Di balik rak-rak kayu ek yang menjulang tinggi, Genevieve Isolde Clara adalah cahaya yang tak pernah padam. Sebagai pustakawan, ia dikenal karena senyumnya yang merekah bagi siapa saja dan keramahannya yang membuat siapa pun merasa diterima. Namun, keceriaan itu hanyalah tirai tipis yang menutupi luka batin yang sangat dalam. Genevieve adalah ahli dalam berpura-pura—ia membalut rasa sakitnya dengan tawa, memastikan dunia melihatnya sebagai gadis yang paling bahagia, meski hatinya perlahan hancur dalam kesunyian.
Kehidupan Genevieve yang penuh kepura-puraan terusik ketika Valerius Theodore Lucien muncul. Valerius adalah seorang pria dengan aura bangsawan kuno, pucat, dan memiliki tatapan yang seolah bisa menembus waktu—ia adalah seorang vampir yang telah hidup berabad-abad. Sejak pertama kali melihat Genevieve, Valerius merasakan sesuatu yang janggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19: Candu dalam Gelap
Valerius benar-benar kehilangan kompas moralnya. Keheningan kamar loteng dan napas teratur Genevieve menciptakan gelembung waktu yang seolah berhenti berputar. Ia bukan lagi sang predator yang dingin; ia adalah tawanan dari aroma dan kelembutan gadis di pelukannya.
Kedua tangannya yang besar dan pucat merayap turun dari sisi wajah Genevieve, lalu tanpa sadar meremas bagian bawah bahu gadis itu dengan sangat lembut.
Ia seolah ingin memastikan bahwa sosok yang ia dekap ini nyata, bukan sekadar fatamorgana yang akan menguap saat ia berkedip.
Remasan itu tidak menyakitkan, justru posesif—sebuah klaim bisu bahwa meski dunia melupakan Genevieve, ia tetap menjadi milik sang malam.
"Kau menghancurkanku, Genevieve..." bisik Valerius serak, suaranya terkubur di balik kulit halus itu.
Kepalanya kembali tertunduk, bibirnya menempel dengan tekanan yang lebih menuntut di area leher yang belum ia sentuh.
Ia menyesap kulit itu perlahan, menghisapnya dengan penuh perasaan hingga kembali meninggalkan jejak kemerahan yang baru—sebuah "tanda" yang lebih dalam dari sebelumnya. Warna ungu kemerahan itu kini menghiasi leher Genevieve seperti untaian kalung dari kelopak mawar yang lebam.
Genevieve menggeliat kecil. Sensasi remasan di bahunya dan cumbu di lehernya mulai menarik kesadarannya dari alam mimpi yang dalam. Ia merasa tubuhnya sangat panas, namun ada titik-titik dingin yang menempel di kulitnya.
"Mmm... dingin..." igau Genevieve, suaranya parau khas orang yang baru terbangun.
Ia mulai merasa ada beban yang tidak biasa di sampingnya. Sesuatu yang keras, dingin, namun juga memberikan rasa aman yang aneh. Kelopak matanya bergetar, mencoba terbuka di tengah temaram cahaya kamar.
Valerius sejenak kehilangan napasnya—jika ia masih memilikinya.
Desahan halus yang lolos dari bibir Genevieve seolah menjadi izin yang paling berbahaya bagi sang monster.
Suara itu begitu jujur, murni, dan tanpa kepura-puraan yang biasa gadis itu tunjukkan saat terjaga. Valerius, yang sudah terlanjur hanyut dalam candu aroma lehernya, kini memberanikan diri untuk melangkah lebih jauh ke dalam wilayah yang seharusnya tabu.
Dengan gerakan jemari yang gemetar namun cekatan, ia menyibakkan sedikit kain piyama wol yang menutupi tubuh Genevieve. Saat ia beralih menyesap bagian atas dada gadis itu, ia terperangah.
Di balik pakaian yang selalu terlihat sederhana dan kaku itu, tersimpan keindahan yang memukau.
Kulit Genevieve di sana tampak begitu putih, bersih, dan seolah memancarkan cahaya redup—bagaikan porselen yang disinari rembulan. Pemandangan itu begitu kontras dengan kegelapan abadi yang menyelimuti hidup Valerius.
"Luar biasa..." bisik Valerius parau.
Ia menyesap kulit lembut itu dengan sangat pelan, seolah sedang mencicipi nektar paling langka di dunia.
Setiap sentuhan lidah dan bibirnya di sana membuat Genevieve semakin gelisah dalam tidurnya; dadanya naik turun dengan ritme yang lebih cepat, dan ia kembali mengeluarkan desahan kecil yang membuat adrenalin Valerius melonjak.
Valerius benar-benar merasa seperti pencuri yang menemukan harta karun paling berharga. Ia tak lagi peduli pada hukum alam atau janji-janji kosong untuk menjauh. Baginya, cahaya yang terpancar dari tubuh Genevieve adalah satu-satunya matahari yang boleh ia lihat.
Ia terus menyesap, meninggalkan jejak-jejak kemerahan baru yang tersembunyi, menandai wilayah yang kini ia klaim sebagai miliknya seutuhnya dalam diam.
Valerius telah melintasi garis yang tak bisa ditarik kembali. Akal sehatnya telah luluh lantak, terbakar oleh gairah posesif yang selama berabad-abad ia pendam.
Baginya, Genevieve bukan lagi sekadar mangsa atau pelampiasan rasa sepi; gadis ini adalah candu, dan setiap jengkal tubuhnya adalah hak miliknya yang mutlak.
Remasan tangannya di sana terasa begitu nyata—paduan antara kekuatan yang menuntut dan kelembutan yang memuja.
Ia menyesap dan menyedot permukaan kulit sensitif itu dengan rakus, seolah ingin menyesap habis seluruh esensi kehidupan yang terpancar dari sana. Suara napas Valerius yang berat beradu dengan detak jantung Genevieve yang semakin kencang, menciptakan simfoni gelap di balik selimut wol itu.
"Mmmh... ah..." Genevieve menggeliat geli, tubuhnya melengkung kecil secara refleks.
Dalam bawah sadarnya, ia merasa seperti sedang tenggelam dalam kolam madu yang hangat namun dikelilingi oleh udara musim dingin yang tajam.
Sensasi remasan itu memberikan rasa penuh yang asing sekaligus menyenangkan, membuatnya semakin hanyut dalam mimpi erotis yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Valerius tidak berhenti. Ia justru semakin intens, seolah ingin memastikan bahwa tanda yang ia tinggalkan di sana akan bertahan selamanya, sebagai peringatan bagi siapa pun—termasuk Julian—bahwa harta ini telah memiliki tuan.
"Milikku," geram Valerius rendah di sela-sela kegiatannya. "Hanya milikku, Genevieve."
Ia terus memainkan lidahnya, mengecap rasa kulit yang bersinar itu dengan dopamin yang memuncak di kepalanya. Di luar, matahari mungkin sudah mulai tinggi, namun di dalam kamar loteng ini,
waktu telah berhenti demi memuaskan dahaga sang monster yang sedang berpesta di atas keindahan mangsanya yang terlelap.
keren
cerita nya manis