NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kontrak Iblis di Atas Meja

Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela apartemen sempit Alana terasa seperti ejekan. Bibirnya masih terasa sedikit bengkak, sisa dari ciuman penuh tuntutan Arkan semalam. Di pergelangan tangannya, gelang berlian itu melingkar dingin—sebuah pengingat permanen bahwa ia bukan lagi wanita bebas.

Alana menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Matanya sembap karena kurang tidur. Semalaman ia memikirkan kata-kata Arkan. “Mulai detik ini, kamu adalah milikku.” Apakah itu hanya gertakan untuk menakut-nakutinya agar tidak kabur seperti Elena, ataukah Arkan memang memiliki rencana yang lebih gelap?

Dengan perasaan was-was, Alana berangkat ke kantor. Begitu ia sampai di lantai 45, suasana terasa berbeda. Beberapa staf yang ia temui di lobi menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara iri, hormat, dan kasihan. Berita tentang kejadian di pesta semalam, di mana sang CEO membela sekretarisnya dengan begitu agresif, pasti sudah menyebar secepat kilat.

Di atas meja kerjanya, sebuah map berwarna merah darah sudah menunggu. Tidak ada nama pengirim, namun Alana tahu siapa pemiliknya. Dengan tangan gemetar, ia membuka map tersebut.

"KONTRAK KERJA SAMA KHUSUS"

Judul itu tertulis dengan huruf tebal. Alana membaca baris demi baris, dan semakin ia membaca, semakin dunianya terasa berputar.

Pihak Kedua (Alana) bersedia berperan sebagai tunangan Pihak Pertama (Arkananta) di hadapan publik dan keluarga besar selama minimal satu tahun.

Pihak Kedua dilarang menjalin hubungan romantis dengan pria lain selama masa kontrak.

Pihak Pertama akan menanggung seluruh biaya medis Ibu dari Pihak Kedua hingga sembuh total.

Pihak Kedua akan mendapatkan tunjangan bulanan sebesar sepuluh kali lipat dari gaji sekretaris biasa.

Segala bentuk penolakan atau upaya pelarian diri akan mengakibatkan penghentian instan biaya medis dan tuntutan hukum atas penipuan identitas.

"Gila... dia benar-benar gila," desis Alana.

Ia belum sempat menutup map itu ketika pintu jati besar di belakangnya terbuka. Arkan berdiri di sana, tanpa jas, hanya mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kuat.

"Sudah membacanya?" suara bariton itu memecah keheningan.

Alana berbalik, matanya berkaca-kaca karena amarah. "Ini bukan kontrak kerja, Arkan. Ini perbudakan! Kamu memanfaatkan kondisiku untuk kepentingan pribadimu."

Arkan berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti dentuman vonis bagi Alana. Ia berhenti tepat di hadapan gadis itu, lalu bersandar pada meja kerja Alana, menatapnya dengan tatapan yang sangat tenang namun mematikan.

"Sebut saja ini pertukaran yang adil, Alana. Kamu butuh uang untuk ibumu, dan aku butuh tameng untuk menghindari perjodohan konyol yang dipaksakan kakekku," Arkan mengambil pulpen mewah dari saku kemejanya dan meletakkannya di atas map. "Tanda tangani, dan beban finansialmu hilang detik ini juga."

"Kenapa harus aku? Kamu bisa menyewa model atau aktris yang jauh lebih hebat berakting daripada aku!"

Arkan menjangkau dagu Alana, memaksa gadis itu menatap matanya. "Karena kamu sudah berada di sini. Karena kamu memiliki 'dosa' karena membohongiku dengan identitas Elena. Dan yang paling penting... karena aku suka bagaimana kamu gemetar setiap kali aku menyentuhmu. Itu adalah reaksi yang tidak bisa dipalsukan oleh aktris mana pun."

Alana memalingkan wajah, namun Arkan tidak melepaskannya. "Pikirkan ibumu, Alana. Operasi jantungnya dijadwalkan tiga hari lagi. Tanpa tanda tangan ini, rumah sakit akan membatalkan prosedur itu sore ini juga."

Hati Alana mencelos. Kejam. Arkan tahu persis di mana titik lemahnya. Ia menatap pulpen itu seolah-olah itu adalah senjata yang akan mengakhiri hidupnya. Dengan napas yang terasa berat, Alana mengambil pulpen tersebut. Tangannya gemetar saat ia menggoreskan tanda tangannya di atas kertas putih itu.

Selesai. Ia resmi menjadi "milik" Arkananta.

"Gadis pintar," gumam Arkan. Ia mengambil kembali map itu dan memberikannya pada seorang pria bersetelan rapi yang tiba-tiba muncul di belakangnya—Dimas, asisten kepercayaannya. "Dimas, pastikan semua biaya rumah sakit dibayar lunas hari ini. Kirim tim keamanan terbaik untuk menjaga kamar Ibu Alana."

"Baik, Pak," jawab Dimas patuh sebelum menghilang kembali.

"Sekarang," Arkan kembali fokus pada Alana, "karena kamu sudah menjadi tunanganku, ada beberapa aturan baru yang harus kamu pelajari. Pertama, kamu tidak akan lagi tinggal di apartemen kumuh itu. Sore ini, barang-barangmu akan dipindahkan ke penthouse-ku."

Mata Alana membelalak. "Apa? Tinggal bersamamu? Itu tidak ada di dalam kontrak!"

"Ada di poin tambahan di halaman terakhir," Arkan tersenyum miring. "Sebagai tunangan, kita harus terlihat tinggal bersama untuk meyakinkan mata-mata kakekku. Jangan khawatir, aku tidak akan memakanmu... kecuali jika kamu yang memintanya."

Alana merasa wajahnya memanas. "Aku tidak akan pernah memintanya!"

"Kita lihat saja nanti," Arkan berbalik menuju ruangannya, namun ia berhenti di ambang pintu. "Oh, aku lupa. Sore ini kita akan pergi ke butik. Kamu butuh cincin. Aku tidak ingin orang-orang berpikir aku pelit karena tunanganku tidak memakai perhiasan yang layak."

Sepanjang siang itu, Alana bekerja seperti robot. Ia tidak bisa fokus pada dokumen-dokumen di depannya. Pikirannya melayang pada nasibnya yang kini terikat pada pria sedingin es itu. Bagaimana jika penyamarannya terbongkar oleh keluarga Arkan? Bagaimana jika Elena tiba-tiba kembali?

Pukul empat sore, Arkan benar-benar menyeretnya keluar kantor. Mereka menuju sebuah butik perhiasan eksklusif yang hanya melayani tamu dengan janji temu khusus. Pemilik butik menyambut mereka dengan tunduk yang sangat dalam.

"Tuan Arkan, sebuah kehormatan. Kami sudah menyiapkan koleksi terbaik untuk tunangan Anda," ucap wanita pemilik butik itu dengan nada memuja.

Arkan membawa Alana ke sebuah kursi beludru. Berbagai kotak berisi cincin berlian yang berkilauan diletakkan di depan mereka. Harganya? Alana yakin satu cincin itu bisa membeli seluruh lingkungan tempat tinggalnya yang dulu.

"Pilih satu," perintah Arkan.

"Aku... aku tidak tahu. Semuanya terlihat sama," sahut Alana jujur. Ia merasa asing di tempat semewah ini.

Arkan mendesah pelan. Ia menarik tangan kanan Alana, lalu mulai mencoba satu per satu cincin ke jari manisnya. Gerakannya sangat teliti, seolah ia sedang memilih komponen mesin yang krusial. Akhirnya, ia mengambil sebuah cincin dengan berlian biru langka yang dikelilingi oleh butiran berlian kecil.

Begitu cincin itu terpasang, cahaya lampu butik memantul indah pada jari Alana. "Ini. Warna biru ini cocok dengan matamu saat kamu sedang ketakutan," ucap Arkan pelan, suaranya terdengar hampir lembut untuk sesaat.

Alana terpaku. Ia menatap cincin itu, lalu menatap Arkan. Untuk sesaat, ia melihat sisi lain dari pria ini—bukan sang CEO yang kejam, melainkan seorang pria yang tampak... kesepian? Namun, bayangan itu segera hilang saat Arkan kembali berdiri dengan tegak.

"Bayar yang ini," ucap Arkan pada pemilik butik.

Saat mereka keluar dari butik, sebuah mobil sedan mewah sudah menunggu. Namun, alih-alih pulang, sopir membawa mereka menuju sebuah restoran mewah di puncak gedung.

"Kenapa kita ke sini?" tanya Alana.

"Makan malam. Dan ada seseorang yang harus kamu temui," jawab Arkan dingin.

Begitu mereka masuk ke area privat restoran, Alana melihat seorang pria tua dengan kursi roda yang didampingi oleh beberapa pengawal. Pria itu memiliki aura yang jauh lebih mengintimidasi daripada Arkan. Matanya yang tajam menatap Alana seolah sedang memindai seluruh isi otaknya.

"Jadi, ini gadis yang membuatmu berani membangkang perjodohanku, Arkan?" suara pria tua itu serak namun kuat.

Arkan menggenggam tangan Alana dengan erat, jari-jarinya bertautan dengan jari Alana. "Ya, Kakek. Kenalkan, ini Alana. Wanita yang akan menjadi menantu keluarga Arkananta."

Alana membeku. Namanya... Arkan menyebut namanya yang asli, bukan Elena. Ia melirik Arkan dengan panik, namun pria itu hanya menatap kakeknya dengan penuh tantangan.

"Alana?" Kakek Arkan menyipitkan mata. "Bukan Elena, sekretaris nakal itu?"

"Nama aslinya Alana. Elena hanyalah nama yang dia gunakan untuk menyembunyikan identitasnya dari publik. Dia adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang bangkrut. Aku menemukannya lebih dulu sebelum orang lain menyadarinya," bohong Arkan dengan sangat lancar.

Alana terperangah. Arkan baru saja menciptakan identitas baru untuknya di depan orang paling berkuasa di keluarga itu. Sekarang, ia bukan lagi hanya sekretaris pengganti; ia terjebak dalam jaring kebohongan yang jauh lebih besar dan berbahaya.

Kakek Arkan menatap Alana lama sekali sebelum akhirnya mendengus. "Kita lihat saja, apakah dia benar-benar pantas menyandang nama keluarga kita. Jika dia gagal dalam ujian pertama, Arkan... kamu tahu apa yang akan terjadi padamu dan gadis ini."

Sepanjang makan malam, Alana hanya bisa terdiam dengan jantung yang berdegup kencang. Ia menyadari bahwa mulai malam ini, hidupnya bukan lagi miliknya. Ia adalah bidak catur dalam permainan kekuasaan Arkan, dan satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan segalanya.

Saat mereka kembali ke mobil, Alana akhirnya berani bertanya, "Kenapa kamu menyebut namaku? Kenapa kamu tidak menggunakan nama Elena?"

Arkan menatap ke luar jendela, bayangan lampu kota menyinari wajahnya yang keras. "Karena Elena adalah masa lalu yang kotor. Tapi kamu... Alana... kamu adalah lembaran baru yang akan kugunakan untuk menghancurkan musuh-musuhku. Dan mulai sekarang, jangan pernah lagi menyebut namamu sendiri kecuali di hadapanku."

Alana menatap gelang dan cincinnya. Ia merasa seperti burung dalam sangkar emas, yang meskipun diberi perhiasan indah, tetap tidak memiliki kunci untuk keluar.

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!