NovelToon NovelToon
Ternyata, Bukan Figuran

Ternyata, Bukan Figuran

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Percintaan Konglomerat / Kencan Online / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Anomali dalam Pendakian Turun

Fajar menyingsing dengan kabut tebal yang menyelimuti perkemahan. Begitu ritsleting tenda terbuka, sosok Julius Randle yang semalam begitu rapuh dan hangat seolah lenyap ditelan kabut. Ia berdiri tegak, mengenakan jaket outdoor-nya dengan rapi, wajahnya kembali datar, dan tatapannya sedingin es kutub.

Clark keluar dari tendanya dengan wajah sepucat kertas. Ia bahkan tidak berani menatap mata Julius saat mereka melipat tenda. Sikap kaku Clark yang biasanya santai membuat Lucia dan Henry saling lirik.

"Lo kenapa, Clark? Muka lo kayak abis liat penunggu gunung," bisik Henry sambil mengunyah roti lapisnya.

"G-gue... gue cuma kurang tidur," jawab Clark terbata-bata, nyaris menjatuhkan termosnya.

Jane yang melihat perubahan drastis Julius hanya bisa terdiam. Tadi malam itu nyata atau aku cuma halusinasi karena oksigen tipis? batinnya getir. Julius bahkan tidak menyapanya saat mereka mulai berkemas.

Namun, begitu perjalanan turun gunung dimulai, kesurupan itu terjadi lagi.

Di depan teman-temannya, Julius mungkin tidak banyak bicara, tapi tindakannya benar-benar di luar nalar naskah normalnya. Saat jalur menurun menjadi curam, Julius tidak lagi sekadar membantu, ia menggenggam erat tangan Jane dan tidak melepaskannya sepanjang jalan.

Bahkan, saat mereka berhenti sejenak di bawah pohon rindang, Julius menarik Jane ke dekatnya dan di depan mata Henry yang hampir melompat ia mencium puncak kepala Jane dengan lembut.

"Tetap di sampingku, Jane. Jalannya licin," ucap Julius dengan suara yang kembali hangat, kontras dengan wajahnya yang masih terlihat formal. Ia sesekali mengusap pipi Jane yang dingin karena angin pagi, memastikan gadis itu tetap nyaman.

Jane hanya bisa melongo. Fix, ini bukan Julius. Ini pasti penunggu gunung yang masuk ke tubuhnya, pikir Jane polos. Ia hanya bisa mengangguk-angguk pasrah (ia-ia saja) saat Julius merangkul pinggangnya untuk membantunya melompati batang pohon besar.

"Woi, Jules! Lo sehat?" teriak Henry dari depan. "Tangan lo nempel mulu ke Jane, udah kayak lem super!"

Julius hanya menatap Henry dengan tatapan dingin yang seolah berkata, Urus saja urusanmu, lalu kembali fokus menatap Jane dengan tatapan yang sangat memuja.

Drama dingin tapi posesif itu terus berlanjut hingga mereka sampai di basecamp dan masuk ke dalam mobil SUV mewah milik Julius. Kali ini, seolah tahu Jane sudah kelelahan, Julius langsung mengambil alih posisi di kursi tengah bersama Jane.

Begitu pintu mobil tertutup dan Clark mulai menjalankan mesin (dengan tangan yang masih sedikit gemetar di setir), topeng es Julius benar-benar mencair.

Julius tidak peduli lagi pada Lucia yang sesekali melirik lewat spion tengah atau Henry yang sibuk mengoceh di belakang. Ia menarik tubuh Jane ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala Jane di dadanya yang bidang.

"Tidurlah. Perjalanan ke kota masih lama," bisik Julius tepat di telinga Jane. Tangannya mengusap lengan Jane dengan ritme yang menenangkan, memberikan kehangatan yang membuat Jane perlahan-lahan kehilangan kesadarannya karena kantuk yang luar biasa.

Jane yang tadinya tegang, akhirnya menyerah. Aroma sandalwood dan detak jantung Julius yang stabil menjadi lagu pengantar tidur paling indah yang pernah ia dengar. Di bawah selimut yang disediakan Julius, tangan mereka saling bertaut erat.

Jane tertidur pulas dalam pelukan sang Matahari, sementara di kursi depan, Clark sedang berjuang menahan rahasia terbesar abad ini.

Mobil SUV mewah itu berhenti di sebuah kafe berkonsep glass house di pinggiran kota. Satu per satu, Henry, Lucia, Clark, dan Patrick turun untuk meregangkan otot dan mencari asupan kafein. Namun, di kursi tengah, Jane masih terlelap.

Julius tidak membangunkan Jane dengan suara. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap wajah lelap Jane sejenak, lalu mendaratkan ciuman tipis yang lembut di bibir Jane. Jane mengerang kecil, merasa bibirnya seperti diganggu sesuatu yang hangat, hingga perlahan matanya terbuka.

Pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Julius yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. Tatapan pria itu begitu dalam dan... lapar.

"Bangun, Tuan Putri. Kita sudah sampai," bisik Julius dengan suara serak yang seksi.

Jane berkedip berkali-kali, masih mengumpulkan nyawanya. Hantu gunung itu benar-benar ikut sampai ke kota! batinnya panik. Ia yakin Julius masih kesurupan karena tidak mungkin Julius yang asli akan menciumnya sembarangan seperti ini.

"Mau turun?" tanya Julius.

"Aku... aku agak pusing," jawab Jane jujur.

"Kalau begitu kita makan di sini saja. Aku sudah meminta Clark membelikan makanan untuk kita," ucap Julius. Ia memberi kode pada Henry dan yang lain lewat jendela untuk membiarkan mereka berdua. Di luar, Henry tampak sedang menyalakan rokok sambil menggoda Clark, sementara Lucia sibuk dengan ponselnya.

Di dalam mobil yang sunyi dan ber-AC dingin itu, Julius kembali mendekat. Ia tidak tahan melihat bibir Jane yang kemerahan setelah bangun tidur. Tanpa kata, ia kembali mencium Jane, kali ini lebih lama dan lebih menuntut, seolah ingin menyimpan cadangan kenangan sebelum mereka kembali ke dunia nyata.

Drrrtt... Drrrtt...

Ponsel Julius yang terletak di dasbor bergetar hebat. Nama yang muncul di layar membuat suasana yang tadinya panas mendadak membeku: FATHER.

Julius melepaskan ciumannya. Napasnya masih memburu, namun matanya langsung berubah tajam saat menekan tombol hijau.

"Ya, Ayah?" suara Julius berubah menjadi robot yang dingin seketika.

Jane hanya bisa terdiam, merapikan rambutnya yang berantakan sambil mencuri dengar. Ia tidak bisa mendengar suara di seberang, tapi ia melihat rahang Julius mengeras. Wajah pangeran yang hangat tadi lenyap, digantikan oleh dinding es yang lebih tebal dari biasanya.

"Saya mengerti. Saya akan segera ke sana setelah mengantar mereka. Tidak, tidak ada masalah. Baik," tutup Julius singkat.

Klik. Ponsel itu diletakkan kembali dengan kasar. Julius menarik napas panjang, lalu memperbaiki duduknya dan menjauh dari Jane. Tidak ada lagi tangan yang merangkul pinggang, tidak ada lagi usapan di pipi. Ia bahkan tidak menoleh pada Jane lagi.

Tak lama kemudian, Lucia, Henry, dan Clark masuk kembali ke mobil. Namun, suasana ceria mereka tadi lenyap total. Wajah Lucia tampak pucat, sementara Henry yang biasanya ceplas-ceplos hanya terdiam sambil menatap keluar jendela dengan rahang terkatup.

Clark menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi, seolah mereka sedang dikejar sesuatu. Jane merasa sesak. Perubahan atmosfer ini terlalu mendadak. Ia melirik Julius, berharap mendapatkan satu genggaman tangan rahasia untuk menenangkannya, tapi Julius hanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong dan dingin.

"Jules..." Lucia membuka suara dengan ragu. "Tadi di kafe... gue dapet kabar dari grup keluarga. Saham Randle Group dan Liberty mendadak bergejolak karena rumor pembatalan merger. Dan... Ayah lo tahu soal perjalanan ini."

Deg. Jantung Jane mencelos.

Julius tidak menjawab. Ia hanya mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas lutut. Jane merasa ingin menangis, "hantu gunung" yang hangat itu telah pergi, dan kini yang tersisa hanyalah Julius Randle yang sedang terjepit di antara takhta dan kehancuran.

Sepanjang sisa perjalanan, tidak ada kata-kata. Hanya suara deru mesin dan keheningan yang mencekam. Jane merasa seolah-olah naskah indahnya baru saja dirobek paksa oleh kenyataan pahit.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍😍😍

1
Endang Sulistia
bagus...
Endang Sulistia
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Endang Sulistia
clark...🤪🤦🤦
Endang Sulistia
mantap hery
Endang Sulistia
sukurin kau jules
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Endang Sulistia
🤭🤣🤣
Lismawati Salam
bagus
Endang Sulistia
😊😊
Endang Sulistia
suka
Endang Sulistia
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!