Bagi Arkanza Malik, sentuhan wanita adalah racun yang mematikan. CEO dingin ini mengidap penyakit aneh yang membuatnya sesak napas dan kulitnya terbakar setiap kali kulitnya bersentuhan dengan lawan jenis. Namun, sebuah insiden di lorong hotel mengubah segalanya.
Aira, gadis miskin yang kabur dari kejaran rentenir setelah menghantam kepala pria yang ingin melecehkannya, tanpa sengaja jatuh ke pelukan Arkanza. Bibir mereka bertemu dalam kegelapan. Arkanza yang seharusnya mati karena alergi, justru merasakan napasnya kembali. Gadis kumal ini adalah satu-satunya penawar racunnya!
"Aku sudah melunasi hutang ayahmu. Sebagai gantinya, kau harus menjadi istriku dan biarkan aku menyentuhmu kapan pun aku membutuhkannya."
Aira terjebak. Menjadi "obat hidup" bagi CEO kejam yang tidak punya hati. Di antara kontrak miliaran rupiah dan intrik perebutan harta, mampukah Aira bertahan tanpa harus menyerahkan hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Detak Jantung yang Kembali
"Tuan! Tuan Arkan! Sadarlah!" suara Aira bergetar di tengah suara sirine pemadam kebakaran yang memekakkan telinga.
Arkanza yang baru saja diturunkan dari tandu darurat tiba-tiba membuka matanya. Hal pertama yang ia lakukan bukanlah menghirup oksigen dari masker yang dipasangkan petugas, melainkan merenggut masker itu dan menarik kerah baju Aira.
"Kau... kau tidak apa-apa?" suara Arkanza parau, hampir hilang.
"Saya baik-baik saja, Tuan. Tolong, pakai maskernya!" tangis Aira pecah.
Arkanza menggeleng lemah. Ia menarik tengkuk Aira dan mencium bibirnya dengan sisa tenaga yang ada. Ciuman yang penuh rasa takut, posesif, dan kelegaan yang luar biasa.
"Jangan pernah... berani pergi dariku lagi," bisik Arkanza tepat di depan bibir Aira. "Kau dengar? Aku lebih takut kehilanganmu daripada kehilangan napasku sendiri."
"Iya, Tuan... saya tidak akan ke mana-mana. Saya janji."
Rumah Sakit Utama Malik – Ruang VVIP
Dua jam kemudian, Arkanza sudah berada di ranjang rumah sakit. Begitu ia sadar sepenuhnya, tangannya langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira yang duduk di sisinya.
"Sakit, Tuan... genggaman Anda terlalu kuat," rintih Aira pelan.
"Biarkan saja," jawab Arkanza dingin namun matanya menatap Aira dengan cemas. "Kalau aku lepas, kau pasti akan mencoba kabur lagi ke jendela atau melakukan aksi heroik bodoh lainnya."
"Saya hanya ingin mengambil air untuk Anda—"
"Tidak. Diam di sini. Biarkan aku merasakannya." Arkanza menarik tangan Aira, mencium punggung tangannya berkali-kali. "Detak jantungmu, suhu tubuhmu... aku butuh itu untuk tahu aku benar-benar masih hidup."
"Tuan Arkan..."
"Panggil namaku, Aira. Tanpa embel-embel 'Tuan'."
Aira terpaku, wajahnya memerah. "Arkan..."
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Reno mendorong kursi roda Syarif Malik ke dalam ruangan. Wajah Syarif tampak layu, tak ada lagi keangkuhan di sana.
"Keluar," desis Arkanza saat melihat ayahnya. "Aku tidak ingin melihat pembunuh ibuku."
"Arkanza, dengarkan aku sebentar saja," suara Syarif bergetar.
"Apa lagi? Kau mau bilang kalau kau melakukannya demi aku? Demi perusahaan?!" Arkanza mencoba bangkit, namun Aira menahannya.
"Arkan, tenanglah. Dengar dulu apa yang ingin dia katakan," bujuk Aira lembut.
Arkanza mendengus, namun ia kembali bersandar karena usapan tangan Aira di bahunya. "Bicara. Lima menit."
Syarif menarik napas berat, menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. "Ibumu... dia tidak mati, Arkanza."
Hening. Aira membeku, sementara Arkanza tertawa getir.
"Kau sudah gila karena serangan jantung itu, Ayah? Aku yang menguburkannya! Aku yang menangis di makamnya selama lima belas tahun!"
"Makam itu kosong," sela Syarif cepat. "Hari itu, aku membawanya pergi sebelum tim medis resmi datang. Aku memalsukan kematiannya karena aku tahu keluarga besarnya akan mengambil alih semua aset Malik Group jika mereka tahu dia masih hidup dalam keadaan koma."
"Apa katamu? Koma?" Arkanza mencengkeram sprei ranjangnya hingga robek.
"Dia ada di Singapore. Rumah Sakit Mount Elizabeth. Selama lima belas tahun ini, dia hanya bernapas melalui mesin. Dia ada di sana, Arkan. Menunggumu."
"KAU IBLIS, AYAH!" Arkanza berteriak, air mata kemarahan jatuh di pipinya. "Kau membiarkan aku hidup seperti yatim piatu? Kau membiarkan aku merasa bersalah setiap hari karena mengira aku yang membunuhnya?!"
"Aku takut, Arkan! Aku takut kehilangan dia, dan aku takut kehilangan hartanya!" Syarif menangis tersedu-sedu. "Tapi setelah melihat Dion mencoba membakarmu hidup-hidup... aku sadar, aku sudah kehilangan segalanya karena keserakahanku."
Arkanza memalingkan wajah, bahunya berguncang karena isak tangis yang tertahan. Aira segera memeluk Arkanza dari samping, memberikan kekuatan yang ia miliki.
"Di mana dia sekarang? Ruangan mana?" tanya Arkanza dengan nada yang mematikan.
"Reno punya semua aksesnya. Dia di bawah perlindungan tim medis rahasia."
Arkanza menoleh pada Reno yang berdiri di pintu. "Siapkan jet sekarang. Aku tidak peduli jika paru-paruku harus hancur di pesawat. Aku harus melihat Ibuku malam ini juga."
"Tapi Tuan, kondisi Anda—"
"RENO! SEKARANG!"
"Baik, Tuan Besar."
Arkanza beralih pada Aira, menatapnya dengan intensitas yang dalam. "Kau ikut denganku. Kau harus ikut."
"Tentu, Arkan. Aku tidak akan meninggalkanmu," bisik Aira.
"Bukan hanya itu," Arkanza menarik dagu Aira agar menatapnya. "Aku ingin kau yang menyentuhnya pertama kali. Jika kau bisa menjadi oksigen untukku... mungkin, kau juga bisa menjadi nyawa untuk Ibuku."
...****************...
Pesawat jet pribadi melesat membelah langit malam menuju Singapore. Di dalam ruang ICU yang sangat canggih, Arkanza berdiri di depan sesosok wanita yang terbaring kaku dengan berbagai kabel. Saat Aira meraih tangan wanita itu dan membisikkan sebuah nama, tiba-tiba monitor jantung berbunyi tit... tit... tit... lebih cepat. Ibu Arkanza membuka matanya perlahan, menatap Aira dengan binar yang aneh.
"K-kau... Aira?" bisik wanita itu lemah.