Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: SKAKMAT SANG PENGACARA
Di sudut ruangan, Adrian berdiri dengan tenang, menyesap kopi hitamnya. Sebuah seringai samar melintas di wajahnya melihat kemarahan ayahnya yang tersulut sempurna. Inilah yang ia tunggu. Penyakit antisosialnya membuat ia sangat menikmati momen kehancuran mental orang lain, terutama Valerie.
"Pa, tenanglah," ucap Adrian dengan nada bicara yang dibuat seolah-olah prihatin. Ia melangkah mendekat, meletakkan tangannya di bahu Hendrawan, sebuah gestur palsu yang sangat meyakinkan. "Revan sepertinya sudah tidak bisa lagi mengendalikan Valerie. Dia terlalu lembek. Bukannya menyembunyikan Valerie, Revan malah membiarkan Valerie berkeliaran di fakultas seni dan akhirnya skandal lama ini meledak lagi."
Hendrawan menoleh pada putra sulungnya. "Lalu apa maumu, Adrian?"
"Valerie itu sedang sakit, Pa," bisik Adrian, suaranya terdengar seperti sebuah saran medis yang tulus. "Kejadian di klub malam setahun lalu adalah bukti dia tidak stabil. Sekarang, dengan skandal ini muncul kembali, dia pasti akan mengalami breakdown. Jika kita membiarkannya tetap bersama Revan, citra keluarga Adiwijaya akan terus terseret ke lumpur."
Adrian menjeda kalimatnya, memastikan setiap katanya meresap ke dalam ego Hendrawan yang haus akan martabat.
"Tarik dia pulang, Pa. Cabut status Revan sebagai wali. Kita masukkan Valerie ke fasilitas rehabilitasi kejiwaan milik rekan sejawatku. Di sana, dia akan 'diam' dan jauh dari jangkauan publik. Katakan pada kolega Papa bahwa Valerie sedang berobat ke luar negeri. Dengan begitu, nama baik Papa terselamatkan, dan kita tidak perlu lagi bergantung pada Revan yang tidak becus itu."
Hendrawan terdiam. Logikanya yang dibutakan oleh gengsi mulai membenarkan kata-kata Adrian. "Tapi Revan adalah suaminya secara hukum. Dia punya hak penuh."
Adrian terkekeh dingin. "Hukum bisa dimanipulasi, Pa. Jika kita bisa membuktikan Valerie tidak kompeten secara mental untuk mengambil keputusan, Papa sebagai ayah kandung bisa mengambil alih perwalian darurat. Besok, aku akan menyiapkan surat-suratnya. Papa hanya perlu memberikan perintah."
Apartemen Revan & Valerie – Pukul 20.00 WIB
Di apartemen, Revan masih mendekap Valerie erat. Ia bisa merasakan tubuh istrinya yang perlahan mulai tenang, meski napasnya masih menyisakan isak kecil.
"Sepertinya Papa dan Adrian akan menggunakan skandal ini untuk menekanku kembali." gumam Revan, suaranya berat karena amarah yang dipendam. "Jika tebakanku benar kali ini Mereka ingin aku mengembalikanmu ke rumah itu agar mereka bisa Mengontrol mu kembali di bawah pengawasan Adrian."
Valerie mencengkeram kemeja Revan lebih kuat. "Aku tidak mau kembali ke rumah itu Mas. Aku lebih baik mati daripada harus kembali tinggal di sana."
Revan mengecup kening Valerie lama, menyalurkan segala kekuatan yang ia miliki. "Tidak akan. Selama aku masih bernapas, tidak akan ada yang bisa menyeretmu keluar dari pintu ini."
Revan melepaskan pelukannya perlahan, menangkup wajah Valerie dengan kedua tangannya. Matanya yang tajam menatap Valerie dengan intensitas yang tak tergoyahkan.
"Mulai besok, tidak ada lagi sandiwara 'Paman' di kampus, Erie. Aku tidak peduli pada Julian, pada Dekan, atau pada tatapan mahasiswa lain. Aku akan menjemputmu tepat di depan kelasmu, menggandeng tanganmu, dan memastikan semua orang tahu bahwa kau adalah istriku."
"Tapi karirmu, Mas... Julian pasti akan melaporkanmu ke dewan etik," ucap Valerie cemas.
Revan tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh dengan perhitungan dingin khas seorang pengacara kelas atas.
"Biarkan dia mencoba. Dia pikir dia mengerti hukum? Besok akan kutunjukkan padanya bagaimana cara menghancurkan karir seseorang tanpa perlu menyentuhnya. Sekarang, tidurlah. Aku harus menghubungi seseorang."
Begitu Valerie masuk ke kamar, wajah hangat Revan seketika menghilang. Ia mengambil ponselnya, mencari sebuah kontak yang sudah lama tidak ia hubungi.
"Bimo?" ucap Revan saat telepon diangkat. "Cari tahu siapa yang mengirimkan foto-foto Valerie ke forum kampus. Dan satu lagi... aku butuh catatan audit medis dari rumah sakit tempat Adrian bekerja. Aku tahu dia memalsukan beberapa resep obat penenang setahun lalu. Saatnya kita bermain dengan cara mereka."
Langkah yang diambil Revan adalah langkah yang sangat berani dan tak terduga. Ia tahu bahwa dalam dunia hukum dan opini publik, siapa yang memberikan pernyataan pertama kali, dialah yang memegang kendali narasi.
Keesokan paginya, suasana di Universitas bukan lagi sekadar bisik-bisik, melainkan kegaduhan nyata. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah pemberitahuan resmi muncul di papan pengumuman digital dan grup koordinasi kampus.
"KLARIFIKASI TERBUKA: Terkait Fitnah dan Pencemaran Nama Baik terhadap Mahasiswi Fakultas Seni. Pembicara: Revanza Malik, S.H., M.H. Lokasi: Aula Utama Gedung Hukum. Pukul 09.00 WIB."
Julian, yang baru saja hendak melangkah ke ruang Dekan membawa map berisi "bukti" skandal Revan, tertegun melihat pengumuman itu. "Dia sudah gila? Dia ingin mempermalukan dirinya sendiri di depan publik?" gumam Julian dengan senyum meremehkan. Ia segera mengubah arah langkahnya menuju Aula Utama.
Aula Utama Gedung Hukum – 09.00 WIB
Aula sudah penuh sesak. Mahasiswa dari Fakultas Hukum dan Seni berkumpul, termasuk Karin yang duduk di barisan depan dengan wajah sangat cemas. Valerie tidak ada di sana, Revan memintanya untuk tetap di ruangan terkunci di kantor hukumnya agar ia tidak perlu mendengar hinaan secara langsung.
Revan melangkah ke atas podium. Ia mengenakan setelan jas hitam yang sangat formal, auranya begitu mengintimidasi hingga seluruh ruangan yang tadinya bising mendadak senyap.
"Selamat pagi," suara Revan menggema lewat mikrofon, tenang namun tajam. "Saya berdiri di sini bukan sebagai dosen kalian, melainkan sebagai seorang praktisi hukum dan perwakilan resmi dari keluarga Adiwijaya."
Layar besar di belakang Revan menyala, menampilkan foto-foto klub malam yang viral kemarin.
"Foto-foto ini asli," ucap Revan lugas, memicu kasak-kusuk di antara penonton. "Namun, narasi yang menyertainya adalah kebohongan yang menjijikkan. Foto ini diambil saat Valerie Adiwijaya sedang dalam upaya melarikan diri dari tekanan mental yang luar biasa. Saya ada di sana, di balik kamera itu, untuk menjemputnya pulang atas perintah Kakeknya."
Revan menatap tajam ke arah Julian yang berdiri di pintu masuk.
"Mengenai tuduhan 'simpanan' atau hubungan tidak pantas," Revan menjeda kalimatnya, lalu ia mengeluarkan sebuah dokumen dari map kulitnya dan meletakkannya di bawah proyektor.
Seketika, layar besar menampilkan Akta Pernikahan Negara. Nama Revanza Malik dan Valerie Adiwijaya tertera di sana dengan sangat jelas, lengkap dengan tanggal yang sudah cukup lama.
"Valerie Adiwijaya adalah istri sah saya. Kami menikah dengan persetujuan penuh keluarga untuk melindunginya secara hukum dari pihak-pihak yang mencoba mengeksploitasi kondisi mentalnya," suara Revan meninggi satu oktav. "Jadi, setiap penghinaan, setiap kata 'liar' atau 'simpanan' yang kalian lontarkan di forum kampus, mulai detik ini akan saya proses sebagai tindakan kriminal pencemaran nama baik."
wahh mantap Thor.. updatenya dobel-dobel 👍