NovelToon NovelToon
Menjadi Madu Dalam Semalam

Menjadi Madu Dalam Semalam

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.

"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Pelarian Patricia bukan sekadar pergi, tapi upaya untuk menghapus eksistensi dirinya dari dunia Alendra. Ia bergerak seperti bayangan, sunyi dan tak terdeteksi.

Sebelum kakinya menginjak terminal, Patricia berdiri di depan loket kantor pos yang sepi. Tangannya gemetar saat memasukkan Kartu Hitam pemberian Alendra dan ayah Faisal, serta surat untuk orang tuanya.

Patricia membatin dengan mata perih "Ini bukan milikku. Semua kemewahan ini hanya pengingat akan luka yang kubawa."

Setelah mengirimkan amplop itu, ia melangkah ke sebuah toko ponsel kecil di pinggiran jalan. Ia menjual ponsel pintarnya dengan harga murah, tanpa menawar. Baginya, benda itu adalah pelacak yang bisa menariknya kembali ke sangkar emas yang menyakitkan.

Di dalam bus antarkota yang pengap, Patricia duduk di pojok dekat jendela, memeluk tas kecilnya. Isak tangisnya baru saja mereda ketika seorang gadis dengan pakaian sangat tertutup dan bercadar duduk di sampingnya. Gadis itu bernama Zahra.

Zahra melihat bahu Patricia yang terguncang. Dengan lembut, ia menyodorkan sebotol air mineral.

"Minumlah, Mbak. Allah tidak akan memberi ujian melebihi batas kemampuan hamba-Nya." ucap Zahra dengan lembut.

Suara lembut itu meruntuhkan pertahanan Patricia.

"Mbak dari mana dan mau kemana?" tanya Zahra hati-hati , ia tidak ingin wanita di sampingnya tersinggung....

Sepanjang perjalanan menuju Jawa Timur, Patricia mencurahkan separuh hatinya, tanpa menyebut nama Alendra. Ia mengaku ingin bertaubat dan menghilang.

"Ikutlah denganku ke pesantren di ujung Jawa Timur. Di sana, Mbak bisa menenangkan diri. Pakailah ini..." Zahra memberikan sebuah cadar cadangan dari tasnya.

"Dengan memakai cadar, Mbak akan merasa terlindungi, Mbak tidak memikirkan rupa Mbak yang sangat cantik, bahkan Wajah cantik Mbak bisa menjadi fitnah" ucap Zahra lembut.

Patricia mengangguk, ia meraih cadar itu, lalu memakainya dengan pelan.

Saat Patricia cadar itu sudah terpakai, ia merasa seolah dunia tidak lagi bisa menghakiminya. Di balik kain itu, ia bukan lagi istri kedua juga keluarga Effendi, Ia hanya seorang hamba yang sedang bersembunyi.

Sementara itu, di Jakarta, suasana sudah seperti di ujung tanduk. Ruang kerja Alendra berubah menjadi ruang kendali darurat. Ardiansyah dan Ishaq sibuk dengan laptop masing-masing, sementara Afkar duduk dengan wajah yang frustrasi.

Rukayyah, istri Hilman duduk di depan jajaran monitor. Jari-jarinya menari lincah meretas akses CCTV jalan raya hingga terminal.

Rukayyah membanting mouse ke meja, wajahnya frustrasi "astaghfirullah...Nihil! Dia pintar sekali. Dia sengaja menghindari titik CCTV buta atau mungkin sudah berganti pakaian. Terakhir dia terlihat di kantor pos, setelah itu dia hilang ditelan bumi!"

Hilman berdiri di pojok ruangan, menatap Alendra dengan tatapan tajam "Kamu lihat, Alen? Karena kebodohanmu menjaga privasi rumah tangga, adikku merasa menjadi beban dan pergi! Kalau dia sampai kenapa-kenapa, aku tidak akan memaafkanmu!"

Alendra tidak membalas makian Hilman. Wajahnya yang penuh lebam akibat pukulan Hilman kemarin belum sempat diobati. Matanya merah, kantung matanya menghitam karena tidak tidur selama 48 jam.

Alendra berkata, Suaranya serak, nyaris tak terdengar "Aku sudah mengerahkan tim intelijen swasta, Ardi. Aku sudah cek semua manifes bus dan kereta... tapi tidak ada nama Patricia."

Afkar menghela napas berat, memegang bahu Alendra "Dia tidak akan menggunakan namanya, Alen. Dia sedang mencoba mati sebelum maut menjemputnya. Dia merasa bersalah pada Kirana."

Alendra jatuh berlutut di tengah ruangan. Ia memegang dadanya yang terasa sesak. Di satu sisi, istrinya, Kirana, masih koma di ICU. Di sisi lain, belahan jiwanya, Patricia, hilang tanpa jejak.

Alendra menangis tersedu-sedu, memukul lantai "Cia... kembali, Sayang... jangan hukum aku seperti ini. Aku lebih baik kamu maki daripada kamu tinggalkan tanpa suara,aku lebih suka kau menghinaku dari pada menghilang!"

Rukayyah menghela nafasnya panjang, biasanya dengan mudah ia bisa melacak para musuh suaminya, maupun perusahaan yang membutuhkan bantuan nya, namun kali ini otak nya buntu, Rukayyah belum bisa berfikir jernih.

___

Di ujung Jawa Timur, bus berhenti di sebuah kota kecil yang asri. Patricia turun bersama Zahra. Udara dingin pesantren mulai menyapa kulitnya. Ia menoleh ke arah barat, ke arah Jakarta yang jauh.

Di sana, ia melihat papan nama pesantren tua yang tenang. Patricia memantapkan langkahnya. Ia melepaskan semua identitas lamanya.

Di Jakarta, mereka mencari seorang Patricia yang cantik dan modis. Mereka tidak akan pernah menyangka bahwa Patricia kini bersimpuh di atas sajadah di sebuah pesantren pelosok, tersembunyi di balik cadar hitam yang menutup rapat jati dirinya.

___

Patricia yang kini dikenal dengan nama Nia duduk bersila di atas sajadah usangnya. Cadar hitamnya sudah dilepas, menampakkan wajah yang jauh lebih tenang namun guratan kesedihan di matanya belum sepenuhnya sirna.

Tangan halusnya gemetar saat membalik lembaran Al-Qur'an. Ia sedang mencoba menghafal Surah Ar-Rahman, namun setiap kali sampai pada ayat “Fabiayyi ala-i Rabbikuma tukadzdziban”, air matanya luruh tanpa bisa dibendung.

Patricia mendekap mushaf itu ke dadanya. Suaranya serak, bergetar hebat di antara isak tangis yang tertahan agar tidak terdengar oleh santriwati lain di balik bilik bambu.

Patricia berbisik parau "Astaghfirullah... Ampuni hamba, Ya Allah. Hamba pergi membawa luka, tapi hamba juga pergi meninggalkan luka bagi suami hamba... Maafkan istrimu ini, Mas Alen..."

Ia teringat wajah Alendra saat memeluknya di malam badai itu. Ia ingat hangatnya napas Alendra dan janji perlindungannya. Hatinya menjerit, merasa menjadi istri yang durhaka karena melarikan diri tanpa izin, namun logikanya terus berbisik bahwa ini adalah jalan terbaik agar Kirana bisa mendapatkan Alendra seutuhnya jika nanti wanita itu terbangun dari komanya.

Di pesantren, Patricia tidak banyak bicara. Gestur tubuhnya sangat tertutup, ia selalu menunduk dan menjaga jarak. Zahra, sahabat yang membawanya, sering memperhatikan Patricia yang diam-diam sering melamun menatap langit ke arah barat, arah Jakarta.

Zahra mendekat, menyentuh bahu Patricia lembut "Mbak Nia ... Jika rindu itu ibadah, maka jangan biarkan dia menjadi beban. Berdoalah, barangkali malaikat menyampaikan salammu padanya."

Patricia hanya tersenyum getir di balik cadarnya. Ia tidak bisa bilang bahwa yang ia bawa bukan hanya rindu, tapi juga rasa bersalah yang menggunung .

" Terimakasih Zahra, kau membawaku kesini...tempat di mana ketenangan mulai terasa,meski kegelisahan itu sering datang melanda" balas Patricia tenang.

" Sudah malam mbak, mbak harus istirahat... apalagi mata sembab mbak begitu terlihat,para santri lain penasaran " ajak Zahra dengan lembut.

Patricia menoleh ke beberapa santri yang sedang memperhatikan dirinya dengan berbagai pertanyaan.

Patricia akhirnya mengangguk , melipat mukenahnya,lalu merebahkan diri di ranjang yang tidak terlalu empuk, di sini ia paling tua, jadi semua menghormati dirinya sebagai kakak tanpa banyak bertanya.

1
Yuyun Srie Herawati
hmm gila sama kamu mbak Cia
Meiny Gunawan
up yg bnyk atuh thor...
nunik rahyuni
lha..wes konangan to...kurang ahli dalam penyamaran🤣🤣🤣🤣
@Mita🥰
yeeee semoga CIA peka klu itu alen
@Mita🥰
wah Alen bandung Bondowoso ...atau Roro Jonggrang 🤭🤭
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
alen bertranformasi jd bandung bondowoso siap beraksi, sblm ayam berkokok dan suara adzan menggema🤣
Yasmin Natasya
lanjut,up yang banyak thor 😁🙏
Nur Ayra
sangat bagus alurnya , 💪🥰🥰
Yuyun Srie Herawati
wahh nanti mbak Cia malah cinta sama kang Asep
@Mita🥰
semangat ya CIA .....Abang Alen selalu ada tuk mu
@Mita🥰
Alhamdulillah klu alendra yang dulu udah kembali🫣🫣🫣
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣 kang Asep Alon" 🤣🤣
Ulandary Ulandary
up lagi min
Nie
alhamdulillah kamu balik lagi ke asal Alen 😁🤭
Sukarti Wijaya
kekonyolannya ale muncul lg😄
@Mita🥰
🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Sri Supriatin
wouw da cerita baru n sdh 23 bab 👍👍..Happy Valentine days../Heart//Heart/ disimpen dulu bentar lagi Ramadhan...Tks thor tetap semangat ..🙏🙏
Ulandary Ulandary
up lagi min
Sukarti Wijaya
up lg thor, jgn bikin penasaran😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!