"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikut 07
Pesawat mulai lepas landas, membawa perasaan Arundari yang tidak karuan. Bagaimana tidak, banyak bukti yang didapatnya tentang kebersamaan Heri dan Jelita.
Sepanjang perjalanan dari Makasar ke Jakarta, wanita itu terus meneteskan air matanya. Dia tengah mencoba berpikir tentang apa yang perlu dilakukan setelah ini.
"Masih kurang, kalau cuma segini aku masih kurang bukti. Ya, aku harus menunggu untuk beberapa waktu lagi biar dapetin bukti yang valid,"ucap Arundari lirih.
Tangannya tampak bergetar dengan hebat ketika melihat semua video dari rekaman kamera pengawas yang ada di hotel tadi. Tapi tekadnya tidak lah goyah, ia bertekad untuk membongkar semuanya jika waktunya sudah tepat.
Sampai di Jakarta hari sudah menuju malam. Arundari memeriksa ponsel untuk melacak keberadaan Heri. Pria itu tampaknya tidak pergi kemana-mana setelah sampai Jakarta dan hanya berdiam diri di rumah.
"Baguslah, setidaknya aku nggak perlu emosi nanti. Kamu harus kuat Arundari, biar semuanya lebih jelas lagi."
Setelah hari itu, Arundari tak lagi punya kepercayaan kepada Heri. Dia terus memantau keberadaan suaminya setiap keluar dari rumah. Dan benar saja, Heri kadang mendatangi tempat-tempat yang tidak sesuai dengan ucapannya ketika meninggalkan rumah.
Tak hanya itu Arundari juga lebih sering datang ke kantor, tentunya dengan berbagai alasan. Dan ada satu hal yang bisa dia tangkap bahwa Jelita nampak tidak suka setiap melihat dirinya datang.
"Tentu saja kamu nggak suka, karena waktu mu bersama suamiku jadi dikit kan? Dasar jalang berkedok alim,"umpat Arundari dalam hati.
Rasanya sangat muak ketika harus beramah tamah dengan Jelita. Wanita yang sudah dianggap seperti adik, makan kadang bersama bahkan tak jarang Arundari menyuapi Jelita dengan tangannya sendiri, membeli pakaian bersama juga, tapi dengan tega Jelita menusuknya dari belakang.
Hijab yang menutup seluruh kepalanya, pakaian muslimah yang menutup seluruh tubuhnya, seolah tak membuatnya sadar bahwa apa yang dilakukan itu adalah salah dan bahkan merupakan dosa besar.
"Jin dasim pun sekarang menggunakan topeng alim untuk misi menghancurkan rumah tangga orang lain. Bener-bener wanita laknat!" ucap Arundari dalam hatinya lagi ketika melihat Jelita yang bersikap manis di depan orang-orang.
Ia akui, Jelita memang cantik. Wajahnya imut dan menggemaskan, pasti akan banyak orang yang tertarik padanya. Tapi mengapa, gadis secantik itu harus terpikat dengan Heri yang bahkan bisa dibilang wajahnya biasa saja.
Ck!
Enggan melihat sikap sok manis dari Jelita, Arundari memilih masuk ke ruangan Heri. Terlihat suaminya itu sedang sibuk. Tapi ada sesuatu yang membuat Arundari merasa heran. Di meja kerja milik Heri, terdapat sebuah piring kecil. Itu adalah brownies. Yang mana Arundari tahu persis bahwa suaminya tak menyukainya.
Tapi Arundari tidak akan membahas itu. Dia hanya ingin datang dan duduk santai saja sekarang ini.
"Baik Pak, baik saya akan menyiapkannya. Saya akan datang ke sana untuk membahas ini. Ya terimakasih, masyaallah. Baik-baik, wassalamualaikum."
Wajah Heri nampak senang ketika mengakhiri panggilan itu. Seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang besar.
"Ada apa, Mas?" tanya Arundari. Meski ingin bersikap acuh tak acuh, tapi dia penasaran juga dengan apa yang terjadi.
"Yank, ini bener-bener rejeki. Kamu tahu siapa yang baru aja ngubungin aku? Dia adalah Beni Satria, asisten pribadi sekaligus sekertaris dari perusahaan kontraktor besar AKAR. Katanya pimpinan perusahan itu mau memberangkatkan umroh karyawannya. Dan alhamdulillah dia memilih kita. Ya karena katanya ARJ Tour and Travel lagi penuh, jadi mereka geser ke kita. Ini beneran berkah tahu. Nah besok aku diminta kesana buat bahas ini."
"Aku ikut.'
Ya?
Wajah Heri seketika menampilkan gurat keterkejutan ketika mendengar ucapan Arundari. Bahkan dia mengonfirmasi sekali lagi apa yang dikatakan oleh istrinya itu dan jawaban Arundari sama.
Heri heran, selama ini Arundari tak pernah ikut campur dalam urusan pekerjaan. Akan tetapi kali ini istrinya itu tiba-tiba ingin ikut. Dan setelah diingat, akhir-akhir ini juga Arundari lebih sering datang ke kantor.
"Kalau kamu mau ikut ya nggak apa-apa. Besok janji kita jam sembilanan."
"Sip, yaudah aku pulang dulu kalau gitu. Ah iya, tumben kamu makan brownies. Padahal kan kamu nggak suka,"sahut Arundari.
"Oh itu~"
Belum selesai Heri berbicara, Arundari sudah melenggang pergi dan pintu ruangannya sudah kembali di tutup. Dia mengusap wajahnya kasar melihat kue tersebut.
"Sial, harusnya aku simpen dulu pemberian dari Jelita. Dia nggak akan curiga kan? Nggak, nggak mungkin curiga,"ucap Heri mencoba menenangkan diri.
Ada satu hal yang tidak Heri sadari, bahwa saat ini Arundari sudah banyak berubah. Dia mungkin tidak sadar karena sibuk dengan pekerjaan dan juga kebersamaannya dengan Jelita. Heri benar-benar tidak tahu bahwa apa yang dia lakukan di belakang istrinya sudah sepenuhnya diketahui.
Keesokan harinya, Arundari benar-benar ikut Heri ke AKAR, perusahaan yang katanya ingin memberangkatkan karyawannya ke tanah suci.
Jika biasanya Arundari asal saja penampilannya saat keluar rumah, kali ini tidak demikian. Ia memoles wajahnya dengan sungguh-sungguh. Lipstik merah muda yang segar dipilihnya agar wajahnya juga tampak segar. Arundari juga mengenakan setelan rok berwarna coklat yang kemudian dipadukannya dengan hijab berwarna cream. Sungguh sangat pas sekali.
"Duh kamu kok cantik begini sih, aku jadi nggak rela biarin kamu ketemu sama orang-orang di dalam itu nanti,"ucap Heri ketika mereka baru turun dari mobil.
Arundari sama sekali tidak menanggapi ucapan suaminya. Dia hanya tersenyum simpul.
Tujuannya ikut saat ini adalah karena dia tahu, bahwa Jelita pasti akan ikut Heri dengan dalih urusan pekerjaan.
Meski Arundari berpikir akan mendapatkan banyak bukti, tapi dia juga ingin membuat wanita itu kesal karena tak bisa banyak menggunakan waktu bersama Heri.
"Saya Beni yang menghubungi Mas Heri. Dan ini ~"
"Istri saya, Arundari."
"Oh baik, sebelah sini ya Mas dan Mbak. Atasan saya sudah menunggu. Beliau yang nanti akan membicarakan langsung terkait apa yang saya sampaikan kemarin di telpon."
Beni yang merupakan asisten pribadi dari pimpinan AKAR menyambut langsung Heri dan Arundari. Kantor tesebut sangat megah. Meski gedungnya bukan termasuk dalam gedung pencakar langit, tapi semua orang tahu bahwa AKAR adalah perusahaan kontruksi yang sangat terkenal.
Cekleek
Pintu ruangan dibuka. Di dalam seorang pria dengan tampilan elegan dan juga berwibawa langsung berdiri lalu berjalan untuk menghampiri Heri dan Arundari.
Pria itu tersenyum simpul lalu mengulurkan tangannya.
"Saya Adyaksa Gumilar, terimakasih karena sudah berkenan datang,"ucap Adyaksa sopan dan ramah.
"Saya Heriawan dan ini istri saya Arundari Ainunnisa, saya yang berterimakasih karena sudah diberi kepercayaan untuk menemani perjalanan Anda ke tanah suci." Heri menjawab dengan sopan pula, raut bahagia jelas tergambar dari wajahnya. Bagaimana tidak, mendapat klien dari perusahaan besar seperti ini pasti akan meningkatkan namanya.
TBC
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄
Apakah Anis nanti nya akan berjodoh sama Beni yaa..? hhmmm... 🤣🤣