NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 2-napas yang tidak disukai dunia

Pagi itu, kabut turun lebih tebal dari biasanya.

Desa Qinghe seolah terpisah dari dunia luar. Rumah-rumah kayu tampak samar, ladang menghilang di balik putih pucat, dan suara manusia terdengar teredam, seakan semua hal berjalan lebih lambat.

Qing Lin bangun sebelum matahari terbit.

Ia membuka mata tanpa mimpi, tanpa rasa kantuk. Dadanya naik turun dengan ritme stabil, namun ada sensasi asing yang masih tertinggal sejak malam sebelumnya—seperti embusan angin tipis yang tidak sepenuhnya pergi.

Ia duduk di tepi ranjang kayu, terdiam cukup lama.

"Masih ada," gumamnya pelan.

Bukan sakit. Bukan hangat. Hanya ada.

Qing Lin tidak panik. Sejak kecil, ia terbiasa menerima hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Hidup di desa miskin mengajarkannya satu hal sederhana: tidak semua hal butuh jawaban cepat.

Ia berdiri, mencuci muka dengan air dingin, lalu menyiapkan bubur untuk bibinya. Wanita itu masih terbaring lemah, batuk pelan di balik selimut tipis.

"Kau bangun cepat sekali," ucap bibinya lirih.

Qing Lin mengangguk. "Aku mau ke hutan sebentar. Kayu di rumah hampir habis."

Bibinya menatapnya dengan khawatir. "Jangan terlalu jauh."

"Aku tahu jalannya," jawab Qing Lin polos.

Ia mengambil kapak kecil, menggantungkan keranjang di punggung, lalu melangkah keluar rumah. Kabut menyambutnya, dingin dan basah.

Langkah Qing Lin ringan. Ia tidak terburu-buru. Setiap tarikan napas terasa sedikit berbeda hari ini—lebih dalam, lebih panjang.

Tanpa sadar, ia mulai mengatur napas seperti semalam.

Tarik perlahan.

Tahan sesaat.

Hembuskan pelan.

Awalnya, tidak ada perubahan.

Namun setelah beberapa langkah, Qing Lin merasakan sesuatu bergerak di dalam dadanya.

Sangat tipis.

Seperti benang halus yang ikut ditarik masuk bersama udara.

Qing Lin berhenti.

Ia menutup mata.

Fokus.

Di balik kelopak matanya, dunia terasa sunyi. Suara burung menjauh. Desir angin memudar. Yang tersisa hanya napasnya sendiri—dan sesuatu yang ikut berputar bersamanya.

Dingin.

Tenang.

Qing Lin membuka mata.

Kabut di sekitarnya tampak sedikit bergetar.

Bukan menghilang.

Hanya… mendekat.

Ia menelan ludah.

"Bukan ilusi," bisiknya.

Ia tidak tahu apa itu qi. Ia hanya pernah mendengar sekilas dari cerita orang sekte: energi langit dan bumi, sesuatu yang hanya bisa disentuh oleh mereka yang punya akar spiritual.

Namun Qing Lin tahu satu hal pasti.

Sesuatu yang seharusnya tidak bisa mendekatinya, kini melakukannya.

Ia tidak melonjak kegirangan.

Ia duduk di atas batu besar di pinggir hutan.

Bersila.

Bernapas.

Waktu berlalu perlahan.

Kabut pagi menipis. Matahari naik sedikit demi sedikit. Keringat dingin mengalir di punggung Qing Lin, bukan karena lelah, melainkan karena konsentrasi.

Sesuatu di dalam tubuhnya mulai membentuk siklus.

Belum sempurna.

Sering terputus.

Namun setiap kali hampir hilang, Qing Lin menyesuaikan napasnya, mengembalikannya dengan sabar.

Ia tidak tahu bahwa apa yang ia lakukan adalah bentuk paling primitif dari Qi Gathering.

Ia hanya tahu—ini terasa benar.

Saat ia akhirnya membuka mata, matahari sudah tinggi.

Perutnya lapar.

Tubuhnya pegal.

Namun ada perubahan kecil.

Langkahnya terasa lebih mantap saat ia berdiri.

Kapak di tangannya terasa lebih ringan.

Sangat sedikit.

Hampir tidak berarti.

Namun nyata.

Dalam perjalanan pulang, Qing Lin melewati lapangan desa.

Kereta Sekte Awan Biru masih ada.

Beberapa pemuda desa berdiri dengan jubah biru muda. Wajah mereka dipenuhi kebanggaan. Beberapa gadis desa berbisik sambil melirik ke arah mereka.

Qing Lin lewat tanpa berhenti.

Seorang murid sekte menoleh.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Murid itu mengerutkan kening.

Ia tidak melihat qi.

Tidak melihat aura.

Namun ada rasa aneh—seperti melihat wadah kosong yang seharusnya benar-benar kosong, tapi entah kenapa terasa tidak sepenuhnya hampa.

Qing Lin memutuskan kontak mata lebih dulu.

Ia pulang.

Malam hari, setelah memastikan bibinya tertidur, Qing Lin kembali duduk bersila.

Ia mengulang napas yang sama.

Kali ini, lebih stabil.

Lebih lama.

Qi yang terkumpul masih sedikit—terlalu sedikit untuk diperhatikan dunia.

Namun di kedalaman tubuhnya, sesuatu yang lebih tua dan lebih gelap bergetar pelan.

Seperti kitab yang terkubur lama di tanah, retak, dan akhirnya tersentuh kembali.

Tanpa cahaya.

Tanpa suara.

Sutra Darah Sunyi belum bangun sepenuhnya.

Namun ia telah mengenali tuannya.

Dan di dunia yang tidak pernah mengakui napas Qing Lin—

jalannya telah dimulai.

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!