Kuat untuk apa?" tanyaku. "Untuk mengambil dari yang lain?"

"Untuk bertahan!" hardiknya. "Dunia ini keras, anak kecil. Hanya yang mengambil yang bertahan!"

Aku menggeleng.

"Ayahku bertahan tanpa mengambil."

"Dan dia mati, bukan?" Kata itu menggantung di udara.

Dia tahu. Tentang ayah. Tentang ibu.

"Bagaimana kau—"

"Jinglan itu kecil. Semua orang tahu semua hal." Dia mendekat lagi. "Bergabunglah atau kau akan berakhir seperti mereka."

Ancaman. Tapi juga ... penawaran?

Aku melihat serigala. Dia sekarang berdiri, goyah. Melihatku. Lalu ... dia mengangguk. Seperti memberikan izin.

Tapi aku menggeleng.

"Aku akan mencari jalanku sendiri."

Ketua itu memandangku lama. Lalu dia menghela napas. "Kebodohan muda." Dia berbalik. "Kau akan mati. Karena kau telah melihat semua ini."

"Dan dia?" Aku menunjuk serigala.

Dia menoleh, melihat sangkar. Lalu melambaikan tangan. Gembok di sangkar terbuka dengan sendirinya.

"Mati juga. Intinya sudah hampir habis. Tidak berharga lagi."

Sekarang aku tahu, cerita ayah bukan hanya dongeng. Mereka adalah petunjuk. Dan aku baru saja melewati tahap pertama—Qiqing—tanpa sadar.

Tapi tahap kedua, Rongti? Itu membutuhkan pelatihan. Disiplin. Dan mungkin ... seorang guru.

Aku melihat ke arah bukit. Ke Jinglan. Mungkin aku harus kembali. Mencari petunjuk lebih lanjut di antara cerita-cerita ayah.

Tapi sesuatu berkata lain. Sesuatu di dalam diriku, titik di bawah pusar yang sekarang berdenyut pelan.

Teruslah, bisik egoku. Carilah.

Aku mengambil napas, lalu ... menuju apa? Aku tidak tahu.

Tapi satu hal yang pasti, perjalananku untuk mencari pertanyaan terus berlanjut.

Dan pertama-tama, aku harus belajar memperkuat tubuh—Rongti—agar bisa menampung lebih banyak dari tetesan energi kecil ini. Agar siap untuk apa pun yang menanti di depan.

Aku harus kuat, untuk langkah mencari tanya.

1
anggita
like👍, bunga🌹
Life is Just an Illusion
semangat kak jadilah dewa fantim /Curse//Curse/
Gudang Garam Filter: dewa fantim mah Ucok kak /Curse//Curse/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!