Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Jangan melawan Om
Ayra berdiri dihadapan Hans dan membantu mengeringkan rambutnya dengan senang .
" Geser dikit sini Om " kata Ayra menarik kepala Hans agar lebih dekat padanya .
" Om itu kalau habis mandi rambutnya dikeringkan dulu , jangan langsung beraktivitas nanti Om masuk angin lagi " kata Ayra .
Tok
Tok
" Masuklah" kata Ayra yang masih sibuk mengeringkan rambut Hans .
" Ehhhhh, Om Dave aku pikir pelayan yang datang membawa kopi " ucap Ayra begitu Dave masuk tanpa menutup pintu.
" Apa yang kamu lakukan Ayra ? Apa Om mu sakit sampai kamu harus membantu mengeringkan rambutnya?" pertanyaan Dave mengangkat sebelah alisnya melihat Hans yang bersandar ke perut Ayra yang berdiri dihadapan nya .
" Tidak, tidak, Om Hans tidak sakit hanya saja dia tidak mengeringkan rambut setelah mandi jadi aku membantunya " kata Ayra mencabut hair dryer setelah selesai mengeringkan rambut Hans.
" Kenapa dibantu biarkan saja dia masuk angin karena punya gaya hidup tidak baik " pernyataan Dave langsung berbaring diatas ranjang Hans seperti kamar sendiri .
" Tidak aku sayang Om Hans , dia harus tetap sehat " pernyataan Ayra .
" Yaudah aku tidur dulu ini sudah malam, Om kalau mau nginap disini aja tapi jangan bawa Om Hans mabuk" kata Ayra sebelum pergi keluar kamar .
" Lah Hans sendiri yang menelpon ku , katanya dia ingin main ke club' " kata Dave yang langsung ditampar Hans paha nya .
" Ti, tidak Ayra, kami tidak akan kemana-mana hanya menyelesaikan pekerjaan" ucap Hans dengan sedikit gelagapan.
" Awas aja Om bohong" kata Ayra .
" Om tidak akan berbohong , pergilah tidur " kata Hans yang tidak menatap Ayra sama sekali .
Baru melangkah beberapa langkah Ayra kembali menatap Hans yang masih duduk ditepi ranjang " Om janji dulu sama aku nggak bakal mabuk" kata Ayra mengangkat kelingking nya .
" I, iya Om berjanji " ucap Hans menautkan kelingking nya .
Tawa Dave langsung pecah begitu Ayra keluar benar-benar merasa lucu dan aneh melihat mereka berdua .
" Apa yang kau tertawakan ?" Hans langsung menampar lengan Dave .
" Sebentar lagi dia juga akan memintamu berjanji untuk tidak melirik wanita manapun dan kau akan melakukan itu " tawa Dave .
" Dave katakan padaku bagaimana rencana selanjutnya aku benar-benar takut " ucap Hans dengan serius merangkak ketengah ranjang agar bisa duduk sejajar dengan Dave.
" Begini," Deve akan membisikkan sesuatu ketelinga Hans tapi langsung kaget begitu Ayra masuk tanpa mengetuk pintu .
" Ayra " kaget mereka berdua langsung memperbaiki posisi .
" Ihhhh, Om lagi apa ayo? jadi curiga " goda Ayra mengangkat sebelah alisnya menatap mereka yang berbaring dalam posisi dekat sekali .
" Ohhhh tuhan, Ayra jadi kamu pikir kami belok gitu ?" marah Dave berdiri dan langsung menjewer telinga Ayra yang berani berpikir begitu .
" Ti, tidak, ampun Om " kata Ayra masih terkekeh .
" Dave lepaskan, jangan kasar padanya" ucap Hans menghampiri mereka dan memastikan jeweran Dave tidak berbekas di telinga Ayra.
" Ada apa? tadi katanya mau tidur kenapa kembali lagi?" tanya Hans mengelus kepala Ayra .
" Ambil jepitan, kayaknya jatuh di atas ranjang Om " kata Ayra menyingkap selimut dan benar menemukan jepitannya lalu keluar .
" Astaga Hans , apa yang kau lakukan padanya?" tanya Dave mengangkat sebelah alisnya.
" Tadi aku marah padanya dan kau tau betapa keras kepalanya dia sebelum aku maafkan bahkan berdiri 3 jam didepan pintu tidak membuatnya menyerah " ucap Hans memijit pelipisnya.
" Lalu apa yang membuat kau mau memaafkan nya dengan cepat?" tanya Dave lagi kemudian Hans bercerita bagaimana Ayra memohon dan tidak mau melepaskan pelukan nya sebelum Hans memaafkan nya .
" Tapi Dave aku benar-benar tidak mau kehilangan Ayra , aku tidak bisa hidup tanpanya , tolong bantu aku Dave " mohon Hans yang tidak tau lagi harus apa .
Tidak bisa Hans pungkiri kehadiran pria yang dijodohkan dengan Ayra membuatnya menjadi sangat takut .
" Tidak ada cara lain selain menaklukkan hati Ayra , namun selama Ayra masih sangat percaya padamu maka kau akan aman Hans " ucap Dave menepuk pundak Hans karena Ayra memang selalu mempercayai Hans melebihi apapun .
" Aku tau dia sangat percaya padaku , tapi bagaimana pun aku telah berbohong padanya dia akan sangat kecewa nantinya" perlahan Hans merasa bersalah .
" Sudah aku katakan pilihan nya ada dua , merelakan Ayra atau memiliki nya dan kau memilih untuk memiliki nya jadi kau harus melakukan beberapa hal yang mungkin itu salah tapi hanya dengan cara itu kau mendapatkan Ayra " ucap Dave sebagai seorang sahabat yang kadang juga bingung sendiri harus membimbing Hans kejalan yang mana .
Hati atau justru logika Hans!!!.
Keesokan harinya.
" Selamat pagi Om " sapa Ayra dengan ceria menghampiri Hans yang duduk dimeja makan .
" Pagi " jawab Hans dengan suara beratnya melihat penampilan Ayra yang memakai rok mini dengan atasan kemeja.
" Keluarlah" ucap Hans pada bodyguard dan pelayan disekitar mereka.
" Tunggu " Hans mencegah Ayra yang akan duduk dimeja makan .
" Kenapa Om?" tanya Ayra mengikuti arah tatapan Hans pada pahanya .
" Apa kamu sudah tidak punya rok selain dari ini?" pertanyaan Hans.
" Ada banyak, ini rok baru aku Om , cantik kan " ucap Ayra berputar-putar.
Plakkk
" Awwww, kok Om nampar aku " kata Ayra mengelus-elus pahanya bekas tamparan Hans yang tidak keras tapi membuat paha mulus Ayra memerah .
" Ganti rok nya sekarang" tatapan tidak rela Hans melihat paha mulut Ayra yang kelihatan lebih separuh .
" Tapi kan,"
" Ayra Om bilang ganti sekarang, berapa kali harus Om katakan boleh pakai rok tapi minimal pakai yang selutut" tegas Hans .
" Mmmmh, tapi aku suka ini " rengek Ayra .
" Ikut Om" kata Hans memegang tangan Ayra dan membawanya ke dalam kamar .
" Ganti sekarang" perintah Hans begitu mereka sampai di kamar Ayra .
" Ayra ganti cepat " perintah Hans .
" Bandel ya " Hans mengambil gunting dan memotong rok Ayra sampai lepas dari tubuh gadis itu .
Ayra langsung berlari keruang ganti setelah rok nya digunting Hans dan menangis sejadi-jadinya.
Hans yang baru tersadar atas apa yang dia lakukan duduk ditepi ranjang Ayra " Astaga, jangan sampai Ayra merasa dilecehkan oleh ku" batin Hans menatap rok Ayra diatas lantai .
" Ohhhh, tuhan aku tidak seharusnya menggunting rok Ayra " batin Hans mengelus pelipisnya dan meremas sprei ketika terbayang Ayra berjalan hanya memakai dalaman saja .
" Aku harus segera menemui nya " ucap Hans langsung masuk keruang ganti .
" Akkkkh" Ayra berteriak begitu Hans masuk tanpa permisi sedangkan dia masih belum mengenakan bawahan .
" Astaga , Ayra Om tidak bermaksud begitu, Om mau minta maaf, " ucap Hans berdiri membelakangi Ayra .
" I, iya, Om tunggu dulu, aku, pakai celana dulu " kata Ayra bergegas sementara Hans masih berdiri ditempat yang sama .
Namun sialnya kondisi benar-benar tidak berpihak pada Hans dia malah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dari pantulan cermin .
yg dijodohkan dgn Ayra dah nongol, gmn tuh tindakan Hans selanjutnya ya
Ayra gak sengaja dengerin gak ya saat Hans ngomong mencintainya, mungkin dengerin dan sikapnya berubah 🤔