Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hinaan yang Menjadi Upah
Malam di kawasan industri itu tidak pernah benar-benar tidur. Suara mesin-mesin raksasa menderu, menciptakan simfoni bising yang memekakkan telinga. Di salah satu sudut gudang logistik yang pengap, Hilman sedang memanggul karung-karung berisi biji plastik. Setiap karung beratnya lima puluh kilogram, dan malam ini, ia menantang dirinya sendiri untuk mengangkut dua ratus karung ekstra.
"Man, sudah. Istirahat dulu. Kamu sudah kerja dua belas jam tanpa henti," tegur salah satu rekan kerjanya, seorang pria paruh baya bernama Pak de Karso.
Hilman menyeka keringat yang bercucuran deras dari keningnya menggunakan ujung lengan seragamnya yang sudah basah kuyup. Nafasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. "Sedikit lagi, Pak de. Saya butuh uang tambahan minggu ini. Istri saya... dia sedang ingin sesuatu."
Pak de Karso menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu betul bagaimana watak istri Hilman dari cerita-cerita yang sering beredar. "Istrimu itu permintaannya tidak pernah ada habisnya. Kamu itu manusia, Man, bukan mesin. Lihat mukamu, sudah pucat begitu."
Hilman hanya tersenyum tipis—senyum yang menyembunyikan rasa nyeri luar biasa di pinggangnya. "Nggak apa-apa, Pak de. Selagi tangan masih bisa bergerak, saya mau kasih yang terbaik buat dia. Saya mau lihat dia tersenyum sekali saja, tanpa ada nada benci di suaranya."
Motivasi Hilman malam itu sederhana namun menyakitkan: Andini ingin tas bermerek yang harganya jutaan rupiah. Andini bilang, tas itu adalah "harga dirinya" untuk bisa muncul kembali di hadapan Geng Cantik setelah kejadian memalukan di mall kemarin. Hilman tahu, jika ia tidak mewujudkannya, rumah mereka akan kembali menjadi medan perang dingin yang membuat Syifa ketakutan.
Maka, di saat buruh lain mulai merebahkan diri di atas tikar plastik untuk tidur ayam, Hilman terus bergerak. Satu karung, dua karung, sepuluh karung. Punggungnya terasa seolah mau patah. Setiap langkahnya adalah pertaruhan nyawa, namun di kepalanya hanya ada wajah Andini yang cantik dan Syifa yang butuh biaya sekolah.
Pukul empat pagi, pekerjaan itu selesai. Mandor memberikan amplop berisi uang lembur tunai. Tangan Hilman gemetar saat menerimanya. Uang itu terasa berat, bukan karena nominalnya, tapi karena tiap rupiahnya adalah tetesan keringat dan rasa sakit yang ia tahan.
"Terima kasih, Pak," ucap Hilman lirih.
Ia segera memacu motor tuanya membelah fajar yang masih buta. Udara subuh di Jakarta sangat menusuk, apalagi bagi seseorang yang baru saja bermandikan peluh. Ia mampir ke sebuah toko yang masih tutup, namun ia sudah janjian dengan pemiliknya melalui pesan singkat—seorang kenalan yang menjual barang bermerek secondhand namun berkualitas tinggi. Setelah transaksi singkat di depan ruko, Hilman membawa pulang sebuah kotak elegan berbalut pita.
Ia tersenyum lelah. Andini pasti senang, pikirnya.
Pukul lima subuh, motor Hilman memasuki gang sempit menuju rumahnya. Suara mesin motor tuanya yang sudah uzur memang berisik, brem... brem... krak! Suara itu memecah kesunyian pagi yang syahdu.
Begitu ia mematikan mesin di teras, pintu rumah langsung terbuka dengan sentakan keras. Andini berdiri di sana dengan rambut yang masih agak berantakan, namun wajahnya sudah penuh dengan amarah.
"Bisa nggak sih kalau pulang itu jangan kayak maling?" bentak Andini tanpa melihat kondisi suaminya. "Mas tahu nggak, suara motor rongsokanmu itu bikin aku bangun! Aku baru saja bisa tidur nyenyak setelah semalaman pusing mikirin cicilan, dan sekarang kamu datang dengan kebisingan itu!"
Hilman turun dari motor, langkahnya goyah. "Maaf, Dek. Mas baru selesai lembur pagi ini. Mas nggak bermaksud..."
"Alasan terus! Lembur, lembur, tapi nggak kaya-kaya! Mas itu cuma bikin polusi di rumah ini, tahu nggak? Polusi udara karena bau badanmu, dan polusi suara karena motormu itu!" Andini melipat tangannya di dada, matanya menatap tajam ke arah jaket Hilman yang kotor.
Hilman tidak membalas. Ia merogoh ke dalam tas plastik di motor dan mengeluarkan kotak berpita itu. "Ini untuk kamu, Dek. Katanya kamu mau tas baru untuk acara arisan besok?"
Mata Andini seketika berbinar melihat logo di atas kotak itu. Ia menyambar kotak tersebut dari tangan Hilman tanpa mengucapkan terima kasih. Ia membukanya dengan terburu-buru, dan senyum puas terukir di bibirnya saat melihat tas kulit berwarna krem di dalamnya.
"Nah, begini dong. Ini baru namanya tanggung jawab," ucap Andini sambil mematut diri di depan cermin kecil yang ada di ruang tamu. Namun, kesenangannya hanya bertahan beberapa detik. Ia kemudian melihat ada noda oli kecil di bagian pita kotak tersebut—noda dari tangan Hilman.
"Duh! Lihat ini! Kamu megang kotak ini pakai tangan kotor ya? Ada noda oli di sini! Kalau sampai kena tasnya, Mas tahu nggak berapa biaya servisnya? Mas itu benar-benar nggak bisa melakukan satu hal pun dengan benar!" Andini melempar kotak kosong itu ke lantai, tepat di depan kaki Hilman.
Hilman menatap tangannya yang hitam. Ia lupa mencuci tangan setelah membantu memperbaiki mesin pabrik yang macet tadi malam. "Maaf, Dek... Mas nanti bersihkan..."
"Nggak usah! Mending kamu jauh-jauh dari aku. Sana mandi! Suara motor berisik, badan bau, tangan kotor... aku heran kenapa nasibku seburuk ini punya suami kayak kamu," Andini membalikkan badan, masuk kembali ke kamar sambil memeluk tas barunya dengan penuh cinta, sementara suaminya dibiarkan berdiri di teras seperti patung.
Hilman terduduk di kursi teras. Kelelahan yang luar biasa kini bercampur dengan rasa sesak di dada. Ia merasa seperti baru saja mendaki gunung tertinggi namun begitu sampai di puncak, ia justru didorong jatuh ke jurang.
Syifa keluar dari dalam rumah, mendekati ayahnya dengan wajah mengantuk. Ia melihat ayahnya yang tampak begitu rapuh. Tanpa suara, Syifa masuk ke dapur dan membawakan segelas air putih untuk ayahnya.
"Ayah... minum dulu," bisik Syifa.
Hilman menatap putrinya, lalu mengambil gelas itu dengan tangan yang masih gemetar. "Terima kasih, Sayang. Maaf ya, Ayah bikin berisik tadi."
"Nggak apa-apa, Yah. Syifa senang Ayah pulang," Syifa memeluk leher ayahnya dari belakang.
Air mata Hilman hampir jatuh, namun ia menahannya. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan putrinya. "Syifa sekolah yang rajin ya. Jadi orang hebat, supaya nggak perlu kerja keras kayak Ayah."
Pagi itu, saat matahari mulai meninggi, Hilman tidak langsung tidur. Meskipun ia belum memejamkan mata selama lebih dari dua puluh empat jam, ia mengambil kain lap dan sabun. Di bawah terik matahari yang mulai menyengat, ia menyikat motornya, mencoba membuat mesinnya lebih halus agar tidak mengganggu tidur istrinya besok pagi.
Ia menyikat bagian mesin dengan telaten, meski punggungnya terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum. Ia melakukan semua itu agar Andini tidak marah lagi. Ia rela mengorbankan waktu istirahatnya yang sangat berharga hanya untuk menjaga agar ketenangan Andini tidak terusik.
Andini, di dalam kamar, sedang asyik memotret tas barunya untuk diunggah ke Instagram. Ia menulis caption: "Hadiah kecil dari suamiku yang tercinta. Love you, Hubby!"
Sebuah kebohongan lagi. Ia tidak mencintai orangnya, ia hanya mencintai apa yang bisa diberikan oleh keringat orang itu. Dan ia tidak tahu, bahwa tas yang ia peluk itu adalah hasil dari separuh nyawa Hilman yang sudah mulai memudar.
Siang itu, Hilman akhirnya jatuh tertidur di lantai dapur yang dingin, beralaskan koran bekas. Ia terlalu lelah bahkan untuk sekadar berjalan menuju kasur di gudang belakang. Dalam tidurnya yang singkat, ia bermimpi melihat Andini tersenyum kepadanya, sebuah senyuman tulus yang sudah lama sekali tidak ia lihat di dunia nyata.
Ia tidak sadar, bahwa setiap hari yang ia lalui dengan bekerja melampaui batas adalah satu langkah lebih dekat menuju kecelakaan maut yang akan menghentikan seluruh detak jantungnya. Dan ia juga tidak sadar, bahwa tas yang ia belikan itu nantinya akan menjadi barang pertama yang dijual Andini untuk menyambung hidup saat ia sudah tiada, sambil meratap di atas pusaranya.
"Istirahatlah, Hilman," bisik angin sepoi-sepoi di dapur itu, seolah tahu bahwa waktu pria sabar ini tidak akan lama lagi.